
Tepat saat azan Isya berkumandang, Akhtar dan Lintang tiba di mesjid. Nair langsung mendapat pelukan hangat dari papa dan mamanya.
"Hutang cerita, Nair!" bisik Akhtar di telinga putranya sambil menepuk bahu Nair beberapa kali.
Nair sampai terkekeh kecil. Sangking bahagianya si papa sampai lupa bilang selamat padanya dan malah mengatakan hal yang tidak terlalu penting.
Lintang mengusap pipi putranya. "Akhirnya Allah balas kesabaran dan semua usaha kamu, sayang."
Nait mencium punggung tangan Lintang berkali-kali. "Alhamdulillah, Ma. Restu Nair, Ma. Doakan Nair."
"Pasti sayang!"
Karena keterbatasan waktu, mereka berpisah sejenak dan Sholat berjamaah akan segera di mulai.
Selesai doa, sebagian jamaah lainnya tidak langsung pulang. Mereka ingin melihat pernikahan Nair dan Naira yang notabenenya merupakan dua orang yang aktif di mesjid itu.
Bahkan anak-anak yang belajar mengaji bersama Naira tidak ingin pulang lebih awal. Mereka ingin melihat salah satu guru mereka melangsungkan akad nikah malam ini.
Nair keluar dari mesjid untuk mengambil sesuatu di mobilnya. Benda yang membuatnya kerap kali mengingat luka, kini akan menjadi pengikat antara keduanya, cincin kawin.
Nair sudah bersiap duduk di depan Abi Rahardi. Akad nikah akan segera di mulai. Tapi seketika perhatian mereka tercuri saat beberapa mobil mewah masuk kedalam kawasan mesjid.
Diurutan paling depan ada mobil Rion dan Bi, disusul mobil Ezra dan Zoya dibelakang mereka. Tak seberapa lama, masuk mobil Langit dan terakhir mobil keluarga Caraka. Mereka yang paling belakang, kalian tau lah gara-gara siapa?
Satya dan keluarga tidak bisa hadir karena sedang diluar kota. Mereka hanya mendoakan lewat pesan yang dikirim langsung ke nomor Nair.
Karena semua keluarga sudah hadir, maka acara akan segera di mulai. Nair duduk bersebelahan dengan Naira di hadapan Abi Rahardi yang di dampingi seorang penghulu dan beberapa orang pemuka agama serta pak Lurah yang menjabat di lingkungan itu.
"Maaf sebelumnya Bapak dan Ibu dan keluarga sudah merepotkan anda semua karena acara yang mendadak ini," ucap Rahman sebagai perwakilan keluarga Naira.
"Pernikahan yang akan segera dilaksanakan hanya sah secara agama, belum secara hukum."
"Untuk itu, Nair dan keluarga, dokumen pernikahan akan segera kita urus setelah ini."
"Mereka nanti akan mengikuti itsbat nikah di kantor Pengadilan Agama untuk mengurus dokumen resminya."
"Nair, Naira... Pakde harap kalian memahami hal itu. Nanti akan di bantu oleh pak penghulu yang lebih tahu prosesnya."
Nair dan Naira yang sudah duduk bersebelahan sama-sama mengangguk.
__ADS_1
"Terima kasih untuk kehadiran dan pengertian dari pihak keluarga ananda Nair."
"Bisa kita mulai, bapak ibu?" tanya salah satu pria berusia lima puluh tahunan yang berpakaian serba putih itu. Beliau adalah seorang penghulu yang tinggal di lingkungan tersebut.
Semua setuju untuk memulai. Pakde Rahman dan Abimanyu di daulat sebagai saksi pernikahan Nair dan Naira.
Rahardi menatap takjub pada Nair yang tampak tenang. Ia terlihat gagah meski hanya dengan kemeja putih yang sempat ia ganti sebelumnya. Kemeja yang Lintang bawa, sebagai jaga-jaga jika dibutuhkan.
Rahardi dan Nair saling menjabat tangan mereka. Keduanya sama-sama menarik nafas dalam demi mengurangi rasa gugup.
Rahardi tidak menyangka sudah tiba saat untuk melepaskan putri kesayangannya. Dan Nair tidak menyangka saat seperti ini tiba-tiba datang padanya.
"Saya nikahkan dan kawinkan engkau Ananda Al Nair Alvarendra bin Akhtar alvarendra dengan anak kandung saya Al Naira Rahardian dengan mahar seperangkat alat sholat dibayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawin Al Naira Rahardian binti Rahardian dengan mahar seperangkat alat sholat dibayar tunai."
"Bagaimana saksi?"
"Sah!"
"Alhamdulillah..." Semua orang berseru mengucap syukur diacara akad nikah yang penuh khidmat itu.
Penghulu membacakan doa pernikahan yang berhasil membuat Nair meloloskan air matanya. Ia sangat berterima kasih atas kesempatan dan hal besar yang Allah berikan ini.
Berkas ini nantinya akan berguna untuk pengurusan buku nikah agar pernikahan mereka sah secara hukum negara.
Nair menyerahkan mahar. Ia memberikan sebuah box berisi seperangkat alat sholat kepada istrinya. Benda yang nekat ia beli berbulan-bulan lalu. Dan akhirnya, niatnya menjadikan benda itu sebagai mahar dapat terwujud juga.
Nair, ia memang tidak memberikan uang tunai sebagai mahar. Alasannya adalah ia tidak membawa uang cash dalam jumlah besar dan ia tidak ingin memakai uang papanya meski nanti akan ia ganti.
Nair tetap akan menafkahi istrinya dan berusaha memberikan kehidupan yang layak meski tidak ada mahar berupa uang tunai dalam akadnya.
Naira dan keluarga memaklumi hal ini. Karena pernikahan yang memang sangat mendadak, membuat persiapan menjadi ala kadarnya.
Untuk pertama kalinya, kulit Nair bersentuhan dengan kulit Naira. Jika selama ini keduanya menjaga jarak dan kontak fisik, maka kali ini semua itu sudah tidak berlaku lagi.
Naira menjadi gadis yang halal untuk Nair sentuh. Gadis yang selama ini ia perjuangkan meski terlalu sakit setiap kali mendapat penolakan.
Cincin kecil nan mewah itu sudah terpasang dijari Naira. Sedikit lebih longgar, tapi tidak menjadi masalah baginya. Sekarang giliran Naira yang memasangkan cincin di jari manis Nair.
__ADS_1
"Cium punggung tangan suami kamu, Nai," perintah Rahardi pada putrinya
"A... Abi..." Naira gugup dan tersipu menatap Abinya. Gadis yang memakai gamis putih itu seketika menunduk.
Semua orang mengulum senyum melihat pasangan malu-malu yang baru saja sah itu.
Naira berusaha mengontrol debaran jantungnya saat Nair menyodorkan tangan dihadapannya. Naira perlahan meraih tangan itu dan menciumnya.
Nair merasakan benda kenyal nan lembut itu menyentuh punggung tangannya. Menciptakan satu sensasi aneh dalam tubuhnya. Ia merasa seperti tersengat aliran listrik di seluruh tubuhnya.
"Nair, cium kening istri kamu."
Harus banget disini? Batin Nair.
Sementara itu, ada percakapan unfaedah antara Nath dan Rion...
"Nath, ini kayak mimpi gak sih?" bisik Rion pada Nath yang duduk di sebelahnya.
"Banget, Yon." jawabnya tanpa menoleh. Ia lebih senang menikmati kegugupan kembarannya saat Naira mencium punggung tangan nan kaku itu.
Menggelikan Nair! batin Nath.
(Bisa aja lu Bang! Dulu elu juga malu-malu kelesss! Hahahahaha [Othor ketawa kek Setan])
"Gue takut Nair main dukun nih!" bisik Rion lagi.
"Ha?" Nath menajamkan pendengarannya karena ia sedang fokus menertawakan Nair tadi.
"Dia putus asa, terus main dukun. Dan Baaam! Om Rahardi langsung kasih yess!"
Nath menatap Rion dengan mengerutkan kening. Belum sempat menjawab, seseorang di depan mereka mendelik bak hendak menelan keduanya.
Nath dan Rion salah tingkah.
"Hehehe... Pa...Pa." Keduanya tertawa garing.
****
Ada yang ketahuan 😅
__ADS_1
Dasar setan, kelakuan tetep aja yak 😂
Cium keningnya di next bab aja ya 😂