
"Papa." Nath berjalan maju dan memeluk kedua orang tuanya. Mama Lintang dan papa Akhtar ada di sini, rumah sakit yang sama dimana baby zi dirawat. Keduanya baru saja mengantarkan stok ASI untuk baby Zi.
Papa Akhtar dan mama Lintang bisa melihat wajah Nath sedikit lebam dan ada noda darah di bajunya.
"Kamu kenapa disini, Nath?" tanya mama Lintang.
"Nath." Suara Ezra membuat Nath menatapnya. Ezra memang berjalan agak jauh di belakang orang tuanya.
Nath melepas pelukannya pada papa Akhtar dan berjalan mendekati Ezra. "Abang gak angkat panggilanku, Bang. Tolong hubungi orang tua Tiara, Bang." Mata Nath mulai kembali berkaca.
"Tiara?" tanya Ezra.
"Tiara kecelakaan, Bang," ucap Nath lirih.
"Astaghfirullah." Ezra, papa Akhtar dan mama Lintang berucap kompak. Mereka terkejut.
"Kok bisa?" tanya Ezra.
"Zra, hubungi orang tua Tiara dulu," perintah papa Akhtar. Mereka berjalan ke ruang tunggu, sementara Ezra menghubungi ayah Tiara, ayah Zainal.
Ezra ikut bergabung. Dan pria yang duduk sendiri di ujung menyita perhatiannya.
"Kamu Reyfan kan? Abangnya almarhum Reyga?" tanya Ezra duduk di sebelah pria itu.
Reyfan mengangkat wajahnya. "Iya bang."
Nath menatap tajam keduanya. Bang Ezra kenal dia dan Reyga? Batin Nath.
Ezra memang sering bertemu dengan Reyga. Jika dengan Reyfan, sangat jarang. Hanya beberapa kali, termasuk saat pemakaman Reyga.
"Kenapa disini?" tanya Ezra.
"Dia yang buat Tiara kecelakaan," sambar Nath. Nath berdiri bersandar pada dinding. Ia melipat tangannya di dada. Perasaannya tengah gundah, mana mungkin ia bisa duduk tenang.
Ezra dan kedua orang tua Nath saling pandang. Mereka bertanya-tanya sebenarnya apa yang terjadi, terlebih saat melihat wajah pria bernama Reyfan itu juga tampak lebam.
"Ini juga salah kamu." Reyfan tidak terima di tuduh sebagai penyebab terjadinya kecelakaan itu.
"Kamu yang dorong!" Nath berdiri tegak, menunjuk Reyfan dengan tegas.
Reyfan berdecih. Ia kalah karena memang ia yang salah. Bahkan banyak saksi yang melihat. Reyfan terus menggunakan otak cerdasnya untuk berfikir.
Aku gak boleh cari gara-gara saat ini. Bisa-bisa kasus ini akan dibawa ke jalur hukum oleh keluarga Tiara. Batin Reyfan.
"Nath, tetap tenang," tegur papa Akhtar pada putranya.
"Iya Nath, simpan masalah pribadi kalian nanti. Yang penting untuk saat ini adalah kondisi Tiara," ucap Ezra sambil menatap kedua pria yang masih saling memberi tatapan membunuh itu.
Suasana kembali tenang. Namun, dering ponsel Reyfan kembali menyita terhatian mereka.
"Hallo..."
"Iya. Saya segere kesana, Pak." Reyfan berbicara melalui ponselnya.
Reyfan kembali menyimpan ponselnya di saku celana. "Bang, aku harus segera pergi."
__ADS_1
"Ada klien penting yang membuat pertemuan mendadak," pamitnya pada Ezra.
Ezra mengangguk.
Reyfan pergi, dan itu membuat Nath sedikit bisa meredam emosinya. Melihat wajah Reyfan jelas memancing emosinya. Ia telah menempatkan Tiara dan janinnya dalam bahaya.
"Erzaa ...." Suara wanita yang lebih muda dari mama Lintang membuat Ezra menoleh.
"Bu ...." Ezra langsung menyambut dan mempersilahkan ibu Nurul - ibunnya Tiara dan ayah Zainal.
"Tiara dimana, Zra. Kenapa bisa terjadi?" tanya ayah Zainal.
"Ezra gak tau pasti, Bu. Nath yang bawa Tiara kesini."
Kedua orang tua Tiara berdiri di depan Nath. "Bagaimana kejadiannya, Nak?" tanya Ibunya Tiara.
Nath bingung harus menceritakan dari mana. Tidak mungkin ia mengatakan pada orang tua Tiara bahwa penyebabnya adalah perkelahian antara dirinya dan Reyfan, dimana pemicunya adalah pengakuan Tiara yang mengatakan bahwa ia hamil.
Belum Nath menjawab, seorang dokter keluar dari ruang IGD.
"Suami pasien?" tanya dokter laki-laki berperawakan besar itu.
Semua orang tercengang, bahkan saling pandang. Kedua orang tua Tiara dengan sigap berjalan mendekat kearah dokter.
"Saya ibunya, Dok."
Dokter tersebut tersenyum. "Pasien baik-baik saja. Lukanya tak terlalu parah."
"Tapi mohon maaf, kami tidak bisa menyelamatkan janin kembarnya."
Jantung Nath terasa berhenti seketika, namun sedetik kemudian berdetak cepat tak karuan. Tubuhnya hampir limbung, ia berpegangan pada dinding, dan satu tangan lagi meremas baju di bagian dadanya.
Jantungnya sakit, dadanya terasa sesak. Hatinya hancur berkeping. *Kembar? Dokter mengatakan janinnya kembar? Dan sekarang tak bisa diselamatkan?
Ayah macam apa aku ini*?
Ibunya Tiara terduduk lemas di lantai. Ezra dan suaminya langsung membantu dan membawanya ke kursi tunggu.
Dokter ikut membantu, dan segera pergi setelah mengatakan, Tiara belum bisa di temui karena perlu istirahat.
Isak tangis bu Nurul mendominasi kesunyian karena semua orang tengah berkecamuk dengan fikiran masing-masing.
"Tiara hamil, Mas?" tanya bu Nurul pada suaminya disela isak tangis.
"Tia hamil anak siapa, Mas?"
"Tiara ..., ibu gak menyangka kamu akan keluar dari batasan sampai sejauh ini."
Ezra dan ayah Zainal terus menenangkan wanita yang melahirkan Tiara itu. Sementara mama Lintang dan papa Akhtar hanya diam dan menunggu tanpa ikut campur.
Ezra menatap Nath yang terlihat sangat kacau. Nath sudah terduduk di lantai dengan menekuk lutut dan menenggelamkan kepalanya di lututnya.
Ezra berjalan dan segera berjongkok di hadapan Nath.
Nath yang merasakan ada seseorang dihadapannya langsung mengangkat wajahnya. Tatapan mata sembabnya saling mengunci dengan mata berkaca penuh amarah milik Ezra.
__ADS_1
Ezra menarik kerah baju Nath. "Katakan itu bukan anakmu, Nath!" bisik Ezra penuh penekanan. Rahangnya mengeras, tangannya meremas kuat kaos yang Nath pakai.
Nath menunduk dan tak berani menatap Ezra. "Lihat mataku, Nath!" Bentak Ezra.
"Zra ...." Papa Akhtar berdiri dari duduknya.
"Sebentar, Pa."
"Nath!" Bentak Ezra lagi.
Nath menatap Ezra dan mengangguk lemah. Air matanya kembali menetes. "Itu anakku, Bang," ucapnya lirih.
Lintang langsung berdiri dan memeluk lengan suaminya. "Nath, Mas," ucapnya lirih.
Orang tua Tiara juga langsung menatap Nath. Mereka tak pernah tau ada hubungan istimewa antara Nath dan putri mereka.
"Itu anakku, Bang," ulang Nath semakin lirih.
Emosi Ezra susah di ubun-ubun. Ia menarik kerah baju Nath dan menyeretnya. Ezra menghimpit tubuh Nath ke dinding. "Brengs*k!"
Bught.
Satu bogem mentah melayang ke wajah Nath.
Mama Lintang yang masih syok membuang muka, tak sanggup melihat putranya dihajar menantunya.
"Kamu tidak bisa melihat Nath? Bagaimana aku dan Rion menjaga kakak-kakakmu. Dan kamu malah merusak adikku," bentak Ezra penuh kemarahan.
Bught.
"Zraa!" pekik mama Lintang dan Akhtar bersamaan.
"Sudah, Zra. Kita akan selesaikan nanti. Ini rumah sakit, jangan membuat keributan atau kita akan diusir satpam." Ayah Zainal membuat Ezra sedikit meredam emosi.
Ezra langsung melepaskan Nath dan meninggalkan tempat itu. Ia butuh menenangkan dirinya. Melihat wajah Nath hanya akan membuatnya semakin tersulut emosi. Ia juga marah pada dirinya sendiri, karena selama ini Tiara tinggal bersamanya. Ia merasa tak bisa menjaga adik angkatnya itu.
Dengan wajah lebamnya, Nath berjalan mendekat dan langsung bersujud di kaki mama Lintang.
"Nath minta maaf, Ma. Nath minta maaf, Pa," tangisnya sambil mencium kaki orang tuanya.
Lintang tak sanggup lagi menanggung malu dan kecewa terhadap putranya itu. Ia terlalu percaya pada Nath. Ia terlalu percaya diri membebaskan Nath dan tidak memberikan pengawasan ketat. Lintang marah pada dirinya sendiri. Ia merasa gagal sebagai orang tua.
Akhtar pun sama, ia sangat marah dan kecewa pada putranya itu.
"Maafin Nath, ma."
"Minta maaf pada orang tua Tiara!" perintah Akhtar dengan suara dingin.
****
Yang minta janinnya di selamatkan, mohon maaf. Ini alurnya emang udah othor buat begini.
maaf ya guys. 🙏🙏🙏
Nath masih harus di gembleng nih 😭
__ADS_1
Tunggu kelanjutannya ya 😊