
"Nair...!" Naira memelas menatap wajah suaminya. Air mata kembali menerobos keluar seiring dengan berita yang ia dengar dari salah satu dokter yang menangani beberapa pasien kecelakaan, termasuk Abi, Umi dan Supir mereka.
"Sabar, Nai. Sabar!" Nair mengusap bahu Naira. "Abi pasti baik-baik saja. Kita ketemu Umi dulu, yuk!" Ajak Nair merangkul bahu sang isteri.
Keduanya perlahan melangkahkan kaki menuju ruang IGD dimana Umi sedang berada di dalamnya. Sebagaimana informasi dari dokter, bahwa Umi dan Supir mereka termasuk korban yang mengalami luka ringan.
Sementara itu dokter mengatakan bahwa, Abi dalam keadaan tidak baik-baik saja dan saat ini sedang dalam perawatan intensif.
"Umi...." Naira langsung menubruk tubuh Uminya yang tengah terbaring diatas brangkar sementara Nair berdiri mematung melihat istrinya yang kembali terisak.
"Bagaimana keadaan Umi? Apa ada bagian tubuh yang sakit, Umi?" tanyanya.
"Alhamdulillah, Nai. Umi baik-baik saja." Usapan lembut di kepalanya membuat Naira menarik diri dari pelukan wanita yang melahirkannya itu.
"Umi..."
"Abi, bagaimana Nai?" Kalimat Naira terpotong oleh pertanyaan Umi.
Naira menatap Nair sebentar lalu kembali menatap Umi. Nair memegang bahu Naira dan mendudukkan tubuh lemah itu di kursi. Naira duduk dan kembali menggenggam tangan Umi seakan ia mencari ketenangan disana.
"Abi baik-baik saja kan, Nai?" Merasa tak mendapat jawaban, Umi kembali bertanya.
Naira diam dan mengangguk pelan.
"Abi baik-baik saja Umi," jawab Nair tegas yang kini berdiri di samping Naira.
"Abi sudah di pindah ke ruangan untuk mendapat perawatan intensif."
"Nair!" Umi menatap pria yang belum genap 12 jam menjadi menantunya itu. "Pastikan Abi baik-baik saja, Nair." Bulir bening itu langsung Naira hapus dengan jemarinya.
"Pastikan perawatan terbaik yang Abi terima, Nair!" Umi menatap menantunya.
"Umi tau, Abi terluka parah." Bahu Umi mulai bergetar karena tangisnya. "Umi melihat Abi pingsan saat orang-orang membawa Abi keluar dari mobil."
Nair mengangguk. "Pasti Umi."
"Umi tenang, ya. Nanti setelah Abi bisa di jenguk, kita akan langsung kesana," Naira berusaha menenangkan.
Tentu pelayanan terbaik yang akan mereka dapatkan dari rumah sakit ini. Bagaimana tidak, karena pemiliknya saja adalah Abang Ipar Nair, Orion."
***
"Nair!" Langkah kaki Naira dan Nair terhenti saat mendengar suara Akhtar memanggil nama Nair.
Nair dan Naira baru saja akan menuju ruangan dimana Umi dipindahkan. Dokter menyarankan agar Umi tetap di rawat di rumah sakit ini. Kondisi Umi masih tampak lemah dan wajahnya juga terlihat pucat.
"Papa. Mama." Nair dan Naira mencium punggung tangan keduanya.
"Bagaimana keadaan orang tua kamu, Nai?" Tanya Lintang penuh kelembutan.
"Umi baik-baik saja, Ma."
__ADS_1
"Tapi Abi sedang di ruang ICU. Mudah-mudahan lekas membaik, dan bisa segera dipindahkan ke ruang rawat."
Lintang dan Akhtar menunjukkan raut wajah khawatir saat mendengar besannya sedang dirawat di ICU.
"Abi sempat mengalami kesulitan bernafas, Pa," jelas Nair.
"Juga ada perdarahan di kepala."
"Abi juga belum sadarkan diri."
"Dokter sudah melakukan penanganan terbaik. Kita berdoa saja. Semoga Abi cepat sadar dan segera pulih."
Lintang memeluk Naira. Pelukan hangat seorang ibu yang mampu menenangkan siapapun yang ada dalam dekapannya.
"Sabar ya sayang..." Lintang mengusap punggung menantunya.
"Kalian pasti mampu melewati cobaan ini." Naira mengangguk pelan.
"Umi tidak tahu kondisi Abi?" Tanya Akhtar.
"Sebaiknya jangan dulu, Pa. Umi hanya tahu kalau Abi sedang di ICU. Tapi tentang keadaannya secara terperinci, Umi tidak kami beri tahu," jawab Nair menatap Naira sekilas.
Naira mengangguk setuju. "Iya, Pa. Umi sepertinya masih trauma. Karena Umi masih dalam keadaan sadar saat melihat kondisi terakhir Abi."
Akhtar dan Lintang mengerti apa yang dilakukan anak dan menantunya adalah untuk kebaikan bersama. Keduanya pasti sudah memikirkan hal ini dengan matang.
"Bisa kami bertemu Umi, Nai?"
"Tentu, Ma."
"Perhatikan kesehatan kalian juga, Nak," ucap Lintang sambil mengusap punggung putranya.
"Jangan terlalu terlalu lelah, apalagi sampai terlambat makan."
"Perhatikan istrimu juga."
"Iya mama..." jawab Nair lembut pada mamanya.
Nair membuka pintu ruangan yang di dominasi warna putih itu.
"Umi, ada mama sama papa, nih!" Naira berucap dengan nada ceria saat memasuki ruangan itu.
"Umi masih istirahat, Nai," tegur Lintang pada menantunya saat melihat wanita berhijab instan tengah terbaring di brangkar dan memejamkan matanya.
Naira tersenyum kecil saat Umi tersenyum pada mereka setelah membuka matanya. "Umi belum tidur, Ma."
Lintang duduk di kursi disamping brangkar. "Bagaimana keadaannya, mbak?" Tanyanya lembut.
"Alhamdulillah, Bu Lintang."
"Saya baik-baik saja."
__ADS_1
"Tapi saya masih khawatir karena belum bisa menemui Abinya Naira."
Naira yang berdiri bersebrangan dengan Lintang tersenyum kecil. Wanita anggun dengan mata sembab itu mengelus bahu Uminya.
"Kalau dokter sudah memberi tahu Abi bisa di temui, Nai janji, Umi jadi orang pertama yang jenguk Abi."
"Umi istirahat dulu. Habiskan infus yang masih menggantung ini, Umi." Tunjuk Naira pada botol infus di sampingnya.
"Kalau wajah Umi sudah segar dan tidak pucat lagi, kan enak Abi lihatnya. Abi pasti sedih Umi, lihat pacarnya pucat begini." Naira sengaja menggoda Uminya untuk mengurangi rasa sedih.
Umi tertawa pelan. "Kamu ini!" Cubitan pelan mendarat di lengan Naira. "Umi sama Abi udah tua, Nai."
"Tapi tetap romantis, Umi...."
Akhtar dan Nair tertawa pelan. Keduanya juga tengah berdiri di sekitar brangkar. Naira dan Lintang pun ikut tertawa. "Naira benar, Mbak."
"Abinya Naira pasti senang, lihat mbak baik-baik saja."
"Dan semoga semangatnya untuk sembuh semakin besar."
"Amiiin."
***
"Umi senang?" tanya Naira ceria saat Nair mendorong kursi roda yang diduduki Umi menuju ruang ICU.
Tepat sore hari, Dokter memberi tahu bahwa Abi sudah sadar dan bisa ditemui. Mereka sangat bersyukur karena kondisi Abi cepat membaik.
Sebenarnya kondisi beliau sudah stabil sejak siang tadi. Tidak ada tanda-tanda kondisinya menurun. Bahkan malah semakin membaik. Hanya saja belum sadarkan diri.
"Tentu, Nai," jawab Umi senang.
"Membaiknya kondisi Abi adalah hal paling membahagiakan bagi Umi saat ini, Nai," lanjutnya.
Mereka berhenti di depan ruang ICU. Umi perlahan berjalan dibantu Naira dan segera memakai pakaian khusus untuk menjenguk Abi.
"Umi masuk duluan, ya..." Naira merapihkan hijab Uminya.
"Temui kekasih Umi." Naira mengerling saat kembali menuntun Umi.
"Nai tunggu di luar," lanjutnya.
Naira dan Nair duduk di kursi tunggu berwarna biru tepat di depan ruang ICU. "Alhamdulillah..." ucap Naira dengan nafas lega. Ia bersyukur karena akhirnya Abi mulai membaik.
"Allah Maha Pengasih, Nai." Ucap Nair yang duduk bersandar di kursinya.
"Allah juga Maha Penyayang, Nair," balas Naira yang menyandarkan kepalanya di dinding.
"Hari ini sangat luar biasa, terima kasih atas bantuan seluruh keluarga kamu." Naira dan Nair saling pandang.
"Kewajibanku menjaga dan melindungimu."
__ADS_1
"Memastikan kamu baik-baik saja, tak terkecuali juga keluarga kamu, Nai." Nair mengusap kepala istrinya.
Naira mengangguk kecil dan menundukkan pandangan. Ia masih malu menerima perlakuan manis dari suaminya itu.