EL NATH ( Penyesalan Terindah)

EL NATH ( Penyesalan Terindah)
BonChap- Nair (4)


__ADS_3

Nair terus berusaha mencari informasi sekecil apapun tentang Naira.


Saat ini ia tahu gadis itu belajar di fakultas Kedokteran jurusan sarjana kedokteran. Sama sepertinya tapi mereka berbeda kelas.


Nair sekarang mempunyai 2 profesi. Selain menjadi mahasiswa dia juga menjadi penguntit.


Ia mengikuti Naira setiap ada kesempatan saat pulang dari kampus. Nair bahkan mulai hafal jadwal gadis itu.


Niatnya untuk berubah ternyata dibarengi dengan niatnya mencari informasi sedetail mungkin tentang gadis yang entah sejak kapan membuatnya egois untuk memiliki.


Nair mulai memperbaiki sholat. Ia mulai sering ikut pengajian dan mendengarkan ceramah.


Nair mulai memberanikan diri mengirim pesan chat pada Naira, meskipun hanya tentang Tadarus Al-Qur'an yang sering Naira tuliskan di storynya.


Nair, selama hampir sebulan ini selalu ikut Tadarus selepas sholat Isya di masjid yang sama saat ia Sholat Asar waktu itu. Jarak tak menjadi halangan karena ia bisa melihat gadis itu di sana. Di kelompok wanita yang juga sedang membaca Al-Qur'an.


Nair banyak berubah. Tujuannya hanya satu, memantaskan diri. Hal itu juga membuat semua keluarganya heran. Tapi Nath selalu berusaha untuk membantu menjelaskan bahwa ini masalah hati.


Jadi, Ia meminta orang tuanya tidak perlu khawatir atas perubahan Nair yang sangat drastis.


"Bacaan kamu sudah bagus, Nair. Tapi masih harus disempurnakan lagi," ucap seorang pria bernama Rahman itu.


Ia adalah salah satu pembimbing yang menyimak bacaan beberapa orang dalam kelompok saat melakukan Tadarus.


"Alhamdulillah, Pakde." Nair tersipu malu saat pembimbing sendiri yang memujinya.


"Kamu lulusan pesantren mana?" tanya Pria itu. Pria dengan baju koko dan sarung serta peci putih diatas kepalanya itu terlihat sangat sederhana.


Nair tersenyum malu. "Saya bukan lulusan pesantren, Pakde."


"Saya lulusan SMA swasta."


"Oh, ya?" Kaget Rahman. "Tapi bacaan kamu bagus, loh."


"Saya fikir kamu lulusan pesantren saat SMP atau SMA."


Nair menggeleng. "Saya sekolah di sekolah umum sejak TK sampai SMA." Nair merasa senang dipuji seperti tadi.


"Mama selalu mengajari kami mengaji, bahkan sampai memanggil guru privat untuk mengajari kami, anak-anaknya."


"Oh. Pakde fikir kamu lulusan pesantren mana gitu."


"Bagus... bagus...! Perbanyak membaca Al-Qur'an, InsyaAllah lama kelamaan bacaan kamu akan semakin lebih baik."


Jam sepuluh malam, Nair bersiap pulang. Ia menuju parkiran masjid dan melihat Naira sedang duduk di anak tangga yang jumlahnya hanya beberap buah itu.


"Assalamualaikum, Naira," sapanya dengan suara selembut mungkin.


Nair membuat gadis itu terkejut. "Astagfirullah."

__ADS_1


"Eh... Wa'alaikum salam." Naira berusaha menetralkan debaran jantungnya.


"Nair? Belum pulang?" tanya Naira heran. Karena tadarus sudah selesai sejak setengah jam lalu. Tapi pria itu masih disini.


"Belum. Ini baru mau." Nair ikut duduk dengan menjaga jarak. Ia tidak ingin membuat gadis itu merasa tidak nyaman.


"Kamu belum pulang? Ngapain disini sendiri?" tanya Nair basa-basi karena Naira sendirian duduk di sini.


"Nunggu Pakde sambil lihat bintang." Jawab Naira menatap langit bertabur bintang.


Nair bisa melihat Naira tampak menikmati keindahan langit malam yang cerah ini.


"Bisa bicara sebentar, Nai?"


Naira mengangguk dengan pandangan menunduk karena ia menyadari Nair terus menatap wajahnya saat ia melihat ke langit tadi.


"Ehm..." Nair berdehem.


"Bagaimana caranya agar bisa menikah denganmu?"


Naira seketika menatap Nair tak percaya. Ia bisa melihat mata Nair yang juga menatapnya. Naira memperhatikan setiap raut wajah Nair. Ia mencari kejujuran di sana.


Tapi seketika gadis itu tersadar bahwa yang ia lakukan salah. Naira kembali menundukkan kepala. Dan Nair juga melakukan hal yang sama.


Ya Allah, deg-degan gini. Aku ingin dia ya Allah...


Naira tampak gugup. Ia memilin ujung jilbab yang jatuh dipangkuannya. Ia tak menduga Nair bisa berbicara to the point seperti itu. Padahal selama ini mereka tidak dekat dan jarang bertemu.


"Jawab, Nai," ucap Nair karena gadis disampingnya itu belum menjawab sepatah katapun.


"Aku..." Naira gugup.


"Aku harus jawab apa?" Naira malah balik bertanya.


"Ya, jawab saja. Apa yang harus dilakukan seorang pria untuk bisa menikah denganmu?"


"Karena aku ingin melakukan itu," ucap Nair yakin. Ia tidak bisa menunggu terlalu lama sementara Alif sudah selangkah di depannya. Entahpun Naira telah melihat CV lamaran yang Alif kirimkan.


"Syaratnya mudah. Melamarku dan direstui oleh Abi dan Umi."


Terdengar mudah tapi nyatanya sangat sulit. Batin Nair.


"Tapi bulan depan aku baru semester dua."


"Aku juga," jawab Nair cepat.


"Aku harus lulus sarjana kedokteran, dan perjalanan dibelakangnya masih panjang."


"Aku pun masih akan melanjutkan pendidikan, aku ingin jadi dokter spesialis anak."

__ADS_1


"Sama. Aku juga masih akan mengambil jurusan spesialis penyakit dalam," balas Nair.


Naira menatap Nair sekilas lalu kembali menunduk. "Visi dan misi kita sudah sama nih?"


"Apa gak bisa kita berjalan bersama untuk sampai di tempat tujuan kita?"


Naira menggeleng pelan. "Aku gak tahu, Nair."


"Ada Abi dan Umi yang harus ku ajak berdiskusi."


Nair diam sejenak. Ia melihat wajah cantik yang menunduk itu dari samping. Bulu matanya lentik, pipinya chuby, hidungnya mancung dan bibirnya merah muda


Astagfirullahal 'adzim. Batin Nair saat menyadari telah mengagumi makhluk Allah yang belum menjadi miliknya itu.


Nair kembali fokus pada pembicaraan mereka. "Bahkan untuk masa depanmu, kamu meletakkan keputusan itu pada orang tuamu, Nai?" tanya Nair lembut. Ia tak menduga Naira berfikir terlalu dangkal. Bahkan masa depannya saja harus ditentukan oleh orang tuanya


Naira menggeleng lemah. "Tidak semuanya. Ini hanya soal restu dan pendapat mereka, Nair."


"Tidak mungkin aku menikah dengan pria yang menurut mereka tidak baik."


"Tidak mungkin juga aku menikah dengan pria yang tidak bisa menghargai Umi dan Abiku."


"Huuh!" Nair menghembuskan nafas berat.


"Baiklah, minimal sebutkan syarat untuk menjadi suamimu." Nair pantang menyerah.


Naira diam sejenak. Ia memikirkan apa yang menjadi syarat untuk menjadi suaminya kelak.


"Oke.. minimal sebutkan tipe pria idaman kamu, Nai?"


"Aku akan mencoba menjadi pria itu."


Naira menghela nafas. "Nai, ayo pulang." Bersamaan dengan terdengarnya suara berat dari arah belakangnya.


Naira melihat kebelakang. "Iya, Pakde."


Nair membulatkan mata. Ia baru tahu kalau Pakde yang berbicara dengannya dan selama ini menjadi pembimbingnya adalah kerabat Naira.


Pakde Rahman kerabatnya Naira?


"Nair, aku pulang duluan. Assalamualaikum." Naira berdiri dan hendak melangkah maju.


"Wa'alaikum salam," jawab Nair pelan.


"Nai, sebutkan syaratnya dulu."


Naira melihat Pakdenya sekilas. Pria itu sedang berbicara dengan seseorang. Naira menatap Nair yang menunggu jawabannya.


"Seorang pria yang bisa membahagiakanku hingga ke surganya Allah," ucap Naira lirih. Ia sesegera meninggalkan Nair yang diam terpaku.

__ADS_1


Berat! Nair menghela nafas.


__ADS_2