EL NATH ( Penyesalan Terindah)

EL NATH ( Penyesalan Terindah)
Bab 50 Jangan salah faham dulu


__ADS_3

Tiara meminta Nath untuk melepaskan pelukannya. "Aku pakai baju dulu," ketus Tiara pada suaminya.


Selagi Nath belum bisa membuktikan kebenaran soal noda lipstik itu, Tiara enggan menggantungkan harapannya lagi. Ia harus bersiap dengan kemungkinan terburuk mumpung perasaan itu belum terlanjur dalam.


****


Dua hari berlalu. Karena alasan weekend dan mereka juga menginap di rumah orang tua Tiara, jadilah ia belum dipertemukan dengan gadis bernama Bela itu.


Selama di rumah orang tuanya, Tiara bersikap biasa saja seolah tidak terjadi apapun demi tidak membuat orang tuanya curiga.


Selama itu pula, Tiara tidak ingin disentuh. Tak peduli dosa. Ia hanya mengikuti kata hatinya. Menunggu Nath membuktikan bahwa tidak ada hubungan apapun antara dirinya dan Bella.


Pagi ini, Nath mengantar Tiara ke kampusnya. Tiara tetap mencium punggung tangannya dan segera meninggalkan Nath.


"Ti, siang nanti kita akan temui Bela," ucapan Nath membuat Tiara menoleh kebelakang dan mengangguk.


Nath menghembuskan nafas berat. Sudah dua hari ia tidak bermanja dan mendekap tubuh mungil itu. Dia rindu, tapi dia faham betul bagaimana perasaan Tiara. Nath kembali melajukan sepeda motornya untuk sampai ke kampus.


Siang harinya....


Tiara berjalan keluar gerbang. Jadwalnya sudah selesai tapi sepertinya ia harus menuggu sejam lagi karena jadwal Nath belum selesai.


Tin!


Klakson mobil membuatnya menoleh. Dan kaca gelap itu perlahan turun. "Nath udah jemput, Ti?" Suara Rion dari dalam mobil. Mobil itu kini berhenti.


Tiara mendekat kearah pintu mobil. "Belum, Bang. Jadwalnya satu jam lagi."


"Ayo Ti. Ku antar ke kampus Nath!" ajak Rion. "Kamu tinggal kirim pesan ke dia kalau kamu menunggu di cafe atau dekat pos satpam supaya dia gampang nyari kamu."


Tiara berfikir sejenak. Mungkin dia bisa mencari sedikit informasi tentang suaminya disana.


"Boleh, Bang." Tiara langsung duduk di kursi penumpang di belakang Rion. Ia hanya takut menimbulkan fitnah jika ia duduk di depan.


"Dia terkenal di kampus, Ti." Rion fokus pada mobilnya, tapi bibirnya terus berbicara.


"Jangan kaget kalau banyak yang deketin dia."


"Belajar banyak dari kak Bi. Dia the best dalam hal menghadapi pelakor. Hahahah." Rion tertawa sendiri.


Tiara masih mencerna ucapan Rion. Seterkenal apa dia di kampus sampai banyak yang mendekati?


Tiara turun dari mobil Rion setelah sampai di kampus Nath. Rion membuka kaca mobilnya.


"Terima kasih, Bang." Tiara tersenyum lebar.


"Sama-sama. Hati-hati, Ti." Rion kembali menutup kaca mobil dan melajukannya menuju rumah.


Tiara melangkah mendekati gerbang kampus. Ia memilih berdiri di dekat gerbang yang lumayan teduh karena ada pohon besar di dekatnya.


Tiara melihat jam di pergelangan tangannya. "Masih 45 menit lagi," gumam Tiara pelan.


"Ah, El Nath itu jinak-jinak merpati. Dari jauh kayak lagi menggoda, begitu di dekati kabur. Hahahah." Tiara mengerutkan kening saat tiga orang mahasiswi menyebut nama suaminya. Tiara melirik sekilas. Cantik-cantik.


"Dia memang begitu, tapi ramah kok sama semua orang. Dia kayak gak suka aja kalau cewek deket sama dia tapi ngelibatin perasaan," ucap satu gadia yang lain.


"Iya, kayak si Claudy, mepet terus. Padahal si El nya udah illfeel banget. Hahahah." Letiganya tertawa.

__ADS_1


"Sampai El Nath ngaku-ngaku udah nikah, pake nunjukin cincin di jarinya segala. Hahahah. Frustasi banget dia di kejar manekin butik. Hahahah." Ketiganya lagi-lagi tertawa.


Sementara Tiara, hatinya semakin gelisah. Berarti benar kata bang Rion, Bang Nath banyak yang deketin.


Siapa Claudy? Kenapa dia gencar banget mendekati suamiku. Dan bang Nath mengaku dia sudah menikah?


Perasaan Tiara campur aduk. Ia bingung harus bagaimana. Masuk ke dalam dan melihat sendiri atau tetap di luar- mengirim Nath sebuah pesan singkat dan menunggunya.


Apa caraku marah padanya adalah salah? Bagaimana kalau diamku ini menjadi celah untuk wanita lain masuk dalam rumah tangga kami dan diamku juga menjadi alasan bang Nath mencari gadis yang bisa menyayanginya.


Tiara menghela nafas berat. Dan saat sebuah motor sport berhenti di depannya, Ia langsung memasang senyum tipis.


"Tiara? Disini?"


"Iya, Bang," jawabnya pada Nair yang baru saja keluar dari dalam kampus.


"Nath kelar jam berapa?"


"Ehm, masih 40 menit lagi, Bang." Keakraban Tiara dan Nair membuat beberapa mahasiswi yang melihat saling berbisik.


"Adiknya si kembar?"


"Oh, jadi adiknya Al Nair sama El Nath?"


Kenapa hampir semua orang kenal bang Nath sama bang Nair?


"Eh, mereka anak bungsu, tau!"


"Sepupu kali."


"Pacarnya mungkin."


"Jangan didengerin, Ra," ucap Nair saat Tiara diam mendengar bisik-bisik gadis di sekitarnya.


"Nunggu di sana aja, Yuk," ajak Nair pada deretan tenda diseberang jalan. "Ngebakso siang-siang oke juga." Nair tertawa dan tawanya menular pada Tiara.


"Pasangan uwu banget."


"Serasi."


"Cocok."


Tiara dan Nair duduk lesehan. Mereka tidak hanya berdua, tapi ada banyak mahasiswa lain yang makan disini.


"Baksonya 2 bang." Nair memesan dua mangkuk bakso untuknya dan Tiara.


"Sama siapa kesini, Ra?"


"Diantar bang Rion."


Nair mengangguk pelan. Rion atau dirinya sama saja. Keduanya saudara Nath dan semoga Nath tidak cemburu buta hingga menganggap kembarannya sendiri sebagai saingan.


"Bang ..." Tiara ragu mengatakan ini pada Nair, tapi dari pada penasaran, dia memilih untuk tetap bertanya.


"Ya ..." Nair mengalihkan pandangannya dari ponsel.


"Sebenarnya ...."

__ADS_1


"Sebenarnya ...."


"Katakan saja, Ra. Gak usah ragu."


Tiara menarik nafas dan menghemuskannya pelan. "Sebenarnya, seterkenal apa bang Nath di kampus ini?"


Nair menautkan alisnya. Kenapa dia tanya begitu?


"Aku dengar beberapa orang mahasiswi membicarakannya tadi. Apa dia punya jabatan khusus di sini?"


Nair tertawa pelan. "Kami terkenal karena kami kembar."


Sekarang gantian, Tiara yang menautkan alisnya. Gak mungkin cuma itu.


"Awal masuk kampus, kami sering bersama."


"Jadi mereka mungkin lebih mudah mengingat kami."


"Gak ada jabatan apapun."


"Nilai kami juga wajar-wajar aja."


"Kata bang Rion banyak yang suka sama bang Nath. Apa betul bang?"


Nair mengangguk, membuat hati Tiara bergetar. Bukan terpesona melihat Nair tapi tak sanggup menerima kenyataan yang ada di depan mata. Suaminya banyak yang nguber.


"Tapi belum pernah satupun dia pacarin."


"Iya, tapi bisa aja mereka bertahan karena terus-terusan dibaperin." Tiara kesal. Untung saja seporsi bakso untuknya sudah ada di atas meja.


"Silahkan mas ..."


"Nair bang."


"Hahahah... soalnya sama. Tapi beda dikit. Ya satu lagi lebih berisik."


"Wah, bawa cewek nih. Gak nyangka saya, Mas."


"Ssst! Milik kembaran saya." Nair berkata pelan, takut ada yang dengar.


"Oooh..." Penjual bakso itu manggut-manggut.


"Mbaknya gak salah orang kan?" Tiara menggeleng meski belum faham maksudnya.


"Syukurlah, saya cuma takut mbaknya gak bisa bedain mana pacarnya mana kembaran pacarnya."


Tiara tertawa pelan. "Dilihat 1 detik aja, udah langsung tahu, Bang."


"Wah, mbaknya hebat."


Mereka makan dengan tenang tanpa berbicara sepatah katapun. Ciri khas Nair saat sedang makan. Tiara meletakkan sendok di mangkok tanda ia telah selesai makan. Begitu juga dengan Nair.


Tanpa sengaja matanya melihat kearah gerbang. Dan melihat Nath tengah membonceng gadis cantik tanpa hijab. Kemeja dan rok spannya membuat lekuk tubuh itu terlihat jelas.


Dada Tiara bergemuruh hebat. Dia Bela atau Claudy atau gadis lain lagi?


Tiara melihat ponselnya dan pesannya belum dibaca oleh Nath. Tiara mengirim pesan sesaat sebelum menikmati semangkok bakso tadi.

__ADS_1


"Hati-hati salah faham, Ti." Nair tampaknya mengerti apa yang Tiara pikirkan.


"Biar Nath menjelaskan dulu," ucap Nair yang faham betul mengenai saudara kembarnya itu.


__ADS_2