EL NATH ( Penyesalan Terindah)

EL NATH ( Penyesalan Terindah)
Bab 77 Nastar


__ADS_3

Tiara masuk ke dalam rumah sambil menyeka air matanya yang entah mengapa terus saja menetes. Seketika rasa kehilangan Reyga kembali muncul saat mengingat Nath yang terus muntah setiap pagi.


Tiara takut hal yang sama terjadi lagi. Seseorang yang penting dalam hidupnya pergi disaat ia belum siap. Ya, walaupun jika ditanya, ia tidak akan siap kapanpun saatnya.


Tiara melewati ayah yang baru saja keluar dari kamar mandi. Pria yang terlihat segar dengan rambut basah dan aroma shampo yang memanjakan indera penciuman.


"Kamu kenapa, Ti?" tanya Zainal heran saat melihat mata dan hidung putrinya memerah.


"Gak apa-apa, Yah." Tiara melewati Zainal begitu saja. Ia ingin segera masuk ke dalam kamarnya.


Tapi aroma shampo yang menusuk hidungnya membuatnya berhenti sejenak dan berbalik. "Ayah udah mandi, Yah?" tanyanya pada Zainal.


"Udah. Nih baru selesai." Zainal menggosok rambutnya dengan handuk. Pria yang tengah memakai celana pendek dan kaos itu berjalan mendekat untuk masuk ke kamarnya.


"Kok masih bau." Tiara menutup hidungnya dan langsung meninggalkan Zainal dan masuk ke dalam kamar.


"Bau? Perasaan, aku mandi pakai sabun sama shampo," gumamnya pelan. Ia mencium baju dan ketiaknya. "Wangi kok," gumamnya lagi.


Zainal melihat Nath masuk menyusul Tiara. Ia bisa melihat menantunya itu seperti orang kebingungan.


"Lihat Tia, Yah?" tanyanya saat melihat mertuanya masih mematung didepan pintu kamarnya.


"Masuk kamarnya." Zainal menunjuk kamar Tiara dulu yang pintunya tertutup rapat. "Dia kenapa, Nath. Aneh sekali!"


Nath menggeleng pelan dan mengangkat bahu. "Nath duluan, Yah!" Nath segera menuju kamar dimana istrinya itu berada.


Nath membuka handle pintu dan ia bernafas lega saat pintu tidak dikunci. Nath masuk ke dalam dan melihat iatrinya itu tengah meringkuk memeluk guling.


Nath duduk di samping istrinya. "Ti..." Nath menyentuh Tiara.


Tiara menggerakkan bahunya tanda ia tidak ingin disentuh. Ia ingin Nath menjauhkan tangannya.


"Sorry, ya..." ucap Nath pelan.


Satu menit, belum direspon. Dua menit, tiga menit, masih sama. Tiara masih meringkuk memunggunginya.


Nath menghela nafas berat. "Oke. Kita ke dokter. Aku akan nurut sama kamu." Nath menyerah. Jika itu keinginan istrinya, ia akan berusaha menurutinya. Padaha ia sudah merasa baik-baik saja saat ini.


"Kita ke dokter besok pagi ya. Aku akan izin sama atasanku."


Nath tersenyum saat tubuh mungil itu berbalik. Mata sembab itu menatapnya. "Janji?" tanya Tiara.


Nath mengangguk. "Janji, sayang."


Tiara langsung duduk dan memeluk Nath. "Aku takut kamu kenapa-kenapa, Bang."


"Aku gak mau kehilangan kamu."


Nath mengelus punggung Tiara. "Aku baik-baik aja sayang."


"Aku akan terus disini, di samping kamu dan bersama kamu."


Keduanya saling diam. Dan Tiara merasakan sesuatu yang berbeda. "Abang ganti parfum?" tanya Tiara saat menyadari sesuatu. Ia bahkan langsung melepas pelukannya.


Nath menggeleng. "Enggak Ti. Ini parfum yang biasa ku pake." Nath mencium sweater hoodienya. Aroma parfum biasa yang ia pakai. Dan selama menikah, Nath hanya memakai dua aroma parfum yang berbeda.

__ADS_1


"Kok beda?" Tiara mengendus pakaian suaminya. "Iya, beda banget ini, Bang!" Tiara menelisik wajah suaminya. "Abang beli parfum baru?"


"Ya Allah, Tiara!" Seru Nath. "Enggak sayang. Ini parfum biasa yang kalo beli sama kamu."


Nath terheran, selama diperjalanan tadi Tiara tidak protes sedikitpun soal parfumnya. Dan sekarang, istrinya itu mengatakan bahwa ia mengganti parfumnya.


Tiara masih diam. Nath menyentuh bahunya. "Are you okay, Ti?"


Tiara mengangguk pelan. "Bang, kita ke rumah mama, yuk." Ajaknya tiba-tiba.


"Ngapain? Kita juga belum lama disini, Ti."


"Ayolah, Bang! Aroma parfum kamu buat aku pengen makan kue nastar buatan mama."


"Haa!" Nath menatap istrinya tak percaya. Aroma maskulin dari parfumnya membuat Tiara ingin makan nastar? Kenapa aneh sekali? Apa hubungan parfumnya dengan kue nastar.


"Ayo, Bang!" Tiara sudah turun dari tempat tidur dan menarik tangan suaminya.


Sementara itu di teras rumah....


Zainal keluar ke teras sambil terus menciumi baju dan ketiaknya. Ia membuat istrinya yang sedang merawat bunga menoleh keheranan.


"Kamu kenapa, Mas?" tanya Nurul saat melihat suaminya yang terlihat aneh.


"Masa kata Tia aku bau, Nur?" Zainal duduk di kursi plastik di teras. "Padahal aku baru mandi dan keramas loh!"


"Aku gak tau, dia serius atau becanda! Tapi mukanya serius banget. Dia sampai tutup hidung segala."


Nurul ikut duduk disebelah suaminya. "Tia bilang begitu?" tanya Nurul menyakinkan.


"Iya, Nur. Aku sampe pengen mandi lagi rasanya. Tapi aku sadar, anak itu kan kadang suka jahil."


Nurul bisa mencium aroma shampo suaminya meski jaraknya hampir satu meter. Dan sudah dipastikan suaminya itu tidak bau.


"Aku kok curiga ya, Mas?"


"Curiga kenapa, Nur?"


Belum sempat menjawab, Tiara keluar ke teras sambil menarik tangan suaminya. "Kami pulang dulu, Ibu, Ayah." Pamit Tiara pada orang tuanya.


"Loh, kok cepet banget, Ti?" tanya Nurul pada putrinya.


"Gak apa-apa, Bu." Tiara dan Nath mencium punggung tangan keduanya.


Tiara dan Nath langsung memakai helm dan duduk di atas motor matic yang Nath beli setahun lalu. Motor sport miliknya dirasa kurang nyaman untuk Tiara yang lebih sering memakai gamis. Jadi, Nath memutuskan untuk membeli motor ini.


"Daaaa ayah. Daaaa Ibu." Tiara melambaikan tangan seperti anak kecil.


Sepanjang perjalanan, Tiara mengembangkan senyum. Bayangan selai nanas yang terasa lumer di mulutnya membuatnya semakin tidak sabar untuk segera sampai.


"Kalau di rumah mama gak ada nastarnya, gimana, Ti?" Tanya Nath sebagai antisipasi jika nanti kue nastar yang Tiara ingin tidak tersedia di rumah mamanya.


"Kalau gak ada, ya dibuat dong. Aku masih bisa nunggu kalau cuma satu dua jam, Bang."


"Kita beli aja, ya Ti." Nath mencoba memberikan saran, karena ia yakin istrinya ini akan merepotkan mamanya.

__ADS_1


"Ih! Kalau beli, buat apa jauh-jauh ke rumah mama, Bang! Aku pengennya buatan mama." Tiara adalah wanita yang keras kepala. Ia akan sulit dibujuk untuk berubah fikiran.


Tiara sudah membayangkan betapa enaknya kue buatan mertuanya itu. Kue kering yang sering dibuat dan biasanya selalu tersedia di toples di dapur rumah besar itu.


Tiara dan Nath sampai di rumah Lintang. Tiara langsung masuk dan mencari mama mertuanya.


"Ma...." panggil Tiara saat tidak menemukan mertuanya itu.


"Mama dimana?"


"Bik, lihat mama gak?" tanya Tiara pada asisten rumah tangga.


"Alhamdulillah.... kalian datang disaat yang tepat. Mama baru aja mau menghubungi kalian," ucap Lintang yang baru keluar dari kamar.


Anak dan menantunya langsung mencium punggung tangannya.


"Ada apa, Ma?" tanya Nath.


"Kalian tolong jaga Queen sama Zi, ya..."


"Tadi Rion menghubungi mama, Bi akan segera melahirkan dan dia akan membawa Queen ke rumah ini."


"Mama mau ikut ke rumah sakit, mungkin papa juga karena kasihan Rion kalau harus mengurus sendiri. Ya walaupun rumah sakit itu miliknya."


Nath mengangguk mengerti. "Zi kemana, Ma?" Tanya Nath karena ia tahu, Zoya dan Ezra sedang di Surabaya.


"Sama papa, ke minimarket depan." Lintang membawa Tiara dan Nath duduk di ruang keluarga.


"Kalian dari rumah atau dari mana dan kebetulan mampir?" tanya Lintang.


"Tadi dari rumah ayah, Ma. Tapi Tiara minta ke sini. Dia pengen makan kue nastar buatan mama, katanya." Nath menyandarkan tubuhnya di sofa.


"Ada gak, Ma?" tanya Tiara penasaran.


"Ada sih kayaknya. Mama simpan di dalam toples di lemari atas, tempat biasanya, Ti."


Tiara langsung bersemangat, ia berdiri dan segera berjalan menuju dapur. Ia bahkan terlihat sangat tidak sabar hingga berjalan terlalu cepat.


"Jangan lari, Ti." Nath khawatir jika Tiara terjatuh.


"Istri kamu kenapa, Nath? Semangat banget." Lintang menatap punggung Tiara yang dengan cepat menghilang di balik dinding dapur.


"Nath gak tahu, Ma. Tiba-tiba aja dia pengen makan nastar buatan mama."


"Mama tau, gara-gara apa?" Lintang menggeleng.


"Gara-gara wangi parfum Nath," ucapnya sedikit kesal.


Lintang diam sejenak, seketika ia memikirkan sesuatu. Apa mungkin?


Lintang tidak yakin, tapi ia curiga karena selama hampir empat tahun tinggal bersama Tiara, ia sudah puluhan kali membuat kue bersama dan Tiara tidak terlalu suka memakan kue buatan mereka.


Tiara akan makan sedikit saja, bahkan terkadang ia tidak memakannya sama sekali. Tiara lebih suka jenis keripik dari pada kue kering.


Dan Tiara lebih memilih biskuit yang bisa dicelupkan ke teh hangat dibanding kue kering yang tidak bisa ia makan dengan cara seperti itu.

__ADS_1


"Nath, jangan-jangan...."


"Assalamualaikum." Suara salam dari arah depan membuat ucapan Lintang terpotong.


__ADS_2