
Nair yang rutin control ke rumah sakit akhirnya dinyatakan sembuh total setelah pengobatan kurang dari 2 minggu.
Cara berjalannya sudah seperti sedia kala. Naira dan keluarga senantiasa memberi dukungan penuh padanya bahkan saat ia dengan semangat menggebu mulai memilih universitas terbaik untuk melanjutkan program pendidikan spesialis penyakit dalam.
Naira memilih untuk bekerja sambil menjalankan program kehamilan. Nyatanya bulan madu yang mereka nikmati tidak membuahkan hasil sama sekali. Mungkin karena keadaanya yang memang bisa dikatakan kurang sehat.
Keduanya lantas tak berputus asa. Konsultasi ke dokter kandungan hingga vitamin yang terus keduanya konsumsi menjadi bentuk usaha mereka untuk memiliki buah hati.
Beberapa kali Naira mendengar Nair mengeluh. "Dulu Nath dan Tiara, karena kekhilafan, justru malah Allah titipkan janin dalam rahim Tiara."
"Dan saat ini, kita yang tengah berusaha dan berharap hadirnya bayi dalam keluarga, malah harus terus menunggu."
Naira kerap kali tersenyum tipis. Mungkin Nair mulai lelah menunggu. Padahal mereka masih diuji dalam hitungan bulan. Bagaimana dengan pasangan yang diuji sekian tahun? Apakah Nair akan bertahan dengannya jika Allah tak kunjung menitipkan malaikat kecil dalam rahimnya.
"Kamu berhenti kerja, ya Nai... Kamu itu kecapek-an." Pinta Nair kala ia dan Naira baru saja berucap Amiin di akhir doa mereka.
Naira yang mencium punggung tangan suaminya sedikit terkejut karena Nair mengucapkan dua kalimat yang begitu membuat hatinya tertohok.
Naira mengusap punggung tangan suaminya. "Mas, sejak kapan rasa sabar kamu mulai terkikis?" Ia menahan rasa sesak di dadanya.
"Sejak kapan suamiku ini melupakan bahwa rencana Allah yang terbaik?" Suaranya mulai bergetar.
"Mas, kehamilan itu bukan karena seberapa subur aku, sebagai wanita. Dan bukan karena seberapa perkasa kamu, sebagai seorang pria. Tapi kehamilan itu terjadi karena Allah sudah berkehendak, Mas."
Naira, matanya mulai berkaca. "Nai, maafkan aku..." Nair mencium tangannya.
"Mas, jujur, saat ini aku merasa terbebani sebagai istri kamu. Aku memikul beban dan tanggung jawab yang tidak kamu sadari."
"Kalimat kamu tadi seolah menyudutkanku bahwa semua ini terjadi karena aku. Kita belum memiliki anak karena aku. Dan masalah itu disebabkan olehku."
"Ussst!" Nair menariknya dalam pelukan. "Maafkan aku, Nai. Maafkan aku." Nair mengusap kepala Naira yang masih tertutup mukenah itu.
"Aku pun ingin seorang bayi segera hadir dalam keluarga kecil kita."
"Tapi aku bisa apa saat Allah masih berkata belum."
"Kamu sendiri tahu, hasil pemeriksaan menyatakan bahwa kita berdua sehat."
"Jadwalku bekerja di Rumah Sakit Danadyaksa hanya 5 kali seminggu."
"Maaf... Maaf... Maafkan aku Nai." Lirih Nair di telinga istrinya. Ia perlahan mengecu*p pucuk kepala wanita yang ia cintai itu.
"Terima kasih. Terima kasih sudah menyadarkanku."
__ADS_1
Nair teringat bagaimana ia dengan sabar menunggu Naira dulu. Bertahun lamanya ia terus menunggu. Bahkan saat ia sudah siap dengan cincin lamaran, ia masih bisa berhenti dan bertahan. Hanya karena Allah mengatakan belum saatnya.
Lalu mengapa saat ini ia lelah menunggu hanya karena bulan madu beberapa bulan lalu belum membuahkan hasil?
Lalu mengapa ia menyalahkan Naira padahal semua yang terjadi karena kuasa Allah?
Lalu mengapa ia membandingakan kesalahan Nath dan Tiara dengan hubungan mereka yang halal?
Astagfirullahal adzim...
Astagfirullahal adzim...
Astagfirullahal adzim...
Berulang kali ia beristighfar dalam hatinya. Mengapa ia meragukan Allah yang sudah begitu baik padanya.
Menjaganya dan Naira dari zina. Mengabulkan doanya kala ia meminta agar Naira menjadi istrinya. Mengabulkan doanya untuk kelancaran pendidikannya.
Lalu kenapa ia seolah lupa semua nikmat Illahi hanya karena kerinduannya akan tangis bayi.
Ya Allah, maafkan aku atas rasa sabar yang sangat terbatas ini hingga aku menyakiti hati istriku.
Maafkan aku yang meragukan rencana-Mu.
Maafkan aku yang kurang bersyukur ini.
Setahun sudah Nair menempuh pendidikan spesialis. Masih ada 3-5 tahun lagi untuk lulus. Masih lama, tapi Naira masih terus menunggu.
Naira sudah beberapa kali diminta untuk melanjutkan pendidikan. Namun istrinya itu masih belum ingin. Ia tengah menikmati pekerjaannya. Dikelilingi oleh rekan-rekan yang menurutnya sangat baik. Lingkungan kerja yang nyaman. Sangat tidak ia sia-siakan.
Kini Nair sadar, perihal anak bukan lagi hal penting bagi mereka. Terlebih saat ia harus melihat Nath- kembarannya itu kerepotan mengejar Nara yang terus berlari dan hendak melompat ke kolam renang saat berada di rumah mereka.
Sementara ia dan Naira masih bisa berkasih mesra, saling suap, bahkan ia masih bisa tidur dipangkuan istrinya.
Rion? Jangan tanya seberapa aktifnya Prince yang selalu berusaha memanjat tiang gazebo dengan kaki kecilnya.
Bang Zra? Dia masih enggan memberi adik untuk Zidane yang banyak tanya, selalu ingin tahu bahkan anak laki-laki yang sudah sekolah dasar itu selalu ingin melihat langsung apapun yang ia lihat di TV.
Bang Zra dan kak Zoy terpaksa membawanya ke beberapa tempat wisata hanya untuk melihat hewan secara langsung. Kadang kebun binatang, kadang akuarium raksasa.
Caraka? Dia masih belum bisa mendapatkan hati Chiara. Rion masih menjadi tameng terkuat dan Chiara sendiri masih enggan menerima pria yang merupakan sepupunya itu.
Shaka? Dia masih menunggu Syafa. Gadis yang entah kapan akan kembali. Dan jika pun gadis itu kembali, belum tentu keduanya akan bertemu lagi. Belum tentu perasaannya akan terbalas dan belum tentu gadis itu bisa ia miliki.
__ADS_1
Ethan? Masih mempersiapkan pernikahan. Pria yang terlalu santai menjalani hidup. Begitupun Marisa yang tidak memiliki target diusia berapa akan menikah. Jika bukan karena desakan om Josep yang iri pada Akhtar karena sudah memiliki banyak cucu, sudah dipastikan keduanya akan terus berpacaran.
Nair menikmati hidupnya. Ia merasa menjalani semuanya tanpa beban. Semua ia serahkan dan pasrahkan pada Allah. Ia hanya menjalani apa yang Allah takdirkan. Ia hanya melakukan yang terbaik.
Ia mengadukan setiap keluh kesah dalam sujudnya. Ia meminta petunjuk atas keraguannya dalam bait-bait doa.
Nair, pria yang berusaha menjadi sebaik-baiknya manusia, berguna untuk semua orang dan yang terpenting menjadi imam yang baik untuk keluarganya.
Dan sampai tiba suatu pagi di usia pernikahannya yang ke tiga tahun. Ia mendapati Naira- istri cantiknya tengah menangis terseduh dalam doa.
Naira menangis di sepertiga malam, satu jam sebelum masuk waktu subuh. Ia merengkuh tubuh yang terus bergetar hebat. Diam dan terus diam dengan airmata membasahi pipi.
"Sayang... Kenapa?" tanyanya dengan perasaan khawatir. Takut ia kembali menyakiti perasaan istrinya. Takut kalau tanpa sengaja ada perkataan yang menyinggung hati selembut sutra itu.
"Maaasss!" Naira terisak. Menarik diri dari pelukan suaminya dan mengambil sesuatu di atas nakas.
Nair mengerutkan kening. Ia tahu benda apa itu. Testpack. Benda yang ia selalu lihat dengan hasil strip satu.
Nair memeluk Naira kembali. "Jangan begini, sayang! Jangan paksakan diri kamu! Jangan buat ini menjadi bebanmu!"
"Aku ikhlas menunggu, Nai." Nair terisak. Ia tak sanggup melihat istrinya yang begitu rapuh.
"Mas," Naira menunjukkan benda pipih dengan garis dua berwarna pink cerah itu.
"Aku terlambat 2 minggu!"
Nair terduduk lemas. Ia melepaskan pelukannya dan menatap benda pipih itu. Ia mengambilnya dari tangan Naira dan satu, dua, tiga, empat?
Naira punya empat benda dengan hasil yang sama.
"Alhamdulillah! Terima kasih ya Allah..." Ia bersujud dan langsung memeluk istrinya.
*END*
Al Nair, seorang pria dengan besarnya rasa sabar dalam mencinta. Tetap setia dan tak merubah sedikitpun rasa meskipun menunggu dalam waktu yang lama.
Seorang pria yang mengganggap begitu pentingnya restu orang tua. Mengutamakan rasa hormat diatas rasa cintanya.
Nair, Pria yang mendapatkan segala keinginannya sebagai balasan atas rasa sabarnya.
Author mengucapkan banyak terima kasih 🤗🤗🤗🤗🤗🤗 kepada kalian semua yang sudah mendukung Author di novel ini meskipun sempat tidak Up beberapa bulan.
Author akan melanjutkan Selena's First Love, silahkan mampir kesana guys 😚
__ADS_1
Novel Baru akan Author infokan jika sudah rilis, ya... Jadi jangan di UnFav... 😍😍😍
Salam sehat semuanya 😍😍😍