
Naira tak bisa menghentikan tetasan air mata saat Abinya mengatakan bahwa akad nikah akan dilaksanakan setelah Sholat Isya.
Ia tak menyangka akan secepat ini. Saat restu itu sudah diberi lantas dalam hitungan jam ia akan resmi menyandang status sebagai istri Nair.
Alhamdulillah... Terima kasih Abi. Terima kasih Nair. Terima kasih ya Allah.
Umi dan Bude memeluk Naira. Ia yang diapit kedua wanita paling berjasa dalam perjalanan hidupnya tak sanggup menahan isak tangisnya.
"Selamat sayang." bisik Umi ditelinganya. Ia hanya bisa mengangguk berulang tanda rasa bahagianya.
Sementara itu, Nair segera keluar dari mesjid untuk menghubungi kedua orang tuanya.
****
"Mas, itu suara handphone kamu, bukan?" tanya Lintang yang mendengar dering ponsel saat mereka baru saja selesai sholat dan berjalan menuju meja makan.
"Iya, Lin." Akhtar berjalan cepat menuju kamarnya. Ia mengambil ponsel dan melihat panggilan masuk dari Nair.
Belum sempat ia jawab, panggilan itu mati. Akhtar membawa ponselnya ke meja makan dan dering panggilan masuk dari Nair membuatnya menggeser icon hijau.
"Hallo Assalamualaikum, Nair," sapanya pada Nair.
"Waalaikumsalam, Pa."
"Pa, tolong datang ke mesjid di kawasan X."
"Kenapa Nair?" tanya Akhtar sedikit panik karena Nair tidak pernah memintanya untuk datang kesana. "Kamu sakit?"
"Enggak, Pa. Nair akan menikah dengan Naira malam ini setelah sholat Isya, Pa."
"Apa? Astaghfirullahal adzim. Kalian kena gerebek Nair?" Teriak Akhtar membuat Lintang terkejut bukan main.
"Astaghfirullah. Nair digerebek warga, Mas?" Lintang tak mampu menahan getaran hebat di dadanya. Air matanya lolos seketika. "Nair, apa yang kamu lakukan, Nak?"
"Ya Allah, enggak Pa. Nair gak digerebek."
"Jadi, gimana ceritanya kamu tiba-tiba nikah? Naira hamil. Ya ampun, Nair! Kamu sama Nath sama aja!" Akhtar makin mengamuk.
"Naira hamil? Ya Allah!" Lintang makin terisak duduk di kursi.
"Astaghfirullah, Pa. Dengar dulu. Intinya Abi Rahardi udah kasih restu ke Nair dan akad nikahnya akan dilakukan sehabis Isya di mesjid ini, Pa."
"Alhamdulillah....!" Teriak Akhtar lantang.
"Ya Allah, kamu kenapa sih mas. Nair hamilin anak orang tapi kamu malah teriak Alhamdulillah," ucap Lintang sambil terisak. Ia menahan emosi akibat ulah suaminya.
"Papa kesana, Nair! Butuh apa, Nak?"
"Uang Cash untuk mahar? Cincin? Alat sholat? Apa? Biar papa siapkan."
Lintang menghela nafas berat melihat Akhtar yang sangat semangat itu.
"Papa datang aja sama mama. Sekalian bawakan box warna putih di lemari paling atas di kamar Nair, Pa."
"Iya... iya... papa kesana sekarang. Tunggu papa sama mama, Nair."
"Mas...." Lintang menatap suaminya. Akhtar langsung memeluk istrinya yang sudah berburuk sangka sejak tadi.
"Akhirnya sayang, perjuangan Nair kita tidak sia-sia. Rahardi memberikan restunya untuk putra kebanggaan kita."
__ADS_1
Air mata Lintang kembali menetes. "Putra kita akan menikah, Mas?" Akhtar mengangguk berkali-kali.
Akhtar melepas pelukannya. "Bersiap sayang. Akad akan dilakukan setelah Sholat Isya."
"Apa?" Sekarang giliran Lintang yang terkejut. "Setelah I... Isya?"
Akhtar mengangguk. "Isya tinggal setengah jam lagi, Mas."
"Makanya, kita harus cepat, sayang!"
Lintang dan Akhtar berbagi tugas. Lintang segera bersiap. Memakai pakaian terbaiknya karena ini adalah momen dimana perjuangan putranya terbayar lunas.
Lintang juga mengambil sebuah box di lemari pakaian Nair. Ia membawa box itu diatas ranjang dan membuka tutupnya.
"Subhanallah..." Lintang berbinar saat ia menemukan perlangkapan alat sholat berupa sajadah dan mukenah dengan desain mewah didominasi warna putih dan emas.
"Sudah sejauh ini kamu mempersiapkannya, Nak?" Lintang menutup kembali box itu.
Sementara Akhtar yang bingung harus menghubungi siapa dulu, ia memiliki mengirim pesan suara di grup WA keluarga.
"Assalamualaikum semuanya. Nair akan melakukan akad nikah malam ini, setelah sholat Isya di mesjid di kawasan X. Bagi yang memiliki waktu luang bisa langsung menuju kesana. Maaf, tidak bisa menghubungi satu persatu. Terima kasih atas perhatian dan pengertiannya."
Akhtar mengirim pesan suara itu. Ia segera menghubungi papanya dan ayah mertuanya yang rumahnya berada di samping rumahnya.
Semua bersiap dan mereka menuju lokasi dimana tidak membutuhkan waktu lama untuk tiba disana.
***
"Ya Allah! Ini beneran gak sih, Bi?" Rion bertanya pada istrinya mengenai pesan suara papanya.
"Beneran kali, Sayang? Tapi kenapa dadakan gini?"
"Aku ikut!" Pinta Bintang.
"Persiapan kamu lama sayang. Queen sama Prince, repot sayang."
"Aku telpon mami. Semoga mami sama papi mau jaga anak-anak." Bi segera mencari ponselnya untuk menghubungi mertuanya.
"Aku harus lihat Nair nikah, sayang!"
****
"Zraaa!!!" Zoya berteriak dari dalam kamar.
"Ada apa sayang?" Ezra berlari dari dalam kamar mandi.
"Nair mau nikah!" jawab Zoya.
"Haaaa!"
"Habis Isya!" lanjutnya.
"Apa!"
****
"Caraka! Cepat!" Teriak Sora yang sudah bersiap bersama mama dan papa serta suaminya.
Caraka baru saja pulang dari rumah sakit karena ada keadaan darurat tadi yang membuatnya pulang sedikit terlambat.
__ADS_1
"Aduh! Parfum! Oke."
"Rambut. Oke."
"Jam tangan!"
"Carakaaaaa!" Teriakan melengking Sora membuat Ia lari terbirit-birit.
"Yang mau nikah itu Nair. Kenapa kamu yang repot mikirin penampilan!" Cecarnya saat Caraka sudah muncul di ujung anak tangga.
Sedari tadi, Caraka tak kunjung turun padahal semua orag sudah menunggunya.
"Kita udah telat! Kasian kakek kalau kelamaan sampe kesana!"
Sebelum berangkat mereka sudah sempatkan sholat Isya di rumah. Supaya sampai di sana nanti, mereka tidak perlu sholat lagi dan langsung ikut dalam acara akad nikah itu.
***
"Kenapa kelakuan bapaknya nurun semua ke anaknya sih!" Gerutu Langit yang sedang melajukan mobilnya. Ia harus siaga mengantar ayah dan bunda ke mesjid tempat Nair melangsungkan akad nikah.
"Suka banget bikin repot!" Omel Langit.
"Tin... tin...!" Langit menekan klakson mobil berulang ulang karena jalanan macet sementara waktu sudah sangat mepet.
Langit melajukan mobilnya dan beberapa kali ia mengerem mendadak karena jalanan lumayan ramai.
"Udah deh, nyetir aja yang bener. Kasian ayah sama bunda kalau kamu kebanyakan injek rem gini." Rara sudah tidak tahan dengan kelakuan suaminya.
"Lagian, Mas Akhtar sama Nair pasti punya alasan kenapa acaranya mendadak begini."
"Awas aja kalau ini cuma prank!"
"Gak mungkin Akhtar bercandain semua orang, Lang!" Skak! Kalau bunda sudah bicara, Langit bisa apa selain diam?
***
"Hati-hati sayang!" Nath menuntun istrinya yang berperut buncit itu untuk masuk kedalam mobil.
"Jangan nakal ya sayang!" Nath mengelus perut istrinya setelah memasangkan seatbelt. "Kita akan datang ke akadnya om kamu, nih."
"Akhirnya, teman kamu akan otw juga. Hahah." Nath tertawa karena Tiara mencubit perutnya.
"Kamu, jangan bicara yang aneh-aneh dong sama dedenya."
"Iya sayang. Iya.... Aku happy banget." Nath mencuri kecupan singkat di bibir Tiara.
Nath segera melajukan mobilnya menuju tempat yang dimaksud papanya. Sebuah mesjid yang jaraknya hanya beberapa kilometer dari rumahnya.
****
Semua orang pada kaget dan langsung sibuk.
Aku tau kalian juga gitu 😆
Sama.
mana othor belom beli baju baru lagi 😅
Next kita Saaah kan yaaaa..
__ADS_1
Saaah dulu baru Aaahhhh 😅