
Sore itu Nair segera meninggalkan taman setelah memastikan Naira di jemput oleh tukang ojek langganannya. Tukang ohek wanita yang merupakan salah satu tetangga dan ibu-ibu yang aktif di pengajian.
Nair masuk ke kamar. Ia segera mandi untuk menyegarkan tubuh dan fikirannya. Nair berdiri dibawah air yang memancar dari shower yang menempel di dinding kamar mandi.
Nair berdiri mematung. Setiap kata-kata Naira tadi membekas di ingatannya. Seorang gadis yang menaruh harapan besar padanya. Gadis yang dulu ia kejar dan kini tengah menunggu dirinya berjuang.
Sebulan lalu, ia sudah berencana untuk segera melakukan proses ta'aruf dengan Naira. Ia bahkan sudah mengatakan hal itu pada papanya. Dan Akhtar juga sempat memberi tahu kembarannya, Nath. Kata selamat yang Nath ucapkan melalui pesan suara bahkan belum ia hapus.
Niatnya akan melakukan proses ta'aruf mumpung orang tua Naira sedang ada di Jakarta pupus dalam sekejap karena tiba-tiba Abi Rahardi harus pulang ke kampung.
Ditambah kalimat Abi Rahardi yang tengah berbincang dengan Pakde Rahman di masjid kala itu membuat Nair yang tak sengaja mendengar jadi mengurungkan niatnya.
"Aku belum menemukan pria yang tepat untuk Naira, Mas."
"Dari semua yang pernah melamar, aku belum ada yang sreg."
"Apa karena aku belum rela melepasnya dengan lelaki lain, ya..."
"Hahahah.... Mau sampai kapan kamu peluk terus putrimu yang sudah dewasa itu, Di?" Pakde Rahman tertawa mendengar ucapan Rahardi yang tengah gelisah.
Dari sana Nair bisa menyimpulkan dirinya belum masuk dalam kriteria calon mantu Abi Rahardi. Terlebih saat kalimat dari semua yang ngelamar, aku belum ada yang sreg. Bukankah Nair termasuk didalamnya.
Dan saat ini Abinya Naira sepertinya sudah menemukan yang pas. Seorang putra pemilik pondok pesantren.
Nair segera menyelesaikan mandinya. Tubuhnya sudah mulai menggigil karena sudah entah berapa liter air yang mengalir dari kepala dan terus turun menelusuri tubuhnya.
Nair yang telah berganti pakaian langsung merebahkan diri di ranjang. "Kalau ada Nath disini, pasti rame. Aku bakalan di ejek sampai bibirnya dower nyentuh lantai," gumam Nair sekilas mengingat dan merindukan kembarannya yang telah menikah sejak empat tahun lalu itu.
"CV ta'aruf." Nair memejamkan mata dan menutup dengan lengannya. "Apakah harus?"
"Seminggu." Nair menghitung jadwalnya libur.
"Ah! Keburu aku ditikung!" Nair mengusak rambutnya karena kepalanya terasa hampir meledak.
__ADS_1
Nair duduk di meja belajarnya. Ia mulai mengetik di laptop. Mulai membuat CV lamaran. Ia mengisi data dirinya, riwayat pendidikannya, prestasinya, profil dirinya dan keluarga, kegiatan harian serta visi misi pernikahan.
Nair membaca berulang kali apa yang ia ketik. Ia tak ingin ada kekurangan sedikitpun.
Ia pun mencantumkan penghasilannya dari 20 unit kosan yang sudaj di berikan padanya sejak ia berencana mengirim CV ta'aruf bulan lalu. Akhtar hanya ingin bersikap adil pada kedua putranya. Nath bahkan sudah menerimanya sejak empat tahun lalu.
Hampir tiba waktu sholat magrib, Nair sudah selesai mengetik dan memeriksanya berulang kali. Dan data itu siap ia kirim ke Abinya Naira.
"Astaghfirullah, emailnya aja aku gak tau," gumam Nair saat ia menyadari tidak memiliki alamat email Abinya Naira.
Nair akhirnya mengirim pesan pada Naira untuk menanyakan alamat email Abinya.
***
Naira baru selesai membaca Al-Qur'an. Berusaha menenangkan hati dan fikirannya dari himpitan beban yang terasa berat baginya.
Mungkin semua tidak akan sesulit ini jika Nair dan dirinya belum saling mengakui perasaan masing-masing.
Naira duduk di tepi ranjangnya. Ia merasa ada rasa sesal di hatinya, karena mencintai makhluk Allah begitu dalam. Dan saat Allah menghadapkannya pada situasi seperti ini, ia sendiri yang merasakan sakitnya.
Nair, sosok pria yang benar-benar selalu menguji imannya. Ia terkadang sulit mengendalikan diri untuk tidak menatap dalam wajah pria itu.
Naira selalu mengatasinya dengan menunduk dan menunduk. Naira diam-diam mengagumi Nair saat pria itu tengah membaca ayat suci dan Pakde Rahman yang menyimaknya. Naira juga selalu merasa bangga saat Nair mengumandangkan Azan di masjid.
Naira, sejauh ini hanya mencintai dalam diam. Mengutamakan cita-cita jauh di atas rasa. Memendam rasa demi kebahagiaan Abi dan Uminya.
Tapi apa daya, dia wanita biasa yang memiliki sisi egois.Ia ternyata sangat menginginkan Nair sebagai pendampingnya. Satu-satunya pria asing yang membuatnya nyaman sekaligus berdebar.
Bertahun berjalan dengan Nair dengan status teman adalah pilihan paling tepat baginya selama ini. Meski ia tahu Nair memiliki perasaan padanya dan pernah memintanya pada Abi bertahun-tahun lalu, ia tetap tidak ingin mengubah status itu.
Baginya, pacaran hanya status yang mendekatkan mereka pada perbuatan zina. Karena itu juga ia berusaha menyembunyikan perasaannya pada Nair.
Mencoba tidak menunjukkan sikap yang berlebihan pada pria itu, tujuannya hanya satu, ia tak ingin Nair semakin mendekat memaksanya menikah dalam waktu dekat.
__ADS_1
Bertahun, Naira berada dalam dilema, antara cita dan cinta. Antara menghindari dosa atau membanggakan orang tua.
Naira menghela nafas berat. Ia meraih ponsel yang sudah ia abaikan sejak magrib tadi.
Naira tersenyum kecil saat sebuah notifikasi pesan masuk dari Nair.
Assalamualaikum, Nai.
Bisa kamu kirimkan email Abi sekarang?
Naira terkejut bukan main, baru sore tadi ia dan Nair bertemu dan memintanya mengirimkan CV ta'aruf. Dan malam ini Nair sudah meminta alamat email Abinya.
Naira melihat itu dikirim sebelum magrib tadi. Dan ini sudah jam 9 malam. Naira segera mengirim alamat email Abinya pada Nair.
Naira memeluk ponselnya di dada. Hatinya berdebar tak karuan. Ia akan segera masuk ke tahapan baru dalam hidupnya yaitu memperjuangkan cintanya bersama Nair.
Ya Allah, mudahkanlah jalan kami. Dan bukakanlah pintu hati Abi dan Umi untuk meridhoi hubungan kami. Bukankah Engkau maha membolak balikkan hati manusia?
Jika diakhir nanti, aku dan Nair tidak berhasil. Semoga aku bisa menerima pria yang Abi pilihkan untukku.
***
Jam 9 malam, Nair membuka pesan balasan yang Naira kirim. Terlalu banyak berfikir dan menimbang setiap keputusan yang akan ia ambil, membuat Nair tiba-tiba ragu untuk mengirimkan CV ta'aruf itu.
"Huuh!" Nair menghembuskan nafas berat. Ia yang sedang tiduran diatas ranjang dengan fikiran melayang entah kemana.
"Ya Allah, haruskah aku mengirim ini pada Abi?"
"Apakah tidak lebih baik kalau aku langsung menghadap pada Abi?"
"Tapi aku tidak tahu kapan aku bisa menemui Abi. Dan jika tiba-tiba Abi mengatakan pada Naira dan email ini belum ku kirim, apakah kesempatan untukku masih ada?"
"Ya Allah," gumam Nair.
__ADS_1