
Nair dan Akhtar ikut bernafas lega. Karena biar bagaimana pun mereka ingin yang terbaik untuk Tiara. Dan yang terbaik itu adalah tidak hamil dulu.
Nath mengusap punggung istrinya. "Udah ya, jangan galau lagi. Jangan uring-uringan lagi."
"Kamu mungkin kecapek'an Ti. Aktivitas kampus bisa saja jadi penyebabnya sementara kamu baru saja membaik," ucap Lintang ikut mengusap punggungnya.
Tiara mengangguk. "Tia takut, Ma."
"Iya, karena kamu memikirkan ini berlebihan, Ti," ucap Nath seolah mengakimi Tiara.
Tiara menatap tajam padanya. "Gara-gara siapa aku begini! Ha! Gara-gara siapa?" Tiara geram pada suaminya sampai-sampai ia merapatkan gigi atas dan bawahnya lalu mencubit perut Nath berulang-ulang.
"Ihhhhh." Tiara terus mencubit perut Nath. Nath lari untuk menghindar tapi Tiara terus mencubitnya.
"Sini, gak?"
"Gak mau!" Nath berputar-putar di ruang keluarga.
"Kamu yang salah, kamu pula yang terlihat santai, Bang! Malah nyalahin aku yang berlebihan!" Tiara mengejar Nath yang lari ke kamar.
Nair tertawa. "Kenapa ketawa, Nair?" tanya Akhtar yang duduk di depannya. "Pengen nikah juga?" Nair diam dan menggeleng.
Lintang mendekati mereka dan ikut duduk di samping Akhtar. "Biar mama papa nafas dulu, Nair."
"Belum setahun Bi sama Zoy, Nath nyusul dengan cara begitu."
"Mama harap kamu jangan dulu ya, Nak."
"Iya, Ma."
"Kalau kamu memang ingin, nikah dengan cara baik-baik Nak. Jangan tiru Nath." Akhtar ikut bicara.
"Enggak kok, Pa." Nair berdiri dari duduknya. "Nair ke kamar dulu, Ma."
"Gak jalan Nair?" tanya Akhtar.
"Sore nanti rencana mau ke cafe Rion, Ma, Pa."
Sementara itu di dalam kamar Tom dan Jerry, air dan minyak.
Tiara menjatuhkan dirinya di atas ranjang karena kesulitan mengejar suaminya. Kaki panjang Nath dimanfaatkan dengan baik untuk berlari cepat dan menaiki ranjang lalu turun lagi.
Sedangkan Tiara yang bertubuh mungil itu kesulitan mengikuti Nath.
"Capek banget?" tanya Nath ikut menjatuhkan diri di sampingnya. Nath tidur dengan posisi tengkurap.
"Banget." Tiara masih mengatur nafasnya.
"Renang, yuk," ajak Nath.
"Gak bisa berenang," sahutnya cepat.
Nath tertawa. "Abang ajarin." Tiara langsung menatap Nath yang menyebut dirinya sendiri abang.
Tiara tertawa. "Sok hebat."
"Kalau cuma ajarin kamu pegang sisi kolam dan gerakin kaki kayak duyung aku bisa lah."
Tiara kembali tertawa. "Begitu doang, tanpa diajarin aku juga bisa, Bang."
"Ayolah. Biar kamu sehat." Nath melingkarkan tangannya di perut Tiara. "Katanya renang juga bisa nambah tinggi badan, loh?"
Tiara mengusap tangan Nath di perutnya. Ia tidak menjawab sepatah kata pun. Tiara menatap wajah Nath yang berbantalkan tangannya sendiri. Wajah yang juga sedang menatap kearahnya.
"Terima kasih sudah membuat Tia nyaman sejauh ini, Bang."
"Terima kasih mau bertahan sejauh ini, Ti."
"Masih sebulan, Bang."
"Semoga waktu sebulan akan terus terulang sampai akhirnya kita menutup mata."
"Amin."
"Siang nanti kita jalan, ya," ajak Nath. "Kita mampir ke cafe Rion."
__ADS_1
Tiara mengangguk. "Boleh. Tapi kita jalan ke rumah kak Zoy ya."
"Sip. Aku juga kangen baby Zi."
***
Nath dan Tiara sedang dalam perjalanan menuju rumah Zoya. Berboncengan dengan motor sport yang belakangan jarang Nath gunakan.
"Baby Ziiiiiiii...." Pekik Tiara saat sepeda motor Nath sampai di halaman rumah milik Ezra dan Zoya.
"Waaahhh, kalian main kesini? Ayo sini," ajak Zoya. Pasangan suami istri itu tengah duduk di gazebo di halaman depan dengan baby Zi yang mereka letakkan di bouncher.
Tiara langsung turun dari motor Nath. "Hati-hati, sayang. Awas nyangkut gamisnya."
Tiara tertegun mendengar ucapan Nath dengan nada pelan itu. Tiara tersenyum dan menunggu Nath turun.
"Ayo!" Nath meraih tangannya. Tiara memperhatikan semua perlakuan Nath. Ia bertanya-tanya apakah ini hanya sandiwara supaya Ezra mengira mereka sangat harmonis dan bahagia?
"Sore banget kesininya?" tanya Zoya.
"Panas banget siang tadi, kak," sahut Nath langsung duduk di dekat Ezra setelah melepas tangan Tiara yang langsung duduk di dekat Baby Zi.
"Mobil kan ada, Nath!" ucap Zoya. Memang benar, sebenarnya ada dua mobil di rumah itu, yaitu mobil Akhtar dan mobil Lintang.
"Heheh, punyanya ini. Ya pake ini aja, kak," balas Nath sambil terkekeh.
"Bener banget. Sesuaikan sama keadaan aja ya Nath, gak perlu dipaksa banget."
"He'em bang. Selagi Tiara masih mau naik motor."
Tiara melirik Nath. "Emangnya Tia cewek matre."
"Hahahah..." mereka tertawa.
"Kak Zoy yang punya segalanya aja gak malu jalan naik motor sama abang, Ti," ucap Ezra membuat Zoya tersenyum tipis.
"Saat ini, banyakin tabungan dulu, Nath. Nanti kalau udah punya anak, udah cukup tabungan kalian dan keuangan udah stabil, pelan-pelan deh nikmati hasilnya."
"Bisa dimulai dari rumah bukan mobil."
"Kenapa gitu bang?" tanya Nath.
Ketiganya tertawa. Berbarengan dengan asisten rumah tangga yang datang membawa minuman dan cemilan.
"Baby Zi, udah gembul banget pipinya sayang," Tiara mengusap lembut pipi baby Zi setelah membersihkan tangannya dengan handsanitizer yang Zoya bawa.
Kebersihan nomor satu mengingat kondisi baby Zi yang istimewa. Zoya khawatir bayinya itu rentan terhadap penyakit dan kuman.
"Kayak tante Tiara nih, gemukan." Zoya tersenyum melihat Tiara yang memang tampak lebih berisi.
"Ah, masa sih kak?" Tiara menyentuh pipinya. "Perasaan segini-segini aja."
"Nath juga kelihatan gemuk, Zoy," sambar Ezra.
"Buncit ini, Bang. Lama gak jogging," sahut Nath yang sedang membuka toples kue di atas nampan.
"Bukan itu alasannya, Nath. Tapi asupan susu yang terjamin. Hahahahah." Ezra tergelak. Nath juga tergelak. "Abang tau aja."
Zoya mendelik kearah suaminya. Sementara Tiara tertawa malu. "Laki-laki memang begitu, Ti. Isinya gak jauh-jauh dari dada sama paha."
"Kak, boleh gendong," bisik Tiara ragu.
Zoya tersenyum lebar. "Boleh dong. Pas banget nih, baby Zi udah capek banget bobok terus ya sayang."
Zoya meletakkan bayinya dalam gendongan Tiara. "Kak, imut banget."
"Kayak mamanya, Ti."
"Gantengnya kayak papanya."
"Manisnya kayak om Nath ya sayang."
Tiara tertawa pelan. "Om kamu suka ngaco ya sayang."
"Manis apanya? Asem iya, ya kan sayang," ucap Tiara pada bayi laki-laki di gendongannya seolah bayi itu mengerti ia ajak bicara.
__ADS_1
Baby Zi menggerak-gerakkan kepalanya membuat Tiara ketakutan. Takut bayi itu terjatuh. "Kak, ini gimana kak? Dia gerak-gerak kak."
Zoya tertawa pelan. "Gak apa-apa Ti. yang penting tangan kamu jangan dilepasin."
Nath tertawa. "Lucu banget kamu, Ti."
"Anak-anak gendong anak. Hahahah." Nath tertawa.
"Pelankan suara kamu, Bang. Baby Zi kaget entar."
Ezra meninju lengan Nath pelan. "Ulah kamu juga hampir buat dia gendong anak, Nath."
Tiara tersenyum tipis. Ia sudah ikhlas jadi gak boleh tersinggung atau berkecil hati mendengar kata-kata Ezra.
"Ikhlasin ya, Ti. Insya Allah, Allah ganti disaat yang tepat."
"Amin kak."
"Nath, kalian gak punya rencana untuk mandiri?" tanya Ezra pada adik iparnya.
Nath mengangkat bahu. "Takut mama sama papa gak izinin, Bang."
"Aku juga pengennya senyaman Tiara aja. Kalau dia masih nyaman tinggal bareng mama papa, ya aku gak masalah. Tapi kalau dia minta pindah, ya aku turutin."
Tiara menatap Nath yang sepertinya sangat serius menjawab pertanyaan Ezra. Jujur, ia ingin mandiri bersama suaminya meski hidup dengan sederhana. Tapi ia takut mengatakan hal itu pada Nath.
"Udah bucin nih," ledek Ezra sambil terkekeh.
"Aku udah janji sama diriku sendiri bang. Pernikahan ini harus sekali seumur hidup. Jadi aku mau melakukan yang terbaik."
Tiara menghangat hatinya mendengar ungkapan Nath.
"Bagus, Nath. Memang harus seperti itu. Kalau kalian mau, bisa tinggal di rumah lama kami."
"Yang di komplek itu bang?" tanya Nath sedikit kaget. "Bukannya abang sewa."
Ezra mengangguk. "Awalnya iya. Tapi mengingat perjuangan Zoya dan baby Zi di rumah itu kami memutuskan untuk membelinya."
"Rumah itu juga punya sejarah dalam kisah kalian, kan." Ezra dan Zoya tertawa kompak. Tiara dan Nath tersenyum canggung.
"Kalian boleh tinggal di sana, asal kamar utama tidak diubah sedikitpun. Kalian pakai kamar Tiara aja."
"Kami fikir-fikir dulu, bang," ucap Nath. "Gimana Ti?"
"Aku terserah sih. Tapi kita harus bicarakan ini sama mama papa, Bang."
"Ti, kamu bujuk ayah dong soal jangan narik ojek lagi. Ibu juga, jangan bolehin cuci baju orang lagi," pinta Ezra.
"Iya, Ti. Kami rencananya mau buatin ibu usaha loundry, ya sayang."
Ezra mengangguk. "Atau minimal ayah sama ibu jual kebab. Nanti abang cari lapak dan bikin kios kecil buat mereka jualan, Ti."
"Tia udah bujuk, Bang. Tia juga gak tega lihat ayah di jalanan yang ramai banget gitu."
"Waktu masih kerja di rumah baca, Tia sampai bilang ke ayah untuk pilih mau usaha apa. Tia rela bayar tiap bulan modal yang abang kasih."
"Tapi ayah tetap nolak, Bang."
Nath dan Zoya menyimak obrolan mereka. Dan Nath tiba-tiba punya ide.
"Ti, ayah bilang akan biayain kuliah kamu, kan?" Tiara mengangguk menatap Nath.
"Gimana kalau ayah pakai uang itu untuk buat usaha, seperti saran bang Ezra atau cuma sekedar warung kecil, Ti."
"Aku yakin ayah nolak karena gak mau repotin siapa-siapa sih."
"Nanti uang kuliah kamu, biar aku yang tanggung," lanjut Nath.
"Kamu? Kamu kan belum kerja, Bang."
"Uang sewa kostan cukup, Ti. Lebih malah."
"Jadi 20 unit yang papa kasih, Nath?" tanya Zoya memastikan.
"Iya kak."
__ADS_1
"Cukup banget Ti. Sebulannya bisa buat bayar kuliah kamu satu semester." Zoya tertawa pelan.
"Nanti kapan-kapan kita kesana, obrolin ini sama ayah ibu." Semua setuju atas saran Ezra.