
Naira menunduk dalam saat melihat beberapa pasang bajunya dimasukkan ke dalam tas oleh umi dan budenya. Ia tak menyangka, harus ikut dengan Nair malam ini juga. Padahal ia masih ingin melihat Abi dan Uminya pulang ke Semarang besok pagi.
"Umi... Boleh gak, perginya ditunda dulu?"
"Kenapa, Nai?"
"Ya, karena Nai mau lihat Abi sama Umi pulang, besok."
Wanita yang Naira panggil Umi itu tersenyum tipis. "Hampir tiap beberapa bulan sekali kamu selalu lihat abi sama umi pulang, Nai. Dan itu berlangsung hampir 7 tahun terakhir, loh."
"Tapi kan, Umi... Nai kangen pengen tidur sama Umi." Rajuknya memeluk tubuh berisi milik uminya.
Wanita yang melahirkannya itu tertawa. "Kamu belum puas tidur sama umi?"
Naira menggeleng. "Bukan gitu, Umi. Tapi kan, malam ini pertama kalinya Nai jadi istri."
"Nah, justru itu. Laksanakan tugas kamu sebagai istri, Nai." Naira mendelik kearah bude yang menyadarkannya bahwa malam ini ada tugas tak biasa yang harus ia lakukan.
Bude dan Umi kompak tertawa. "Bude kamu benar, Nai."
"Umi..." Ia merengek memeluk uminya. "Nair pasti mengerti, Umi."
Percuma saja, karena Abi tiba-tiba berdiri di depan pintu kamarnya. "Sudah belum, Umi? Kasihan Nair menunggu terlalu lama."
Malam semakin larut. Setelah akad nikah selesai, orang-orang yang ada di pernikahan sederhana itu saling bercerita sambil menikmati hidangan yang Zoya persiapkan, bahkan ada yang membawanya pulang untuk dinikmati bersama keluarga di rumah.
Saat ini, Nair sedang duduk di ruang tamu rumah Pakde Rahman. Ia sedang menunggu istrinya mengemas pakaian karena perintah Abi, Nair harus membawa Naira malam ini juga ke rumahnya.
Akhtar dan Lintang jelas setuju, tapi Naira merasa berat. Dan Nair? Dia sih oke oke saja.
Nair melihat Umi, Bude dan Naira keluar dari kamar dengan membawa satu tas berukuran sedang. Naira membawa satu tas yang ia jinjing, sebuah tas yang selalu ia bawa saat bertugas ke rumah sakit.
"Umi..." Naira memeluk Uminya.
"Nai... anak gadis umi sudah besar. Kamu sudah harus menjalankan kewajiban kamu sebagai istri, kamu harus ikut suamimu, Nak."
Naira terisak dalam pelukan Uminya membuat Nair tidak tega untuk membawa Naira bersamanya.
"Nai, kamu boleh untuk tetap disini jika ingin. Kamu pasti butuh waktu untuk menerima semua ini," ucap Nair langsung dihadiahi tatapan tajam Rahardi.
Naira melepas pelukannya dan turut menatap wajah pria yang telah resmi menjadi suaminya itu.
"Tidak Nair. Naira sekarang menjadi tanggung jawabmu. Ia akan ikut kemanapun kamu membawanya."
Akhirnya, Naira menyerah. Saat ini ia sudah berada di halaman rumah megah yang menjadi kediaman suaminya selama hampir 25 tahun.
Naira dan Nair langsung masuk ke dalam kamar karena sepertinya Akhtar dan Lintang sudah lebih dulu beristirahat.
"Mama papa sudah tidur. Kita langsung ke kamarku aja."
Nair berjalan disamping Naira sambil menjinjing tas ditangannya.
"Masuk, Nai." ajak Nair yang sama gugupnya dengan Naira.
Naira hanya mematung di depan pintu kamar bernuansa biru itu.
__ADS_1
"Kenapa? Belum pernah ada yang ngajakin ngamar?" tanya Nair sambil tertawa, ia berusaha memecah kegugupan yang terjadi diantara keduanya.
Naira tersenyum kecil. Ia masuk ke dalam dan melihat sekeliling. Ada banyak foto didinding. Terlebih foto kebersamaan Nair dan Nath serta saudara-saudara mereka yang lain.
"Kalau gak suka, kamu boleh ubah desain interiornya," Naira menoleh kearah Nair yang sedang membuka lemarinya.
"Ini dulunya adalah lemari Nath. Masih bagus makanya gak dibawa keluar sama mama, Nai."
"Untuk sementara waktu, kamu bisa pakai untuk menyimpan pakaian kamu."
"Nanti kalau ada waktu, kita beli yang baru."
Naira mengangguk pelan.
Nair segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Ia keluar dengan celana training panjang dan kaos putih.
Naira sedang memindahkan beberapa pasang pakaiannya ke dalam lemari. Nair menyaksikannya dari atas ranjang. Nair duduk bersila.
Naira mendadak gugup saat Nair sibuk memperhatikan gerak geriknya. Setelah selesai, Naira berdiri di depan Nair.
"Sudah selesai memperhatikanku?"
"Belum. Baru ku mulai," ucap Nair pelan.
Naira terkekeh. Ia berjalan menuju kamar mandi. Di depan cermin ia bisa melihat berbagai produk perawatan milik Nair tersusun rapi di dekat cermin. Mulai dari sabun facial foam, alat cukur, pasta gigi, dan banyak lagi.
Dia lebih ribet dariku. Batin Naira.
Naira mencuci wajahnya. Tak lupa ia mengganti pakaiannya dengan piyama berlengan panjang. Ia juga mengambil wudhu untuk melaksanakan sholat malam.
"Sholat malam juga, Nai?"
Naira mengangguk dan mengambil seperangkat alat sholat yang Nair berikan sebagai mahar untuknya.
"Kita sholat setelah akad dulu, ya Nai. Tadi belum sempat kita laksanakan." ajak Nair.
Naira mengangguk pelan. Sholat setelah akad? Bukankan sholat itu juga dilakukan sebelum pasangan pengantin melakukan hubungan...
"Nai? Bisa kita mulai?" tanya Nair karena Naira belum memakai mukenanya.
"Eh..." Naira yang tengah melamun mendadak terkejut.
"I... iya Nair." Naira segera bersiap.
Selesai sholat, Nair membaca doa dan meminta tertolongan, perlindungan serta keberkahan dalam pernikahannya.
Nair juga tak lupa mengucap syukur karena akhirnya hal yang ia inginkan dapat terlaksana.
Nair dan Naira tampak gugup. Keduanya bingung harus apa. Ini pertama kalinya mereka berdua, benar-benar berdua dalam ruangan tertutup.
"Tidurlah, Nai," perintah Nair yang menepuk bantal di salah satu sisi ranjang, disamping tubuhnya.
Naira perlahan mendekat. Ia tampak ragu dan berdebar. "Nair..." Naira duduk di atas ranjang dengan kaki yang masih menjuntai.
"Ya..." Nair berbaring menatap istrinya.
__ADS_1
Tak ada jawaban lain dari Naira. Nair menghela nafas panjang. Ia turun dari ranjang dan berlutut di depan Naira yang tengah menunduk dalam.
"Kenapa, Nai?" tanya Nair dan mendapat jawaban berupa gelengan kepala dari Naira.
"Katakan, kamu tidak ingin tidur disini?" tanya Nair pelan.
Naira menggeleng pelan. "Aku..."
Nair menunggu gadis itu melanjutkan kata-katanya. "Kamu kenapa, Nai? Kamu ingin sesuatu?"
Memangnya aku ingin apa, Nair?
Naira menggeleng. "Kita hanya tidur, kan?"
Nair menghela nafas dan terkekeh. Ia berdiri dihadapan Naira.
"Besok masih harus ke rumah sakit kan?" tanya Nair dan istrinya itu mengangguk.
Nair tersenyum kecil. "Kamu bebas, malam ini." Nair menunduk dan mencium bibir Naira sekilas membuat gadis itu terkesiap.
"Heheheh... Jangan mendelik, Nai. Aku takut." Nair terkekeh pelan.
Naira kembali menunduk. Nair memegang dagu istrinya dan mengangkat wajah cantik itu untuk menatapnya.
"Mulai sekarang, kamu dan aku boleh menatap lebih dari 24 jam, Nai."
"Tidak ada kata haram atau zina, lagi."
"Aku berhak atas kamu dan sebaliknya."
Naira mengangguk pelan dan Nair langsung menarik Naira dalam pelukannya.
Naira sedikit ragu namun akhirnya ia memeluk tubuh suaminya itu.
"Terima kasih, masih menungguku, Nai."
"Terima kasih, karena terus berjuang mendapatkan restu Abi, Nair."
Keduanya saling peluk cukup lama. Dan bisikan Niara di dada Nair membuat pria itu berdebar tak karuan.
"Nair, ka ... lau seandainya ka ... mu ingin. Aku gak ... apa-apa, Nair."
"Ka ...mu berhak mendapatkannya."
****
Nair mau apa gak nih?
Ah, yaaaa.... makasih banyak bagi yang udah setia menunggu 😚
Sepertinya Aku akan segera stop bonchap Nair karena dia kan sudah menikah.
Aku mau jalani Syafa sama Shaka dulu kayaknya. Supaya nanti mereka bisa jalani ceritanya bareng setelah pada punya anak.
Tetep setia pantengin karya ku ya 😚
__ADS_1
Selena's First Love masih sepi 😅Mampir dung ke sana kak 😊