EL NATH ( Penyesalan Terindah)

EL NATH ( Penyesalan Terindah)
Bab 53 Bertemu Bela


__ADS_3

"Tiara ... Ti ... Titi ..." teriak Nath dari pintu depan rumah. Setibanya di rumah Nath langsung berteriak memanggil nama Tiara.


"Sejak kapan kamu pelihara Tarzan, sayang," ucap Akhtar pada Lintang yang sedang menikmati secangkir teh di siang menjelang sore ini. Keduanya memutuskan pulang lebih cepat saat Nair mengabari mereka bahwa Tiara pergi dan menghindari Nath.


Nair ikut khawatir karena Nath terus saja menelpon dan bertanya apakah Tiara sudah pulang atau belum. Padahal Nath sudah mencarinya ke rumah baca, rumah Zoya bahkan makam Reyga.


"Gak tau sayang, nemu di hutan kali," jawab Lintang sambil mencelupkan sekeping biakuit ke teh nya.


"Ma... Pa..." Nath mendekat kearah orang tuanya yang sedang duduk di meja makan.


"Lihat Tiara pulang, gak?"


Keduanya mengangkat bahu acuh membuat Nath kesal. Ia menggaruk kepanya kasar. Nath berbalik hendak meninggalkan mereka.


"Kalau sudah tiada, baru terasa. Bahwa kehadirannya sungguh berharga," nyanyian Akhtar membuat Lintang mengulum senyum. Sementara Nath semakin menekuk wajahnya karena tersindir.


"Sungguh berat aku rasa, kehilangan dia. Sungguh berat aku rasa hidup tanpa dia." Bukannya berhenti, Akhtar malah semakin menambah volumenya membuat Nath terus berlalu menuju kamarnya.


"Hahaha. Jahat banget kamu, Mas. Anak lagi ada masalah malah ketawa."


"Tapi kan udah ada putri kamu, cinta pandangan pertamaku, si Little star kesayangan yang sudah menjelma menjadi ibu peri."


Lintang tersenyum mendengar bagaimana Akhtar sangat bangga pada putri sambungnya itu. "Ya, dia putriku."


"Dia cinta pandangan pertamaku," sahut Akhtar tak mau kalah.


"Dia cerminan diriku," balas Lintang sambil tertawa.


"Dia .... " Akhtar menggantung kalimatnya.Ia bingung harus mengatakan apa untuk membalas istrinya.


"Hahahah dia apa, Mas."


"Dia segalanya."


"Pemersatu aku dan kamu."


"Dia putriku. Titik. Gak boleh nawar. Gak boleh protes. No debat!"


"Hahahah. Gak mau kalah ya papanya."


Keduanya bernafas lega karena ketika Tiara pulang, dan dia langsung mengatakan semuanya sudah baik-baik saja.


"Tiara udah dapet pencerahan dari kak Bi, Ma, Pa."


"Biar Tiara selesaikan sendiri sama abang ya, Ma."


"Kamu gak apa-apa kan, Ti."


"Enggak ma. Semoga abang bisa jelaskan kalau ini cuma salah faham."


****


Nath masuk ke kamar dan tidak menemukan Tiara. Tapi tas yang ia bawa pagi tadi sudah teronggok di meja belajar membuat Nath menghembuskan nafas lega.


Nath mendengara gemercik air di dalam kamar mandi. Ia yakin Tiara ada di dalam.


Nath duduk di meja belajarnya, ia menunggu Tiara keluar dari kamar mandi. Ia akan menjelaskan semuanya tanpa kecuali.


Tiara keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap. Ia duduk di depan cermin rias dan mulai menyisir rambutnya serta mamakai bedak bayi dan minyak kayu putih.


Tiara diam menunggu Nath bicara. Suami yang ia ragukan kesetiaannya itu malah menatapnya terus tanpa berkata apapun.


Tiara berdiri dan hendak keluar, karena sepertinya Nath tidak ingin menjelaskan apapun.


"Maaf." Nath mencekal tangan Tiara dan menggenggamnya erat.


"Maaf." Nath berlutut dan memeluk pinggang Tiara.


"Aku bisa menjelaskan semuanya, Ti."


"Tentang Bela dan tentang gadis yang kamu lihat ada bersamaku."


Tiara menunduk dan melihat Nath yang mendongak tengah menatapnya. "Percaya sama aku, Ti. Sumpah demi hidupku, aku dan Bela tidak terikat perasaan apapun."


Tiara mengelus rambut Nath dan tersenyum. "Pertemukan aku dan dia serta gadis yang kamu bonceng tadi."

__ADS_1


Nath mengangguk. "Dia Bela, Ti. Aku memboncengnya untuk menemuimu ke kampusmu."


"Kami sudah disana dan aku baru membaca pesanmu."


"Lain kali jangan kabur lagi, ya. Aku bingung cari kamu kemana." Nath menempelkan pipinya di perut Tiara, memeluk dengan sangat erat.


"Gak ada gadis lain selain kamu, Ti."


Dan Tiara ingat sesuatu. " Besok, aku selesai 1 jam lebih awal."


"Aku akan ke kampus abang." Nath kembali menatap istrinya.


"Aku mau ketemu Bela dan gadis bernama Cloudy."


Mata Nath terbelalak. Dari mana dia tau tentang Cloudy?


"Kenapa mendelik? Gak siap?"


"Bu... bukan gitu, Ti. Aku ... aku takut kamu."


"Aku gak akan cakar mereka, Bang. Aku gak punya kuku." Tiara menunjukkan kelima kuku jarinya yang pendek karena rutin ia potong.


"Kalau jambak sampai ekstantion rambutnya rontok, mungkin ia." Tiara mengulum senyum saat mata Nath terbelalak.


"Apa lagi kalau dia pakai rok mini, uh. Pengen rasanya ku buka dan ku tel*njangi di depan umum."


"Ti, jangan gitu, Ti."


"Kamu bisa kena pasal."


"Pasal apa?" tanya Tiara tanpa takut.


"Pasal penganiayaan."


"Pembajakan juga bisa kena pasal, Bang," balas Tiara sambil mendengus kesal.


"Pembajakan apa?"


"Pembajakan suami orang!" Nath mendengar jawaban Tiara dan ia langsung tertawa.


"Aku juga punya tanduk," tambah Tiara.


"Iya.. iya..."


Hening....


"Ti..."


"Hem..."


"Kangen, udah tiga hari gak-"


"Puasa sampai aku ketemu Bela sama Cloudy," potong Tiara yang tahu arah pembicaraan Nath.


Tiara melepas paksa pelukan suaminya dan keluar kamar menyisakan Nath yang mematung dalam posisi berlutut.


****


Esok harinya....


Tiara menunggu Nath di dalam area kampus. Satpam mengizinkannya masuk. Tiara duduk di dekat parkir area agak Nath mudah menemukannya.


"Hai..." Tiara menoleh saat seorang gadis duduk di sebelahnya.


"Hai... kak." Tiara mengangguk segan dan tersenyum kecil.


"Lo istrinya El Nath?" tanya gadis yang memakai rok span dan kemeja pas badan itu.


Tiara mengangguk pelan. Heran karena gadis di sebelahnya mengetahui bahwa dia istri Nath.


"Lebih cantik dari yang gue lihat di foto," ucap gadis itu dengan jelas.


"Gue Bela." Gadis itu mengulurkan tangannya untuk Tiara jabat.


Tiara menyambutnya dengan senyum. "Tiara, kak."

__ADS_1


"Mungkin di kampus ini, gue adalah 1 dari segelintir orang mahasiswi yang gak nafs* lihat suami lo."


"Disaat sebagian orang nguber dan menatap penuh rasa ingin memiliki, gue malah gak peduli suami lo gantengnya kayak apa."


"Dan justru gue yang bisa ngobrol dan dekat sama dia."


Tiara masih diam menyimak kalimat gadis itu.


"Nath itu kayak punya sinyal di tubuhnya. Dia bisa tau mana yang deketin dia pake rasa dan mana yang murni hanya untuk berteman."


"Gue salut sih. Yang nguber dia itu buanyak. Yang dipacari gak ada."


Tiara mengangguk dan tersenyum kecil.


"Lo beruntung dinikahi langsung. Awalnya gue mikir dia agak belok." Bela memelankan suaranya saat menyebut kata belok.


"Tapi hebatkan dia di ranjang?" Bela mengedipkan sebelah matanya.


Tiara menunduk dan mengulum senyum.


"Jangan ganjen, Bel. Entar istriku suka sama kamu."


Bela menatap Tiara tajam. "Hayuk kalo lo mau."


"Tinggalin Nath dan lari ke gue."


Tiara membelakakan mata. Apa si Bela ini penyuka sesama?


Nath dan Bela terbahak. "Udah, Bel. Entar dia mikir yang aneh aneh sama kamu."


"Hahaha. Santai Ti. Gue masih mau ngejar Bagas. Hahaha." Gadis itu tertawa lepas. "Terlalu ganteng untuk gak diperjuangin."


Nath duduk di sebelah Tiara. "Udah ketemu Bela kan?"


Tiara mengangguk. "Bener Bela ini kan orangnya?"


Nath mengangguk. "Ini orangnya, Ti."


Tiara menatap ke bawah. "Sepatu dia flat shoes, bukan bertali."


Nath menepuk keningnya. Dia lupa Tiara ini sangat teliti orangnya.


"Gue baru beberapa hari ini pake gaya kayak barbie mau ke kantor, Ti. Ini kerjaan mama yang pengen gue tampil feminim."


"Kamu lihat ini." Bela menunjukkan foto di galeri ponselnya dan semunya adalah foto Bela dengan style agak tomboi.


"Ini gue setiap ke kampus."


"Ini gue naik moge."


"Ini gue ngajar taekwondo."


"Dan ini gue pas nge-mol sama mama."


"Gak usah ragu sama lakik lo."


"Dia baik kok."


"Cuma muka dia itu cetakannya senyum mulu."


"Cewek gatel auto baper, Ti."


"Kamu gak baper, Bel?" tanya Nath.


"Illfeel Nath. Lo kayak orang sableng tau gak?"


Ketiganya terbahak.


"El ... pulang bareng, yuk." Suara lembut cenderung manja membuat ketiganya menoleh keasal suara.


"Manekin butik," bisik Bela pada Tiara.


****


Next bab kita lihat Tiara membasmi manekin butik ya 😂

__ADS_1


__ADS_2