EL NATH ( Penyesalan Terindah)

EL NATH ( Penyesalan Terindah)
BonChap -Nair (15)


__ADS_3

Rion datang ke rumah orang tuanya, ia langsung menemui Ray-Papinya di ruang kerja beliau. Meski sudah pensiun, Ray tetap memantau statistik perusahaan yang saat ini Rion jalankan.


"Pi, Rion boleh masuk?" Rion membuka sedikit pintu ruangan itu. Ia masih berdiri di luar.


"Masuk, Yon!"


Rion segera masuk dan duduk di depan meja Ray. Keduanya duduk saling berhadapan.


"Ada apa? Ada masalah sama kantor?" tanya Ray. Pria berusia 55 tahun itu bersandar pada kursinya.


"Gak ada, Pi. Aman semua kok."


"Lalu?"


"Ehm... Papi kenal banget kan sama om Rahardi."


"Rahardi yang di Semarang?" tanya Ray.


Rion mengangguk. "Iyalah. Jadi Rahardi yang mana lagi?"


"Yang rumahnya di ujung blok F sana, namanya juga Rahardi, Yon."


"Ya, tapikan Rion gak kenal, Pi." balas Rion sebal.


"Oke. Iya. Rahardi yang memasok batik."


"Iya..." Rion mengangguk.


"Kenapa dengan dia? Kamu kan sudah beberapa kali ketemu kan?"


"Iya kali pemilik Cahaya Bangsa gak pernah ketemu sama dia."


"Ck!" Decak Rion. "Selama ini Rion kan cuma wakil papi. Baru setahun ini Rion benar-benar ngurus Cahaya Bangsa sendirian."


"Ada apa dengannya, Yon? Ada masalah serius?"


Rion menggeleng. "Bukan Rion, tapi Nair!"


"Haaa? Nair? Kok bisa?" Ray kaget. Ia tidak tahu ada urusan apa antara Nair dan Rahardi, rekannya itu.


"Iya, Pi. Nair itu suka sama putrinya om Rahardi." Kalimat Rion lagi-lagi berhasil membuat Ray terkejut.


"Kok Papi gak tau, Yon?"


"Rahardi gak pernah cerita, Akhtar juga gak pernah cerita?"


"Rion juga gak tau kenapa papa gak cerita ke papi," ucap Rion.


"Kamu juga gak cerita!" potong Ray.


"Astaghfirullah! Ini Rion masih mau cerita, Pi." Rion geram pada papinya. "Papi dengerin dulu."


Rion menghela nafas mencoba menenangkan dirinya. Beginilah jika berhadapan dengan Ray, ada saja perdebatan kecil yang tidak penting terjadi.


"Nair hampir 7 tahun, suka sama Naira."


Ray makin mendelik. Tujuh tahun? Belum nikah juga? Apa yang salah?


"Nah, kaget kan?" Ray mengangguk.


"Difikir-fikir, Nair itu baik."


"Sholeh, jelas bibit, dan bebetnya, pokoknya hampir sempurna."


"Banget, Yon. Dia paling baik diantara kalian berempat malah."


"Salah! Berenam sih. Nomor dua ada Caraka."


Maksudnya enam adalah, Ethan, Nair, Nath,Rion, Shaka dan Caraka.


Dih, papi gak tau aja kalau tuh anak udah ngincar Chiara! Batin Rion tertawa sinis.


"Jadi, Rion mau papi bantulah."


"Papi bisa tuh melobi om Rahardi," usul Rion memberi tugas pada Ray.

__ADS_1


"Kamu fikir ini masalah perusahaan, Yon!"


Melobi adalah upaya mempengaruhi pihak yang menjadi sasaran untuk urusan tertentu agar memiliki sudut pandang positif tentang anda atau perusahaan anda.


"Ayolah, papi."


"Selama ini om Rahardi belum kasih restu, Pi."


"Nair kelihatan makin kurus, Naira juga. Banyak fikiran Pi keduanya. Papi tau sendirilah, mereka terlalu baik buat ngelawan orang tua apalagi sampai melampaui batas."


"Mereka punya orang tua masing-masing, Yon. Papi gak berhak untuk masuk dalam masalah mereka." Ray sepertinya tidak setuju dengan ide Rion yang seolah ikut campur dalam urusan itu.


"Ayolah, Pi."


"Ya..."


"Ya..."


"Ya..." Rion memohon dan memaksa dengan caranya.


"Huuuh!"


"Oke, Papi coba."


****


Naira mendapatkan pesan singkat dari seseorang yang tidak ia duga-duga. Sebuah pesan dari kakak perempuan Nair yang bernama Zoya.


Naira diminta datang ke salah satu restorannya yang letaknya paling dekat dengan rumah sakit.


"Kak Naira?" tanya seseorang pelayan yang menyambutnya di pintu masuk.


"Ya...?" Naira mengerutkan kening karena ia merasa tidak mengenal wanita yang bekerja di restoran ini.


"Ayo kak, Bu Zoya sudah menunggu kakak di dalam."


Naira mengikuti langkah wanita yang memakain seragam restoran itu. Ia masuk ke sebuah ruangan di lantai dua dengan seorang wanita yang duduk di sofa bersama seorang anak laki-laki dan pria dewasa yang duduk di kursi kerjanya.


"Assalamualaikum, kak," sapa Naira pada Zoya.


"Waalaikumsalam. Naira..."


Setelah mengucapkan terima kasih pada karyawannya, Zoya tak lupa pula memesankan minuman untuk Naira.


"Mau makan sesuatu, Nai?" tawar Zoya.


"Enggak kak."


"Oh ya, kenalkan, itu suamiku. Namanya Ezra." Tunjuk Zoya pada Ezra yang sama sekali tidak terganggu dengan kehadiran Naira.


"Salam kenal, Mas?" Naira menangkupkan kedua tangannya di dada.


"Salam kenal juga, Naira." Ezra melakukan hal yang sama.


"Nah, yang ini putra kami, Nai. Usianya hampir lima tahun."


"Namanya Zidane."


"Hai Zidane?"


"Hai tante..."


Naira tersenyum melihat bocah laki-laki yang tengah memutar-mutar rubik ukuran 3x3 mencoba menyusun warna-warna yang sama.


Zoya meminta Ezra membawa Zidane keluar, karena ia ingin bicara empat mata pada Naira.


"Nai..."


"Kamu pasti mengerti, kalau aku memintamu datang bukan tanpa alasan."


Naira mengangguk.


"Alasannya satu, yaitu adikku, Nair."


Naira kembali mengangguk. Ini pasti ada hubungannya dengan Nair, karena untuk apa wanita sesibuk Zoya memintanya datang jika bukan untuk hal penting.

__ADS_1


"Naira..."


"Huuu!" Zoya menghela nafas.


"Bingung mau bicara dari mana." Zoya tertawa pelan dan sepertinya itu menular pada Naira yang ikut tersenyum kecil.


"Yang biasanya melakukan ini adalah Bi. Kamu pasti tau atau pernah mendengar namanya." Naira mengangguk.


"Aku tidak sebijaksana dia, tapi akan ku coba untuk membuatmu mengerti."


Naira berdebar mendengar wanita di hadapannya yang terlihat tegas dan bersahaja. Sebuah tampilan sederhana untuk setaraf pemilik restoran dengan banyak cabang.


Zoya hanya memakai gamis syar'i dengan hijab yang terulur di dadanya.


"Kamu tau, Nai?"


"Adikku terluka." Naira terdiam.


"Aku kakak yang hidup dan mengenalnya sejak ia dalam kandungan."


"Darah dalam tubuh kami tidak sama. Tapi bahkan untuk hal sekecil apapun perasaan kami berempat sangat peka."


Naira mengerutkan keningnya, ia baru tahu jika Zoya dan Nair memiliki ayah yang berbeda.


Selama ini Nair tidak pernah mengatakan perbedaan diantara dirinya dan kedua kakaknya pada Naira. Ia merasa itu bukanlah hal penting yang harus orang lain ketahui.


"Kami punya semacam ikatan batin yang aku sendiri tidak tau kenapa bisa ada."


"Nair selalu mencoba terlihat baik-baik saja, Nai."


"Karena kamu dia berubah 180 derajat."


"Dulu dia sama seperti Nath. Tapi semenjak ingin bersamamu, ia berubah. Ya... Seperti Nair beberapa tahun terakhir yang kamu kenal."


Naira masih mendengarkan meski ada rasa tak yakin jika perubahan Nair karena dirinya.


"Aku bangga punya dia. Kami bangga melihat perubahannya."


"Tapi lima bulan terakhir, Nair seperti bukan Nair." Zoya menggeleng pelan.


"Dia hidup dalam kepura-puraan."


"Nai, sudahkah kamu berjuang untuk adikku?" pertanyaan Zoya yang membuatnya berkaca-kaca.


Ia pernah bertekat untuk mengatakan pada orang tuanya bahwa ia mencintai Nair. Nyatanya ia tidak melakukan hal itu. Naira terlalu takut pada Abinya.


Naira mengurungkan niatnya karena Abinya sampai detik ini juga belum mempertemukannya dengan pria manapun.


Zoya tersenyum. "Sudah lima bulan, Nai. Ku mohon, berdirilah di samping adikku dan berjuanglah bersamanya."


"Jangan hanya berpasrah menunggu takdir."


"Akui perasaanmu, Nai."


Zoya menyeka air matanya. Ia faham betul posisi keduanya. Jika ia dan Ezra dulu punya kebebasan penuh memutuskan masa depan mereka, tidak demikian dengan keduanya.


Mereka terlalu naif, mereka terlalu takut pada Abinya Naira- tameng paling kuat yang tidak ingin Nair terobos.


"Aku... aku tidak berani melawan Abi kak," jawab Naira dengan suara bergetar.


Zoya menghela nafas. Ini keahlianmu, Bi. Bicara bijak dan dari hati ke hati.


Bi bukan tidak ingin menemui Naira, tapi ada baby Prince yang harus ia urus. Karena Zoya punya waktu lebih lama, maka leduanya sepakat Zoya yang akan melakukan tugas ini.


"Aku tau, Nai. Tapi apakah bicara jujur soal hatimu adalah termasuk dalam konteks melawan orang tua?" tanya Zoya tegas.


"Kamu hanya perlu bicara jujur, Nai. Dan menurutku, justru selama ini kamu melakukan kesalahan dengan membohongi dirimu sendiri, bahkan Abimu."


"Tapi Umi tau perasaanku," sambung Naira. "Umi pasti juga tidak berani mengatakan pada Abi tentang perasaanku, kak."


"Kata Pakde, ini cuma masalah waktu. Kami harus bersabar sampai Internship selesai."


Zoya lagi-lagi menghela nafas berat. "Apa kamu merasa tenang selama menunggu waktu, Nai?"


Naira hanya diam. Hatinya semakin bergejolak antara menuruti apa yang Zoya katakan atau tetap diam menunggu waktu.

__ADS_1


****


Papi Ray mau buat rencana apa ya guys 🤔🤔🤔🤔


__ADS_2