
Rumah keluarga Zainal Ibrahim.
Tiara terbangun di tengah malam. Sayup ia bisa mendengar suara ibunya mengaji dari arah belakang.
Tepat jam sembilan malam tadi ia berusaha membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Seharian ini ia sungguh disibukkan dengan ritual calon pengantin yang sama sekali tidak ia rencanakan.
Ya, pagi tadi 3 orang gadis membawanya ke sebuah salon ternama. Mereka bernama Syakilla, gadis seusia darinya, ia anak tante Sora dan merupakan adiknya Caraka. Gadis berusia 15 tahun, bernama Chiara, adiknya Rion dan Lovely seusia Chiara anak bunda Una.
Ketiganya diperintahkan khusus oleh bunda Una untuk menemani Tiara perawatan. Mulai dari perawatan tubuh hingga rambut dan wajah.
Tiara ingin menolak, tapi ketiganya memaksa. "Perintah Ibu Negara." Begitu alasan mereka.
Ternyata bukan hanya ke salon, Tiara juga mereka ajak keliling pusat perbelanjaan. "Itu kak, warna hitam. Hihihi," tunjuk Lovely pada sebuah baju yang menurut Tiara kurang bahan. Gadis itu tertawa cekikikan. "Bang Nath kan suka warna hitam," sambungnya.
"Hahahah. Aku cuma takut Kak Tiara terlihat seperti daging segar di mata singa lapar," ucap Syakilla. Ketiganya terbahak sementara Tiara menunduk malu.
Astaga! Mereka masih 15 tahun, tapi kenapa mengerti hal semacam ini?
"Kakak pilih yang mana?" tanya Chiara.
Tiara bingung. "Terserah kalian. Tapi lebih baik jangan dibeli deh."
"Eeiitt! No no no." Syakilla menggerakkan telunjukknya kekanan dan kekiri. "Ini perintah bundanya Lovely, jadi harus dilaksanakan."
Tiara menghela nafas. Melihatnya saja aku geli sendiri, apa lagi memakainya. Batin Tiara.
Akhirnya, karena malas berdebat, Tiara menunjuk 2 Lingerie warna hitam dengan model berbeda.
Sebelum Asar mereka sampai di rumah. Ketiganya mampir sebentar melihat dekorasi yang mulai disiapkan.
"Dominasi putih, ya Mas?" tanya Syakilla pada salah satu karyawan dari W.O.
"Iya, Mbak."
"Dari tante Nathali ya, Mas?" tanya Chiara.
"Iya, Mbak." Gadis itu tersenyum lebar mendengar jawaban pria itu.
Tiara mengerutkan kening. Heran karena Chiara mengenal pemilik W.O yang mendekorasi ruang tamu rumahnya.
"Kamu kenal yang punya W.O Chi?"
"Hahahah... punya mamanya bang Ethan kak," jawab Chiara sambil tertawa pelan. Entah apa yang lucu. Hanya Chiara yang tahu.
"Ethan?"
Chiara mengangguk. Pantas saja kenal. Mamanya Ethan ternyata.
Setelah mereka pulang, Tiara langsung mandi dan sholat. Setelahnya ia membantu ibunya menyiapkan cemilan dan minuman untuk karyawan dari W.O.
Mereka bekerja sampai malam hari, karena harus berhenti saat magrib tiba. Tiara tidak keluar kamar lagi setelah makan malam. Ia memilih membaringkan tubuhnya di atas ranjang sederhana yang telah ia tempati lebih dari 10 tahunan.
__ADS_1
Tiara menatap langit-langit kamarnya. Dan perlahan matanya terpejam. Membuatnya terhanyut ke dalam mimpi.
Tengah malam, ia berjalan ke kamar orang tuanya karena suara Ibunya yang tengah mengaji.
Ia keluar dari kamar dan melihat dekorasi yang sangat indah menurutnya. Ia tersenyum kecil. Kurang dari 12 jam statusnya akan berubah.
Tiara mengetuk pintu kamar orang tuanya yang terletak bersebelahan dengan dapur.
Ayahnya membukakan pintu dan ia bisa melihat ibunya tengah duduk di atas sajadah dan baru selesai membaca Al-Qur'an.
Tiara berbaring dan menjadikan pangkuan ibunya sebagai bantal. "Pangkuan Ibu selalu menenangkan." Tiara memejamkan mata sambil tersenyum. Kelak pangkuan ini akan sangat jarang ia rasakan jika ia tinggal di rumah Nath.
Ibunya mengelus rambut lurusnya yang terasa lembut kerena perawatan yang ia lakukan siang tadi.
"Tapi kenapa kamu tidak datang kepangkuan ini sebulan lalu, Ti." Suara lembut itu menohoknya. Menusuk tepat sasaran ke dalam hatinya.
Tiara melihat wajah ibunya. Ia faham sebulan lalu yang dimaksud adalah saat ia mendapati dirinya hamil. Ia memang tidak mengatakan pada orang tuanya. Ia justru berusaha menyelesaikannya sendiri.
"Membuatmu menanggung kebingunan itu sendirian."
"Nur, sudahlah. Semua sudah berlalu." Ayah Tiara ikut duduk disebelah ibunya. Ia meminta agar istrinya itu tidak lagi membahas masalah yang lalu.
"Maafkan Tiara, Bu." Tiara menatap langit-langit. Perlahan air matanya menetes. "Tiara gak mau ayah sama ibu sedih. Tiara gak mau ayah sama ibu marah dan meninggalkan Tiara sendirian."
"Tiara gak mau ayah sama ibu marah sama bang Nath. Karena semua itu bukan sepenuhnya salahnya."
"Ibu tidak akan meninggalkan kamu meski dalam kondisi paling sulit sekalipun, Ti."
Tiara bangun dan memeluk keduanya. "Doakan rumah tangga Tia langgeng sampai akhir hayat, Bu."
"Tia sudah berpasrah dan menerima ketentuan Illahi, menerima pernikahan ini. Pernikahan tanpa cinta yang akan kami jalani."
"Nak, kadang cinta saja tidak cukup. Kadang kita butuh komitmen dan rasa tanggung jawab kedua pasangan."
"Kalau cinta belum ada. Maka buatlah komitmen dan tetap bertanggung jawab sebagai seorang istri, Nak." Ayahnya mengelus rambutnya.
"Kami meridhoi kalian, pak Akhtar dan bu Lintang juga meridhoi dan merestui kalian. Semoga doa kami sebagai orang tua bisa menjadi bekal kebahagaian kalian."
"Amin."
"Setelah ini kamu akan tinggal di rumah mertua, Ti."
"Bangun pagi dan bantu mama mertuamu di dapur."
"Bantu pekerjaan yang bisa kamu lakukan."
"Urus suamimu dengan baik. Layani dia. Jadikan dia prioritasmu. Mengabdilah padanya karena ia ladang pahala bagimu."
"Iya Bu, InsyaAllah. Tiara akan lakukan nasehat Ibu."
"Yah... Bang Nath izinin Tia untuk kuliah," ucapnya senang kepada sang ayah.
__ADS_1
"Oh, Ya?"
Tiara mengangguk pasti. "Bagi waktumu dengan baik ya, Ti. Nath dan kuliah adalah dua hal penting yang harus kamu perhatikan."
"Pasti Ayah, Ibu."
"Maaf belum bisa menjadi anak yang berguna."
"Setidaknya ayah melihat senyummu bersama Nath."
"Ayah melihatmu saat ini lebih bahagia dibanding saat kamu menunggu kapan Reyfan akan pulang."
"Esok, kamu bukan lagi tanggung jawab ayah, Ti. Mulai besok tanggung jawab itu akan berpindah pada suamimu."
"Hormati dia, taati dia selama itu dalam hal yang benar."
"Belajarlah untuk menyayanginya, mencintainya. Dia bahkan rela tidak menunda pernikahan karena ia merasa harus bertanggung jawab."
"Semoga pernikahan ini membawa kalian bahagia hingga ke surga."
"Amin Amin ya rabbal alamin."
"Sekarang tidur, Nak."
"Besok kamu akan dirias setelah subuh."
Tiara mengangguk. Ia sekali lagi mencium punggung tangan kedua orang tuanya.
Tiara masuk ke dalam kamar adiknya. Ia dudum di sebelah Naura yang mulai terlelap. "Kamu benar, Ra. Bang Nath orang baik."
"Kadang kita tidak bisa memberi alasan saat menilai seseorang itu baik. Dan kakak yakin saat ini, itu yang kamu rasakan."
"Bukan tentang apa yang dia beri, tapi tentang caranya memperlakukanmu."
"Doakan kakak selalu bahagia, Ra."
Tiara menatap sekeliling kamar adiknya. Rasanya berat berpisah dengan adiknya. Jika saat tinggal di rumah Zoya, Tiara bisa bertemu adiknya di rumah baca. Maka setelah menikah nanti ia akan jarang bertemu. Karena ia sudah tidak lagi bekerja di rumah baca.
Tiara mencium kening adiknya. Perlahan air matanya menetes. "Jadilah anak yang baik, Ra. Jangan tiru kakakmu yang pernah jatuh dalam dosa ini," bisiknya pelan.
Tiara meninggalkan kamar adiknya dan masuk ke kamarnya. Kebaya yang menggantung di dinding kamar membuatnya memejamkan mata dan mengucap doa.
Ya Allah, bantu hamba untuk belajar mencintainya. Jadikanlah keluarga kami, keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah. Amin.
****
Hari ini cuma bisa up satu ☺
Jejak kalian ditinggal ya...
Harusnya hari ini akad ya 😂
__ADS_1
Aduh, jd pengen khilaf😂 up dua bab 😊