
Nath sedang duduk dibangku kayu di halaman belakang rumah Tiara yang cenderung sempit. Namun, ada dua pohon kelengkeng yang di tanam di sebuah pot batu dan beberapa tanaman bumbu dapur di setiap sudut pagar rumahnya seperti kunyit, jahe dan serai.
Tiara datang dengan dua cangkir teh dan kue yang masih tersisa yang di sajikan untuk tamu. Keluarga Nath dan semua tamu sudah pulang sejam lalu setelah sholat Zuhur. Dan sekarang tim W.O sedang membuka dekorasi di dalam rumah. Terlalu cepat memang, tapi karena tidak ada lagi tamu yang akan datang, orang tua Tiara meminta untuk segera dibereskan.
"Minum, Bang." Tiara duduk di bangku panjang itu dan meletakkan nampan di tengah-tengah mereka.
Nath hanya mengangguk pelan.
Keduanya sudah berganti pakaian. Nath saat ini tengah memakai jeans selutut dan kaos putih. Ia meminta izin mengganti pakaiannya di kamar Tiara tadi. Kamar yang sempit tapi rapi dan bersih.
Tiara memakai celana cargo panjang dan baju lengan panjang tanpa hijab. Ia belum membiasakan diri untuk berhijab dalam keseharian.
Hening...
Keduanya tidak mengatakan apapun. Nath malah memilih melihat ke atas pohon kelengkeng yang tingginya hanya dua meter itu, namun terdapat jaring kecil yang membungkus buahnya.
"Itu untuk apa, Ti?" Nath menunjuk keatas pohon kelengkeng. Ia penasaran untuk apa jaring di atasnya dipasang.
"Itu kelengkeng. Supaya gak dimakan kelelawar ya harus dibungkus seperti itu." jawab Tiara.
"Oh." Nath membulatkan mulutnya.
"Mau coba makan kelengkeng from the pohon?" tanya Tiara sambil tertawa pelan.
"Hahaha... apaan from the pohon."
"Ya kan biar sedikit lebih keren, Bang." Tiara berdiri dan meraih jaring berwarna ungu bekas karung bawang itu.
Ia mulai memilih buah yang sudah siap dimakan. Tiara berpindah ke jaring yang lebih tinggi. Ia melompat-lompat untuk meraihnya.
Nath tertawa pelan. "Olahraga dulu, biar tinggi, Ti." Nath berdiri disamping Tiara dan meraih jaring berwarna ungu itu. Membuat dahannya melengkung hingga ke bawah.
"Yang udah matang gimana Ti?" tanya Nath.
"Pegang aja buahnya bang. Kalau agak empuk biasanya bisa dipetik."
Tiara juga berusaha meraih jaring yang sudah lebih rendah posisinya karena Nath terus memegangnya.
Ia memegang dan memencet buah dengan jempol danjumlahnya lumayan banyak.
"Yang masih kecil dan agak hijau itu jangan di petik, Bang."
Tiara menerima satu tangkai yang sudah Nath petik. "Bungkus lagi, Bang."
Tiara duduk di bangku dan Nath segera menyusulnya saat sudah kembali membungkus buah yang tersisa dengan jaringnya.
__ADS_1
Tiara mulai memakan buah kelengkeng yang Nath petik. "Ih, curang! Siapa yang ambil, siapa yang makan?" Nath mendaratkan bok*ngnya di bangku yang sama. Tiara hanya tertawa sambil memakan kelengkeng keduanya.
Nath mengupas kulit kelengkeng dan memasukkan ke mulutnya. Memakan dengan pelan dan membuang bijinya. "Manis."
"Makasih," sahut Tiara tanpa menoleh kearah Nath.
Nath langsung menatap Tiara dan ia mulai faham sesuatu. "Bukan kamu, Ti. Tapi ini!" Nath menunjukkan sebutir kelengkeng ditangannya.
Tiara tertawa. "Anggap aja sama."
Nath mencibir dengan memajukan bibirnya. Lalu kembali menikmati buah yang langsung dipetik dari pohonnya.
"Siapa yang menanam, Ti."
"Ayah."
"Wah, marah gak nih kita makanin begini?"
Tiara mengangkat bahu. "Tinggal bilang aja sama ayah, kalau abang yang petik."
"Nah kan, curang lagi!" Nath melebarkan matanya karena Tiara tidak mau ikut bertanggung jawab atas perbuatan mereka.
"Bukan curang, kan memang kenyataannya begitu," jawab Tiara acuh.
"Kak!" Naura berjalan kearah keduanya. "Curang nih, gak ajak-ajak Naura."
"Kamu main terus, sih," jawab Tiara.
Naura tak menanggapi kakaknya. Ia asik memasukkan buah ke mulutnya.
"Kak, kata ibu, kakak mau pindah rumah lagi ya?"
Tiara mengerutkan keningnya. "Pindah kemana Ra?"
"Ke rumah abang." Naura menunjuk Nath yang masih terus mengunyah.
"Iya .... Makanya kamu jangan nakal, rajin bantu ibu. Jangan kebanyakan main, belajar yang rajin dan jangan kebanyakan jajan."
Naura mengangguk pelan. "Kita gak pernah ke temu lagi dong, Kak?" tanyanya pelan.
Tiara tersenyum. "Bisa, Ra. Bisa. Kakak akan sering main kesini. Nginep disini juga gak apa-apa sekali-sekali." Tiara menarik adiknya untuk duduk dalam pangkuannya.
Semua itu tak luput dari pandangan Nath. Hatinya tergetar karena lagi-lagi anggota keluarga ini belum rela berpisah dari Tiara. Padahal dulu juga mereka jarang bertemu saat Tiara tinggal di rumah Zoya. Mungkin saat ini status Tiara yang sudah menikah membuat situasi ini jelas berbeda.
"Boleh, Bang?" Naura bertanya pada Nath.
__ADS_1
Nath tersenyum lalu mengangguk. "Boleh dong!" Senyum Naura mengembang lebar.
Malam harinya ....
"Assalamualaikum." Nath dan ayah masuk ke dalam rumah setelah pulang dari masjid untuk sholat Isya.
Nath langsung masuk ke kamar untuk menyipan sarung dan pecinya. Tiara tengah menyusun pakaiannya di lemari. Ia juga sudah memindahkan seserahan yang keluarga Nath bawa ke dalam lemari.
Untung saja setengah pakaiannya yang ada di rumah Zoya kini sudah ada di rumah Nath, sehingga lemarinya tidak penuh dan masih ada ruang untuk menyimpan barang-barang pemberian Nath dan keluarga.
Beberapa kado yang belum dibuka juga Tiara simpan dibawah baju-baju yang digantung. Tidak ada kado dengan ukuran yang besar, hanya berukuran kecil dan ada juga yang hanya seperti amplop namun agak tebal.
Nath duduk dipinggir ranjang Tiara yang ukurannya tidak terlalu luas dan langsung membaringkan tubuhnya. Kakinya ia biarkan menjuntai ke bawah. Ia bingung akan tidur dimana malam ini.
Tiara membongkar pakaian Nath dari koper dan memindahkan di lemarinya. "Kapan kita pindah ke rumah mama, Bang?"
Nath langsung membalikkan tubuhnya mengambil posisi tengkurap supaya bisa melihat Tiara. "Terserah sih. Tapi kalau bisa jangan lebih dari 3 hari. Soalnya buku dan semua tugas kampus ada di rumah."
"Tapi kamu bawa pakaian kayak mau nginep sebulan."
"Ck! Kerjaan mama itu sih." Nath memeluk boneka karakter doraemon dan menjadikan bantal untuk pipinya.
Setelah selesai Tiara duduk di pinggir ranjang dan melihat Nath sudah terlelap. Untung saja setelah sholat magrib mereka sudah makan malam hingga ia tak perlu membangunkan Nath lagi.
"Lah, pantes aja diem. Rupanya tidur."
Tiara melihat jam dinding menunjukan angka 8.15 malam. Masih terlalu cepat untuk tidur. Akhirnya Tiara keluar dari kamar.
"Nath kemana, Ti?"
"Tidur yah, capek banget kayaknya."
"Mungkin kemarin malam dia gak bisa tidur, Ti."
"Mungkin yah."
Tiara memilih masuk ke kamar Naura, adiknya. Ia melihat Naura mewarnai dengan crayon yang Nath belikan.
"Gambar terus, Ra."
"Iya kak. Lagi pengen."
Tiara duduk di ranjang Naura dan matanya malah terasa berat. Ia membaringkan tubuhnya dan perlahan tapi pasti ia tertidur pulas.
***
__ADS_1
Pengantin baru pisah kamar 😂😂😂😂
Tolong bangunin Nath untuk bawa balik si Tiara guys 😅