
"Good morning, sayang," sapa Nath pada istrinya. Kecupan singkat mendarat di kening Tiara dan ia balas mencium kening suaminya.
"Morning juga abang gantengku."
"Suami terbaik?"
"Tentu. Suami terbaik, terhebat, tercinta dan tersayang." Tiara mengalungkan tangannya ke leher Nath yang mengukungnya. Keduanya saling tatap dan tersenyum. Aktivitas yang selalu mereka lakukan selama empat tahun terakhir.
Nath mencium tulang selangka istrinya. Berpindah ke bahunya dan perlahan menurunkan tali seukuran spaghetti lingerie berwarna hitam itu.
Tiara tau apa yang Nath ingin. Seolah tak ada kata puas untuk melakukannya. Cara menyampaikan cinta selama empat tahun yang mereka lakukan tanpa mengaman, tanpa ragu, tanpa beban dan tanpa rasa keberatan satu sama lain.
Empat tahun berlalu semenjak kejadian penculikan yang membuat Tiara mengalami trauma. Membuat Tiara tidak ingin ditinggal sendirian. Bahkan ia selalu ingin didekap saat tidur.
Dua bulan lalu, rumah ini menjadi hadiah terindah yang Tiara terima dari suaminya atas lulusnya ia dengan nilai yang memuaskan.
Nath, sejak dua tahun ia bekerja di perusahaan konstruksi dimana Akhtar dan Langit bekerja dulu sebagai arsitek.
Rumah impian ini ia rancang untuk istri tercintanya. Istri yang ia nikahi karena tragedi.
Tidak ada yang berubah dari mereka. Masih berdua tanpa buah hati karena memang seperti ini rencana yang mereka rangkai.
Sukses dan lulus kuliah lebih dulu, barulah berencana memiliki anak. Bukan menolak pemberian Tuhan, tapi mereka hanya tidak ingin lahir bayi lucu disaat mereka belum siap lahir batin.
"Sekali lagi," bisik Nath pada istrinya. Meminta sesuatu yang menyenangkan. Sesuatu yang membuat hubungan keduanya semakin hangat.
Tiara mengangguk. "Jangan lama-lama, Bang. Udah hampir subuh."
Nath mencium bibir istrinya singkat, lalu bangun untuk melucut* semua yang menempel pada tubuh keduanya. Nath tersenyum menatap tubuh polos yang sudah ia hafal tiap lekuknya itu.
"Sayang, buatku terbakar," bisik Nath mendudukkan istrinya dalam pangkuannya. Memberikan syarat untuk Tiara memimpin permainan.
Tiara tersenyum dan memeluk leher suaminya. "Dengan senang hati." Ia mengerling membuat Nath semakin gemas.
Nath bersyukur karena istrinya itu selalu menuruti keinginannya dalam hal seperti ini. Membuat hubungan mereka kian harmonis.
Tiara memimpin permainan, mengendalikan Nath yang pasrah atas pelayanan yang ia berikan.
"Ti..." Nath memeluk erat tubuh istrinya saat keduanya meledak bersama-sama.
"Please, jangan lakukan ini pada orang lain," bisik Nath pada istrinya. Ia tak bisa menahan euforia saat hasr*tnya terpuaskan.
"Just do it with me. You're mine. Kamu milikku." Nath lagi-lagi merancau sambil menghujani leher istrinya dengan kecupan.
Keduanya ambruk dengan Tiara diatasnya. "Hanya denganmu, Bang." balas Tiara setelah berhasil mengatur nafasnya.
Nath mengusap lengan Tiara. Dimana ada KB implan terpasang disana selama 4 tahun ini. "Siang ini kita ke rumah sakit, ya. Kita buka ini dan segera melakukan program kehamilan."
Tiara mengangguk di dada Nath. "Terima kasih telah sabar menunggu."
__ADS_1
"Terima kasih terus setia melayani."
Tiara duduk dan memukul dada Nath. Ia cemberut. "Makasihnya pasti karena hal itu. Yang romantis sedikit dong, Bang."
Nath terkekeh. "Loh, aku jujur nih. Kamu oke banget soal ini." Nath mengerling membuat Tiara semakin kesal karena Nath selalu merusak suasana romantis mereka.
"Tau ah!" Tiara turun dari tubuh Nath.
"Aku pintar, jago masak, jago beresin rumah, jago pilihin style yang bisa buat kamu makin ganteng. Yang diinget malah cuma urusan ranjang aja!" Tiara segera masuk ke kamar mandi.
Nath menggeleng pelan. "Kamu terbaik dalam segala hal, sayang, " gumam Nath. Ia langsung bangun dan menyusul Tiara ke kamar mandi.
Sekitar jam 10 pagi keduanya pergi ke rumah sakit untuk membuka KB implan di lengan Tiara. Memeriksa kondisi rahim, apakah siap untuk hamil atau belum.
Nath tersenyum senang mendengar hasil pemeriksaan yang ternyata semua baik-baik saja. Tiara bahkan boleh langsung hamil bulan depan.
Sepulang dari rumah sakit, Nath dan Tiara memutuskan untuk mampir ke rumah mama dan papanya.
Sepanjang perjalanan, Nath tak memudarkan senyum di bibirnya. Ia bahagia, sebentar lagi, bayangan menimang bayi lucu akan segera terwujud. Hanya butuh usaha keras untuk membuahi sel telur istrinya.
"Senyum terus, Bang? Happy banget?" tanya Tiara yang duduk disebelahnya.
"Banget sayang." Nath menatap Tiara sekilas.
"Sudah siap melahirkan keturunan Alvarendra?" tanya Nath menggenggam tangan istrinya.
"Siap, sayang," jawab Tiara dengan senyum mengembang.
Nath dan Tiara turun dari mobil dan dua orang balita menyambut kedatangan mereka. "Daddyyyyy!"
"Mommy Titiiiiiii."
Zidane memeluk Nath dan Queen memeluk Tiara.
"Jangan pegang ini ya sayang." Tiara berjongkok dan menunjuk lengan atasnya. Dibalik gamis itu ada bekas luka sayatan pengeluaran implannya.
Queen yang selalu ingin tahu berfikir sejenak. "Kenapa mommy? Sakit?" tanyanya dengan raut wajah khawatir.
Tiara mengangguk. "Luka sedikit." Tiara menunjukkan jarak kecil dengan ibu jari dan telunjuknya. "Udah diobatin sama dokter."
Tiara menyusul Nath dan Zidane yang lebih dulu masuk ke dalam. Keduanya langsung meninggalkan baby sitter yang sedari tadi menemani keduanya bermain.
Queen, putri sulung Rion dan Bintang yang sering berada di rumah Lintang karena Rion bekerja sementara Bintang tengah hamil tua dan kesulitan mengawasi Queen yang superaktif meskipun ada baby sitter yang menjaganya.
Zidane, putra Ezra dan Zoya memang selalu dititipkan di rumah ini jika Zoya sibuk dengan Arumi Resto dan Ezra sibuk dengan Enzoy kebabnya.
Sejak setahun lalu, Zoya mulai membantu Ezra mengurus Resto dan bisnis mereka. Karena belum ingin hamil lagi, Zoya memutuskan untuk kembali bekerja meski tidak full seharian.
Akhtar dan Lintang dengan senang hati menerima kehadiran dua malaikat kecil yang superaktif dan kerap membuat kerepotan seisi rumah itu.
__ADS_1
Terkadang Akhtar harus berebut menjemput Bi di sekolah dengan Ray dan Sania yang notabenenya merupakan opa dan omanya Bintang.
"Ma, Assalamualaikum." Tiara mencium punggung tangan Lintang. Ia kuga melkukan hal yang sama pada Akhtar.
"Gak kerja, Nath?" tanya Akhtar pada putranya.
"Enggak, Pa. Dapet cuti 2 hari setelah kunjungan ke lokasi pas weekend kemarin." Nath mesih menggendong Zidane duduk di sofa bersama orang tuanya.
"Nenek, kata mommy, tangan mommy sakit, terus diobatin sama dokter." Pamer Queen pada Lintang seolah ia adalah orang yang menemukan informasi paling berharga dan akurat.
"Oh, ya?" Lintang terkejut.
"Kenapa, Ti?" tanya Lintang khawatir.
"Bukan apa-apa, Ma. Cuma sayatan buka implan." Nath yang menjawab sambil mengelus rambut Zidane yang duduk dipangkuannya.
"Oma! Zi mau kesana!" tunjuk Zidane kearah pintu ruangan yang merupakan tempatnya dan Queen bermain.
Ruangan luas itu, Akhtar buat seperti area bermain di mall. Meski hanya ada trampolin, seluncuran kecil, mandi bola dan banyak mainan yang tersimpan rapi di box-box di rak besar di sisi ruangan.
"Boleh, sayang. Ajak mbaknya ya." Jawaban Lintang membuat Zi langsung turun dari pangkuan Nath.
"Tunggu, Zi!" Teriak Queen yang ingin ikut. Queen langsung turun dari sofa dan menyusul Zidane yang berjalan lebih dulu.
Baby sitter mereka selalu mengekori kemanapun keduanya pergi.
"Kamu lepas KB, Ti?" tanya Lintang setelah anak-anak menghilang dibalik pintu berwarna putih itu.
"Iya, Ma."
"Apa gak terburu-buru? Kamu apa gak pengen fokus kerja dulu?" tanya Lintang.
Selama ini Tiara yang memegang kendali BL Shop yang seharusnya dipegang Bintang karena BL Shop Lintang rintis saat masih menjadi single mother bagi Bintang.
Tapi Bintang memberikan kepercayaan pada Tiara untuk mengelolahnya. BL Shop bahkan sudah punya 3 cabang toko di kota ini.
"Maaf, Ma. Mama gak keberatan kan kalau nanti fokus Tiara terbagi." Tiara sedikit tidak enak hati, ia tahu kehamilaya kelak juga aka membatasi aktivitasnya di BL shop.
Lintang tersenyum. "Tentu enggak, Ti. Raih kebahagiaan kalian berdua. Kalian sudah berkecukupan, sudah saatnya memikirkan momongan."
"Mama dukung keputusan kalian untuk melepas KB," lanjut Lintang.
"Papa juga setuju. Bintang segera kasih cucu ke dua. Zoya masih satu, kalian segera menyusul Bi dan insya Allah, Nair segera melakukan proses ta'aruf dengan Naira."
"Alhamdulillah," seru Nath senang. "Akhirnya, Pa. Hubungan Nair sama Naira akan semakin jelas."
"Selama ini Nair sempat khawatir, Pa. Karena banyak yang datang untuk melamar Naira."
"Tapi jodoh memang gak tertukar. Nama yang selalu dia sebut dalam doanya, akhirnya akan menjadi miliknya."
__ADS_1
"Nath ikut senang, Pa."