
"Belum siap-siap, sayang?" tanya Nath yang baru saja masuk ke dalam kamar saat melihat Tiara masih memakai setelan piyama.
Tiara meletakkan bayinya di atas ranjang. Bayi yang menjulur-julurkan lidah beberapa kali setelah kenyang menyusu.
"Nara baru selesai menyusu, Bang." Tiara berdiri dan bersiap membuka popok bayi yang tampak sudah penuh itu.
"Biar abang aja, sayang!" Nath menggantikan posisi Tiara yang hendak menggantikan popok bayinya. "Kamu ganti baju dulu aja. Sebentar lagi acaranya mau dimulai, Ti."
Tiara menuruti perintah suaminya. Nath baru saja pulang dari masjid untuk sholat Zuhur. Jadi, suaminya itu tidak perlu mengganti pakaiannya lagi.
Hari ini adalah hari ke 21 kelahiran bayi mereka. Sesuai rencana, akan di adakan acara aqiqahan bayi cantik yang diberi nama El Nara Putri Alvarendra itu.
Bayi yang Tiara lahirkan secara caesar karena letak bayi yang melintang didalam kandungan.
Tiara sama sekali tidak pernah menginginkan melahirkan melalui operasi caesar, ia sebenarnya ingin melahirkan secara normal. Tapi demi keselamatan bayi yang ditunggu semua anggota keluarga itu, ia akhirnya memberanikan diri.
Di ruang operasi, Nath setia menemaninya. Nath tak putus mengucapkan doa sepanjang proses operasi berlangsung.
Bayi cantik berbobot 3700 gram menangis keras membuat semua orang dalam ruang operasi itu bernafas lega. Sebuah momen yang sama sekali tidak Nath dan Tiara lupakan.
Dulu, begitu mudah Allah mengambil 2 janin dalam rahim Tiara dan sekarang, untuk mengeluarkan satu janin rasanya harus melewati hal sulit ini. Tapi keduanya tetap bersyukur, bayi cantik itu lahir dengan selamat dan tidak kekurangan satu apapun.
"Sama Daddy ya sayang!" Nath dengan telaten membuka popok bayi dan menggantinya dengan yang baru.
Untung saja, Nath sempat mengikuti kelas merawat bayi baru lahir. Ia sekarang sedang membuktikan bahwa apa yang ia lakukan 2 bulan lalu itu tidak sia-sia.
"Waah! Pinter nih cantiknya Daddy!"
"Gak nangis kalau digantiin." Nath merasa gemas melihat bayi putih bermata jernih itu beberapa kali menggerak-gerakkan kepalanya.
"Dia nangis kalau lagi ngantuk tapi digantiin, Bang!" ucap Tiara yang sudah mengganti pakaiannya dengan gamis berwarna putih. Ia tengah memakai bedak dan lipstik. Bukan make up yang terlalu tebal, tapi make up yang hanya untuk menutupi wajah lelahnya.
"Kalau lagi kenyang, dia happy terus." Tiara mulai hafal kebiasaan putri kecil yang sering kali mengajaknya begadang itu.
"Ku fikir yang lain pada dibawah karena kamu udah siap-siap, Ti."
"Eh, rupanya belum."
"Aku nunggu Nara bangun, Bang! Aku susuin dulu, baru ganti baju."
"Lagi pula, masih satu jam lagi acaranya."
***
Nath dan Tiara turun ke lantai bawah. Nath yang menggendong bayi cantik yang memakai turban berwarna soft pink itu.
"Cucu oma, cantik banget sayang." Lintang langsung menerima Nara dalam gendongannya. Membiarkan Nath dan Tiara duduk dengan tenang.
Semua persiapan sudah selesai. Tinggal menunggu tamu yang diundang.
"Nara sayang!" panggil Nurul yang duduk disamping Lintang. Ia sangat bahagia atas kelahiran cucu pertamanya itu.
"Mirip Nath banget kan, Mbak?" tanyanya pada Lintang.
"Iya. Nath banget mukanya." Lintang mengangguk setuju.
__ADS_1
"Hidungnya itu loh, Bu. Mancungnya minta ampun!" Naura yang duduk sambil memainkan ponselnya itu ikut bicara. Memuji keponakan barunya.
"Iya dong! Kamu mah kalah Ra," Tiara menggoda adiknya. "Kalah cantik, kalah mancung!"
Bukannya marah, Naura malah terkekeh. "Entar kalau punya baby, babyku pasti lebih cantik dari Nara, Kak!" Sahut adiknya tak mau kalah.
"Huss! Masih SMP udah mikirin punya baby! Belajar yang benar!" Nurul mendelik kearah putri bungsunya. Naura hanya nyengir kuda.
"Tahun depan udah SMA, Bu."
"SMA juga belom boleh punya bayi, Naura!" Naura makin tertawa.
"Loh, iya kah? Itu padahal cita-cita Naura, loh Bu." Naura senang sekali menggoda ibunya.
"Bilang sekali lagi! Kakak potong uang jajan kamu, Ra!" Ancaman paling ampuh dari Tiara.
Naura menangkupkan kedua telapak tangannya. "Ampun kanjeng putri! Janji enggak buat lagi."
"Tapi bulan depan tambahin, yaaa." Kalimat Naura membuatnya mendapat tatapan tajam dari ibunya.
Tiara tertawa puas melihat adiknya yang langsung down ditatap seperti itu oleh ibunya.
Ibu yang mereka kenal sangat jarang marah. Maka dari itu, tatapan tajam saja sudah membuat mereka takut.
"Ti, fikirkan jahitan di perut kamu. Ketawanya kok begitu banget!" tegur Nurul pada Tiara.
Naura menjulurkan lidah kesenangan. Ia menutup mulut dengan telapak tangannya menertawakan kakaknya yang seolah mendapatkan balasan dalam hitungan detik.
"Papa sama ayah kemana? Kok gak kelihatan?" tanya Tiara saat tidak menemukan Ayah dan Papa mertuanya di ruangan itu.
"Papa sama ayah ada diluar. Ngopi, mumpung belum ada tamu yang datang," jawab Nath yang melihat keduanya berada di halaman belakang rumah.
Mereka menyalami semua orang. Naira langsung berjongkok di depan Lintang dan melihat bayi yang mulai berisi itu.
"Assalamualaikum cantik. Kembaran onty Naira." Naira tertawa pelan saat melihat bayi itu menjulurkan lidah seperti merespon ucapannya.
"Loh, kok malah ngeledek sih." Dan Naira semakin gemas saat bayi itu meninju udara dan hampir mengenai wajahnya.
"Wah! Ngajak berantem nih." Nair berdiri dibelakang kursi yang Lintang duduki demi bisa melihat keponakan cantiknya itu.
"Kelakuan bapaknya udah ditiru!" sambung Nair dan Lintang malah tertawa.
"Dulu, Nath berantemnya sama kamu, Nair."
"Kalau kalian segera punya baby, entar mama jamin, Nara berantemnya sama anak kamu, Nair." Lintang kembali tertawa membayangkan momen yang dulu sudah ia alami.
Nair tertawa. "Doakan yang terbaik ya ma." Nair memeluk leher mamanya. Naira tersenyum melihat kelakuan Nair yang tanpa malu melakukan hal itu.
*Ini yang aku lihat darimu, Mas. Bagaimana kamu memperlakukan ibumu. Bagaimana kamu menjalin hubungan baik dengan seluruh keluargamu.
Aku salut pada keluarga kalian dan aku bahagia ada ditengah tengah kalian semua*.
"Sekalian aja, Ma. Namain anaknya Nair sama Naira, Nana."
"Kan pas tuh. Nara sama Nana." Nath tertawa saat mengatakan apa yang ada dalam fikirannya.
__ADS_1
"Cocok bang!" sambar Tiara.
"Nara kan Nath-Tiara."
"Kalau Nana, Nair-Naira."
Naira tersenyum simpul. Ia sendiri bahkan belum membayangkan sampai sejauh itu. Bisa bersama Nair saat ini saja sudah syukur alhamdulillah.
Lintang tertawa. "Wah, pas banget, Ti. Dan yang pasti rumah mama bakal rame."
"Tambah Queen yang selalu debat sama Zidane. Tambah lagi Prince yang pecicilan persis Rion."
"Ya Allah. Mama gak kebayang, Nath."
"Sediain aja obat sakit kepala yang banyak, Ma." Nath dan Nair kompak tertawa. "Mama pasti akan butuh itu per 6 jam sekali."
"Nair, kasih dosis yang pas buat mama." Candaan Nath makin menjadi.
"Boleh deh, sekalian obat darah tinggi buat papa." balas Nair.
"Ya Allah, Abang ih!" Tiara mencubit paha suaminya. "Sama mama kok becandanya kayak gitu."
"Biarin aja, Ti. Mama udah kebal sama tingkah mereka berdua."
"Assalamualaikum."
"Akhirnya, tamu istimewa, pemimpin doa, datang!" Nath berdiri dan menyalami pria yang tampak masih muda diusia kepala 5 itu.
"Om bisanya cuma doa mau makan sama mau tidur, Nath." Balas Langit pada keponakannya itu.
"Uti sama kakung kemana, Om?" tanya Nath pada Langit.
"Masih dibelakang, gak tau mampir beli apa tadi. Beda mobil soalnya."
Rara dan kedua anak mereka turut hadir dan menyalami semua orang yang ada disana.
"Kita langsung ke depan aja, yuk."
"Sebentar lagi tamu juga pasti mulai berdatangan." ajak Lintang.
Benar saja. Tamu mulai berdatangan. Mulai dari anak-anak yatim, tetangga, keluarga dan beberapa tokoh masyarakat di sekitar rumah mereka.
***
Setelah ini adalah bab Terakhir.
Kenapa seperti dipercepat?
Sebenarnya enggak dipercepat. Memang begini endingnya. Hanya saja emak menambahkan kisah Rey-Clou sebagai pelengkap. Anggap aja mereka kerupuk di nasi goreng emak 😅
Soal Nair, memang akan di lanjut di sini sebagai bonus chapter/ Ekstra Bab.
Kalau Shaka dan Syafa akan dirilis awal bulan, InsyaAllah.
Nah, novel baru yang Selena's First Love, belum bisa dilanjut karena belum ada feedback dari editor 😭
__ADS_1
Caraka dan Chiara, belum tahu 😁
Jejak tolong ditinggal ya kak ☺