
Rumah keluarga Alvarendra.
"Lega?" Akhtar memeluk pinggang Lintang yang sejak subuh tadi merasa gelisah karena Nath tidak pulang ke rumah.
"Alhamdulilah, Mas. Dia baik-baik aja." Lintang mengelus punggung tangan suaminya.
"Kamu harus percaya padanya, Sayang. Dia memang berbeda dengan Nair, tapi dia sama sepertiku." Akhtar terkekeh di ujung kalimatnya.
"Aku tau, Mas. Duda high class dan jomblo high class." Akhtar terkekeh mendengar pujian yang diucap dengan nada sindiran.
****
Hotel Xx, Yogyakarta.
Tiara membuka pintu kamar hotel yang ia tinggali bersama Nath. Tiara tau apa yang ia lakukan ini salah. Tinggal sekamar dengan seorang pria yang bukan mukhrimnya. Malam ini ia sudah bertekad akan memesan 1 kamar lagi untuknya.
Tiara masuk ke dalam, terlihat Nath sedang tidur diatas ranjang. Tiara tak peduli, ia malah langsung masuk ke kamar mandi. Tiara ingin segera mandi dan berganti pakaian.
Pesta mewah yang sama sekali tak membuatnya nyaman. Ia hampir tak bisa bernafas sepanjang acara karena terus menutup hidungnya sebab aroma parfum tamu undangan yang beraneka ragam harumnya. Dan itu sukses mengaduk-aduk isi perutnya.
Selesai mandi, Tiara menghembuskan nafas kasar. "Huuh! Pake acara lupa bawa baju lagi." Ia menggaruk keningnya.
Tiara berdiri di depan cermin hanya dengan mengenakan jubah mandi. "Dia tidur kan tadi?" gumamnya lagi.
Tiara perlahan membuka pintu kamar mandi dan mengintip kearah ranjang. Nath masih tidur tanpa mengubah posisi. Tiara berjalan mencari pakaian ganti di tasnya yang terletak di lantai.
Setelah mendapatkan yang ia cari, Tiara berdiri dan berjalan kearah kamar mandi.
"Udah balik, Ra?" suara serak khas orang bangun tidur membuat Tiara menoleh pada sang empunya.
"Ehm..." Tiara langsung membuang muka saat pandangan mata mereka bertemu.
Tiara masuk ke kamar mandi sambil berlari. Membuat Nath melompat dari atas ranjang dan mengejar Tiara.
Sayangnya, pintu kamar mandi sudah tertutup rapat. "Lain kali hati-hati, Ra," teriak Nath di depan pintu yang tertutup itu.
"Jangan membahayakan anakku dan juga dirimu."
Deg!
Tiara tertegun mendengarnya. "Kamu memikirkan keselamatan kami, Bang?" bisik Tiara pelan.
"Kamu memikirkanku juga?" Entahlah, tapi ada jutaan kembang api meledak di hati Tiara.
"Kenapa rasanya sama seperti saat Reyga menunjukan perhatiannya padaku."
Tiara menggeleng pelan, berusaha membuang pikiran itu jauh-jauh. "Reyga sudah tenang disana. Gak boleh memikirkannya lagi."
Tok... Tok...
"Kamu dengar aku kan, Ra?"
Tok... Tok...
__ADS_1
"Tiara..." Suara Nath terdengar begitu keras dari tempat Tiara berdiri.
"Iya... iya... aku gak apa-apa."
Tiara segera keluar dari kamar mandi setelah selesai memakai pakaiannya. Rambutnya ia cepol tinggi dan ia segera memakai bedak bayi dan minyak kayu putih. Ini sering ia lakukan sehabis mandi terlebih saat ia kurang enak badan.
Tiara duduk di sofa dan Nath duduk di pinggir ranjang. Ia sesekali menatap Tiara. Bukan tak ingin terus menatap, tapi leher putih itu membuatnya takut mengulang kesalahan yang sama.
Tiara bersandar di sofa dan memejamkan matanya. Sesekali tangannya mengusapkan minyak kayu putih di perutnya. Saat ini Tiara memakai kulot 7/8 dan kaos berlengan pendek.
"Tidur di ranjang, Ra."
Tiara terkejut karena suara Nath begitu dekat. Ia membuka mata dan mendapati Nath sudah ada di sampingnya.
"Kenapa? Pusing, ya?" tanya Nath kemudian.
"Enggak."
"Atau mual? Perut kamu sakit?" tanyanya lagi dengan raut wajah khawatir.
Tiara menggeleng pelan. "Aku gak apa-apa kok." Tiara menaikkan kakinya di sofa dan menekuk lututnya.
Nath menahan lutut Tiara agak tak sampai menempel di dada gadis itu. Saat ini Tiara seperti sedang meringkuk tapi dalam posisi duduk.
Tiara menatap Nath saat tangan Nath ada di lututnya. Nath tersadar dan langsung melepaskannya.
"Maaf... Aku... aku gak bermaksud, Ra." Nath langsung gugup. "Aku khawatir dia terjepit."
Bagaimana mungkin ada janin yang terjepit jika hanya dengan meringkuk begini?
"Gak akan terjadi apa-apa. Tenanglah." Tiara memejamkan matanya.
Nath duduk di sebelah Tiara dengan jarak yang tak terlalu dekat. Pria itu juga bersandar di sofa dan memejamkan matanya.
"Kita harus menikah, Ra."
"Ehm..." Keduanya sama sekali tak mengubah posisi mereka. Bahkan mata mereka masih terpejam.
Keduanya sama-sama sadar bahwa hal itulah yang harus mereka lakukan. Tidak ada cara lain untuk menutup aib ini dan anak ini juga butuh status.
"Gak pernah terlintas sedikitpun." Nath terkekeh pelan.
"Sama." Tiara ikut terkekeh. "Bahkan dalam anganku pun masih jauh."
Bohong. Aku dulu pernah membayangkan pernikahan, bersama Reyga. Sambung Tiara dalam hatinya.
"Aku butuh waktu untuk bicara pada mama dan papa," ucap Nath lagi.
"Aku juga belum siap bicara sama ayah, ibu."
Hening... Keduanya terdiam untuk beberapa menit. Hanya hembusan nafas mereka yang saling berkejaran.
Nath dan Tiara terhanyut dalam pikiran mereka masing-masing.
__ADS_1
Ma, Tiara hamil anak Nath. Ma, Tiara hamil. Ma, Nath menghamili Tiara. Issh! Bagaimana aku mengatakan pada mama? Batin Nath mencoba menyusun kata-kata yang pas untuk mengakui kesalahannya.
Bu, Tiara hamil. Enggak! Gak boleh begitu. Bu, Tiara harus menikah dengan bang Nath. Jangan! Terlalu menimbulkan banyak pertanyaan. Batin Tiara saat menyusun kata-kata untuk mengakui kehamilannya.
"Aaarrrhhhh!" Teriak keduanya bersamaan.
Nath duduk tegak, dan Tiara juga. Mereka saling tatap. Dan perlahan keduanya menggeleng pelan.
"Gak tau harus gimana bilangnya, Bang." Tiara mencebikkan bibir.
"Aku belum siap melihat mama kecewa," balas Nath.
"Aku takut kamu diusir dari rumah, Bang." Tiara tampak ragu mengatakan ini, tapi itulah yang ia khawatirkan.
"Lebih baik aku diusir, Ra. Dari pada aku di rumah tapi mama mendiamkanku," sahut Nath.
"Jadi, kita menunggu sampai kapan?" tanya Tiara sembari menatap Nath.
"Secepatnya, Ra. Aku janji."
"Gak usah janji-janji. Entar palsu, " cibir Tiara.
"Aku gak pernah buat janji palsu sama cewek, Ra," elak Nath. "Jomblo dari lahir," lanjutnya.
"Hahaha. Ngaku nih, kalau gak laku," ejek Tiara.
"Bukan gak laku, Ra. Cuma terlalu berharga aja untuk diperebutkan layaknya barang obral."
"Hooeeekk!" Tiara mual dan langsung masuk ke kamar mandi. Tak ada yang keluar dari perutnya, karena mungkin memang sudah habis.
Nath segera menyusul Tiara ke kamar mandi. Ia membantu memijat tengkuk Tiara.
"Udah." Ucap Tiara saat ia sudah membasuh mulutnya dengan air. Nath sigap memberikan tissu padanya.
"Makasih," gumam Tiara pelan.
Nath membantu Tiara berjalan menuju ranjang. Tiara berbaring setengah duduk dengan bantal yang lumayan tinggi.
"Kita ke dokter?" Tanya Nath khawatir.
Melihat apa yang Tiara alami, ini seperti yang ia lihat pada kedua kakaknya beberapa bulan lalu. Kak Bi dan kak Zoya akan muntah jika makan sesuatu di pagi hari. Kadang keduanya sering pilih-pilih makanan.
Tiara menggeleng. "Nanti aja, kalau udah pada tau."
"Mau makan sesuatu?"
"Enggak," sahutnya cepat.
"Ya, udah. Istirahat aja." Nath meninggalkan Tiara dan berjalan menuju sofa.
"Bang!" Panggilnya saat Nath baru berjalan dua langkah.
Nath berbalik. "Mau es dawet," ucap Tiara cepat.
__ADS_1