EL NATH ( Penyesalan Terindah)

EL NATH ( Penyesalan Terindah)
Bab 45 Tarzan


__ADS_3

Tiara sudah selesai berganti pakaian. Polesan bedak tipis dan lip balm sudah menempel di wajahnya. Bahkan saat ini ia sudah memakai hijab instan sebab akan membantu mertuanya di dapur.


"Brak! Brak!" pintu kammar mandi di gedor dari dalam.


"Bukain pintunya, Ti. Aku udah selesai ini." Nath berteriak dari dalam kamar mandi.


Tiara menatap pintu yang bergetar itu. Jika itu pintu kamar mandi rumahnya, sudah di pastikan jebol sejak gedoran pertama.


Tiara berfikir kerasa bagaimana caranya agar tidak tertangkap Nath saat membuka pintu. Dan ide itu mengalir begitu saja.


Tiara membuka pintu kamarnya sambil berteriak. "Sebentar, Bang."


Tiara kembali ke depan pintu kamar mandi dan dengan cepat ia membuka kunci dan berlari menuju pintu kamar yang sudah ia buka sebelumnya.


Benar saja, Nath keluar dan berusaha menangkapnya. Tiara dengan cepat berlari dan keluar dari kamar.


Nath hanya memakai handuk, tidak mungkin keluar dari kamar dengan keadaan seperti itu.


Jadilah, Nath berdiri di ambang pintu sementara Tiara sedang mengejeknya. Menjulurkan lidah dan mengacungkan jempol terbalik. "Sini kejar! Lemah!"


"Tiaaaraaaa!" Teriak Nath geram.


"Hahahahah." Tiara berjalan ke arah dapur meninggalkan Nath dan kekesalannya.


"Kenapa Nath jerit-jerit kayak Tarzan, Ti?" tanya Lintang yang sedang mempersiapkan bumbu ikan bakar yang akan ia bawa keluar.


Sebelum mandi, Tiara sudah membantu Lintang dan Bik Imah membuat bumbu nila bakar. Dan Lintang menyuruhnya segera mandi karena hari sudah sore dan ikan akan di bakar sebelum magrib.


"Biasa Ma. Marah kalau ke jahilannya dibales," sahut Tiara.


Lintang tertawa. "Ketemu imbang nih kayaknya si Nath."


Tiara tertawa pelan. "Kebiasaan Ma, dari dulu selalu begitu."


"Dari dulu?" tanya Lintang heran.


"Awal ketemu sih enggak, Ma. Tapi pertemuan kedua langsung cari masalah."


"Ini mau dibawa ke belakang, Ma?" tanya Tiara menunjuk nampan yang berisi bumbu ikan bakar dan saos sambal.


"Iya. Papa sama Nair udah di belakang tuh, bikin bara api."


Tiara dan Lintang berjalan menuju halaman belakang dimana Akhtar dan Nair sudah selesai membuat bara. Bahkan Nair sudah mengangkat sosis bakar dan meletakkanya di atas piring.


"Kamu mau tambahin ayam, Ti?" tanya Lintang saat keduanya duduk di bangku besi menyaksikan Akhtar dan Nair bekerja keras membakar ikan.


"Gak deh, Ma. Ini aja udah kelihatan enak banget." Tiara menunjuk ikan nila yang berlumur bumbu.


Nath datang dengan celana pendek dan kaos putihnya. Wajahnya tampak fresh, rambutnya juga masih setengah basah.


"Basah Nath?" tanya Akhtar yang memperhatikan putranya yang baru saja datang.

__ADS_1


"Mandi, Pa. Iya kali mandi kering." Nath mendaratkan tubuhnya di sebelah Tiara membuat istrinya itu kembali waspada.


Tiara bisa mencium aroma parfum dan aroma shampo Nath yang begitu memanjakan indera penciumannya. Ditambah lagi aroma nila bkar yang mulai keluar karena Nair terus mengipasnya.


"Gantian Nath!" Perintah Nair.


"Udah wangi, ini. Nanggung Nair. Terusi deh!" Nath memilih untuk memperhatikan Tiara yang sedang menuang saos sambal ke mangkuk kecil di atas meja besi di depannya.


Di meja depan mereka sudah ada sepiring sosis yang sudah matang dibakar Nair.


Tiara mengambil garpu, memotong dan menusuknya. Mencelupkan dalam saos sambal dan melahapnya.


"Mau?" tawar Tiara pada Nath pada potongan kedua.


Nath membuka mulutnya dan menguyah dengan perlahan. "Senyum, Bang!"


"Muka aku ini," jawabnya cepat.


Masih kesal rupanya. Batin Tiara.


"Gantengan Bang Nair kan, Ma kalau muka bang Nath begitu?" tanya Tiara pada mama mertuanya sambil mengedipkan mata meminta Lintang ikut dalam permainannya.


Nath menatap dua wanita yang duduk di sampingnya.


"Oh! Jelas dong. Muka ditekuk kayak tikar piknik begitu, mana ada ganteng-gantengnya."


Akhtar dan Nair tertawa. "Sama papa aja jauh banget, Ra."


Tiara tertawa menutup mulutnya. "Bikin malu ya Ma, muka ngeselin gitu?"


"Banget, Ra."


Tiara kembali menyuapkan potongan sosis ke mulut Nath. Tak peduli si empunya memasang wajah kusut. Yang penting baginya, mulut manis itu terbuka menerima suapannya.


"Mama ikhlas kan, Ma kalau anak mama Tia buat begitu?"


Tiara mengambil tissu di atas meja dan menyeka sisa saos di bibir suaminya. Nath terpaku atas perlakuan Tiara. Ia terus menatap wajah istrinya yang terus tertawa karena wanita itu masih berbicara dengan mamanya.


"Ikhlas dong."


"Hahahahah." Keduanya tertawa.


"Suapin sayang?" Akhtar mendekat dan membuka mulutnya. Lintang langsung menyuapkan potongan kecil ke mulut suaminya.


Nath menatap jengah pasangan yang tidak muda lagi ini. Romantisnya mengalahkan pengantin baru.


"Nair, sini sebentar sayang." Lintang melambaikan tangan meminta Nath mendekat.


Nair mendekat dan Lintang langsung memasukkan potongan sosis ke dalam mulut putranya. "Kasian. Biar jomblo juga butuh perhatian, ya sayang, ya."


Nair nyengir. "Mama terbaik."

__ADS_1


"Gak salah kan papa cari istri. Cari mama buat kalian." Akhtar kembali membuka mulut dan suapan penuh cinta kembali masuk dalam mulutnya.


****


"Mama papa romantis ya, Bang," ucap Tiara pada Nath yang tengah duduk di meja belajar menghadap ke layar laptop. Tiara ada di belakangnya, duduk bersila di pinggir ranjang.


"Yang tadi belum seberapa, Ti," jawab Nath. Hal seperti tadi merupakan pemandangan biasa yang sering Nath lihat. Kedua orang tuanya itu memang selalu romantis.


Keduanya tahu bagaimana cara memperlakukan pasangan mereka dengan baik. Saling menjaga kepercayaan dan memegang teguh sebuah komitmen meski sudah tidak muda lagi.


"Semoga suatu hari nanti aku bisa merasakan hal semacam itu. Menua bersama dan melihat anak-anak bahagia." Doa Tiara sambil menutup matanya.


Nath berbalik, menatap Tiara. "Denganku?" tanyanya.


Tiara tersenyum. "May be."


"Sini." Nath menepuk pahanya memberi syarat untuk Tiara duduki.


"Gak mau. Entar berujung dengan aku muntah-muntah lagi," tolak Tiara karena ia takut duduk disana akan membangunkan cacing besar itu.


Nath tertawa. "Enggak. Sini sebentar."


Tiara maju dan duduk dipangkuan Nath. "Kursinya gak patah nih?"


"Enggak."


Nath menyuruh Tiara melihat layar laptopnya. Ia mulai mencari informasi soal universitas tempat Ethan dan Rion kuliah.


"Kamu lebih sreg yang mana, Ti?"


"Sama sama bagus kan ini, Bang?" Nath mengangguk.


"Yang lebih dekat sama kampus kamu yang mana?"


"Kampusnya Rion."


"Aku mau sebisa mungkin kita pergi-pulang bareng."


Nath menelisik wajah Tiara yang masih fokus pada layar. Ia tak mengerti mengapa Tiara menginginkan hal itu.


Tiara menatap Nath. "Cinta hadir karena terbiasa bersama, kan?" Nath mengangguk.


"Hubungan ini harus kita jalani Bang. Untuk mundur sudah tidak mungkin dan untuk berhenti, pasti akan mengecewakan semua pihak."


"Aku mau kita mulai belajar untuk saling mencintai."


****


Bab yang kalian tunggu-tunggu akan di up jam 9 pagi nanti 😁


Ramaikan jejak demi menyambut episode ahhh 😂😂

__ADS_1


__ADS_2