EL NATH ( Penyesalan Terindah)

EL NATH ( Penyesalan Terindah)
Bab 76 Apa aku salah?


__ADS_3

Nath berjalan mendekati ayah mertuanya yang sedang berjongkok menanam sesuatu.


"Assalamualaikum, yah." Ia ikut berjongkok dan hendak mencium punggung tangan pria paruhbaya itu.


"Tangan ayah kotor, Nath." Zainal melarang Nath menyalami tangannya. Pria itu terlihat sedang menanam beberapa batang sereh.


"Ini apa yah?" tanya Nath.


"Ini pohon sereh. Biasa dipakai buat tambahan bumbu masakan. Kadang buat minuman herbal juga bisa."


"Oh... iya... iya... Nath sering lihat sih di dapur mama."


"Tumben pagi-pagi udah kesini, Nath," tanya Zainal pada menantunya yang terlihat santai dengan jeans pendek dan hoodie berwarna navi, senada dengan jeansnya.


"Hehehe... pengen makan kelengkeng langsung dipetik dari pohonnya, Yah." Nath tertawa kecil. Ia sudah biasa berbincang dengan mertuanya hingga mengatakan keinginannya itu tak perlu ragu sedikitpun.


"Ada gak ya, Yah?" tanyanya pada mertuanya.


"Ada, cari aja Nath. Itu yang sebelah sana." Zainal menunjuk pohon yang agak tinggi dengan jaring yang terpasang dibeberapa batangnya.


"Nath ambil, Yah." Nath langsung menuju pohon yang Zainal tunjuk. Ia melihat kelengkeng yang kira-kira sudah bisa di petik karena terlihat dari jaringnya.


Nath memanjat sebuah bangku kayu. Ia sudah sangat hafal mana kelengkeng yang sudah matang dan mana yang belum. Dalam sekejap, ia sudah mendapatkan satu ikat besar buah kelengkeng.


Zainal segera mencuci tangannya dan ikut duduk di samping Nath. Ia ikut memakan buah yang sudah dilahap menantunya itu.


"Enak banget, yah. Subhanallah." Nath mengucapkan kalimat yang membuat Zainal menatapnya heran.


"Kayak baru pertama kali makan kelengkeng aja, Nath?" Nath ditertawakan oleh ayah mertuanya. Padahal sudah berkali kali makan kelengkeng dan langsung memetik dari pohon setiap kali berbuah


"Ayah gak tau sih, tiap hari Nath mual muntah terus yah," ucapnya semangat seolah memberi tahu pada mertuanya hal yang paling mengherankan.


"Gak bisa makan yang berat-berat kalau pagi," lanjut Nath. "Dan herannya, kalau siang udah baik-baik aja. Mau nasi sebakul pun, kalau perut Nath muat, pasti habis. Dan gak mual sama sekali."


"Jadi kamu belum makan nasi pagi ini?"


Nath menggeleng. "Belum yah, cuma biskuit sama teh doang." Nath membuang kulit kelengkeng ke keranjang sampah yang memang ada di halaman belakang.


"Itu pun gak bisa banyak-banyak."


"Makan dulu sana!" Perintah Zainal pada menantunya yang hampir menghabiskan semua kelengkeng yang ia petik sendiri.


"Ibu pasti udah siap masaknya, Nath."


"Sebentar lagi, Yah."


"Ayah tinggal Nath! Mau mandi." Zainal pergi setelah Nath mengangguk dan menjawab iya.

__ADS_1


Tak lama kemudian, Tiara datang membawa nampan dengan sebuah mangkok dan segelas air putih di atasnya. Ia mendekat dan duduk disebelah suaminya.


"Ya Allah, Bang. Itu semua sampah abang?" tanya Tiara heran saat melihat kulit buah yang hampir memenuhi keranjang sampah kecil itu .


"Heheheh, gak mau berhenti sayang!" Kilah Nath sambil nyengir kuda membuat Tiara memutar bola matanya.


"Sekarang makan dulu." Perintah Tiara. Ia sudah memegang mangkok berisi soto lengkap dengan toppingnya.


"Mau makan sendiri atau disuapin?" tanya Tiara basa-basi padahal ia sudah tahu pasti jawabannya.


"Suapin." Nath duduk menghadap istrinya itu.


Nah, kan. Tepat sesuai tebakan Tiara. Nath akan selalu meminta disuapin saat melihat Tiara tidak sedang sibuk.


"Gak pakai nasi, Ti?" tanya Nath yang tidak menemukan sepiring nasi.


"Pakai soun, bang!" Tiara menunjuk soun di dalam mangkok yang sudah terendam kuah soto dengan sendoknya. "Doa dulu."


Nath membaca doa dengan suara pelan. "Kayak bihun, Ti." Nath membuka mulutnya saat Tiara menyuapkan sesendok ke mulutnya.


"Udah, jangan banyak bicara. Makan dulu yang penting. Pagi-pagi udah makan buah. Kalau sakit perut yang repot siapa!" Omel Tiara pada suaminya.


Ia seperti seorang ibu yang merawat bayi besarnya yang malas makan dan banyak tanya.


Nath mencebikkan bibir. "Jangan kayak bocah, Bang! Gak usah mewek!" Tiara semakin jutek karena Nath pura- pura menangis seperti anak kecil.


"Ngurusin Zi sama Queen aja gak serepot ngurus kamu, Bang!"


"Tau ah!" Tiara menepis tangan Nath. Ia makin cemberut.


"Makin cantik kok kalo mukanya di tekuk gitu. Jadi pengen...." Nath mendekat dan berbisik. "Cium."


"Abang ih!" Tiara meletakkan sendok dan mencubit lengan atas Nath yang terasa keras.


Nath tertawa saat Tiara kesulitan mencubitnya. "Susah ya?"


Tiara berhenti mencubitnya dan kembali menyuapkan makanan ke mulutnya.


"Cubit yang lain aja, Ti. Aku mah pasrah kamu apa-apain." Nath belum menyerah untuk membuat istrinya tertawa.


Tiara menatap tajam suaminya. "Itu sih maunya kamu!"


Nath tertawa. "Emang iya!"


"Nih minum!" Tiara memberikan segelas air putih karena isi mangkok sudah habis tak bersisa.


"Makasih nyonya El Nath." Nath meneguknya sampai gelas itu kosong.

__ADS_1


"Nyonya kok merangkap jadi baby sitter!" gumam Tiara dan masih bisa Nath dengar.


"Kamu segalanya sayang!" Ucap Nath saat Tiara bersiap mengembalikan mangkok kotor ke dapur.


"Kamu baby sitter, kamu guling, kamu dokter, kamu guru, kamu manager, kamu asisten pribadi, kamu teman, kamu sahabat, kamu teman curhat, kamu teman berantem, kamu obat penenang, kamu canduku, kamu partnerku di ranjang, kamu segalanya, Ti," ucap Nath dengan satu tarikan nafas.


"Aku butuh kamu di setiap situasi, Ti." Tiara berbalik dan menatap suaminya.


"Kamu menganggapku ada, Bang?" tanya Tiara membuat Nath mengernyit.


Nath mengangguk pasti. "Jelas, Ti. Kamu segalanya."


"Kalau begitu, menurutlah. Kita ke dokter untuk memeriksakan kondisi kamu."


"Buat apa kamu bekerja setengah mati, Bang. Uang kamu banyak, aku juga bantu kamu cari uang, anak belum ada, dan biaya hidup masih bisa di hemat, tapi kamunya penyakitan."


"Manusia yang sehat aja, gak tau sampai kapan dia masih bisa hidup. Apa lagi yang sakit, Bang?"


Nath tercengang mendengar penuturan Tiara yang sepertinya berasal dari lubuk hatinya. Ia paham Tiara sangat mengkhawatirkannya. Dan itu tandanya Tiara sangat menyayanginya. Istrinya itu takut kehilangan dirinya.


"Aku harap kamu faham sampai disini."


"Jangan egois dan memikirkan diri kamu sendiri."


"Aku bingung, Bang! Karena aku gak merasakan apa yang kamu rasa."


"Kamu bilang baik-baik aja. Tapi aku lihatnya beda." Tiara meneteskan air mata. Entah mengapa ia merasa tidak dihargai sebagai istri. Padahal yang ia minta hanyalah hal sederhana, yaitu ke dokter.


"Apa aku salah, mengkhawatirkan abang?"


"Apa aku salah, ingin yang terbaik untuk abang?"


"Dulu aku pernah hancur karena kehilangan Reyga. Dan ku harap kamu mengerti perasaanku saat ini."


"Aku belum siap, jadi janda!" Tiara menyeka air matanya dan meninggalkan Nath ke dapur.


Nath terpaku. Ya Allah. Aku cuma mual pagi hari, Ti. Dan kamu mikirnya terlalu jauh. Aku gak akan mati cuma karena muntah-muntah.


Kenapa kamu berlebihan, Sayang.


****


😥 Gak tau kenapa belakangan ini up date nya berantakan. Padahal pengen kejar 60k kata guys.


Dan itu sekitar 40 bab lagi 😥


Huuh! 😥

__ADS_1


Emak harus semangat 💪💪💪


Jejak di tinggal ya guys 😊


__ADS_2