
"Assalamaualaikum," Bintang dan Rion kompak mengucap salam dan langsung masuk ke dalam rumah besar itu.
"Disini, Nath? Gak kerja?" tanya Rion duduk di sofa sambil mengendurkan dasinya yang terasa mencekik leher.
"Rapi amat, Pak Rion? Ada acara formal apa nih?" tanya Nath pada iparnya itu. Bukannya menjawab pertanyaan Rion, ia malah balas memberikan pertanyaan.
"Biasalah, ada rapat penting di Cahaya Bangsa," sahutnya sambil mengelus perut buncit istrinya. Aktivitas yang bisa mengurai kepenatan dalam sekejap.
Cahaya Bangsa adalah sebuah sekolah SMA milik keluarga Rion yang saat ini sudah ia pegang sepenuhnya. Ray sudah benar-benar pensiun dan menikmati masa tuanya bersama Queen, cucu pertamanya.
"Anak-anak dimana, Ma?" tanya Bintang pada Lintang.
"Di tempat bermain. Sama mbaknya masing-masing kok, Bi." Sahut Lintang agar Bi tidak khawatir karena anak-anak tidak terlihat ada di ruang tamu.
"Papa senang, sebentar lagi rumah ini akan penuh dengan cucu-cucu papa. Dulu, saat seusia kalian, hal ini sama sekali gak pernah papa bayangkan." Akhtar membuat ke dua pasangan itu menatapnya, Lintang juga ikut menatapnya.
"Bi segera kasih cucu lagi."
"Nath dan Tiara, semoga secepatnya kasih kabar baik."
"Belum lahir anak Nath, semoga Nair segera menyusul."
"Atau Zoya akan segera program anak ke dua."
"Lalu, Bi nyusul lagi." Kalimat terakhir Akhtar membuat Bi cemberut.
"Ini aja belum dilahirin, Pa. Papa udah bayangi Bi hamil lagi."
Akhtar malah tertawa. "Ray pasti senang punya banyak cucu, Bi."
"Rion pasti juga siap sedia punya banyak anak. Ya kan, Yon?" tanya Akhtar pada menantunya. Dan Rion hanya mengangguk senang.
"Iya, pa. Tapi berjarak juga dong. Gak habis lahir, langsung isi lagi." Bintang terlihat kesal.
"Eh, tapi maksud papa apa? Nath dan Tiara kasih kabar baik? Tiara lepas KB?" tanya Bintang antusias pada adik iparnya itu.
Tiara mengangguk sambil tersenyum. "Doain segera ketularan ya kak."
Bintang mengangguk senang. "Pasti, Ti. Semoga kamu langsung hamil bulan depan."
"Amin."
***
Malamnya, mereka makan malam si rumah Lintang dan Akhtar. Zoya dan Ezra juga baru sampai sebelum magrib.
Mereka baru pulang dari Surabaya dan dari bandara langsung ke rumah ini untuk menjemput Zi.
"Mama, kata Queen di perut bundanya ada dede bayi," ucap Zi pada Zoya seolah memastikan apa yang Queen katakan adalah hal yang benar, bukan bohong.
"Iya, sayang. Queen benar. Ada dede bayi di perut bunda." Zoya mengelus kepala putranya yang saat ini sedang duduk berhadapan langsung dengan Queen.
Zidane mengayunkan kakinya di bawah meja makan. Makan malam belum di mulai karena masih menunggu Nair yang masih di kamarnya.
"Kata Queen bisa dikeluarin sebentar lagi," Lanjut Zi memberi tahu informasi yang ia dapat dari sepupunya itu.
"Ih, bukan kata Queen, Zi. Tapi kata dokter cantik!" potong Queen membenarkan ucapan Zidane.
Orang dewasa yang melihat keduanya merasa gemas. Dua balita pintar yang memang sering berdebat. Cerminan Zoya dan Bintang ketika kecil.
"Benar, sayang. InsyaAllah, bulan depan dedenya bisa di lihat langsung loh." Bintang membuat Zidane semakin penasaran. Rasa ingin tahunya sangat tinggi. Definisi bocil cerdas.
"Kata, Queen dia bisa lihat dedenya di tv."
Zoya menggeleng pelan. Salut pada putranya yang selalu berusaha membuktikan setiap apa yang dirasanya janggal.
"Beneran, Zi. Dedenya kelihatan di tv." Queen tak mau kalah, ia tak ingin dianggap mengada-ngada.
__ADS_1
"Kalau gak percaya tanya ayah sama bunda deh." Queen melipat tangannya di dada. Kesal karena Zi seolah tak percaya dengan ucapannya, membuat Rion dan Bintang tersenyum tipis.
"Terus, perut mama bisa ada dedenya juga gak?" tanya Zidane membuat Ezra tertawa pelan.
"Zi kenapa tanya begitu, sayang?"
Zidane menatap papanya. "Ya, masa Zi kalah sama Queen!" Zi menatap Queen seolah keduanya tengah berduel.
Tiba-tiba Nair datang mengacak rambut Zidane. Membuat si empunya cemberut kesal.
"Dulu emak-emaknya bikin rumah ini rame karena terus berdebat." Nair duduk di sebelah Zidane berhadapan dengan Nath.
"Sekarang, anaknya."
"Kalian baru 4 tahun loh!" Nair menunjukkan empat jari tangannya.
"Gimana gedenya nanti."
Akhtar dan Lintang tersenyum tipis. Keduanya jelas mengingat bagaimana Bi dan Zoya selalu mengisi rumah ini dengan perdebatan kecil, teriakan saat saling kejar dan pelukan hangat saat keduanya sedang akur.
Terasa de javu memang saat melihat Queen dan Zidane yang selalu berdebat. Queen, si aktif yang selalu mudah mengingat dan menyerap apa yang ia lihat dan dengar. Dan Zidane, si cerdas yang selalu ingin tahu tentang atas apa yang ia lihat dan dengar.
***
Bintang dan Rion sedang berada di dalam mobil, menuju rumah. Rumah besar yang mereka beli tepat di sebelah rumah orang tuanya.
Tidak ingin jauh dari cucunya, Ray mengupayakan agar Rion bisa memiliki rumah sedekat mungkin dengan rumahnya.
Tetap memaksa keduanya tinggal bersamanya, rasanya tidak mungkin. Bintang dan Rion berhak menetukan pilihan mereka.
"Queen, kenapa cemberut sayang?" tanya Rion yang tengah memperhatikan wajah putrinya yang di tekuk itu dari spion tengah. Queen ada di kursi penumpang bersama mbak Cici, baby sitternya.
Queen menggeleng pelan.
Bintang melihat kebelakang. "Kenapa sayang bunda?"
"Mau di depan sama bunda?" Queen menggeleng.
"Hiks... hiks... hiks..." Queen menggosok matanya yang sudah basah. "Mau bobok di rumah omaaaa!" tangisnya kencang.
Bintang menatap jengah pada putrinya yang sedang menangis. "Kenapa baru bilang sekarang, Queen?"
Queen menatap bundanya. "Takut bunda marah."
Bintang tersenyum. "Malam minggu, ya. Kita menginap di sana. Queen kan harus sekolah, besok."
"Iya, Kak. Besok kakak kan harus ganti seragam yang warna biru. Kita gak bawa seragamnya, loh." Cici ikut membujuk agar Queen tidak menangis lagi.
***
"Pa, terus dedenya bunda di keluarin dari mana?" Rasa ingin tau Zi berlanjut hingga mereka sampai di rumah.
Saat ini Ezra bingung harus menjawab apa. Ia yang tengah memegang buku dan bercerita tentang dongeng sang kancil mendadak merasa pusing.
Sedari tadi ia bercerita, ternyata putranya malah memikirkan bagaimana bayi diperut Bi bisa keluar.
"Ya melalui proses melahirkan, sayang!" Jawaban tercepat yang melintas di otak Ezra.
"Ia, terus lahirnya dari mana?" tanyanya lagi.
Jika dulu, Zi pernah bertanya mengapa perut Zoya besar hanya karena melihat foto Zoya saat mengandungnya dulu.
Lalu berlanjut dengan pertanyaan bagaimana dia bisa ada di dalam perut mamanya dan kembali berlanjut dengan pertanyaan apakah Zi boleh masuk lagi ke perut mamanya. Pertanyaan yang merepotkan, bukan?
"Apa kayak Zi yang harus keluar dari perut mama yang dibelah, Pa?" lanjutnya.
"Bisa jadi sayang."
__ADS_1
"Zidane masih terlalu kecil untuk tau hal itu sayang. Itu urusannya orang gede."
"Urusannya mama-mama sama papa-papa?" tanya Zidane membelai rahang Ezra yang tidur miring menyangga kepala di sebelahnya.
Ezra mengangguk. "Kalau udah besar nanti, Zidane pasti paham sayang."
"Kenapa nunggu Zi besar, Pa? Kenapa gak boleh sekarang?"
Kenapa kamu melahirkan anak yang terlalu pintar, Sayang? Batin Ezra.
"Zi, tidur! Udah malam sayang! Siapa yang gak segera tidur, besok pagi gak mama bawain bekal." Teriak Zoya berdiri di depan pintu penghubung antara kamar utama dengan kamar Zidane sambil melipat tangan di dada.
Ezra dan Zidane kompak menutup mata dan berhenti bicara.
"Besok Zi mau bawa nugget sama sosis goreng," bisiknya pada Ezra sambil menahan senyumnya.
"Papa besok mau bawa roti isi," bisik Ezra pada Zidane.
"Zi gak suka sayur."
"Papa suka sayur."
Zoya tersenyum melihat tingkah kompak keduanya. Karena ia bisa mendengar keduanya masih berbisik.
***
"Abang agak jauhan dong, tidurnya," pinta Tiara karena alasan takut lengannya tersenggol Nath saat tidur.
"Aku mau peluk, Ti."
"Libur dulu, Bang. Aku takut kamu pegang lukanya."
"Sakit banget?" tanya Nath khawatir.
Tiara menggeleng. "Enggak."
"Terus?"
"Kalau ke senggol, baru terasa sakit. " Jawabnya mengelus rambut Nath.
"Dokter kurang ajar!" M*ki Nath pelan.
"Ussh! Mulut kamu, Bang."
"Gara-gara dia nih, aku gak bisa peluk kamu." Nath memeluk guling menghadap Tiara. Rasanya ada yang kurang karena tidur tanpa memeluk istrinya.
Tiara menarik guling yang Nath peluk dan membuangnya di pinggir ranjang. Tiara perlahan bergeser dan masuk dalam dekapan suaminya.
"Kalau udah tidur, nanti aku pindah agak jauh ya." Tiara mengurap pipi Nath.
Nath mengecupnya singkat. "Makasih sayang."
***
Hai semuanya. maaf up ya, dua hari ini up datenya berantakan 😣
Dua hari ini, diluar rencana banget. Kemarin emak bawa anak ke water park karena ada saudara yang ajak.
Dan seharian ini, emak bawa anak mantai karena lagi-lagi saudara pada ngajakin 😅
Huh! Emaknya gak mau sia siakan kesempatan dong, Ya. Emak juga butuh liburan 😂
Next, insya Allah akan di perbaiki up nya.
Moga ceritanya makin menarik 😊
Next bab, kita ketemu Cloudy kuy! Yes, si manekin butik. Sekarang dia udah jadi apa ya?
__ADS_1
🤔Pemilik butik, may be?
Jejak kalian guys ☺☺☺