
Dua minggu setelah masalah Cloudy dan Bela, hidup Tiara dan Nath aman tentram dan damai. Tidak ada masalah apapun. Keduanya bahkan lebih terlihat semakin mesra.
Seperti saat ini, Nath tengah berlomba dengan istrinya untuk sampai ke puncak ken*kmatan. Hal rutin yang keduanya lakukan tanpa ada perdebatan sama sekali.
Tiara sadar akan kebutuhan biologis suaminya. Demi keutuhan rumah tangga yang perlahan membawanya pada kebahagiaan, dia rela sedikit direpotkan dengan imajinasi liar suaminya. Dari pada Nath mencarinya di luar sana, begitu fikirnya.
"Ti..."
"Ya...."
"Terima kasih." Hal yang selalu Nath ucapkan saat Tiara selalu menuruti keinginannya. Mencoba posisi demi posisi sesuai kemauannya.
"Kelarin dulu, baru bilang makasih." Nath tertawa pelan karena melihat Tiara yang tak berdaya sementara dirinya masih belum apa-apa.
"Jangan minum jamu bang Ethan." Nath makin tertawa tanpa suara.
"Gak minum, sayang. 5 menit lagi, ya." Nath terus berpacu dengan hasr*t yang semakin terbakar untuk mencapai satu titik kepuas*n.
Huuuuh!
Nath mengatur nafas menenggelamkan wajahnya diceruk leher istrinya. Tiara jangan ditanya, ia hampir pingsan karena terlalu lama Nath kendalikan.
"Berat Bang," rengek Tiara pada Nath yang tak kunjung menyingkir dari atas tubuhnya.
Nath tertawa dan menatap Tiara. Ia menopang tubuhnya dengan kedua lengannya. Perlahan, ia mencium seluruh wajah Tiara.
"Jangan mulai, Bang. Gak ada pengulangan!" Ketus Tiara.
"Iya sayang." Nath berdiri melepas mengaman dan membuangnya di tong sampah. Lalu berbaring di sebelah tubuh istrinya. Menarik selimut menutup tubuh polos mereka.
"Dih, sayang," cibir Tiara. "Kayak makanan yang jatuh belum lima menit aja di panggil sayang."
Nath memeluk tubuh istrinya. "Jadi mau dipanggil apa, honey, bunny, sweaty?"
"Bunda, mama, mami, dedek, neng geulis, atau baby?"
Tiara tertawa. Ia mencubit pipi Nath. "Kamu nyebut panggilan untuk para penggemar kamu, Bang?"
"Heheheh." Nath tertawa pelan.
Dan hening....
"Ti ... Gak terasa ya, pernikahan kita udah lebih dari sebulan. Harusnya kita rayakan anniv sebulan kemarin." Nath memilin ujung rambut Tiara yang ada di dada istrinya.
"Gak perlu lah, Bang. Masih sebulan juga."
"Tapi kan moment, Ti."
"Ck! Yang udah puluhan tahun juga gak selebai Abang." Nath tertawa.
"Bang!" Tiara langsung duduk diatas ranjang tanpa peduli tubuh bagian atasnya tak tertutup selimut.
"Ada apa, Ti?" Nath sampai ikut duduk dan menangkup pipi Tiara yang memasang wajah tegang dengan mulut terbuka.
"Itu, bang!"
"Apa?" Teriak Nath.
"Jangan bikin panik, Ti."
"Aku belum haid bang." Tiara menatap Nath dengan raut wajah khawatir.
Nath menghela nafas dan menjatuhkan kening nya di bahu Tiara. "Ku pikir ada apa, Ti."
__ADS_1
"Tapi ini bahaya, Bang?"
"Apanya bahaya."
"Aku hamil."
"Bagus dong! Langsung Allah ganti," sahut Nath enteng.
Tiara mencubit perut Nath. "Kata dokter tunggu tiga bulan." Nath mengaduh dan menjauhkan tubuhnya dari Tiara.
Tiara merengek. "Hiks... hiks... hiks... gak boleh dulu Bang. Beresiko." Tiara menatap Nath tajam.
"Ini gara-gara abang gak pake pengaman pas awal-awal itu kan?" Tiara berkacak pinggang menatap Nath yang terlihat santai.
"Ck! Cuma sekali, Ti. Di luar juga," gumamnya pelan.
"Dua kali bang!" Tiara menunjukkan dua jemarinya. "Acara puncak sama reka ulang!" Tiara mencubit put*ing Nath. Titik kelemahan pria itu.
"Inget gak! Ha! Inget gak?" Tiara terus mencubit suaminya.
"Aduh... aduh... iya... iya... ingat Ti. Udah dong sayang." Nath berusaha menghindar dan menutup dadanya dengan kedua lengan kekarnya.
Tiara yang kelelahan akhirnya menghentikan aksinya. Ia memijat keningnya yang tiba-tiba terasa pening.
"Ti, belum ada tanda-tandanya sih kayaknya." Tiara melirik Nath tajam.
"Gak semua orang hamil itu ada gejala mual muntah, Bang!"
Nath menggaruk keningnya. Salah lagi. Ia bingung harus bagaimana.
****
Pagi harinya...
Tiara hanya mengaduk-aduk makanannya yang baru ia telan sebanyak 2 suap. Lintang memicing curiga pada Nath yang terlihat lebih pendiam.
"Ti, kamu sakit, Nak?" tanya Lintang yang duduk di depannya.
Tiara tersentak dan menatap Lintang. "Ha?"
"Eh, enggak, Ma," jawabnya gugup.
"Terus kenapa makanannya cuma diaduk aja."
Tiara menatap sepiring nasi dan sayur yang sudah berantakan letakknya. "Ini Tia baru mau makan, Ma."
Tiara menyuapkan makanan ke mulutnya. Ia tak bisa tidur semalam karena menduga dirinya hamil. Bukan tidak bersyukur, tapi jarak kehamilan yang terlalu dekat sangat beresiko kembali mengalamai keguguran.
Dan wanita yang sudah pernah keguguran akan lebih beresiko mengalami hal yang sama pada kehamilan berikutnya.
Lintang memberi kode pada Nath dengan lirikan matanya seolah tengah bertanya Dia kenapa?
"Nanti Nath jelasin ma." ucap Nath tanpa suara. Ia hanya menggerakkan bibirnya.
Selesai sarapan, Tiara langsung duduk di pinggir kolam renang. Ia ingin menenangkan fikirannya sejenak.
Sementara itu, di ruang keluarga Lintang sedang duduk bersedekap ditemani suaminya yang duduk di sebelahnya. Dan putra bungsungnya, Nath yang duduk di depannya.
"Kenapa Tiara, Nath!" Lintang to the point tanpa basa basi bertanya pada Nath.
"Dia galau, Ma."
"Kenapa? Kamu buat masalah lagi?"
__ADS_1
"Baru tenang dua minggu kamu bikin ulah lagi, uh?"
Nath mengusap tengkuknya. "Bukan. Tiara galau karena terlambat datang bulan."
Akhtar dan Lintang langsung menegakkan duduknya. "Apa?"
"Dia belom boleh hamil, Nath!" Lintang memijat keningnya. "Anak kamu, Mas! Bandel banget dibilangin." Akhtar juga menjadi sasaran amukan Lintang.
"Ma, kan belum tentu, Ma."
"Mama tanya! Tiara yang minum pil KB atau kamu yang pakai pengaman?"
"Aku yang pakai pengaman, Ma."
"Pernah keluapaan?" tanya Lintang lagi.
Nath menggaruk tengkuknya. Ia menunduk dan mengangguk lemah. Sebenarnya bukan keluapaan, tapi sengaja karena dirinya yang sok jagoan merasa bisa mengendalikan diri.
"Astaga Nath!" Lintang berdiri di depan Nath dan menarik telinga putranya.
"Mama harus pakai bahasa apa lagi, Nath!"
"Sekarang ke apotek, beli tespack!" Perintah Lintang.
"Se... sekarang, Ma?"
"Iya Nath! Sekarang!"
"Nath yang beli?"
"Iya, Nath! Masa papa kamu!" Lintang geram melihat anaknya.
Dengan langkah gontai Nath pergi ke apotek yang masih ada di wilayah komplek perumahan ini.
Sepuluh menit, Nath kembali dengan plastik kecil berisi 5 tespack berbagai merk yang ia beli.
Nath memberikan pada Lintang. "Banyak banget, Nath?" Lintang terkejut melihat jumlahnya.
"Biar akurat, Ma."
Lintang berjalan kebelakang dan menemui Tiara yang duduk menatap kolam renang. Mentari pagi yang menyinari seluruh tubuhnya tak ia hiraukan.
"Tiara ...." Suara lembut Lintang membuatnya menoleh.
"Ikut mama sebentar, Nak."
Lintang membawa Tiara ke kamar mandi di dekat dapur. "Coba ini sayang. Biar kamu gak galau berlarut-larut."
Tiara menatap Lintang saat melihat benda di kantong plastik itu. Tiara mengangguk tanpa protes. Ia yakin Nath pasti sudah memberi tahu mertuanya itu.
Nath dan Lintang menunggu di depan pintu kamar mandi. Sementara Akhtar dan Nair duduk di meja makan.
Tiara keluar dari kamar mandi dan menunjukkan kelima benda itu. Lintang bernafas lega. Tiara mengembangkan senyum dan Nath memeluk istrinya itu.
"Alhamdulillah, negatif." Lintang bersyukur. Bukan tidak ingin memiliki cucu lagi, tapi Lintang jauh lebih khawatir pada kesehatan Tiara dan janin dalam kandungannya.
****
Terima kasih dukungan kalian semua guys 😊
Karena kalian, novel El Nath sedang di promosikan sama NToon. 😊
Katanya sih bakal nongol di Beranda -temukan 😊 Tapi aku belom lihat. Mungkin dia nangkring di beranda kalian.
__ADS_1
sekali lagi, makasih banyak 😚😚😚😚