EL NATH ( Penyesalan Terindah)

EL NATH ( Penyesalan Terindah)
BonChap Nair (26)


__ADS_3

"Seger, nih!" celetuk Akhtar saat Nair baru saja mendudukkan diri di kursi makan. Ia yang sedari tadi berkutat dengan ponsel pintarnya merasa tercuri perhatiannya saat melihat wajah segar sang putra.


Ia mengetahui malam tadi anak dan menantunya pulang ke rumah setelah menghabiskan malam pengantin di rumah sakit. Entahlah, cara bulan madu yang antimaintream.


"Tiap hari juga gini, Pa," balas Nair yang sudah rapi dengan pakaian kerjanya.


"Roman-romannya udah nih, Sayang!" Akhtar melirik Lintang yang juga baru saja duduk di meja makan. Semua sajian untuk sarapan sudah tertata rapi di atas meja. Lintang memasak semua hidangan dibantu Naira dan asisten rumah tangga.


"Udah Shat-shet-shat-shet," lanjutnya.


"Mas...!" tegur istrinya. Untung saja Naira sedang berada di kamar untuk bersiap ke rumah sakit tempat mereka bertugas.


"Udah ada Naira di rumah ini, bicara kamu bisa di filter sedikit gak?"


Akhtar meletakkan ponselnya. Ia menelisik wajah putranya yang juga sedang memeriksa ponsel itu. Akhtar seketika tersenyum jahil. Nair yang sempat melirik sekilas sampai mengerutkan keningnya.


"Nair, sebelum shat-shet-shat-shet, kalian saling periksa kondisi detak jantung dulu gak pakai stetoskop atau cek suhu gitu!" Bukannya berhenti, Akhtar malah semakin menjadi-jadi.


Nair semakin melirik tajam pada papanya. Sedangkan Lintang membulatkan matanya namun tak urung ia juga meng*ulum senyum. "Mas, pertanyaan kamu, ih!"


"Ya kali sayang, dokter muda beda cara unboxingnya." Akhtar tertawa pelan.


Nair meletakkan ponselnya. Ia diam sejenak dan saling tatap dengan Akhtar yang menunggu responnya. "Yang pasti berdoa dan jangan gak lupa semprot dulu pakai desinfektan, Pa."


"Jadi, jangankan setan, kuman juga gak bakalan ganggu!"


Akhtar ternganga mendengar jawaban putranya. Ini sangat jarang terjadi, dimana Nair bisa bercanda walaupun cara bicaranya lurus-lurus saja.


Lintang tertawa mendengar jawaban putranya yang berhasil membungkam mulut suami jahilnya.


****


Suatu sore saat mereka tengah menikmati hari libur.


"Nai, jalan yuk?" ajak Nair pada sang istri ketika mereka selesai sholat Asar berjamaah.


"Kemana, Mas?" Tanya Naira lembut.


Nair tersenyum simpul, hanya karena kata Mas yang terucap penuh kelembutan itu. Panggilan yang membuatnya merasa dihargai dan dianggap sebagai seorang suami.


"Hari ini Tiara ada pemotretan. Maternity shootlah kalau bahasa kerennya. Anak-anak pada ngumpul disana. Di rumah Nath."


Naira tersenyum dan mengangguk.


"Ayo, bersiap."


****


"Kenapa diem, Nai?"


Lagi lagi senyum kecil yang terbit di sudut bibirnya. Sedari tadi, selama beberapa menit di perjalanan ia merasa bingung bagaimana untuk bersikap di depan teman-teman Nair.


Ia pernah bertemu dengan mereka, tapi statusnya saat ini jelas berbeda. Bahkan ada yang menjadi kakak dan abang iparnya.


"Aku gugup," jawabnya singkat.


Nair menahan senyum dan menggeleng pelan. "Mereka semua saudara kita, Nai."


"Yang berbeda di sana hanya Ethan."


"Selain tentang keyakinan, juga tentang dia yang bukan bagian dari keluarga."

__ADS_1


"Tapi dia seperti saudara bagi kami."


"Kami saling menghargai, menyayangi, dan saling membantu satu sama lain."


"Persahabatan kami adalah the next generation dari persahabatan orang tua kami."


"Jadi, tetap jadi diri kamu sendiri."


"Candaan mereka, cukup senyumi."


"Sedikit aja, jangan banyak-banyak. Karena ada Shaka dan Caraka yang biasanya selalu terpesona sama milik orang lain." Nair tertawa kecil.


Naira mengerutkan keningnya. "Jangan difikirkan, yang tadi cuma bercanda, Nai," lanjut Nair.


Mobil milik Nair sudah tiba di halaman rumah Nath. Keduanya turun dan berjalan bergandengan.


Nair tertawa tanpa suara. "Sepertinya kita sedikit terlambat."


"Itu mobil Kak Bi," tunjuk Nair pada salah satu mobil di deretan mobil yang tengah terparkir.


"Itu mobil Shaka, Ethan dan sisanya mungkin krunya Ethan."


"Kita masuk."


Nair melangkahkan kakinya ke dalam dan mendapati Bintang bersama baby Prince yang tengah duduk di sofa.


"Kak..." Nair langsung duduk di samping Bintang. Begitu juga Naira.


"Heei, kalian," balasnya senang. "Baru sampe?" tanyanya basa basi.


"Heem."


"Hai Prince?" Sapa Nair pada keponakannya yang masih hitungan bulan itu.


"Om Nair!" Jeritan dua bocah berbeda jenis kelam*n itu berlari kearah Nair. Zidane dan Queen datang dari arah belakang rumah bersama Rion di belakang mereka.


"Hai jagoan!"


"Hai cantik!" Nair bertoss dengan keduanya secara bergantian.


"Udah kenal sama tantenya belum?" tanya Nair yang duduk berlutut di depan dua bocah itu.


Zidane dan Queen kompak mencium punggung tangan Naira. "Duh, pinter-pinter banget sih kalian." Puji Naira pada dua keponakan suaminya itu.


"Pengantin baru!" Rion memeluk Nair. "Sehat, Nair?" tanyanya sambil tertawa.


"Seperti yang terlihat, Yon!"


"Perlu ilmu baru?" bisik Rion lagi.


"Sayang...!" Bi tidak tinggal diam saat suaminya mulai bertingkah.


"Terbukti 2 x berhasil loh, Nair."


"Sayang...!" peringatan kedua.


"Ayo, Ayah!" ajak Queen tak sabaran. Untung saja bocah itu bisa memutus obrolan unfaedah antara ayah dan omnya. "Kita beli es kriiiiim!" Rengek Queen sambil menarik tangan Rion.


"Sebentar sayang. Lihat Zi!" Rion menunjuk Zidane yang berdiri melihat para orang tua yang sedari tadi entah membiracakan hal yang ia tidak fahami.


"Dia aja bisa kalem gitu, Nak!"

__ADS_1


Nair menahan tawa. "Jelas dari bibitnya udah beda, Yon."


"Zi mah bibitnya kalem. Nah si Queen, Bapaknya aja kayak cacing kepanasan."


"Udah! Stop!" Bintang berdiri dari duduknya. "Kita pulang sekarang. Kalian gak akan selesai meski sampai azan magrib sekalipun!"


"Nai, duluan ya." Bintang tersenyum pada adik iparnya. "Dan satu hal, Nai. Biasakan diri kamu melihat situasi seperti ini." Bintang langsung berjalan lebih dulu kearah pintu depan. "Zidane, ayo sayang!"


Rion dan Queen segera mengekor di belakang mereka.


Nair dan Naira menaiki anak tangga menuju lantai 2. "Kamu biasa seperti itu sama kakak kamu?"


Nair mengangguk pelan. "Kadang-kadang aja. Kalau kepancing cih. Tapi keseringan ya terpancing." Nair tertawa pelan.


Naira mengangguk-anggukkan kepala tanda ia memahami maksud suaminya.


"Assalamualaikum." Suara Nair membuat semua orang yang berada di lantai dua itu menoleh.


"Waaahhh! Ini dia pasangan yang harus jadi panutan," ucap Ethan menyambut kedatangan Nair dan Naira.


Naira tersenyum simpul. Ia ingat kata-kata suaminya. Candaan mereka, cukup senyumin.


Ethan langsung menyalami dan memeluk Nair erat. Nair melepaskan genggaman tangannya dengan Naira.


"Akhirnya perjuangan yang ah...! Panjaaang dan sulit di jelaskan!" Ethan memeluk bahu sahabatnya itu.


"Alhamdulillah, Than!" balas Nair sambil tertawa.


Disana sudah ada Shaka dan Nath yang duduk di karpet. Nair dan Ethan ikut bergabung.


"Kesana aja, gak apa-apa. Ngobrol sama Tiara," bisik Nair pada istrinya sambil menunjuk Tiara yang duduk di sofa. Naira mengangguk dan tersenyum lembut.


"Kak Naira! Apa kabar kak!" Sapaan ramah yang membuat Naira semakin gugup. Tiara memeluknya dengan senyum mengembang. Wanita hamil itu terlihat begitu cantik.


"Alhamdulillah, baik. Cantik banget, Ti." ucap wanita itu lembut melihat Tiara dari atas ke bawah.


Keduanya memang sudah pernah bertemu sebelumnya. "Alhamdulillah. Terima kasih kak."


Semantara di sofa yang sama seorang gadis sedang memperhatikan keduanya. Naira menyalami gadis berambut kecoklatan itu.


"Naira..."


"Syafa..."


"Udah lama kenal sama Shaka, Sya?" tanya Tiara pada gadis yang baru pertama kalinya Naira lihat.


Oh, temannya Shaka. Batin Naira.


Gadis yang terlihat cuek dan memasang wajah datar itu menggeleng pelan. "Belum, kak."


***


Hai semuanya 😍😍😍


Terima kasih, kalian masih menunggu novel ini dilanjutkan.


Up belum bisa teratur 2 bab sehari.


tapi sebisa mungkin akan tetap Up.


Kalau gabut, boleh mampir ke Selena's First Love. Novel emak yg juga masih on going.

__ADS_1


Terima kasih 😚


Salam sehat selalu 🤗🤗😏


__ADS_2