EL NATH ( Penyesalan Terindah)

EL NATH ( Penyesalan Terindah)
BonChap-Nair (14)


__ADS_3

Lebih dari seminggu, Nair benar-benar membuktikan ucapannya. Ia tidak menemui Naira meski saat libur sekalipun. Nair bahkan tidak pernah lagi hadir di masjid dekat rumah Naira.


"Ngelamun, Nai?"


Naira yang tengah duduk di ruang Tv mendadak terkejut karena kemunculan Pakde Rahman tepat di belakangnya.


"Eh... Enggak, Pakde."


Rahman tertawa. "Enggak ngelamun, tapi kok kaget gitu?"


"Mikirin apa?" tanya Rahman yang ikut duduk di sofa.


Naira menggeleng pelan.


"Nair?"


Naira langsung menatap pakdenya itu. Rahman langsung tersenyum kecil.


"Pakde tau ada perasaan istimewa darimu untuk pria itu."


"Menurut pakde, dia layak direbutkan para gadis, Nai."


"Fisiknya bagus."


"Ilmu agamanya, insyaAllah juga bagus."


"Dia bisa azan, mengaji bahkan menjadi imam."


"Kalau dia mau, mungkin pakde akan menjodohkannya dengan Salwa."


Naira menatap pakdenya tak terima. Karena mengatakan akan menjodohkan Nair dengan sepupunya itu.


"Hehehehe.... Pakde bercanda, Nai."


"Boleh pakde tanya sesuatu?"


Bude datang membawa secangkir teh untuk suaminya. Ia ikut duduk di samping pakde Rahman.


Naira mengangguk. "Tanya apa, Pakde?"


"Ehm... Nair tidak pernah menemuimu di rumah, apa kalian selalu bertemu di luar rumah?"


Naira berdebar mendengar pertanyaan itu. Aku harus menjawab apa?


Naira perlahan mengangguk pelan.


"Kenapa?" tanya Pakde.


"Ha? Kenapa apanya Pakde?"


Rahman tertawa pelan. "Kenapa harus di luar, dan tidak di rumah, Nai?"


Naira menjawab jujur, ia tidak harus berbohong untuk hal yang menurutnya benar.


"Kami hanya pernah bertemu di beberapa tempat Pakde, tempat ramai yang bukan hanya ada kami berdua."


"Pertama, di kampus."


"Kedua, di pesta kakaknya lima tahun lalu."


"Ketiga, di masjid. Seperti biasanya yang pakde lihat."


"Keempat, beberapa kali di rumah sakit. Nair biasanya mengantarkan makan siang untuk Nai."

__ADS_1


"Oh, ya?" tanya Bude sedikit heran.


Naira mengangguk. "Kakaknya, punya restoran, kedua abang iparnya punya usaha kedai kebab sama cafe."


"Jadi, Nair selalu memesankan makanan untuk Nai dari sana."


"Dan keempat, kami pernah bertemu di taman. Baru-baru ini dan tidak ada hal yang melewati batas."


"Berarti bude salah menjawab pada Umimu tentang kamu yang tidak menyukai pria manapun, Nai."


Naira tersenyum kecil. "Tidak masalah, Bude."


"Tapi kan Abimu jadi menjodohkan kamu dengan pria lain, Nai."


"Sedangkan kamu punya perasaan istimewa pada pria yang lain pula."


Naira tersenyum miris. "Bude sama Pakde belum dapat kabar dari Abi sama Umi?"


Rahman dan istrinya menggeleng. "Kabar tentang apa?"


Naira menatap Budenya dengan mata berkaca. "Nair kembali datang ke Abi untuk meminta restu. Tapi Abi belum berikan."


"Ya Allah!" Gumam Rahman dan Istrinya bersamaan.


"Seminggu lalu, Nair datang ke rumah. Ia rela pulang kerja langsung berangkat dan kembali lagi ke Jakarta dini hari. Padahal ia harus tetap ke rumah sakit pagi harinya."


"Nai cerita ke dia kalau Abi akan menjodohkan Nai." Mata Naira mulai berkaca. Entah mengapa rasa sakitnya masih sama.


"Dan Nair sepertinya tidak bisa menunggu hingga hari libur tiba."


"Dia takut Abi segera mengatakan perjodohan itu pada Nai."


"Dan Nair pasti takut kalau Nai tidak bisa menolah keinginan Abi."


"Tapi semua yang Nair lakukan sia-sia."


"Dan Abi malah menyuruh Nair dan Nai saling menjauh, Bude."


"Kami tidak boleh bertemu lagi."


Naira sudah menghapus air mata dengan jemari tangannya. Bude juga berpindah tempat duduk untuk memeluknya. Membuat tenang keponakan yang terlihat kacau itu.


"Menurut Pakde, Abimu mengambil langkah tepat jika ia memang belum ingin kamu menikah dalam waktu dekat." Naira dan Bude menatap Pakde penasaran karena pria itu sedang membela Abi.


"Demi menghindari hal hal yang tidak diinginkan terjadi."


"Demi menghindari zina dan fitnah."


"Kalau bagi orang tua, ini jalan yang paling tepat, Nai."


"Tapi kalau Abi belum ingin Nai menikah dalam waktu dekat, kenapa Abi merencanakan perjodohan Nai?" tanya Naira.


"Semua masih rencana, Nai."


"Kamu bahkan belum dipertemukan dengan pria itu kan?"


Naira menggeleng. "Itu berarti semua ini masih rencana dan waktunya belum tiba."


"Mungkin Abi menunggu sampai Internship kamu selesai, Nai."


Naira mulai memikirkan apa yang pakdenya katakan. Memang ada benarnya, tapi kenapa Abi seperti menolak Nair. Ya Allah, aku harus ikhlas menjalani semua ini.


****

__ADS_1


Setelah kejadian malam penolakan itu, Nair selalu sholat dan mengaji di rumah. Lintang dan Akhtar merasa iba pada putra mereka yang seperti kehilangan semangat hidupnya.


Waktu terus berlalu, sebulan, dua bulan, mereka tetap tidak pernah bertemu. Nair sesekali melihat Naira dari kejauhan. Gadis itu terlihat kurus, tampak dari pipinya yang mulai tirus.


Nair dan Naira hanya sesekali bertukar kabar melalui WA. Tidak pernah melakukan video call maupun via suara. Entah karena ia yang terlalu naif atau memang ia merasa harus menepati janjinya pada Abi.


Waktu bergulir semakin cepat, lima bulan berlalu dan Internship masih lima bulan lagi. Ia semakin sulit mengendalikan fikirannya. Antara profesi dan Naira.


Nair duduk di halaman belakang rumahnya. Ia menatap langit malam yang cerah.


Puk!


Akhtar menepuk bahunya. Papanya itu duduk di sampingnya sambil melakukan hal yang sama, yaitu menatap langit.


"Kamu lihat itu? Bintang yang paling terang itu, Nair?" tunjuk Akhtar pada bintang yang paling terlihat terang di arah mereka memandang.


Nair mengangguk. "Yang itu, Pa?"


"Kamu harus seperti itu, Nair. Teruslah bersinar."


"Jangan redupĺĺ hanya karena apa yang kamu inginkan belum tercapai."


"Kamu harus seperti bintang itu, tetap bersinar meski ada atau tidak yang melihatnya."


"Meski ada atau tidak yang mengaguminya."


"Tunjukkan bahwa kamu masih bisa berdiri tegak."


"Bintang itu tidak pernah tahu kalau kita sedang memandanginya dari jauh."


"Sama sepertimu."


"Kamu tidak pernah tau kalau Naira seandainya diam-diam memperhatikanmu."


"Abinya Naira, mungkin juga melakukan hal yang sama."


"Pakdenya Naira, mungkin juga."


"Hanya karena tidak ingin bertemu dia, kamu sampai melupakan aktivitas yang Allah rindukan darimu, Nair."


"Tadarus, pengajian, dan sholat di masjid yang biasa kamu datangi."


"Kamu marah sama Allah karena belum memberikan apa yang kamu mau?"


"Atau kamu memang menuruti keinginan Abinya untuk tidak bertemu Naira?"


Nair diam saja. Dia coba memikirkan setiap kalimat Papanya.


Ada benarnya juga. Kenapa ia berhenti datang ke masjid itu? Kenapa ia mengurangi aktivitasnya di masjid hanya karena Naira? Bukankah ia masih bisa menghindari gadis itu meski berada di masjid yang sama?


"Ini hampir 5 bulan Nair."


"Bukannya bangkit, kamu malah makin terpuruk."


"Gak ada niat baik yang sia-sia, Nair."


"Kembali ke Masjid, Nair."


"Bukan untuk Naira, tapi untuk dirimu sendiri."


Sebenarnya di masjid komplek, Nair juga sering sholat di sana. Tapi tidak pernah ikut pengajian yang memang tergolong jarang dilakukan.


"Untuk urusan antara kamu sama Allah."

__ADS_1


__ADS_2