
"Mas... Kenapa Nair sama Naira belum sampe juga sih?" tanya Lintang penasaran. Sudah hampir 2 jam mereka menunggu di bandara untuk menjemput anak dan menantunya.
Namun, sepasang suami istri yang baru saja berlibur itu tidak muncul juga. Seharusnya mereka sampai di bandara sekitar satu jam yang lalu.
Akhtar melihat jam tangannya. "Harusnya sih udah sampe dari tadi, Lin."
"Mereka gak ada kasih kabar saat mau take off, Lin?"
Lintang menggeleng. "Ku fikir mereka buru-buru, Mas. Jadi gak sempat kasih kabar."
"Coba kamu lihat pesan. Siapa tahu mereka nge-chat kamu?"
Lintang mengambil ponsel di tasnya. "Gak ada, Mas."
"Mungkin penerbangannya di tunda, Lin."
"Atau mereka menunda kepulangan mereka."
"Kalau benar begitu, mereka pasti kasih kabar, Mas. Coba ku telfon dulu." jawab Lintang.
Lintang menghubungi nomor Nair. "Gak diangkat, Mas." Wajahnya semakin menunjukkan kekhawatiran.
Ia kembali menempelkan benda pipih nan canggih itu ke telinganya untuk menghubungi nomor Naira.
"Naira juga gak jawab, Mas."
Akhtar duduk dengan perasaan tidak tenang. Berulang kali ia menggerakkan kakinya untuk mengurangi rasa khawatir yang mendominasi hati dan fikirannya.
"Kamu tunggu disini, ya Lin!" pintanya. "Aku mau cari informasi dulu."
Lintang mengangguk lemah. Ia berdoa semoga tidak terjadi apapun dengan anak dan menantunya.
Sepuluh menit kemudian Akhtar kembali dengan wajah memucat. Ia segera menggenggam tangan istrinya. Lintang melihat suaminya tampak seperti ketakutan tapi ada ekspresi marah disana.
"Kita pulang, sayang!" ajaknya. Lintang masih enggan beranjak.
"Tapi Nair sama Naira belum pulang, Mas."
"Mereka mungkin gak pulang sayang! Pesawat Bali-Jakarta sudah landing 1 jam yang lalu."
Lintang membulatkan matanya. "Jadi mereka kemana, Mas?"
Akhtar mengangkat bahu. "Mereka mungkin belum pulang, Lin."
"Tapi tiket mereka sudah dibooking pergi-pulang, Mas."
"Mereka mungkin masih ingin disana sayang."
"Mas, mereka sudah menyebrang dari pulau."
"Mungkin mereka masih ingin stay di kota itu, Lin."
"Mungkin itu meskapai lain, Mas?"
"Enggak sayang. Aku sudah benar menyebutkan meskapai yang mereka tumpangi."
Lintang kesal. Perasaannya tidak tenang, tapi suaminya tidak mengerti sama sekali.
"Kita pulang!" Ajak Akhtar dengan nada marah.
Di dalam mobil, Akhtar terus menekuk wajahnya. Bibirnya tertutup sempurna. Tidak ada satu kata pun yang keluar. Dia khawatir sekaligus marah.
"Mas...!" Lintang mengusap lengannya. Keduanya Sama sama khawatir, tapi menunjukkannya dengan cara berbeda.
Akhtar menghembuskan nafas berat. "Mereka gak mikir gimana perasaan kita, Lin."
"Batal pulang tapi gak kasih kabar!"
"Sudah tau, kalau kita yang akan jemput mereka ke Bandara!"
"Dihubungi, gak dijawab."
"Kali ini aku kecewa sama Nair!" Akhtar kesal sekali. Bicaranya juga dengan nada tinggi.
__ADS_1
Sebenarnya ia punya alasan kenapa ia marah sekali. "Nair gak mikir apa? kalau aku trauma atas hilangnya Tiara dulu?" lirih Akhtar.
Lintang mengusap bahunya. Ia bahkan menyandarkan kepalanya di lengan kokoh milik suaminya. "Mas, maafkan Nair dan Naira ya..."
"Mungkin mereka lupa, atau susah sinyal, Mas."
"Mereka pasti nanti menghubungi kita, Mas."
"Kita berdoa aja semoga mereka selalu dalam lindungan Allah."
"Jangan marah lagi. Ingat tekanan darah!" Lintang tertawa kecil.
"Kita sudah tua ya, Lin."
"Tuh sadar."
Keduanya tertawa bersama. "Cucu kita udah banyak, Sayang!"
"Iya mas. Uban kamu juga mulai kelihatan."
"Entar aku mau cat putih semua rambutku. Biar kelihatan kayak oppa korea."
"Aku gak setuju, Mas."
"Kenapa?"
Belum sempat menjawab, tiba-tiba Ponsel Lintang berdering. Ia menarik diri dari tubuh suaminya.
"Sebentar, Mas." Ia mengambil ponsel di tasnya dan melihat nama Naira muncul di layar, ia menghembuskan nafas lega.
"Alhamdulillah, apa ku bilang mas. Mereka pasti menghubungiku."
"Hallo. Assalamualaikum, Nai."
"Hallo. Waalikum salam, Ma." terdengar suara lemah Naira dari loudspeaker ponselnya.
"Kalian batal pulang, sayang?" tanya Lintang cepat. Akhtar mengernyitkan kening melihat istrinya yang seperti tidak sabaran.
"Mas Nair kecelakaan, Ma..."
"Astagfirullah!" Suara lemah Naira membuatnya terkejut, bahkan Akhtar juga sampai membulatkan matanya melihat Lintang yang tiba-tiba menaikan nada suaranya.
"Mereka kenapa, Lin? Nair sama Naira baik-baik aja kan?"
"Terus bagaimana keadaannya sayang?"
"Naira belum ketemu, Ma. Naira juga sekarang sedang di ruang perawatan."
"Ya Allah..." Air mata Lintang langsung menerobos keluar. "Kamu kecelakaan juga, Nak?"
"Enggak, Ma. Nai kayaknya cuma kecapek'an."
"Astagfirullah! Siapa yang kecelakaan, Lin?"
Lintang tidak peduli dengan suaminya yang mulai panik. "Mama sama papa akan kesana, Nak."
"Tunggu mama ya, sayang!"
Panggilan segera Lintang akhiri. "Putar balik ke Bandara, Mas."
"Kita ke Bali sekarang!"
"Aku cari tiket dulu."
"Kenapa, Lin?"
"Nair kecelakaan, Mas dan Naira sakit karena kecapek-an!"
"Ya Allah, perasaanku gak salah kan, Lin?"
"Iya, Mas. Iya..." Lintang mencari penerbangan tercepat menuju Bali dengan sebuah aplikasi yang menyediakan layanan pembelian tiket.
"Terus Nair gimana, Lin?"
__ADS_1
"Dia gak kenapa kenapa, Kan?"
"Naira juga!"
Lintang menatap suaminya yang memberondongnya dengan banyak pertanyaan. "Mas... kamu bisa tenang sedikit, gak?"
"Ya kamu! Gak jelasin apa-apa, sayang. Tiba-tiba minta balik ke bandara dan langsung cari tiket. Aku kan mikirnya se-urgent apa keadaan mereka."
"Mas... Nair sama Naira di rawat di rumah sakit yang sama. Tapi Naira belum bisa lihat keadaan Nair."
"Kok bisa begitu kejadiannya, sayang?"
"Ya Allah, Mas! Jangan banyak tanya deh!" Lintang masih terus menatap benda persegi itu.
"Kita berangkat 2 jam lagi."
"Kita pulang dulu, Lin."
"Mas, gak ada waktu."
"Pakaian ganti?"
"Astagfirullah, Mas. Cari pakaian bersih dan baru banyak mas. Toko baju, distro yang kita lewati gak terhitung jumlahnya."
"Yang penting KTP kamu ada." jawab Lintang.
Gini banget kalau apa-apa aku yang selalu mempersiapkan kebutuhan kamu, Mas. Sampai-sampai kamu panik dan bingung sendiri.
"Yang penting saldo ATM kamu aman."
"Jangan pusing-pusing! Anak-anak butuh kita secepatnya, Mas."
***
"Suster, saya ingin bertemu suami saya." pinta Naira pada seorang suster yang sedang melakukan pengecekan berkala.
Sudah dua botol cairan infus masuk ke tubuhnya. Perlahan ia mulai merasa lebih baik.
"Bagaimana keadaannya sekarang, Sus?"
"Suami Ibu sudah sadarkan diri setengah jam yang lalu. Tunggu sebentar ya, Bu! Saya ambil kursi roda dulu."
Naira berucap syukur dalam hatinya. Terima kasih, Ya Allah. Terima kasih masih melindungi hamba dan suami hamba. Terima kasih juga telah mempertemukan kami dengan orang-orang baik.
Naira meneteskan air mata. Betapa ia masih diberi perlindungan hari ini. Tadi saat ia sedang menunggu Nair di kursi tunggu di di rumah sakit tersebut, tiba-tiba kepalanya terasa pusing dan berat. Ia merasakan ruangan serba putih dimana orang-orang berlalu lalang itu terasa berputar. Pandangannya seketika gelap.
Ia tak tahu berapa lama ia tak sadarkan diri. Karena saat ia terbangun, ia sudah berada di atas brangkar dengan jarum infus di tangannya.
Pertama kali yang dicarinya adalah Nair. Dan suster yang saat itu tengah memeriksanya menjelaskan bahwa ia pingsan karena kelelahan.
Suster juga mengatakan bahwa Nair masih belum sadar. Suster juga memberikan tas dan seluruh barang-barang mereka kepadanya.
"Saat saya akan memberikan barang-barang suami Ibu, ternyata ibu sudah pingsan di kursi tunggu."
"Jadi, saya simpan saja ke ruangan ini."
"Suster percaya begitu saja kalau saya istrinya?"
Suster itu mengangguk. "Tadi ada seorang pria yang membawa suami ibu dan mengatakan bahwa Ibu adalah istrinya. Dan beliau meminta untuk menyerahkan semua barang-barang bapak Al Nair pada Ibu."
"Saya juga melihat foto kalian berdua di layar ponsel suami Ibu."
"Maaf lancang. Tapi kami harus menghubungi keluarga kalian."
"Sayang sekali ponsel kalian terkunci."
"Tidak apa-apa, Sus. Justru kami berterima kasih atas kebaikan kalian."
Alhamdulillah..." Naira bersyukur sekali karena masih banyak orang baik di sekitarnya.
"Sekali lagi, terima kasih, suster."
Naira langsung menghubungi Lintang, karena saat ia memeriksa ponselnya terdapat banyak missedcall dari mama mertuanya itu.
__ADS_1