
"Nai..." Nair memanggil gadis yang sejak malam tadi menjadi istrinya. Menjelang subuh, Nair tidak menemukan istrinya yang masih tersegel rapi itu diatas ranjang.
Tawaran Naira sebelum tidur malam tadi, Nair tolak karena ia tidak akan tega membuat gadis itu kelelahan sementara ia masih harus bertugas di rumah sakit esok harinya.
Gemercik air di kamar mandi membuat Nair langsung turun dari ranjang dan memeriksa kamar mandi.
"Dikunci," gumamnya.
"Tok... tok... tok..."
"Kamu di dalam Nai?"
"Iya Nair," sahut suara lembut itu dari dalam.
Huuh! Nair menghembuskan nafas lega. Jelas Naira di dalam. Memangnya siapa yang akan masuk ke dalam kamar mandi dan menguncinya selain Naira?
Naira keluar dengan aroma sabun yang menyeruak. Gadis itu sudah memakai gamis berbahan katun serta hijab instan.
"Mandi?" tanya Nair saat Naira melewati tubuhnya yang duduk di pinggir ranjang.
Naira mengangguk pelan. "Iya."
Nair menatap Naira dengan alis yang bertautan. "Emangnya habis ngapain?"
Naira diam sambil berfikir. Ngapain? Aku kan tidur di sampingnya semalaman?
"Dah ah, lama. Keburu masuk waktu subuh," ucap Nair mengecup singkat kening istrinya. "Selamat pagi istri."
Nair segera melesat masuk ke kamar mandi. "Ya Allah, Nair!" Naira tanpa sadar berteriak. Ia terkejut dengan serangan Nair yang mendadak itu.
Sejak kapan Nair bertingkah agresif?
"Sssttt! Jangan keras-keras! Entar mama sama papa mikir yang iya-iya!" Nair kembali membuka pintu kamar mandi dan mengintip dari dalam.
Naira menghela nafas panjang. Mulai detik ini ia harus terbiasa dengan sikap Nair yang tidak mudah ditebak.
Naira bersiap keluar dari kamar dengan pakaian rapi. Setelah selesai membantu mama mertuanya di dapur setelah subuh, Naira kembali ke kamar untuk bersiap ke rumah sakit.
"Hp kamu berdering, Nai." Nair yang sedang mempersiapkan berkas di meja kerjanya membuat Naira berbalik. Ia lupa membawa ponsel yang masih tergeletak di atas nakas.
"Siapa nih? Nomor baru!" Gumam Naira keheranan saat melihat nomor baru muncul di layarnya.
Nair sampai melihat kearah Naira yang mengatakan panggilan itu berasal dari nomor baru.
"Hallo..."
"Hallo selamat pagi?"
"Ya selamat pagi."
Nair menaikan alisnya seolah bertanya siapa?
Naira menggeleng pelan.
"Dengan keluarga bapak Rahardian?"
"Ya, saya putrinya, Mbak? Ini siapa ya?" tanya Naira penasaran karena wanita yang menghubunginya menyebut nama Abi yang baru setengah jam lalu berpamitan padanya untuk pulang ke Semarang melalui panggilan suara.
"Saya dari Rumah Sakit Danadyaksa, Bapak Rahardian dan istrinya sedang di rawat di rumah sakit akibat kecelakaan."
__ADS_1
"Astagfirullahal 'adzim..." Naira beristighfar. Ia meletakkan tasnya di atas ranjang dan terduduk lemas di lantai.
Dalam fikirannya sudah berisi hal-hal buruk. Karena jika sampai perawat atau pihak lain yang menghubunginya, kemungkinan mereka dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Nair segera mendekat dan berjongkok di samping istrinya. Nair mencoba untuk tenang saat Naira bahkan sudah meneteskan air matanya.
"Ya Allah, Saya akan segera ke sana, Sus."
"Baik Mbak, kami tunggu ke hadirannya karena pasien membutuhkan penanganan lebih lanjut."
"Lakukan yang terbaik untuk mereka, Sus."
"Nai... Ada apa, Nai?" tanya Nair pelan.
Naira menangis senggugukan. "Abi..."
"Abi kenapa, Nai?"
Naira menatap wajah Nair. "Mobil Abi ke...celakaan..."
"Astaghfirullah!" Nair menarik istrinya dalam pelukan. Mencoba menenangkan wanita yang malam tadi baru saja Abi serahkan sebagai istrinya.
"Aku harus kesana, Nair." Naira menghapus air matanya dan berusaha keluar dari pelukan Nair.
"Nai... tenang!" Nair semakin memeluk erat istrinya. "Istighfar, Nai. Kamu jangan panik!"
Naira tertegun. Ia berulang kali beristighfar seperti saran Nair. Setelah nafasnya mulai tenang. Nair melepaskan pelukannya.
"Kita ke rumah sakit sekarang."
Naira mengangguk berkali-kali. "Ayo Nair. Abi di rawat di rumah sakit Danadyaksa."
Mata Naira yang terlihat memerah memicu banyak pertanyaan muncul di hati Lintang dan Akhtar.
Kenapa Naira menangis, padahal saat di dapur tadi, dia baik-baik aja. Batin Lintang.
Nair! Bagus! Hari pertama jadi suami, kamu sudah buat istri kamu menangis! Batin Akhtar.
"Nai..." Sapa Lintang.
"Ma, Pa. Kami pergi dulu!" Nair menyalami kedua orang tuanya. Dan Naira juga melakukan hal yang sama.
"Gak sarapan dulu?"
Fix! Mereka beratem? Batin Akhtar.
"Mobil Abi kecelakaan, Ma." Akhtar dan Lintang terkejut.
"Kecelakaan dimana?"
"Belum tau pasti, Pa. Tadi pihak rumah sakit yang hubungi, Nai," jawab Naira dengan suara seraknya.
"Ya, udah. Kalian duluan! Nanti mama sama papa nyusul!" perintah Lintang. "Nanti kabari ya Nair."
"Pa, tolong hubungi Rion! Karena Abi dirawat di rumah sakit Danadyaksa, Pa."
"Perintahkan untuk melakukan perawatan terbaik!"
"Kalian pergilah! Papa yang urus!"
__ADS_1
"Makasih Pa!"
Nair dan Naira melesat meninggalkan rumah megah itu. Nair tetap berusaha tenang sementara Naira terus menggigit bibir bawahnya menahan tangis yang tak ada hentinya.
Abi, Umi, Mang Asep, bertahanlah. Nai mohon!
Apa pernikahan dadakan malam tadi merupakan isyarat dari Abi bahwa Abi merasa akan terjadi sesuatu padanya.
Abi, Umi... Nai mohon, bertahanlah! Nai gak mau sendirian, Abi, Umi...
Ya Allah selamatkanlah mereka bertiga. Hamba mohon ya Allah.
Nair juga fokus pada jalan raya yang lumayan padat karena jam jam seperti ini memang menjadi puncak kepadatan arus lalu lintas.
Suara klakson saling bersahutan dari kendaraan roda dua bahkan juga yang roda empat.
Abi... Apa ini alasannya mengapa Abi mengubah keputusan dengan begitu cepat?
Abi, Umi semoga kalian baik-baik saja. Bagaimana aku tega melihat tangis pilu di wajah putri kalian?
Aku tidak sanggup, Abi, Umi melihat wajah itu banjir air mata. Kalian harus bertahan demi Naira. Demi putri kalian. Demi istriku, Abi, Umi.
Sesampainya di rumah sakit, Nair dan Naira segera masuk dan bertanya pada resepsionis.
"Ketiganya sedang di tangani dokter di ruang IGD, Pak, Bu. Silahkan menunggu disana!" tunjuk suster kearah kursi tunggu tak jauh dari ruang IGD.
Naira dan Nair duduk di kursi tunggu. Naira berulang kali meremas ujung hijabnya. Dan sesekali menyeka air matanya.
Nair meraih jemari tangan yang sedari tadi terus bergerak karena kegugupan dan kegelisahan si empunya.
"Nair..."
"Tenang, ya..." Ia menarik Naira dalam pelukannya. "Allah pasti menyelamatkan mereka semua. Kita berdoa untuk keselamatan mereka." Nair mengusap bahu istrinya.
"Pagi tadi Abi baru aja pamit pulang!"
Nair mengangguk. "Aku tahu, Nai. Itu sebabnya mobil Abi masih di Jakarta. Karena mereka baru aja berangkat dari rumah Pakde."
"Nair...!"
"Rion! Gimana, Yon?" tanya Nair pada iparnya itu.
"Tenang, Nair! Dokter sedang menangani pasien."
"Sepertinya kondisi Umi tidak terlalu parah." Kalimat Rion seperti angin segar bagi keduanya. Naira sampai berdiri di depan Rion.
"Ka... kamu lihat Umi baik-baik saja, Mas?" tanya Naira yang mengenali Rion sebagai Abang ipar suaminya.
Rion mengangguk. "Aku baru saja datang ke sini, bertepatan dengan dua ambulance rumah sakit yang membawa mereka masuk ke halaman rumah sakit."
"Dan aku melihat dua orang yang pertama kalinya ku lihat malam tadi menjadi korbannya."
"Umi kamu pingsan. Tapi aku gak melihat ada luka serius. Mungkin beliau hanya syok."
Naira mengangguk pelan. "Terima kasih, Mas."
"Aku tidak melakukan apapun, Nai."
"Oh, ya... ada beberapa korban lain selain orang tua kamu. Kemungkinan kecelakaan beruntun."
__ADS_1
Naira dan Nair saling tatap dan bertepatan dengan keluarnya seorang dokter dari ruang IGD.