EL NATH ( Penyesalan Terindah)

EL NATH ( Penyesalan Terindah)
Bab 30 Awas tertukar


__ADS_3

Setelahnya, ayah Tiara menyampaikan ucapan terima kasih atas kehadiran keluarga Akhtar dan lamaran yang ditujukan pada putrinya.


Tanggal pernikahan ditetapkan. Satu bulan dari sekarang. Akad nikah sederhana akan digelar di rumah ini, sesuai permintaan ayah Tiara.


Tidak ada resepsi. Tapi Akhtar akan tetap memakai jasa W.O sahabatnya, Nathali. Dan dengan kesepakatan bersama, seluruh keluarga akan fitting baju di Auzora Boutique milik Rara-istri Langit


Selanjutnya mereka saling berbincang, mengakrabkan diri. Keluarga Nath bahkan tak segan saling berbagi cerita dengan tetangga Tiara dan ada juga yang menikmati makanan yang disajikan dia atas meja.


Tiara duduk bersama Bintang dan Lintang. "Cantik banget kamu, Ra." Ini kali kedua Lintang memuji Tiara. Ia tak bosan memandang wajah menantunya yang terlihat anggun dalam balutan hijab.


"Terima kasih, Tante."


"Mama, Ra. Mulai sekarang panggil mama, Ya."


Tiara menatap wajah teduh calon mama mertuanya. Ia mengangguk. "Terima kasih sudah menerima Tiara, Ma."


"Sama-sama, Ra. Maafkan Nath, ya." Mata wanita berusia 48 tahun itu mulai berkaca.


"Bukan mutlak kesalahan Nath, Ma."


Bintang mengusap bahu Tiara. "Anggap saja kalian memang berjodoh, hanya saja caranya salah."


"Seperti yang kakak bilang kemarin, perjalanan kalian masih panjang. Ulang semua dari awal, Ra. Buang rasa marah dan benci."


"Semoga rumah tangga kalian bahagia sampai maut memisahkan."


"Amin, Kak."


"Kak, Ma, ayo makan. Mau Tia ambilin?"


Bintang menggeleng. "Gak perlu, Ra. Kakak baru makan tadi di rumah mama."


"Temui Nath, Ra." Lintang menunjuk Nath dengan matanya.


Tiara melihat arah pandang Lintang dan dia bisa melihat Nath sedang mengambil piring.


"Dia lapar tuh, Ma," bisik Bintang mengulum senyum. Tiara bisa mendengarnya dengan baik.


"Dia cuma makan sedikit, tadi Ra."


"Dan dia gak tau loh kalau kita mau ngelamar kamu malam ini."


Tiara menatap Bi tak percaya. "Temui dia, Ra." Tiara berdiri dan langsung berjalan kearah Nath.


Sementara itu, Nath melihat begitu banyak hidangan yang tersaji. Ia bingung ingin mengambil yang mana.


Di tengah kebingungannya, sebuah tangan putih kecil terulur di dekatnya. Dan aroma parfum yang ia kenali terasa menusuk hidung. Itu artinya sang pemilik sangat dekat dengannya.


Nath melihat kesamping dan menemukan Tiara tersenyum tipis kepadanya. "Mau makan apa? Biar Tia ambilin."


Nath masih mematung. "Jangan menatapku lebih dari 5 detik," gumam Tiara.


Nath terkesiap saat ia merasa pernah mendengar kata-kata itu. Salah, bukan mendengar, tapi dia sendiri yang mengucapkan.


"Entar jatuh cinta?" tanya Nath mengulum senyum.

__ADS_1


Tiara tak menanggapinya. Gadis itu malah mengambil piring ditangan Nath.


Dengan telaten, ia mengisi piring kosong itu dengan nasi. "Segini cukup?"


Nath mengangguk.


"Sayurnya?"


Nath menunjuk salah satu menu di mangkuk besar. Itu adalah soto ayam.


"Pengang sebentar." Tiara memberikan piring yang ia pegang pada Nath.


Tiara mengambil mangkuk kecil dan mengisinya dengan soto ayam yang Nath ingin.


"Sambalnya, Ra."


"Langsung masukin ke kuahnya, ya."


Nath mengangguk. "Udah, Ra. Ini aja."


"Rendang?"


"Ini aja." Nath berjalan meninggalkan Tiara dan duduk di karpet.


Tiara ikut duduk setelah menyambar air mineral kemasan cup untuk Nath.


"Kamu gak makan?"


Tiara menggeleng. "Kenyang." Ia sudah makan sore tadi karena dia harus bersiap lebih cepat. Takut keluarga Nath datang dan dia belum selesai berdandan.


"Aku suapin?" tawar Nath.


"Punya malu ternyata," gumam Nath pelan.


"Ck!" Tiara berdecak pelan.


"Laper banget?" tanya Tiara saat melihat Nath makan dengan lahap tapi tidak terburu-buru.


"Cuma laper doang. Gak pake banget. Cuma selera makan udah balik lagi."


"Kenapa? Pusing banget mikirin kedepannya?"


"Lumayan."


Tiara berdiri dan mengambil beberapa lembar tissu dan memberikannya pada Nath. "Terima kasih."


"Sama-sama."


"Bang ...." Naura tiba-tiba duduk disebelah Nath.


Nath menatapnya dan tersenyum. "Ya."


"Ra, abangnya masih makan. Jangan diganggu."


"Sebentar aja, kak."

__ADS_1


Naura menunjukkan sesuatu di ponsel milik Tiara yang sering ia mainkan. Lalu berbisik pada Nath. "Bang, boleh gak crayonnya diganti sama ini."


Naura menjauhkan bibirnya dari telinga Nath lalu menatap wajah calon abang iparnya itu. "Sip." Nath mengacungkan jempolnya.


"Hari minggu nanti kita beli. Oke."


"Terima kasih, Abang." Naura spontan memeluk leher Nath. Gerakan Naura yang mendadak membuat Nath sedikit goyah. Tapi Nath masih bisa bertahan dengan posisi duduknya.


"Naura!" Tiara berusaha menarik tangan Naura saat melihat Nath yang terkejut atas gerakan adiknya yang tiba-tiba.


Naura selalu melakukan itu pada Ezra. Terlebih saat Ezra baru memberinya sesuatu yang ia inginkan.


Naura segera melepaskan pelukannya. "Kakak pelit." Naura memanyunkan bibirnya kearah Tiara.


"Kalau kak Zoya gak pelit. Kak Zoya gak marah tuh kalau aku peluk bang Ezra."


"Wleee. Pelit." Naura segera berlari setelah mengejek kakaknya dengan menjulurkan lidah.


Nath tertawa pelan lalu kembali melanjutkan makannya. Tiara menatap Nath tanpa berkedip karena pria itu selalu tersenyum bahkan saat mengunyah makanan.


"Jangan menatapku lebih dari 5 detik," ucap Nath setelah membersihkan bibirnya dengan tissu.


Nath berdiri dan membawa piring kotor ke belakang. Ternyata di dapur ada beberapa orang ibu-ibu yang sepertinya merupakan tetangga Tiara.


Tiara menyusul Nath kebelakang.


"Bawa sini, piring kotornya, Mas." pinta seorang wanita seusia mamanya yang sedang mencuci piring di washtafel.


"Ini calonnya Tia, ya?" Tanya seorang ibu-ibu yang tengah menyusun gelas dan piring bersih di lemari piring.


"I-ya, Bu."


"MasyaAllah, Ti. Lebih ganteng dari yang dulu," ucap ibu-ibu yang lain.


Yang dulu? Tiara punya mantan?


"Alhamdulillah, dapet pengganti yang sepadan ya, Ti. Tapi gantengan yang ini, kok."


Reyga? Nath menatap Tiara seolah meminta penjelasan.


"Kembarannya juga ganteng loh. Awas ketukar, salah masuk kamar, Ti."


Gelak tawa ibu-ibu membuat pipi Tiara bersemu merah. Ia langsung menarik tangan Nath untuk keluar dari dapur.


"Jangan didengeri. Ibu-ibu biasa seperti itu."


Nath menahan tangan Tiara. "Kamu bisa bedakan antara aku dan Nair kan, Ti?"


Tiara menautkan alisnya. Jelas dia bisa. Entahlah, aura Nath dan Nair saja jelas berbeda. Belum lagi tingkah dan cara bicara mereka.


"Kenapa? Takut aku salah kamar?" Tiara berjalan mendahului Nath sebelum Nath menjawab.


Nath menggaruk pelipisnya. "Amit-amit. Jangan sampe deh."


Sementara tak jauh dari rumah Tiara ada seorang pria yang mengepalkan tangannya. Ia geram, ia marah karena Tiara sudah bertunangan dengan pria lain.

__ADS_1


Reyfan berniat datang untuk kembali membujuk Tiara, dia belum menyerah. Tapi nyatanya dia sudah kalah.


"Tapi seorang Reyfan tidak pernah kalah." Ia tersenyum licik dan pergi meninggalkan tempat itu.


__ADS_2