
"Sudah siap program baby Twin?" Tanya Nair saat ia dan istrinya tengah duduk diatas kursi pesawat yang baru saja lepas landas
"Satu aja dulu, sayang." Naira menatap tajam suaminya. Tatapannya seolah mengintimidasi pria disampingnya itu. Sebenarnya tidak ada program kehamilan yang mereka jalani. Keduanya hanya berpasrah pada sang Illahi yang maha Memberi.
"Latihan dulu jadi orang tua. Latihan kesabaran, lelahnya bergadang dan capeknya kejar kejaran."
"Nah, nanti yang kedua kita program baby Twin." Naira tersenyum jahil.
"Kita lihat aja nanti." Entah mengapa Nair begitu optimis akan menghasilkan bayi kembar di kehamilan pertamanya nanti.
"Dulu, Tiara pernah keguguran baby twin, loh!" Nair memberikan informasi yang menurutnya bisa membuat Naira yakin bahwa kelak ia juga akan mengandung bayi kembar.
"Oh, ya?" tanya seolah tak percaya. Padahal Tiara sudah menceritakan padanya.
"Iya..." Nair mengangguk. "Tanya deh kalau gak percaya."
"Aku udah tau, Mas. Tiara udah cerita." seketika ekspresi wajah Nair berubah datar.
"Yaaa... Ku fikir kamu belum tau." Naira tertawa tanpa suara.
Bulan madu yang mereka harapkan akan menghasilkan dua garis pada bulan depan itu menghabiskan waktu selama 1 minggu di sebuah pulau di wilayah timur Indonesia.
Suasanya pantai yang jauh dari hiruk pikuk dan suara bising kendaraan membuat keduanya benar-benar merasa tentram.
Setiap waktu mereka lalui dengan tawa kebahagiaan. Disana mereka benar-benar menikmati waktu liburan. Rasa lelah akibat kesibukan yang selama ini mereka jalani rasanya terbayar lunas dengan melihat hamparan laut biru dan pasir putih.
"Tahun depan kita kesini lagi, ya Mas..." pinta Naira saat keduanya tengah duduk meluruskan kaki di atas pasir putih. Sesekali tangannya meraih kulit kerang dan mengumpulkannya dipangkuannya.
Nair tertawa kecil. "Boleh, program anak kedua, ya..."
"Astagfirullah, Mas..." Pekik Naira tak percaya. "Satu aja Allah belum kasih."
Nair menghembuskan nafas berar. "Entahlah Nai..." Nair menatapnya sekilas lalu meluruskan pandangan ke arah matahari tenggelam jauh di depan mereka.
"Selama bersamamu aku tidak pernah takut untuk berharap. Aku menjalani setiap hariku, setiap rencanaku dengan penuh keyakinan."
"Allah menghadirkanmu disisiku, mungkin untuk hal itu." Nair menatap manik matanya. "Untuk menggenggam tanganku." Nair meraih tangannya. "Untuk melengkapiku dan untuk menguatkanku."
"Untuk meyakinkanku bahwa apa yang akan ku hadapi di depan sana tidak seburuk yang ku bayangkan."
"Dulu, aku sama sekali tidak pernah berani berharap apapun. Terlebih saat kurasa terlalu sulit untuk bersamamu." Naira menyandarkan kepalanya di bahu Nair.
"Aku pernah mendahului Allah, mempersiapkan cincin lamaran." Nair tertawa kecil. "Tapi Allah mengatakan belum saatnya Nair." Suaranya kian serak. Tanda sebentar lagi bulir bening akan menetes dari sudut matanya.
__ADS_1
Membayangkan betapa lama penantiannya, betapa berat perjuangannya dan ada di titik ini bersama wanita yang ia cintai rasanya sujud syukur tiap hari tak bisa menggambarkan betapa besar rasa terima kasih itu pada sang Ilahi.
"Dan aku hidup dalam kekecewaan. Dari sana aku tidak pernah lagi menaruh harapan. Aku hanya menjalani apa yang ada di depan mataku."
Nair mengusap pipinya. "Sekarang aku ada disini, Mas. Menggenggam tanganmu." Naira menaikkan genggaman tangan mereka tepat di depan wajah keduanya.
"Aku ada disampingmu, menemanimu sampai Allah mengatakan Saatnya kamu pulang."
"Teruslah berjuang, teruslah bermimpi, teruslah kejar apa yang ingin kamu capai."
"Aku yakin, usaha kamu, doa ku dan doa kamu akan membuat semua mimpimu tercapai."
"Kita tau, Allah selau menolong kita."
****
"Selamat tinggal tempat yang indaaah..." Naira menatap sekeliling resort yang selama seminggu ini ia tinggali.
"Semoga Allah memberi kami kesempatan lagi untuk mengunjungimu."
Nair tersenyum kecil. "Sudah siap?" tanya Nair pada istrinya yang sepertinya belum rela meninggalkan tempat indah itu.
"Ayo!" Naira menerima uluran tangan suaminya. Keduanya bergandengan tangan untuk masuk ke dalam boat untuk menyebrang. Dan selanjutnya mereka akan menempuh perjalanan menuju Bandara untuk bisa sampai di Jakarta.
"Lumayan..." jawabnya pelan. Naira merasa ada sesuatu yang salah dengan tubuhnya. Ia merasa tidak enak badan.
Nair dan Naira melihat hamparan laut nan luas. Ada beberapa penumpang lain di boat itu.
"Nai..." Nair mendekatkan wajahnya ke wajah sang istri yang terlihat janggal.
Naira mengusap bawah hidungnya, karena merasa ada sesuatu yang keluar dari sana.
"Astagfirullah, Nai... Kamu mimisan!" pekik Nair tanpa sadar. Naira melihat darah di jemarinya.
"Iya, Mas..."
Nair mencari tissu di tas milik istrinya. "Menunduk, Nai." Naira menundukkan kepalanya agar darah tidak masuk ke dalam saluran pernafasan atau bahkan ke kerongkongan.
Nair menutup hidung istrinya dengan tissu di tangannya.
"Pak masih lama sampai ke sebrang?" tanya Nair panik. Karena ini pertama kalinya Naira mimisan.
"Sekitar dua puluh menit lagi, Pak."
__ADS_1
Penumpang lain juga turut prihatin. Ada yang mengatakan ia kelelahan, alergi bahkan ada yang mengatakan adanya indikasi penyakit serius.
Bahkan tak segan ada yang menceritakan pengalaman buruk saudaranya yang sering mimisan dan akhirnya meninggal karena penyakit kronis.
Nair tetap fokus pada Naira dan seolah menutup telinga saat mendengar penumpang lain bercerita.
"Masih belum berhenti, Nai." Padahal hampir 15 menit ia mimisan. Wajah Naira mulai pucat dan Nair sedikit panik.
Dia memang seorang dokter, tapi entah mengapa ia sedikit panik. Mungkin karena yang ia tangani adalah istrinya sendiri.
"Pak, bisa lebih cepat gak?" Nair bertanya pada pria di balik kemudi.
"Tidak bisa, Mas. Anginnya lumayan kencang dan saya tidak bisa mengambil resiko dengan membahayakan orang lain."
"Rumah sakit terdekat berapa jauh dari dermaga, Pak?"
"Ada sekitar 2 km, Mas." Nair menghembuskan nafas lega. Setidaknya Naira segera mendapatkan pertolongan.
"Mas, jangan panik."
"Aku gak kenapa-kenapa." Naira memegang tissu di bawah lubang hidungnya.
Nair membuka jaketnya dan menutup kepala Naira untuk mengurangi terpaan angin.
Keduanya segera turun dari boat dan segera mencari kendaraan menuju rumah sakit terdekat.
"Kita ke bandara, Mas."
"Enggak. Kita ke rumah sakit dulu." Nair berjalan cepat mencari taxi atau ojek.
Naira duduk di sebuah kursi menunggu Nair mendapatkan kendaraan yang bisa mereka tumpangi.
"Kita bisa ketinggalan pesawat, Mas."
"Kamu lebih penting, Nai."
Naira memegangi kepalanya yang mulai pusing. Darah yang mengalir sudah berhenti.
"Braak!" Naira terjatuh dari kursi saat seseorang menarik tas yang ia pegang.
"Astagfirullah, jambret!" teriaknya dengan suara lemah.
Nair berbalik dan melihat istrinya terjatuh. Ia seketika membantu Naira untuk duduk kembali dan bergegas mengejar dua pria yang mengambil tas istrinya.
__ADS_1
"Heii... tolong!!! Pencuri!" Nair berlari sekuat tenaga mengejar dua orang yang berlari sangat cepat itu.