EL NATH ( Penyesalan Terindah)

EL NATH ( Penyesalan Terindah)
Bab 47 Reka Ulang


__ADS_3

Nath bangun dari tubuh Tiara dan membersihkan tubuh istrinya dari benih yang tercecer dengan tissu yang ia ambil di meja rias. Ia juga tak lupa membersihkan tubuhnya sendiri.


"Yakin gak ada yang di dalam, Bang?" tanya Tiara yang masih belum merubah posisi. Tubuhnya terasa lemas dan membuatnya malas untuk bergerak.


Sejujurnya ia tidak takut hamil. Hanya saja kondisi tubuhnya yang belum boleh untuk kembali mengandung. Ia khawatir jika akhirnya hamil pun akan sangat beresiko pada janinnya nanti.


Nath diam sebentar. "Yakin," jawabnya tanpa menatap Tiara.


Hal itu justru membuat Tiara ragu. "Beneran yakin?"


"Iyaaaa Ti." Nath menatap Tiara dengan tangan yang ia tumpukan di rajang membuat posisi mereka semakin dekat.


"Awas aja kalau aku hamil!" Tiara menatapnya tajam. Ucapannya jelas sebuah ancaman dan akan ada akibat yang Nath terima jika ia menghamili istrinya itu.


"Kenapa? Gak percaya sama aku?" tanya Nath yang semakin terluka harga dirinya karena Tiara meragukan kemampuannya.


Tiara diam. "Bukan gak percaya. Aku cuma ragu kalau gak ada yang nyangkut di dalam."


"Ck! Ayo kita buktikan!" Ajak Nath dengan nada menantang.


"Gimana caranya?" tanya Tiara cepat.


"Reka ulang."


"Haa?" Otak Tiara masih memproses perkataan Nath. Dan saat Nath membawanya ke tengah ranjang dan kembali mengukungnya, otaknya baru memahami maksud Nath.


Jangan tanya apa yang terjadi. Sudah pasti jawabannya sesuai keinginan Nath. Mengulang rasa dan membakar hasr*t yang membuat keduanya terbang tinggi dan kembali terhempas di ujung permainan.


***


Tiara keluar dari kamar mandi dengan perlahan. Ia hanya melilitkan handuk di tubuh mungilnya lalu berjalan kearah lemari mencari pakaiannya.


Nath ikut keluar dari kamar mandi dengan handuk yang hanya menutupi tubuh bagian bawahnya.


Keduanya berpakaian di tempat yang sama. Nath bahkan menunggu Tiara selesai barulah ia memakai pakaiannya yang baru ia ambil dari dalam lemari.


"Gak usah mupeng lagi!" Tiara mendelik kearah Nath saat suaminya itu terus menatapnya saat mengenakan pakaiannya satu persatu.


Tiara malas untuk mengganti pakaiannya di kamar mandi karena kesulitan berjalan akibat ulah Nath.


"Makanya jangan menggodaku."


"Cih! Menggoda katanya. Otaknya aja yang terlalu mes*m!" gumam Tiara memunggungi Nath.


"Aku dengar Ti." Nath membantu Tiara mengeringkan rambutnya.


"Baguslah! Berarti telinga kamu masih berfungsi dengan baik."


Nath tak peduli, ia tetap mengeringkan rambut Tiara. Meski terlihat asal-asalan ternyata ia berhasil membuat rambut Tiara kering dalam beberapa menit.


"Udah. Gantian Ti." Pintanya memberikan handuk kecil kepada Tiara. Nath duduk di lantai dan Tiara mulai menggosok kepalanya.


Tiara selalu ingat pesan ibunya bahwa ia harus tetap melayani Nath, berbakti pada suaminya karena Nath adalah ladang pahala baginya.


"Pakai ini, Bang?" Tiara menunjuk hair dryer di meja rias.


"Gak usah. Paka handuk aja."

__ADS_1


Keduanya keluar kamar dan menuju dapur. Mereka tidak menemukan makanan yang siap dimakan.


"Kata ibu gak perlu masak untuk makan siang, Mas? Karena semua orang sedang diluar dan gak ada yang makan di rumah," jawab Bi Imah saat Nath bertanya kenapa tidak ada makanan sama sekali.


Keduanya kelaparan karena makan siang sudah terlewat 3 jam. Tiara sudah berada di depan kompor saat Nath kembali dari belakang untuk menemui Bi Imah yang tengah menyetrika pakaian.


"Masak apa, Ti?" tanya Nath saat Tiara sudah memanaskan air di panci.


"Spaghetti," sahutnya tanpa menoleh karena ia sedang menyiapkan bumbu untuk membuat saus bolognese.


"Aku bantu?" Penawaran yang pasti ujung-ujungnya akan tambah merepotkan.


"Duduk di sana," tunjuk Tiara pada minibar yang tak jauh dari tempatnya berdiri.


Nath menurut. Dia duduk dan memperhatikan tubuh kecil itu bergerak ke kanan dan ke kiri dengan perlahan.


Nath mengulum senyum saat menyadari Tiara memakai rok untuk menutupi cara berjalannya yang sedikit berbeda.


Sepertinya aku keterlaluan menggarapnya. Batin Nath.


Aroma saus bolognese mulai tercium di hidung Nath. Mengetuk lambung dan membuat rasa lapar kian terasa. Nath harus sabar, sesabar dirinya menunggu Tiara selesai dari tamu bulanannya.


Setiap malam, Nath harus perang melawan gejolak di tubuhnya. Tiara yang terkadang tiba-tiba memeluknya atau baju tidur terkadang tersingkap ke atas menunjukkan perut putih nan rata itu sungguh menguji imannya.


Tiara berjalan melewati Nath dengan dua piring spaghetti menuju meja makan. Ia mengambil dua gelas air putih dan meletakkannya di atas meja.


"Bang! Ayo!" ajaknya saat melihat Nath masih di minibar dan terlihat seperti sedang melamun.


"Eh, iya." Nath jalan menuju meja makan. Keduanya duduk bersebelahan.


"Doa dulu," perintah Tiara padanya. Nath langsung memimpin doa.


Tiara tertawa pelan. "Gak usah dipuji juga udah kelihatan banget, Bang. Piring kamu sampai kilat gitu." Nath ikut tertawa.


"Belajar masak dari mana?" tanya Nath penasaran.


"Empat bulan tinggal bersama pemilik Arumi Resto, gak mungkin ku sia-siakan Bang."


Oh, dia belajar dari kak Zoya.


"Dasarnya aku suka masak dan sering belajar dari ibu. Dan dari kak Zoya aku banyak belajar menu ala resto dan cafe."


"Kadang aku juga coba resep dari internet. Ya, banyak cara untuk belajar, terserah kita mau lewat mana."


Nath terpukau. Benar kata kamu, Ti. Terserah kita mau lewat mana, dengan cara seperti apa. Termasuk untuk mencintaimu. Aku sadar, Ti. Aku membutuhkanmu untuk terus bersamaku. Datangnya Reyfan yang seperti ancaman membuat diriku menyadari sesuatu. Aku takut kehilanganmu.


Nath membawa piring mereka ke dapur dan mencucinya. Tiara tidak bergerak dari posisinya karena Nath yang melarang.


"Kita balik ke kamar?" tanya Nath saat sudah berdiri di sebelah Tiara.


"Kita nonton tv aja, Bang."


Keduanya pindah ke ruang tv yang letaknya berdekatan dengan meja makan. "Pelan-pelan aja," ucap Nath saat menyadari Tiara meringis menahan sakit.


"Harusnya itu yang kamu lakukan tadi, bukan kamu katakan sekarang," cibir Tiara membuat Nath meringis menunjukkan gigi ratanya.


"Kalau pelan-pelan ya ga-"

__ADS_1


"Ssst!" Tiara meletakkan telunjuknya di bibir. "Gak usah dibahas."


"Assalamualaikum." Baru akan mendaratkan tubuhnya di sofa, suara Lintang terdengar dari arah depan.


Keduanya menyahut lalu menyambut Lintang dengan mencium punggung tangannya. "Mama ke kamar dulu."


Keduanya mengangguk, dan Lintang melihat ke belakang saat menyadari Tiara sedikit berbeda. Salah, bukan Tiara yang berbeda tapi caranya berjalan.


Lintang tersenyum melenggangkan kaki menuju kamarnya yang terletak tak terlalu jauh dari kamar pengantin baru itu.


Semoga mereka gak lupa pakai pengaman. Batin Lintang.


"Ti ..." panggil Nath pada Tiara yang fokus menatap layar tv.


Keduanya duduk bersebelahan. Tiara menatap Nath. "Ya?"


"Kenapa pakai hijab?" tanya Nath pada Tiara. Ia penasaran kenapa tiba-tiba Tiara berhijab saat akad nikah dan keterusan sampai saat ini.


"Karena kata ibu semua auratku milik suamiku."


"Dari ujung rambut sampai ujung kaki."


Nath tersenyum. Tiara menutup semua miliknya. Nath merasa beruntung, tanpa ia paksa Tiara bisa menempatkan diri diantara keluarganya yang rata-rata memang berhijab.


"Disini juga ada papa dan Nair. Mereka gak berhak atas auratku, Bang."


Nath menepuk pucuk kepala Tiara. "Terima kasih."


Tiara mengangguk. "Beri aku kesetiaan," balas Tiara.


Nath mengerutkan kening, menatap Tiara yang tiba-tiba terlihat serius. "Beri aku kebahagiaan."


"Beri aku keharmonisan dalam rumah tangga ini."


"Bersikap sedikit romantis."


"Belajar mencintai kamu itu sulit, Bang."


"Menggeser Reyga juga butuh waktu."


"Seenggaknya kasih aku balasan dari setiap usahaku."


"Bukan gak ikhlas untuk mencintaimu."


"Tapi aku butuh balasan agar yakin yang ku lakukan gak bertepuk sebelah tangan."


"Seperti kata tante Rara, jangan beri sela untuk orang ketiga."


"Kita tidak tau sedalam apa rasa itu kalau kita belum kehilangan."


"Dan jangan sampai penyesalan hadir saat semua sudah berantakan."


Nath menarik Tiara dalam pelukannya. "Aku berusaha, Ti."


"Aku akan terus berusaha."


***

__ADS_1


Panas-panasannya udah ya 😅


Next kita ke yang manis manis aja 😊


__ADS_2