EL NATH ( Penyesalan Terindah)

EL NATH ( Penyesalan Terindah)
Bab 82 Tentang Nair


__ADS_3

Makan malam penuh kebahagiaan itu telah usai. Tiara sedang berbincang dengan ibu dan mama mertuanya. Membahas mengenai banyak hal tentang kehamilan.


Sebagian orang sudah pulang, mereka harus istirahat karena rutinitas yang padat yang harus mereka lakukan besok.


"Jangan melakukan aktivitas berat dan mengangkat beban yang berat, Ti." Pesan Lintang sebagai ibu mertua yang turut bahagia atas kehamilan menantunya.


"Benar, Ti. Jaga baik-baik calon anak kamu."


"Iya Bu. Iya Ma."


"Kalau pusing, mual atau ingin makan apapun, minta pada Nath ya. Sudah tanggung jawabnya mengurus kamu dan calon anak kalian." Lintang menggenggam tangan Tiara.


"Terima kasih sudah berjalan sejauh ini bersama anak mama, Ti."


"Banyak hal yang sudah kalian lewati berdua, semoga anak ini menambah kebahagiaan dan keharmonisan rumah tangga kalian," lanjut Lintang.


"Amin."


"Ti, sabar ya... kehamilan di trisemester pertama memang berat. Mual, muntah dan perasaan yang berubah-ubah itu hal biasa."


"Usahakan cari suasana yang buat kamu nyaman dan bahagia."


"Rumah ibu terbuka lebar, rumah mama Lintang juga terbuka lebar. Kalau bosan di rumah, main ke sana."


"Iya ibuu." Tiara bersandar di bahu ibunya. Ia bahagia dukungan datang dari banyak orang. Sangat berbeda dengan kehamilannya dulu yang hanya dia dan Nath yang tahu. Dia bahkan lebih sering menghadapinya sendiri karena Nath tidak selalu ada di sampingnya.


"Tia bersyukur, Allah kasih secepat ini. Bahkan bulan lalu Tia baru buka KB Implan."


"Rasanya kayak mimpi Bu, Ma."


"Bang Nath sampai nangis terus."


Lintang dan Nurul menatap Tiara. "Nath nangis?" tanya Lintang.


Tiara mengangguk pasti. "Iya Ma."


"Kalau mama lihat, pasti mama ketawa." Tiara tertawa pelan saat melihat Nath menangis pagi tadi dan saat di ruangan dokter ia juga menangis. "Selama ini abang kan sok kuat banget, Ma."


"Itu tangis bahagia, Ti." Tiara mengangguk.


Lintang jelas tahu bagaimana saat putranya itu menangis. Tangis bahagia hingga tangisan paling menyedihkan pernah ia lihat. Yaitu saat empat tahun lalu Nath mengetahui ia kehilangan bayi kembar dalam rahim Tiara.


"Ma, Bu. Allah cuma ganti satu." Tiara menunduk menyentuh perutnya.


Nurul mengusap kepala putrinya. "Rezeki itu sudah Allah takar dan tidak akan tertukar, Ti."


"Jangan lupa bersyukur sekecil apapun yang Allah beri meski hanya seteguk air. Allah tahu apa yang baik untuk hambaNya."


Tiara mengangguk pelan. Ia paham maksud ibunya.


"Mama dulu, pas hamil Nath sama Nair justru baru tahu kalau hamil kembar itu pas pemeriksaan ke dua, Ti." Tiara baru tahu akan hal itu.


"Minggu ke 8 kalau gak salah."


"Papa bahagianya gak terkira, Ti."

__ADS_1


"Memang bisa gitu, Ma?" tanya Tiara yang tidak mengetahui akan hal itu. Sepertinya ia harus lebih banyak mencari informasi seputar kehamilan


Lintang mengangguk. "Bisa dong. Bahkan ada janin yang belum terlihat pada kehamilan 6 minggu."


"Kalian beruntung, babynya udah kelihatan pas pemeriksaan tadi."


"Kayaknya Tia harus banyak baca soal kehamilan, Ma."


Lintang mengangguk. "Ajak Nath juga, Ti. Supaya kalian sama sama faham mengenai kehamilan dan proses persalinan nanti."


***


Nath menghampiri Nair yang duduk di teras rumah. Nair sedang memandang langit terang dengan cahaya bulan dan bertabur bintang.


Nath ikut duduk di lantai marmer yang mengkilap itu. "Kenapa Nair?" Pertanyaan langsung keluar dari mulut Nath.


Nair menoleh sekilas. Lalu menggeleng. "Gak kenapa-kenapa?"


"Heem!" Nath menyeringai. "Kalau bohong jangan di depanku, Nair! Percuma!" Cibiran Nath membuat kembarannya itu langsung menatap kearahnya.


"Tanpa lihat muka kamu, aku tau ada sesuatu denganmu."


Nath menunjuk dada dengan telunjuknya. "Disini pasti terasa Nair."


"Sama seperti saat kamu merasakan sesuatu yang janggal ketika awal permasalahanku dengan Tiara dulu."


Nair menautkan alisnya seolah bertanya darimana Nath tahu kalau dia merasakan sesuatu saat itu.


"Gak usah gitu mukanya!" Nath tertawa.


"Kelihatan banget kamu khawatir sama aku, Nair. Saat pulang dari Jogja, wajah kamu jelas berbeda Nair. Kamu merasakan apa yang ku rasa kan?"


"Ada masalah sama proses ta'aruf kamu sama Naira?" tanya Nath tepat sasaran.


Nair menoleh dan tersenyum miris. "Tepat sasaran banget Nath."


Nath terkekeh pelan. "Ku bilang apa? Terasa disini, Nair." Nath kembali menunjuk dadanya.


Nath meluruskan kaki meletakkan telapak tangannya di belakang bertumpu pada lantai. "Kalau yakin, maju Nair."


"Aku tahu perasaanmu sangat dalam pada Naira."


"Dia baik, cantik dan pasti cocok denganmu."


"Aku mendukungmu, Nair. Menikahlah dengan cara baik-baik." Nath tertawa pelan mengingat pernikahannya dulu dengan Tiara.


"Sedang ku usahakan, Nath," jawab Nair menatap langit. "Tapi sepertinya Allah belum buka kan jalan."


Nath langsung menatap kembarannya itu. "Maksudnya gimana?"


"Naira udah nikah? Atau kalian gak direstui?" Nath memberondong Nair dengan pertanyaan yang mengganggu fikirannya.


Nair tertawa pelan. "Dia belum nikah, Nath."


"Huuuh!" Nath menghembuskan nafas lega. "Kirain kamu lagi mikir buat ngerebut istri orang, Nair!"

__ADS_1


"Astaghfirullah, Nath. Ya gak lah," balas Nair cepat. Nath tertawa melihat ekspresi wajah Nair.


"Jadi, apa masalahnya Nair?" tanya Nath lagi.


"Aku harus mengirim CV ta'aruf ke orang tua Naira, Nath?"


"CV? Kayak ngelamar kerja, Nair?" tanya Nath heran. Ia memang tidak faham mengenai proses ta'aruf yang akan Nair jalani.


Nair mengangguk. "Sebenarnya aku ingin langsung menemui orang tua Naira langsung Nath."


"Tapi orang tuanya sedang di luar kota untuk beberapa bulan ke depan."


"Haaah!" Nath menghela nafas. "Batal dong?" tanya Nath lagi.


Nair mengangkat bahu. "Belum tahu nih. Doain lancar aja deh."


"Soalnya Abinya Naira juga sedang berusaha menjodohkannya dengan ustadz muda penerus sebuah pondok pesantren."


"Ya Allah!" seru Nath mengusak rambutnya. "Saingan kamu berat, Nair."


Nair tertawa miris. Ia menyeringai. "Banget Nath." Nair melihat bintang yang bertabur di langit malam.


"Aku baru lulus ujian sertifikasi, masih ada setahun lagi untuk magang dan 4-6 tahun untuk lulus pendidikan dokter spesialis."


"Huuuh! Ya Allah! Lama banget Nath!" Nair hampir putus asa.


Nath terkekeh. "Keburu yang nikung sampe duluan Nair."


"Lagian kamu sih! Ambil ke dokteran. Begini kan! Lama, Nair!" Ucapnya sedikit kesal karena Nair memilih ingin menjadi dokter spesialis yang bisa dibilang perlu waktu lama untuk bisa menyelesaikan pendidikannya.


Sementara Nath seorang arsitek yang sudah mendapatkan posisi bagus di kantornya.


"Cita-citaku, Nath!" balas Nair tak mau kalah. Ia memang ingin menjadi dokter. Karena kelak ia ingin berbuat banyak untuk orang tuanya. Jika mama papanya sakit, setidaknya ia mengerti langkah apa yang perlu diambil.


"Jadi, gimana Nair?"


"Pasrah!"


"Ck! Jawaban seorang looser." Cibir Nath pada kembarannya yang cuma bisa pasrah.


"Gitu aja udah nyerah."


"Ingat kata bang Shaka, rezeki sudah tertakar dan jodoh takkan tertukar!" Nath mengatakan kalimat yang Shaka ucapkan pada pesta anniversarrynya waktu itu.


Nair tertawa. "Aku akan tetap berusaha Nath! Dan kalau hasilnya gak sesuai harapan, yaaaa harus ikhlas! Yang penting udah usaha!"


Plak! Nath menepuk bahu Nair kuat sampai Nair terkejut. "Ini baru Alvarendra! Pantang menyerah!"


"Jadi, kirim CV ta'arufnya gimana?"


"Naira menyarankan langsung mengirim ke email abinya."


"Tunggu apa lagi! Segera kirim, Nair!" Nath merangkul bahu kembarannya itu. "Ku bantu doa semoga berhasil."


"Thanks, Nath!" Nair memeluk Nath yang sudah bersedia menjadi tempatnya berbagi cerita.

__ADS_1


***


Ini sekilas tentang abang Nair. kalau tertarik coment di bawah😊


__ADS_2