
Semakin hari, Tiara semakin menikmati masa-masa kehamilannya. Morning sickness yang katanya akan berlangsung hingga 3 bulan nyatanya tidak Tiara rasakan lagi di bulan ke tiga ini.
Dia sudah tidak mengalami mual muntah berlebihan. Ia bisa sarapan apa saja saat pagi, asalkan setelahnya ia memakan buah segar untuk menghilangkan rasa enek.
Siang ini, ia diantar supir pergi ke salah satu toko kue. Ia ingin membeli beberapa cake yang ia inginkan untuk menemani malamnya dimana rasa lapar datang tiba-tiba.
"Loh, kenapa berhenti, Pak?" tanya Tiara saat tiba-tiba supirnya menepikan mobilnya dipinggir jalan.
"Sepertinya, Ban mobilnya kempes, Buk. Saya cek dulu." Supirnya yang bernama Deni itu turun dari mobil. Ia terlihat berjongkok melihat ban depan mobil.
"Bu, bannya kempes. Saya ganti dulu aja, gimana, Bu?" tanyanya dari pintu depan.
Tiara berfikir sekilas, Toko yang ingin ia datangi masih cukup jauh. "Bapak bisa gantinya? Atau mau telpon orang bengkel aja?"
"Saya bisa, Bu."
Tiara mengangguk. Ia mengatakan akan ke toko kue dengan taxi. Dan meminta supir langsung pulang setelah selesai mengganti Ban karena Tiara akan langsung pulang dengan taxi.
"Tapi, Bu. Saya takut bapak marah. Pesan bapak saya harus mengantar ibu kemanapun."
"Tenang saja pak. Saya langsung pulang kok."
Tiara menghentikan sebuah taxi dan segera masuk kedalam. "Kalau gak bisa gantinya, hubungi bengkel terdekat saja pak."
Taxi melaju ke tempat tujuan Tiara. Hanya lima menit, Tiara sampai ke sebuah toko kue yang lumayan terkenal.
Tiara turun dari taxi setelah membayar. Ia perlahan masuk ke dalam dengan menaiki beberapa anak tangga.
Tiara mendorong pintu kaca itu dan masuk kedalam. Aroma manis cake sungguh memanjakan indera penciumannya.
Ia melihat beberapa cake yang disusun di etalase toko. Ia membeli beberapa cake, dan langsung keluar dari toko setelah membayar.
Ia menunggu taxi di pinggir jalan. Ia melihat seorang balita berlari disepanjang bahu jalan dan ibunya mengejar dibelakangnya.
"El, bahaya Nak. Jangan lari!" Teriak sang ibu yang tak lain adalah Cloudy.
Cloudy dan El baru saja turun dari mobilnya dan ternyata El langsung mengejar seorang penjual balon keliling saat Cloudy belum menggandeng tangan putranya.
"Balon, Bubun. El mau balon!" Jeritnya dengan suara agak cadel khas anak balita.
"Berhenti, El. Ayo Bubun belikan, Nak!" Cloudy berusaha mengejar El, tapi heels yang ia pakai membuatnya sulit berlari.
El terlihat berlari ke arahnya. Tiara akan mengangkap balita lincah itu, karena sangat berbahaya jika ia terus berlari sementara kendaraan lumayan ramai.
"El, awaaaas!!!" teriak Tiara, saat El sudah berada 1 meter di dekatnya, tapi ada sebuah sepedamotor yang melaju cepat.
Cloudy menegang melihat kendaraan yang begitu cepat melewati tubuhnya. Ia ingin segera sampai dan menangkap putranya.
Tiara berlari sebisa mungkin dan ia berhasil menarik tubuh kecil itu dalam pelukannya sebelum sepeda motor yang melaju terlalu kepinggir jalan itu menabraknya.
"Tiaraaa!" Jerit Cloudy saat melihat tubuh Tiara jatuh terduduk dipinggir jalan dengan El yang berada di pelukannya.
Sementara itu disisi lain, Reyfan yang membuntuti mobil Cloudy dari restoran hingga ke tempat ini, bisa melihat dengan jelas bagaimana Tiara berusaha menyelamatkan El.
Reyfan juga ikut menegang saat sebuah sepeda motor nyaris menyerempet El yang terus berlari.
Dan saat ia melihat Tiara terjerembab di tahan di pinggir jalan, ia ingat sesuatu.
"Jika kembali terjadi sesuatu pada istri dan calon anakku, aku akan mengejarmu meski hingga ke sarang buaya!"
__ADS_1
Peringatan yang Nath ucapkan padanya saat di restoran beberapa hari lalu seperti sebuah hantaman keras di kepalanya.
"Astaga! Tiara hamil!" Pekik Reyfan di dalam mobil.
Merasa de javu, ia kembali mengingat saat dirinya yang menjadi penyebab Tiara keguguran dulu.
Reyfan segera melajukan mobilnya mendekati Tiara dan Cloudy.
Tiara seketika merasakan kram diperutnya. Entah karena ia jatuh atau karena terlalu erat memeluk El yang saat ini tanpa sengaja tubuh El menekan perutnya.
"Tiara! Ya Allah, Ti." Cloudy langsung menggendong El dan membantu Tiara berdiri.
Tiara meringis menahan sakit membuat Cloudy berdebar hebat. Ia takut akan hal yang melintas di fikirannya saat melihat perut Tiara tercetak jelas digamis yang ia pakai.
Tiara kenapa? Perutnya! Astaga! Ya Allah! Dia hamil.
"Tiara...! Ayo Ti, kita ke rumah sakit." Cloudy berusaha menarik tangan Tiara.
"Pak, siapapun, tolong!" Teriak Cloudy panik saat Tiara sama sekali tidak bicara. Tiara hanya terus memengang perutnya.
"Au... sakit kaaak!" rintih Tiara terus memegangi perutnya.
Sebuah mobil berhenti di dekat mereka. Seorang pria dengan kemeja flanel dan celana jeans hitam keluar dari mobil.
"Clou, ayo ikut mobilku!" Reyfan membukakan pintu mobil.
Cloudy terkejut karena Reyfan tiba-tiba ada disini. Cloudy tak meresponnya, ia hanya menatap Reyfan yang sibuk membukakan pintu mobil.
"Clou, ayo cepat!" Reyfan panik. Ia berharap apa yang menjadi kebahagiaan Nath dan Tiara tetap sehat dalam rahimnya.
Jika dulu ia menyebabkan janin mereka keguguran maka hari ini ia berusaha membuat janin itu tetap selamat.
Cloudy sudah menunggu di kursi belakang, ia mendudukkan El di pinggir, ia di tengah dan terus menenangkan Tiara.
Reyfan segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat.
"Sssttt!" Desis Tiara sembari meringis. Ia masih merasakan kram di perutnya.
"Sakit banget, Ti?" tanya Cloudy yang merasa khawatir.
"Enggak kak, tapi... ini kaya tegang gitu." Tiara bersandar di kursi mobil. Tiara memejamkan matanya.
"Cepat Rey!" Bentak Cloudy tanpa sadar.
"Aku sedang berusaha, Clou."
"Udah kak, aku gak apa-apa kok. Ini mulai hilang kok sakitnya." Tiara berusaha menenangkan Cloudy yang terlihat lebih panik darinya.
"Syukurlah!" Cloudy menghembuskan nafas lega. "Tapi kamu harus tetap ke dokter, Ti," ucap Cloudy yang merasa bersalah karena semua ini disebabkan oleh putranya.
"Tantenya kenapa bubun? Tante cakit?" tanya El pada Cloudy. Ia memangku putranya saat Tiara mulai tenang.
"Iya sayang. Tantenya sakit, kan tadi tantenya jatuh karena nolongin El."
"El, dengarkan bubun, Sayang!" Cloudy menangkup pipi putranya. "Jangan diulang lagi, ya! Bahaya sayang lari-lari di jalan raya."
"Tapi El mau balon yang telbang, Bun." Balita itu cemberut dan menekuk wajahnya.
"Iya, Bunda tau. Bunda akan belikan, tapi jangan lari-lari seperti tadi, ya..."
__ADS_1
"El mau banyak, Bun. El mau cepuluh." El menunjukkan sepuluh jemari tangannya
"Iya sayang, iya."
Reyfan melihat interaksi ibu dan anak itu. Ia menyembunyikan senyumnya. Hatinya menghangat melihat bagaimana Cloudy begitu menyayangi balita dalam pangkuannya itu.
Kami sangat mirip Clou! Berhentilah menghindar dan akui aku sebagai ayahnya. Batin Reyfan saat melihat dengan jelas wajah El dari spion tengah. Ia merasa wajah El sangat mirip dengannya ketika balita dulu.
Mereka tiba di rumah sakit dan Tiara langsung di tangani dokter karena kram di perutnya kembali terasa.
Cloudy langsung mengurus administrasi sambil menggendong El. Reyfan berdiri disamping Cloudy dan mengulurkan tanganya pada El.
"Biar ku gendong, Clou," ucap Reyfan tulus. Cloudy melihat Reyfan dan El bergantian. Terasa sulit, tapi akhirnya ia memberikan El kepada Reyfan.
Anehnya, El sama sekali tidak menolak saat Reyfan mengendongnya. Mungkin El tidak mengingat bahwa Reyfan adalah orang yang berdebat dengan Cloudy beberapa hari yang lalu di luar mobil.
"Sama om sebentar ya... Mama harus urus tantenya dulu."
"Jangan jauh-jauh, apa lagi sampai menculiknya," bisiknya pelan. Sebuah pesan yang terdengar seperti ancaman di telinga Reyfan.
Reyfan terkekeh mendengar perkataan Cloudy. Ia berjalan membawa El menunggu di kursi.
"Nama kamu siapa, jagoan?" tanya Reyfan yang memberanikan diri mengajak El bicara.
El menatap Reyfan lekat-lekat. Balita itu masih berusaha mencerna, apakah Reyfan sebuah ancaman atau bukan.
Cloudy selalu mengajari El untuk tidak dekat dan percaya orang asing. Ia hanya boleh bicara pada orang yang ia kenal dengan baik.
Dan disini El memahami satu hal, Reyfan bukan ancaman karena Bundanya sendiri yang memperbolehkannya ikut dengan Reyfan.
"Nama kamu siapa, jagoan?" tanyanya lagi.
"El Nath."
Reyfan tersentak kaget karena selama ini ia hanya tahu nama El yang sering Cloudy sebut.
Kenapa El Nath? Apa hubungan anak ini dengan suami Tiara?
"El Nath Leifansyah."
Reyfan makin tersentak saat ia menyadari El menyebut nama Leifansyah dibelakang nama El Nath.
Leifansyah apakah maksudnya Reifansyah? Kenapa seperti ada namaku dalam nama itu?
"Nama om, ciapa?"
Reyfan tersadar dari lamunannya saat balita itu menanyakan namanya.
"Nama om, Reyfan!" Ia tersenyum senang pada bocah yang tengah dipangkunya itu.
"Oke. Cekalang kita belteman." El mengulurkan tangannya. Reyfan langsung menjabat tangan kecil itu.
Reyfan mengacak rambut El. "Kamu pinter banget sih?" ucapnya gemas sambil menggelitik perutnya.
Keduanya berhenti saat Reyfan melihat El sudah capek tertawa. Ia melihat tanganya yang ia gunakan untuk mengacak rambut El.
Rambut? Batinnya saat melihat beberapa rambut El tertinggal di tangannya.
Ya Allah, inikah petunjuk dari-Mu?
__ADS_1