
Nair menatap kedatangan istrinya yang tengah duduk di kursi roda yang didorong oleh seorang suster.
Bibirnya sontak melengkung sempurna kala melihat sosok yang ia rindukan selama tidur singkatnya. Setelah ia sadar, ia langsung memikirkan Naira. Ia berusaha bangun, namun sulit karena rasa sakit di bagian kepala, kaki dan tangannya.
Tapi untung saja suster langsung memberi tahunya bahwa Naira juga sedang di rawat di rumah sakit ini karena kelelahan.
Ia sempat khawatir, tapi suster meyakinkan dirinya bahwa Naira baik-baik saja.
"Terima kasih suster..." ucap Naira saat ia sudah berada di samping brangkar suaminya.
"Maaf, Sus. Bisakah tinggalkan kami berdua sus?" Pinta Naira pada suster yang mendorong kursi rodanya tadi.
"Baik, bu."
"Kalau ada apa-apa, panggil suster yang lain yaaa."
Naira mengangguk. Suster tersebut keluar dari ruangan itu dan kembali menutup pintu.
"Assalamualaikum Sayang..." Sapa Nair pertaman kali.
Naira menyambut uluran tangan suaminya. Ia mencium punggung tangan kekar itu lalu menempelkan telapak tangan nan pucat itu tepat dipipinya.
"Waalaikumsalam, Mas."
"Apa kabar?" Naira tersenyum dan mengusap pipi suaminya.
"Baik setelah melihat kamu."
Naira tersenyum. Keduanya hanya saling memandang satu sama lain. Sentuhan lembut dipipinya membuat Nair benar-benar merasa nyaman.
Naira merasa tenang melihat suaminya tidak mengalami luka serius.
"Mas, mama sama papa akan segera kesini." Naira mengusap rambut Nair.
Nair membuka matanya dan mengangguk pelan. "Mereka pasti khawatir, sayang."
"Gak apa-apa mereka kesini. Aku gak tega lihat kamu capek-capek mengurusku disini."
"Kalau ada mama sama papa. Seenggaknya urusan rumah sakit ada yang handle."
"Jadi ngerepotin, Mas."
"Gak apa-apa sayang. Biar sekalian mereka liburan."
"Kamu capek banget, ya?" Nair mengusap pipinya. "Sampe pucat gitu. Pingsan lagi. Hehehe..." Nair tertawa pelan.
Naira tersenyum kecil. "Aku juga gak tau kenapa bisa sampe pingsan. Tapi yang pasti aku khawatir banget karena kamu gak keluar-keluar dari IGD."
"Rasanya aku ingin dobrak pintunya, Mas."
Nair tertawa pelan. "Sini..." Nair menepuk ranjangnya. Ia perlahan menggeser tubuhnya agak ke pinggir. Dengan menahan rasa sakit di kaki dan tangannya, Nair berhasil menggeser tubuhnya.
"Sini, Sayang."
"Aku tau, kamu masih lemas."
Naira tersenyum kecil. Ia perlahan naik ke atas brangkar suaminya. Lumayan luas ruang yanh tersisa. Ia membaringkan tubuh di samping Nair.
****
"Naira sudah share loc kan, Lin?" tanya Akhtar saat mereka baru saja tiba di bandara di Bali.
"Sudah, Mas."
"Kita langsung kesana."
Keduanya langsung mencari taxi untuk sampai ke rumah sakit dimana Nair dan Naira di rawat. Ini bukan kali pertama mereka ke Bali. Keduanya oernah datang ke kota ini untuk berlibur. Jadi, mereka tidak terlalu asing dengan kota yang menjadi tujuan wisataan mancanegara itu.
"Kamar pasien atas nama Al Nair Alvarendra, dimana ya Sus?" tanya Lintang pada petugas yang duduk di meja resepsionist.
__ADS_1
"Sebentar ya, Bu. Saya cek dulu." Lintang dan Akhtar dengan sabar menunggu.
"Pasien ada di kamar VIP nomor 35, Bu."
"Ada di lantai 2."
"Terima kasih suster."
Keduanya berjalan berdampingan dengan Akhtar yang membawa ransel berisi pakaian yang baru mereka beli saat masih di Jakarta sedangkan Lintang membawa beberapa kantung plastik berisi makanan yang baru mereka beli saat tiba di Bali.
"Ini, Mas." Lintang berhenti di ruangan yang mereka cari.
Akhtar membuka pintu ruangan itu. Keduanya bisa melihat Naira tangah menyuapi suaminya.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam, Ma, Pa."
Naira langsung berdiri dan mencium punggung tangan kedua mertuanya.
Akhtar langsung berdiri disamping putranya. Lintang juga melakukan hal yang sama setelah ia meletakkan makanan yang ia bawa keatas meja.
Naira berniat untuk berdiri dan memberikan kursi yang ia duduki kepada Lintang.
"Duduk saja, Nai."
"Lanjutkan saja. Suapi suami kamu."
"Bikin orang khawatir aja!" Nair meringis saat Akhtar meninju lengannya.
"Aduh, sakit, Pa."
"Mas!" Lintang yang khawatir langsung menjauhkan tubuh suaminya dari Nair.
"Biar gak diulangi lagi sayang." Akhtar membela diri.
"Bukannya sengaja."
***
Malam harinya....
Naira dan Nair sudah menceritakan detail kejadiannya hingga keduanya berakhir di rumah sakit.
Nair terlelap di atas brangkar. Naira yang belum sehat betul di minta untuk tidur di ranjang yang disediakan rumah sakit untuk pihak keluarga yang menjaga pasien.
"Iya, Ma. Nanti Naira tidur disana. Sama mama ya..."
Lintang mengangguk. "Biar papa tidur di sofa."
"Ma, Pa... Nai sudah bicara dengan dokter. Dokter mengatakan kalau kondisi Nair tidak terlalu buruk. Tapi kakinya mengalami cidera yang mungkin akan butuh waktu lama untuk sembuh."
Lintang dan Akhtar saling tatap. Mereka salut melihat Naira yang masih bisa tenang. Mungkin karena ia seorang dokter, jadi hal seperti ini sudah biasa ia hadapi.
"Naira sudah minta agar Nair segera keluar dari rumah sakit saat kondisinya mulai membaik."
"Karena akan lebih baik jika kita melanjutkan pengobatannya di Jakarta saja."
"Mama setuju, Nai..."
"Papa juga..."
****
"Welcome home, sweet couple!" teriakan meriah membuat Nair dan Naira terkejut bukan main. Saat keduanya baru saja membuka pintu utama kediaman Lintang dan Akhtar, teriakan luar biasa langsung menyambut keduanya.
Di depan mereka ada pasangan Ezra dan Zoya, Bintang dan Rion, serta Nath dan Tiara berserta bocil-bocil lucu yang ikut meramaikan ruang tamu rumah itu.
"Ya Allah..." Naira sampai mengusap dadanya. Ia yang mendorong kursi roda suaminya lantas tertawa senang.
__ADS_1
Keluarga kamu luar biasa, Mas.
"Ayo masuk... Malah terpesona di depan pintu." Ajakan Akhtar dari arah belakangnya membuat Naira seketika langsung mendorong kursi roda suaminya.
Bintang dan Nath tertawa mendengar ucapan Akhtar. Keduanya langsung memeluk Nair yang sedari tadi hanya bisa tersenyum kecil. Hatinya tergelitik. Bagaimana bisa saudara-saudaranya menyambut kedatangannya dengan cara seperti ini. Lebih terlihat seperti surprise ulang tahun.
"Bulan madu bukannya fresh, malah bonyok!" Nath tak tahan melihat saudaranya itu pulang dengan luka di kening dan area pipi.
"Duduk sini!" Bintang menepuk sofa disebelahnya. "Kita mau introgasi!"
Nair mengerutkan kening. "Aku salah apa, kak?"
"Banyak!" Nair tersentak saat Zoya menjawab dengan cepat.
"Wih, kompak nih!" keluhnya. Ia dibantu Nath dan Rion duduk di sofa bersama Naira juga.
"Mereka capek, Bi." tegur Lintang yang ikut duduk di sofa itu.
"Istirahat sebentar. Tawari minum, kek." Akhtar tak mau kalah.
"Bibi udah stand by, bentar lagi bawa minum ke depan, Pa." jawab Nath.
Akhtar sampai mengerutkan kening. Heran karena ketiga anaknya begitu kompak.
Mau bikin ulah apa lagi nih Trio? batinnya.
"Nair, jawab satu pertanyaan dari kami!" perintah Nath.
"Satu aja, nih? Satu orang satu atau kalian semua cuma kasih satu?" Nair memastikan.
"Hanya 1. Mewakili semuanya."
Naira masih bingung dengan kelakuan ipar-iparnya. Suaminya sedang sakit malah seperti tengah diintrogaai begini.
"Oke. Apa itu?" tanya Nair.
"Kakak iparku kelelahan dan pingsan, kamu gass berapa ronde?"
[Gubraaak! Hahahah]
Akhtar menepuk bahu sofa lumayan keras. Ia kesal karena ketiga anaknya malah menanyakan hal yang tidak penting. Bukannya bertanya kabar dan kondisi kedunya, mereka malah melontarkan satu pertanyaan yang membuat kepalanya nyaris meledak.
Nair menghela nafas berat. Ia kesal mendengar pertanyaan tidak penting itu.
Naira juga tak menyangka, pertanyaan yang sangat jauh dari ekspektasinya keluar dari mulut saudara kembar suaminya.
"Nair, masuk kamar!" perintah Akhtar tegas. "Naira, bantu suami kamu ke kamar. Kalian butuh istirahat."
"Dan kalian!" Akhtar menunjuk tiga pasang anak menantunya yang menunjukkan wajah ketakukan. Mereka mengira Akhtar tidak akan menunjukkan respon semengerikan ini.
"Cari pertanyaan yang lebih bermutu."
"Gak bisa apa bersimpati sedikit!"
"Ayo, Sayang. Kita masuk!"
Naira sudah membantu suaminya menaiki anak tangga. Nath juga segera berlari membantu kembarannya yang masih kesulitan berjalan itu.
"Maaf ya kakak ipar. Gak nyangka kalau papa bakalan semarah itu."
"Lagian kalian! Kita tuh semua capek. Malah dibecandain," jawan Nair.
"Sorry."
"Maaf, Pa." Mereka kompak meminta maaf pada Akhtar.
Akhtar dan Lintang terus berjalan menuju kamar mereka. "Hem... lain kali jangan diulang lagi," jawab Akhtar tanpa berbalik.
Mereka semua hanya bisa diam. Untung saja anak-anak sedang bersama baby sitter mereka. Jadi, tidak ada yang tahu saat Opa mereka marah.
__ADS_1