EL NATH ( Penyesalan Terindah)

EL NATH ( Penyesalan Terindah)
Bab 62 Penyelamatan


__ADS_3

"Saya harus segera ke lokasi. Tim akan segera melakukan penyelamatan." Robert berdiri dan berpamitan pada Satya dan yang lain.


Pria yang kini tengah memakai jaket kulitnya itu segera keluar dan menaiki sebuah motor trail.


"Saya ikut, pak!" Nath ikut bangkit dan segera memakai sepatunya.


"Gak bisa Nath, bahaya. Kita tunggu disini. Tunggu kabar baik dari tim," ucap Satya yang khawatir jika Nath ikut malah akan mengacaukan kerja tim yang sudah bersusah payah menyelidiki tanpa bisa ketahuan.


"Nath harus ikut, yah." Nath tetap keras kepala. Ia tidak mungkin hanya duduk dan menunggu kabar dari tim sementara istrinya dalam bahaya.


"Nath!" Akhtar juga berusaha mencegah Nath tapi dia sadar, posisi Nath sangat sulit. Seperti dirinya dulu yang selalu ikut mengurus semua masalah Lintang dan dia yakin Nath juga ingin melakukan hal yang sama.


"Pa, please." Nath memohon.


"Hati-hati." Akhtar mengangguk dan memeluk putranya. Lintang juga memeluk Nath. "Bawa menantu mama pulang, Nak."


Nath menghapus air mata Lintang dan ia mencium tangan mamanya yang ia genggam. "Doakan semua baik-baik saja, ma."


"Bu, Yah. Nath janji akan bawa pulang Tia." Nath menyalami kedua orang tua Tiara.


"Aku ikut." Ezra mengejutkan semuanya.


"Aku juga." Rion berdiri dan maju disamping Nath.


"Aku ikut!" Nair juga berdiri.


"Aku juga ikut!" Ethan juga ingin ikut.


"Bawa mobil papa, Yon!" Ray memberikan kunci mobilnya. Rubicon miliknya akan lebih mudah masuk ke dalam hutan.


Sesuai informasi warga sekitar, ada jalan menuju gudang bekas itu, hanya saja kondisi jalan akses kesana tak semulus dulu.


Rombongan Nath segera menuju lokasi dimana sudah di pastikan Tiara ada di dalam.


Sementara itu di depan gudang, tiga orang pria yang berhasil menculik Tiara atas perintah seseoramg yang membayar mereka tengah berjaga. Satu pria dengan wajah babak belur menjadi bahan tertawaan kedua temannya.


"Kebiasaan bos, kerja diluar perintah! Begini kan akibatnya. Kena salon gratis."


"Hahaha." Keduanya menertawakan bos mereka yang pipi dan kelopak matanya memar akibat ulah pria yang menyelamatkan Tiara tadi.


"Diam! Berani ngetawain!" Bentak pria berwajah babak belur itu. Keduanya langsung diam. "Gaji kalian dipotong 50 persen."


"Elah bos. Gajian juga belum udah di potong."


Sreekk!


Suara kaki yang menginjak dedaunan kering membuat ketiganya waspada.


"Ada orang, bos!"


"Jaga-jaga." Ketiga pria bertubuh gempal itu berdiri dan melihat sekitar.


"Pakai penutup wajah! Kalau bahaya kita kabur!" Perintah pria yang disebut bos.

__ADS_1


Ketiganya kembali menutup wajah mereka. Berkeliling sekitar gudang yang tidak terlalu luas itu untuk berjaga-jaga.


"Mana? Gak ada orang, Bos! Mungkin cuma kodok atau biawak," ucap salah satu dari mereka.


Orang yang disebut bos itu kembali duduk di sebuah batu besar.


Sementara itu tim suruhan Satya dan Ray sudah mengepung tempat itu. Empat orang segera berjalan mengendap-endap dan...


Bugght...


Bugght...


Bugght...


Tim penyelamat memukul kepala bagian belakang ketiga orang preman itu dan ketigaya terjatuh. Dengan obat bius mereka membuat ketiganya tidak sadarkan diri.


"Ikat!"


Bertepatan dengan datangnya Nath dan rombongan. Mereka langsung berlari mendekat dan Nath mendobrak pintu reot itu...


"Nath!" Teriak Ezra marah.


"Dia gegabah, Yon!"


"Dia membahayakan Tiara!"


"Bantu dia!" Robert memerintahkan Timnya.


Byuurrr!


Tiara terkejut saat air menyiram wajahnya. Ia langsung sadarkan diri. Ia perlahan membuka matanya.


"Bangun! Pemalas!" Ucap pria di depan Tiara.


Tiara membulatkan matanya. "Ka.... kak Reyfan! Lepasin, kak!" Pintanya sambil menggerakkan tangannya berusaha melepaskan tali yang mengikat tangan itu di bahu kursi.


"Haaa! Kakak? Hahahahaha!" Reyfan tertawa seperti orang gila.


Tiara memicing menatapnya aneh. Kenapa kak Reyfan seperti orang gila begini? Dan bagaimana bisa dia tahu aku dan bang Nath ada di sini?


"Kakak?" Reyfan menatap tajam Tiara. Ia menumpukan tangannya di bahu kursi hingga membuat Tiara meringis kesakitan karena tangannya terhimpit tangan besar milik Reyfan.


"Ya, aku kakak yang kau hancurkan masa depannya!" Teriak Reyfan sangat keras di depan wajah Tiara membuatnya refleks memundurkan wajahnya.


"Ma... maksud kakak apa? Dan bagaimana bisa kakak tau kami ada di villa? Tujuan kakak apa melakukan ini padaku?" Tiara memberondong Reyfan dengan banyak pertanyaan.


"Plaak." Tamparan keras mendarat di pipi Tiara. Wajahnya sampai memerah. Tiara merasakan sesak di dadanya. Terbayang keluarga yang tidak pernah menamparnya seperti ini. Perlahan air matanya menetes.


"Kalo nanya itu satu-satu," bentak Reyfan yag juga merasakan panas di telapak tangannya akibat terlalu keras menampar Tiara.


Hening...


Hanya isak tangis Tiara yang terdengar. Aku bersumpah, kak. Tamparan ini akan terbayar dengan rasa sakit yang sama. Aku berusaha memaafkanmu yang telah membuatku kehilangan dua janinku karena menganggapmu tidak sengaja melakukannya.

__ADS_1


Dan kali ini, kesengajaan ini, semoga Allah balas dengan lebih pedih.


"Ku jawab satu persatu." Reyfan menangkup pipi Tiara dengan tangan besarnya. Ia menggunakan satu tangannya, dengan ibu jari menekan salah satu pipinya dan empat jari lainnya menekan pipi yang lain.


"Pertama, aku menyuruh orangku mengikutimu sampai ke Villa. Karena di kampus, tanpa sengaja aku mendengar kamu dan suamimu yang miskin itu berbicara soal rencana kalian pergi ke Villa."


Mata Tiara membulat dengan air mata yang terus menetes. Ia heran, bagaimana bisa Reyfan tau pembicaraan dengan Nath dan Rion di kantin kampus beberapa hari lalu.


"Terkejut? Ku beri tahu! Aku kuliah disana, mengambil S2," ucapnya dengan seringai yang terlihat mengerihkan di mata Tiara.


Tiara berusaha menggerakkan kepalanya agar cengkeraman tangan Reyfan di wajahnya terlepas.


"Jangan bergerak!" Bentak Reyfan.


"Dan tujuanku melakukan ini adalah untuk membayar kehancuranku karena ulahmu!" Reyfan menarik hijab instan itu dengan kuat hingga rambut Tiara yang ia kucir kuda di dalamnya ikut tertarik.


"Sa... sakit, kak," rintih Tiara.


"Sakit mana dengan penolakan yang ku terima?"


"Sakit mana dengan aku kehilangan harta Reyga?"


"Sakit mana dengan kemiskinan yang ku tanggung saat ini!" Reyfan menghempaskan kepala Tiara dengan kejam membuat Tiara merasakan pusing di kepalanya.


"Perusahaan ayah diambang ke bangkrutan!"


"Aya...h, Bunda...," lirih Tiara saat mengingat Rendi dan Reni serta semua kebaikan mereka.


"Kamu menolak menikah denganku, membuat harta Reyga disumbangkan ke yayasan!"


Tiara ternganga. Ia tidak tahu apa hubungan harta Reyga dengan tidak menikahnya dirinya dengan Reyfan.


"Reyga memberikan semua warisan kakeknya padamu jika kau menikah denganku, Tiara."


Tiara semakin terkejut. Ia tidak menyangka, Reyga memintanya menikah dengan Reyfan juga karena hal ini.


"Terkejut Tiara? Terkejut bagaimana adikku itu begitu mencintaimu hingga masa depanmu ia fikirkan sampai sejauh itu?"


Reyfan berbalik, ia berdiri tegak memunggungi Tiara. "Kadang aku berfikir, kenapa dia bisa sebaik itu dan mencintaimu segila itu?"


Dengan cepat Reyfan kembali berbalik dan menarik hijab Tiara. "Apa karena harga dirimu yang kau berikan padanya?"


Reyfan membuka hijab itu dan melemparkannya sembarangan.


***


Selamat tahun baru guys 😚😚 🎉🎉🎉🎉


Seneng dong ya, abis jalan sama orang tersayang eh, dapet notif dari babang Nath.


Klik like kalian sayang 😉😉😉


komen di bawah, biar emak balas karena tahun baru emak cuma momong anak yang nonton film kartun 😂

__ADS_1


__ADS_2