EL NATH ( Penyesalan Terindah)

EL NATH ( Penyesalan Terindah)
Bab 20 Tidak disini


__ADS_3

Nath dan Rion tiba di rumah. Nath langsung masuk ke kamarnya dan Rion duduk bersama Nair di ruang keluarga.


"Pak Ustadz udah pulang dari masjid, nih?" tanya Rion pada Nair yang tengah fokus pada layar televisi. Waktu magrib sudah terlewat dan waktu sholat Isya hampir tiba.


"Gak ke masjid, Yon. Sholat di rumah."


"Dia kenapa?" tanya Nair menatap Rion.


Rion langsung menegakkan duduknya. Ia tak sabar menyampaikan informasi paling menggelegar dan akan membuat Nair sport jantung.


"Assalamualaikum." Suara yang paling Rion kenali terdengar dari arah depan.


Mereka menjawab salam dari Bi. Rion langsung menyambut istrinya itu. "Pas banget."


"Apanya?" tanya Bi penasaran, karena Rion seperti tak sabar menceritakan sesuatu.


Mereka duduk di sofa, bersiap mendengarkan cerita Rion.


"Tadi Nath bilang, dia kehilangan mereka."


"Mereka?" tanya Nair dan Bi bersamaan.


Rion mengangguk. "Janin kembar di rahim Tiara."


"Apaa!" Pekik Nair dan Bi bersamaan.


"Gak lucu, Yon!" Nair kesal mendengar ucapan Rion yang seperti sedang mengerjai mereka.


"Kamu kalau ngomong jangan asal, Sayang," ucap Bi sedikit marah. Rion seolah menuduh adiknya- Nath, telah menghamili Tiara.


"Aku gak tau pasti, Bi, Nair. Tadi di rumah sakit, aku melihat Nath berlutut didepan orang tua Tiara. Mama dan papa marah besar sampai nyuruh aku bawa Nath pulang dan memastikan Nath gak pergi kemana pun."


Bi dan Nair saling pandang saat mendengar cerita Rion.


"Nath juga sempat bilang ke ayahnya Tiara kalau dia gak akan lari dari tanggung jawab."


Hening...


Tak ada yang merespon Rion. Mereka mencoba mengingat dan menghubungkan tiap keping kejadian.


"Apa mungkin ini sebabnya Nath gelisah dan uring-uringan sebulan lalu, dan juga penyebab ia ke Jogja beberapa hari lalu, Kak?" tanya Nair.


"Bisa jadi, Nair."


****


Sementara itu, di rumah sakit.


Tiara perlahan membuka matanya. Ia berkali-kali menerjapkan matanya. "Aku dimana?"

__ADS_1


Ia melihat ruangan serba putih dan perlahan mengingat kejadian terakhir sebelum akhirnya sebuah mobil menabrak tubuhnya.


"Mbak ... syukurlah, anda sudah sadar," ucap seorang suster yang kebetulan tengah melakukan pengecekan pada infusnya.


Tiara melihat wanita berbaju putih itu dan sekarang ia yakin tengah berada di rumah sakit.


Dokter segera memeriksa Tiara, dan kondisinya sudah stabil. Ia segera dipindah ke ruang perawatan.


"Suster, saya... saya ...." Tiara ragu bertanya mengenai kehamilannya. Saat ini hanya ada suster di ruangan ini.


"Ada yang bisa saya bantu, mbak."


"Ehm ... gak ada, Sus." Tiara mengurungkan niatnya. Rasa sakit di perutnya jelas menandakan terjadi sesuatu pada janinnya.


Orang tua Tiara masuk bersama Akhtar dan Lintang membuat Tiara merasa takut, merasa bersalah dan bingung harus bersikap bagaimana.


Kalau terjadi sesuatu pada janinku, itu berarti ayah, ibu dan orang tua bang Nath sudah tau. Batin Tiara.


"Udah lebih baik kan, Ti?" tanya bu Nurul pada Tiara.


Tiara mengangguk pelan. "Bu ...."


"Jangan banyak fikiran dan bicara dulu, Ti. Pikirkan kesehatan kamu dulu," potong bu Nurul.


Tiara beralih pada Lintang dan Akhtar. Mata sembab Lintang membuatnya semakin yakin mereka mengetahui kondisinya.


Tante Lintang gak mungkin menangis hanya karena kasihan dan bersimpati padaku. Dan bang Nath? Dia gak ada disini. Jangan-jangan terjadi sesuatu padanya.


"Tiara boleh tidur lagi, Bu?" tanyanya karena memang tubuhnya terasa seperti remuk.


Semua orang mengangguk. Dan segera Tiara memejamkan matanya.


Akhtar dan Lintang serta orang tua Tiara duduk di sofa yang letaknya agak jauh dari ranjang yang ditempati Tiara.


"Pak, Bu, saya mewakili Nath memohon maaf atas semua masalah ini." Akhtar memulai pembicaraan dengan suara pelan, karena takut menggangu tidur Tiara.


"Jujur saja, saya tidak pernah tau ada hubungan istimewa antara putri kalian dan putra kami."


"Kami juga tidak menduga, Nath melangkah sejauh ini sampai melewati batasan."


"Tapi satu hal, Pak, Bu. Nath akan tetap tanggung jawab meski tidak ada lagi janin di rahim Tiara."


Orang tua Tiara mengangguk lemah. "Saya juga minta maaf, Pak," ucap ayah Tiara.


"Kami juga tidak mengetahui adanya hubungan istimewa antara Nath dan Tiara."


"Bisakah kita bicarakan ini nanti, Pak. Menunggu keadaan Tiara membaik."


Akhtar mengangguk. "Pasti Pak, Bu. Kalau begitu kami permisi dulu."

__ADS_1


Akhtar dan Lintang pamit lalu segera meninggalkan ruangan itu.


Tiara samar-samar mendengar obrolan kedua pasang orang tua itu. Ia meraba perutnya dan perlahan air matanya menetes.


Kamu sudah gak ada di dalam, sayang? Maaf mama tidak bisa menjaga kamu, Nak.


Bang Nath, apa yang terjadi padamu. Kenapa kamu gak ada disini? Semoga kamu baik-baik aja.


Dan sekarang, untuk apa aku dan bang Nath menikah? Apa mungkin dia mau menikahiku saat calon anaknya udah gak ada lagi disini?


Atau mungkin dia tidak disini karena dia pergi dan tidak mau bertanggung jawab? Maka dari itu om Akhtar mewakilinya seolah menjamin dia akan tanggung jawab.


Tiara memejamkan mata basahnya namun dengan pikiran yang berkecamuk.


****


Rumah keluarga Alvarendra.


Selepas sholat Isya, Nath menghempaskan tubuhnya di bangku panjang di pinggir kolam renang.


Ia belum bicara apapun pada Bi dan Nair. Ia masih belum tau harus memulai dari mana.


Seseorang duduk di sampingnya. Nath melirik dan ternyata orang itu adalah Bintang, kakaknya.


Keduanya saling diam. Nath terus memandang air kolam yang memantulkan cahaya lampu.


"Dulu, mama pernah marah besar sama kakak." Bi mulai bicara. Nath masih belum tertarik.


"Sama Rion, bahkan sama Zoya."


"Kakak marah sama diri sendiri karena udah buat mama kecewa."


"Didiamkan mama itu rasanya kayak dunia ini gelap, tanpa matahari, bulan atau bintang."


"Dunia ini sepi tanpa suaranya."


Nath mulai tertarik, ia menatap Bintang.


"Nath..." Bintang merangkul bahu Nath. "Percaya gak? Nair, kakak dan Zoya, sudah merasakan keanehanmu sejak sebulan lalu. Terlebih Nair yang merasa kamu berbeda, kamu gelisah, kamu seperti kebingungan. Dan kami makin curiga saat kamu mendadak pergi ke Jogja." Mereka saling pandang.


"Kakak gak tau alasan kamu kesana itu karena apa? Dan kalau memang dugaan kami benar, apa yang Nair rasa juga benar, ini membuktikan ikatan batin antara kamu, dan kami itu kuat, Nath."


"Dalam tubuh kita mengalir darah yang berbeda, Nath. Tapi jangan lupakan, kita berempat hidup dengan air susu yang sama." Mata Nath mulai berkaca.


"Dari dulu kita bersama, dalam suka dan duka. Lalu kenapa kamu menyembunyikan masalahmu sendri, Nath?"


Seketika hening....


"Aku salah kak. Aku berbuat kesalahan." Nath menunduk. Dan Bi dengan lembut mengelus punggungnya.

__ADS_1


"Aku ... aku merenggut kehormatan Tiara, kak." Nath menatap Bi yang memasang senyum kecil.


__ADS_2