
Sementara itu di dalam taxi Tiara terus menatap layar ponselnya dimana panggilan Nath terus saja masuk. Tiara sedang tidak ingin bicara. Dan pasti Nair sudah memberi tahu Nath bahwa ia sudah pulang.
Sepanjang perjalanan, air matanya terus saja menetes. Entah apa yang ia tangisi. Apakah yang dilihatnya tadi atau gambaran hancurnya rumah tangga yang belum genap sebulan ini.
Tiara terus menyeka air matanya, pikirannya saat ini sedang kacau sama seperti saat ia mendapat pesan singkat dari Reyfan hampir tiga bulan yang lalu.
Sebagai pelajaran, kali ini Tiara tidak boleh lengah. Tiara tidak boleh lepas kendali. Ia harus hati-hati supaya tidak melakukan hal buruk lagi seperti saat itu dimana ia berakhir di ranjang bersama Nath.
Tiara tiba di sebuah rumah besar yang pernah ia sambangi. Tiara turun dari taxi dan menemui satpam rumah itu.
"Cari siapa dek?"
"Mau ketemu kak Bintang, Pak."
"Kamu siapanya?" tanya satpam yang usianya sekitar 40an tahun itu.
"Saya Tiara, adik iparnya, Pak."
"Oh... sebentar ya."
Satpa berkumis tipis itu mengangkat gagang telpon untuk menghubungi orang yang berada di dalam rumah. Mengkonfirmasi apakah benar Tiara adik iparnya Bintang, menantu di rumah ini.
Tiara dipersilahkan masuk. "Maaf lama menunggu ya, Dek."
"Soalnya ini bagian dari tugas."
"Gak apa-apa, Pak. Makasih ya."
Tiara disambut seorang asisten rumah tangga yang membawanya langsung ke lantai dua dimana kamar Bintang terletak.
"Kata Non Bintang suruh langsung ke kamar aja, Dek. Soalnya bayinya masih nyusu."
Tiara tiba di depan kamar Bintang. "Makasih ya, Bik," ucap Tiara pada asisten rumah tangga berusia 40an tahun itu. Ia juga menolak saat ditanyai mau minum apa.
Tiara masuk dan melihat Bintang sedang duduk di sofa memangku baby Queen yang tengah menyusu.
"Assalamualaikum baby Queen dan bundanya," ucap Tiara ceria dengan volume pelan. Ia takut bayi mungil itu terkejut karena suaranya.
Bintang menatap Tiara dan tersenyum. "Waalaikumsalam, tante Tia."
Tiara ingin segera duduk, tapi ia sadar kalau ia dari luar ruangan, ia takut membawa kuman dan bakteri. "Kak, numpang kamar mandi sebentar ya. Cuci tangan dulu."
Bintang mengangguk. Ia sudah selesai menyusui bayi yang baru genap seminggu itu.
"Sendirian, Ti?" todong Bintang dengan pertanyaan yang sedari tadi ingin ia ucapkan. Bintang merasa heran karena Tiara datang sendirian.
"Iya, Kak. Lagi pengen main," jawabnya sambil menarik kursi dari meja Rias. Ia melihat bagaimana Bintang dengan hati-hati meletakkan bayi cantik itu di dalam boxnya.
"Gimana kuliah kamu, Ti?" tanya Bintang yang saat ini duduk di pinggir ranjang menghadap Tiara.
"Alhamdulillah lancar, kak."
"Syukurlah. Kalau ada apa-apa minta bantuan Rion aja. Siapa tau dia bisa bantu."
Tiara mengangguk. Ia duduk menunduk dan menghela nafas berkali-kali. Ternyata melihat baby Queen juga belum bisa menghilangkan kegelisahan di hatinya.
"Kamu ada masalah, Ti?" tanya Bintang to the point.
Tiara langsung menatap Bintang. Ia sebenarnya datang ke sini untuk menghibur dirinya sendiri dengan melihat baby Queen. Dan jika mungkin ia ingin meminta nasehat dari kakak iparnya ini.
Awalnya Tiara ingin ke rumah Zoya. Disana juga ada baby Zi. Tapi akhirnya ia urungkan karena jika Ezra tau tentang masalah yang belum jelas ini, ia takut Nath kembali dihajar habis-habisan oleh abang angkatnya itu.
Tiara juga teringat kata-kata Rion tadi bahwa Bintang the best dalam menghadapi pelakor. Akhirnya ia memutuskan kesini.
"Kenapa?" tanya Bintang. Tiara menunduk dan menggeleng. Ia takut untuk memulai ceritanya.
"Mana mungkin gak ada apa-apa sementara mata kamu sembab, Ti."
"Wajah kamu seperti orang gelisah dan bingung."
Tiara kembali mengangkat wajahnya dan menatap Bintang yang tersenyum kecil. Apa ekspresiku terlalu kentara hingga kak Bintang dengan mudah menebak?
__ADS_1
"Cerita aja, Ti. Berantem sama Nath?"
Tiara menggeleng. "Itu ... kak." Tiara kembali diam.
"Jangan ragu, Ti. Aku tahu Nath adikku tapi aku tidak akan memihaknya kalau dia salah."
Tiara diam sejenak lalu menghela nafas berat.
"Tiga hari lalu, Tia lihat noda lipstick di dekat kerah kemeja bang Nath, kak."
"Bang Nath bilang itu milik Bela, temannya yang gak sengaja menabraknya karena tali sepatu yang terlepas."
"Tia marah kak. Tia minta bang Nath membuktikan semua alasannya."
"Jadi, pagi ini bang Nath janji mau mempertemukan Tia sama Bela."
"Karena aku pulang lebih cepat 1 jam, bang Rion memberi tumpangan sampai ke kampus bang Nath."
"Rion?" tanya Bintang.
"Iya kak. Kata bang Rion, Tia bisa mengirim pesan ke bang Nath dan memberi tahu kalau Tia nunggu di depan kampusnya."
"Akhirnya Tia setuju, dan di sana Tia ketemu bang Nair. Terus diajakin makan bakso di seberang jalan sambil nunggu bang Nath."
"Dan pas keluar dari kampus, bang Nath boncengin cewek kak. Pakai rok span sama kemeja yang pas banget di tubuhnya."
"Tia jadi mikir yang enggak-enggak. Sampai bang Nair saranin untuk mendengar penjelasan bang Nath, tapi Tiara belum siap kak. Mood Tia hancur."
"Tia pergi dari sana naik taxi. Dan akhirnya kesini, kak."
Bintang diam dan tersenyum kecil. "Kamu tahu, kenapa kamu gak mau temui dia saat itu juga?"
"Karena kamu takut menghadapi kenyataan jika apa yang ada dalam fikiran kamu dan apa yang kamu takutkan adalah kenyataannya."
"Kamu belum siap rumah tangga kalian berantakan. Kamu belum siap ada gadis lain dalam hidup Nath."
Tiara diam menatap wajah cantik berhijab instan itu. Lalu mengangguk ragu.
"Semua itu hanya karena kamu gak percaya sama suami kamu sendiri, Ti."
"Seandainya kamu percaya sama dia. Meski puluhan perempuan yang mendekati, kamu gak akan gentar. Kamu gak akan ragu."
"Tapi kakak sadar. Kisah kalian berbeda dengan kisahku dan Rion."
"Aku dan Rion paham betul kalau kami sa-ling menyayangi." Bintang menekankan kata saling.
"Jadi, mau seberapa banyak orang ketiga yang hendak masuk. Jemari kami tidak pernah terlepas."
"Kamu kecewa, Ti?"
Tiara mengangguk. "Kami selalu membahas untuk bisa saling menerima. Kami selalu sepakat untuk belajar mencintai."
"Tapi sepertinya bang Nath belum bisa kak." Tiara menyeka sudut matanya. "Tia cuma takut kalau ternyata Tia berjuang sendiri."
"Kamu takut menghadapi kenyataan dan membiarkan Nath didekati perempuan lain?"
Lagi-lagi kalimat yang Bintang ucapkan menyentil sudut hatinya.
Bintang tertawa. "Kamu istrinya Tia. Kamu berhak atas dirinya. Tunjukkan pada mereka, mereka dan mereka bahwa dia milikmu."
"Tapi bang Nath ..."
"Aku kenal dia, Ti. Dia bersedia mempertemukan kamu dan Bela, kan?" Tiara mengangguk.
"Itu artinya tidak ada hubungan apapun antara keduanya."
"Kak ... ternyata bang Nath terkenal di kampusnya. Banyak orang yang membicarakan bang Nath sama bang Nair."
Bintang tertawa. "Kamu tau, Ti? Nair dan Nath itu selalu menjadi bahan pembicaraan orang-orang."
"Dari jaman TK sampai sekarang, mereka bisa mencurin perhatian siapapun."
__ADS_1
"Coba kamu fikir ya Ti. Kalau ada satu cowok ganteng di satu kelas atau satu kelompok, pasti akan menjadi santapan mata-mata gadis, kan?" Bintang mengacungkan jari telunjuknya untuk mempertegas kata satu.
"Jangankan gadis, mungkin semua orang juga akan menatapnya."
Lalu Bintang mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah. "Apa lagi ini ada dua cowok ganteng, muka sama, style pun hampir sama, ditambah bentuk dan tinggi badan yang sama pula."
"Salah satu lewat aja, udah jadi bahan perbincangan, Ti. Mereka akan menebak itu Nair atau Nath." Bintang tertawa pelan.
"Jangan gentar, Ti. Ini cuma ombak dalam rumah tangga, belum badai."
"Ini cuma kerikil kecil yang melukai kakimu. Bukan jalan terjal yang membuat kalian harus saling berpegangan."
"Percayalah, dia adikku. Sekali dia melukaimu, maka dia akan menghadapi tameng-tameng di depanmu."
"Aku ada dibaris terdepan bersama mama papa. Setelahnya ada Zoya dan Ezra."
Tiara tersenyum kecil. "Terima kasih kak. Sekarang aku tau harus apa. Dan perasaanku sedikit lega."
"Datang kapanpun kamu ingin, Ti. Aku kakakmu juga."
"Jangan ceritakan masalah rumah tangga pada sembarang orang yang kadang seperti mendukung padahal dia punya tujuan memperkeruh."
"Iya kak. Sekali lagi terima kasih."
Ponsel Bintang bergetar. Ia meraihnya dan melihat nama Nath di layar. "Nath." Bintang menempelkan telunjuknya di bibir menandakan Tiara untuk diam.
"Hallo, Nath. Assalamualaikum." Bintang meloudspeaker panggilannya.
"Kak, Tiara ada disana?" Keduanya bisa mendengar suara Nath yang tengah panik.
"Kenapa, Nath ada apa?"
"Tiara belum pulang kak. Aku khawatir."
Tiara dan Bintang saling tatap. "Mungkin ke rumah orang tuanya, Nath."
"Gak ada kak. Aku udah tanya sama ayahnya. Aku udah ke rumah baca. Aku udah ke rumah kak Zoya. Aku bahkan sekarang ada di pemakaman tempat mantannya itu dimakamkan kak."
Tiara dan Bintang saling tatap dengan mata membulat.
"Kamu buat salah?"
"Cuma salah faham kak. Udah deh kalau gak ada. Aku mau cari lagi."
"Nath tunggu."
"Tadi Tiara kesini."
"Yang bener kak?"
"Iya."
"Alhamdulillah."
"Dia baru pulang. Kamu pulang aja dan tunggu dia di rumah ya. Selesaikan masalah kalian baik-baik. Jangan macem-macem. Entar kakak sunat kamu, Nath!"
"Iya... iya... terima kasih kakak tersayang."
Tut... tut... tut...
"Sekarang, pulang ya Ti. Biar kakak suruh supir antar kamu."
"Tia bisa-"
"Jangan nolak, Ti," potong Bintang.
Tiara mengangguk. "Terima kasih kak."
***
Tiara butuh teman curhat guys 😂
__ADS_1
Tiara harus tau, cara Bi menghadapi pelakor itu elegan banget 😃
Langsung di gas ditempat dengan kalimat indah tanpa cakar-cakaran 😂