EL NATH ( Penyesalan Terindah)

EL NATH ( Penyesalan Terindah)
Bab 7 Ciri-ciri


__ADS_3

Sebulan kemudian...


Tiara sedang meringkuk di atas ranjangnya. Hari ini dia malas bangun pagi karena libur bekerja. Bintang, istri Rion pemilik rumah baca tempatnya bekerja akan mengadakan syukuran 7 bulan kehamilannya. Hingga rumah baca ditutup hari ini.


Usia kandungan Zoya dan Bintang memang sama. Zoya sudah mengadakan syukuran beberapa hari lalu dengan cara sederhana. Hanya mengundang beberapa anak yatim dan keluarga terdekat.


Tok... tok... tok...


"Tiara..." Panggil Zoya di depan pintu kamar gadis itu.


Tiara menggeliat, meregangkan otot tubuhnya yang entah mengapa terasa tengang.


"Ya, kak." Tiara turun dari tempat tidur dan membuka pintu kamarnya.


"Loh! Kamu belum siap-siap?" Tanya Zoya yang sudah terlihat rapi. Zoya terkejut melihat Tiara yang masih memakai piyama tidurnya.


"Aku gak ikut ya kak." Jawabnya malas. Tiara terlihat tidak semangat pagi ini.


Sebenarnya ada hal lain yang membuatnya tak ingin kesana, yaitu Nath. Tiara yakin Nath pasti ada disana. Dan dia sedang berusaha menghindari pria itu. Bodoh memang, tapi mau bagaimana lagi? Tiara selalu tidak siap untuk bicara empat mata dengan Nath.


Padahal hampir setiap hari Nath menanyakan kabarnya. Menanyakan apakah dia sudah siap untuk membahas masalah mereka atau belum.


"Kamu demam, Ra?" Zoya menyentuk kening Tiara dengan punggung tangannya. "Gak panas."


"Enggak kak. Cuma badan Tiara capek banget." Tiara menggerak-gerakkan tangannya bahkan ia malas membuka matanya.


"Ya udah, kamu istirahat ya."


"Kenapa Tiaranya, sayang." Ezra berdiri di belakang Zoya.


"Sakit nih kayaknya. Tapi badannya gak panas kok, Zra."


"Kita ke dokter, Ra?" Tawar Ezra.


"Enggak bang."


"Abang antar pulang ke rumah ayah?" tawar Ezra lagi.


"Nanti sore aja bang. Tiara bisa sendiri kok. Sekarang mau istirahat aja dulu. Abang sama kakak nginap di rumah kak Bi?"


"Enggak. Kita mau ke rumah mama aja."


Tiara mengangguk saat Zoya dan Ezra berpamitan padanya.


"Sarapan ada di dapur, Ra. Obat ada di tempat biasa."


"Bibi yang biasa bersih-bersih hari ini libur, Ra. Kamu kalau ada apa-apa langsung telpon ya..." pesan Zoya kepada Tiara yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri


"Iya kak... iya... Udah ya... jangan khawatir lagi."


Tiara masuk ke dalam rumah setelah mengantarkan pasangan romantis itu sampai ke teras.


Tiara mengelus perutnya yang terasa lapar. "Tidur lagi atau makan dulu?" Tiara berbicara pada dirinya sendiri.

__ADS_1


"Makan deh." Ucapnya sedetik kemudian.


Tiara menarik kursi dan duduk menghadap meja makan minimalis itu. Tiara membuka tudung saji yang terletak di atas meja.


"Bubur ayam...." Serunya senang saat menemukan semangkuk bubur ayam lengkap dengan toppingnya.


"Dari tampilannya aja udah jamin enduul."


"Kak Zoya, emang the best!" Tiara berdiri dan mengambil sendok di lemari.


Tiara kembali duduk dan makan dengan lahap. Sesuap, dua suap dan akhirnya semangkuk bubur ayam buatan Zoya kandas tak tersisa.


Entah mengapa belakangan ini selera makannya meningkat. Dan lebih heran lagi bukannya sehat, tubuhnya malah cepat lelah.


Tiara menyandarkan punggungnya di kursi. Tangannya mengelus perut yang terasa keras. "Kenyang bnget!" Ucapnya senang.


"Lanjut makan buah, kuy!" Tiara bicara pada dirinya sendiri.


Ia berjalan kearah kulkas dan mengambil potongan buah di dalam mangkuk yang di tutup dengan wraping plastick. Zoya tak pernah main-main jika urusan kebersihan.


Tiara membawa piring buah ke ruang keluarga. Ia duduk di sofa sambil menonton tv. "Ck! Gosip artis!" Decaknya saat melihat channel yang ia pilih adalah program infotainment.


"Ck! Sepak bola. Bola sebiji direbutin. Cewek dong yang direbutin, wahai abang-abang ganteng." Komentarmya saat melihat pemain sepak bola yang tampan saling merebut bola.


Tiara terus menekan angka di remote tv. Tapi belum ada yang menarik perhatiannya.


"Isss! Kasus pemerk*saan!" Dia mulai sebal. "Nyindir banget lu." Cibirnya pada Tv 32 inci yang menempel di dinding itu.


"Naaahh! Ini lumayan. Botak-botak kembar." Tiara tampak senang saat menonton film kartun yang di produksi oleh negara tetangga itu.


"Uuhh! Kenapa harus inget dia lagi sih. Sebulan loh aku menghindar! Sebulan. Gila... masih inget aja sama tuh orang." Tiara memasukkan potongan buah ke dalam mulutnya dengan gerakan cepat. Mengingat Nath membuat moodnya mendadak anjok.


Namun, otaknya menyadari sesuatu. "Uhhukkkk.... uhukk... uhukkk." Tiara terbatuk dan lari ke dapur untuk mengambil air minum.


Tiara mengatur nafasnya. Dia berpegangan pada sisi meja makan karena mendadak kepalanya terasa berdenyut.


Sebulan semenjak kejadian itu. Dan aku belum datang bulan. Batinnya.


Tiara duduk di kursi dan memijat keningnya. Jantungnya berdetak lebih cepat karena rasa cemas yang tiba-tiba menyerangnya.


Mungkinkah aku hamil? Batinnya.


Tiara melipat tangannya di meja dan menenggelamkan wajahnya disana.


"Aku harus bagaimana? Masa iya, sekali langsung jadi. Ya, walaupun kemungkinannya memang besar. Aku yakin dia pasti hati-hati kemarin. Dia pasti mengeluarkan iiiisss!" Tiara menjeda ucapannya. Merasa jorok saat akan mengatakan sperm*.


"Aaarrgghhh..." Teriaknya geram.


Tiara masuk ke kamarnya, menghempaskan tubuh keatas ranjang dan mengambil ponselnya. Ia harus mencari tahu sekarang. Tiara berusaha tenang karena dia juga belum tentu hamil. Bisa saja hanya terlambat datang bulan.


"Ciri-ciri hamil muda." Ucapnya pada layar ponsel yang menampilkan aplikasi penelusuran.


Tiara perlahan mencari artikel yang ia butuhkan. Jemarinya dengan hati-hati mencari informasi yang sedang ia cari. Scroll ke atas, ke bawah dan akhirnya ia menemukan yang ia cari.

__ADS_1


"Ciri-ciri hamil muda." Bacanya dengan hati-hati.


"Pendarahan ringan dan kram perut." Tiara membaca ciri-ciri pertama.


Tiara coba mengingat apakah pernah ada bercak darah di pakaian dalamnya. "Gak ada sih kayaknya." Lega. Tiara merasa rasa cemasnya perlahan hilang.


"Terlambat menstruasi." Lanjutnya membaca. Tiara juga membaca penjelasan setiap poin.


"Aku udah telat hampir 2 minggu dari tanggal awal," ucapnya sedih.


"Payudar* terasa bengkak."


Tiara memegang dadanya. "Ah, ya. Agak bengkak sih. Sedikit sakit juga."


Tiara lanjut fokus pada ponselnya. "Mual di pagi hari."


"Yeee... aku enggak." Ucapnya senang.


"Sering buang air kecil."


Tiara diam sebentar. "Iya. Tapi gak sering banget juga kok." Ia berusaha berfikir positif.


"Kelelahan." Bacanya lagi.


"Iya... sering capek sih. Wajar kali ah. Aku kan kerja."


"Perubahan suasana hati."


"Kadang-kadang, kalau pas ingat si N itu." Tiara cemberut, entah pada siapa.


Tiara meletakkan kasar ponselya di atas tempat tidur. Tiara berbaring dan dengan ragu ia mencoba meraba perutnya.


"Gak ada bedanya. Dari dulu juga begini sih."


Tiara memejamkan matanya dan meraba dengan penuh kehati-hatian. Dia sesekali menekan perutnya mencoba mencari perbedaan dengan perutnya beberapa bulan lalu.


"Agak keras." Ucapnya saat tangannya menekan perut bagian bawahnya.


Huuft!


Tiara mengehembuskan nafas berat.


"Aku gak boleh begini terus. Aku harus beli tes pack."


Tiara bangun dan menyambar handuknya. Ia bergegas ke kamar mandi melawan rasa malas.


15 menit kemudian, ia sudah keluar dari rumah dan berjalan menuju apotek terdekat. Ada rasa takut saat ia ingin membeli alat itu. Bagaimana jika ada yang mengenalinya.


Tiara memilih apotek kecil dan yang tampak sepi. Sebelum masuk, ia melihat kanan kiri untuk memastikam tidak ada orang yang mengenalinya.


Tiara mendekap benda itu saat apoteker memberikan padanya. Ia memilih 3 jenis dengan merek berbeda.


Tiara sampai di rumah dan langsung menggunakan alat itu. Ia menampung urinnya dan menunggu beberapa saat.

__ADS_1


Tiara menatap ketiga tespack yang ia pegang. Tangannya bergetar dan perlahan ia menghembuskan nafas berat.


"Aku harus bagaimana?"


__ADS_2