EL NATH ( Penyesalan Terindah)

EL NATH ( Penyesalan Terindah)
Bab 87 Minta maaf


__ADS_3

Rumah besar milik Cloudy.


Cloudy mendekap putra kesayangannya yang tengah tertidur pulas. Sejak bayi, El kecil selalu tidur dengannya meskipun ia sedang kelelahan karena aktivitasnya pada siang hari.


Cloudy mengusap rambut hitam milik El. "Waktu ini tiba terlalu cepat, sayang." ucapnya pelan agar tidak mengganggu tidur putranya.


"Bahkan saat El belum pernah bertanya siapa ayah El sebenarnya."


Ia tak menyangka Reyfan datang secepat ini dan bahkan pria itu langsung bisa menebak bahwa El adalah putranya.


Seandainya Cloudy sudah menikah. Mungkin semua tidak akan sesulit ini. Ia akan dengan gamblang mengakui bahwa El adalah anak kandung mereka.


"Maafkan Bunda, sayang. Belum bisa memberikan yang terbaik untuk El." Kecupan singkat ia berikan di kening putra semata wayangnya.


Cloudy menyeka air matanya. Ia turun dari ranjang agar isak tangisnya tidak bangunkan El. Cloudy duduk di lantai, bersandar disisi ranjang. Ia membuka laci nakas disampingnya. Mengambil kunci untuk membuka laci paling bawah.


Cloudy mengambil sebuah kotak kecil berwarna hitam. Ia meletakkan kotak itu dipangkuannya dan membukanya perlahan.


Selembar kertas ditumpukan paling atas ia keluarkan. Tertulis sebuah akta lahir atas nama El Nath Reifansyah. Dan hanya ada namanya sebagai ibu tanpa nama ayah karena El yang malang lahir di luar pernikahan.


"El Nath, pria yang ku cintai tapi tidak bisa ku miliki. Reifansyah, ku pilih karena aku ingin mengingat bahwa putraku punya ayah bernama Reyfan."


"Tiga tahun lebih semuanya terasa baik-baik saja."


"Dan sekarang, dua orang pemilik nama itu kembali datang dalam hidupku."


"El... baru kali ini Bubun menyesal membarikan nama itu padamu, Nak." Tangis Cloudy pada tengah malam ini.


Ia mengambil kertas kedua, sebuah hasil USG saat El berusia 7 bulan dalam kandungan.


Cloudy tersenyum kecil. "Saat itu Bubun bahagia melihat wajah El yang sangat tampan."


Kertas ke tiga, hasil usg saat usia El dua bulan dalam kandungan. Dan masih ada beberapa kertas dan foto hasil USGnya dulu.


Dan yang terakhir adalah sebuah foto yang ia cetak berukuran 5 inci. Foto yang ia ambil dari sosial media temannya dimana ada fotonya dan Reyfan saat malam perayaan ulang tahun sekaligus malam dimana tragedi itu terjadi.


Ia sering melakukan ini, bernostalgia dengan luka. Memandang wajah Reyfan lewat foto, untuk meyakinkan dirinya bahwa El punya ayah dan suatu saat ia harus siap menjawab jika El bertanya.


Terkadang ia merasa melihat Reyfan dalam wajah El karena keduanya sangat mirip.

__ADS_1


Kadang, Ia mulai menyusun kalimat yang akan ia katakan pada El tentang ayahnya. Pria yang ternyata seorang pelaku kejahatan , dan pernah menjadi seorang narapidana.


"Huuh!" Cloudy menghembuskan nafas berat.


"Mulai sekarang, aku harus siap menghadapi ini. Jika aku terus lari dari Reyfan, aku khawatir hal itu akan membuatnya melakukan hal yang bisa saja membahayakan El."


Cloudy takut, Reyfan menculik El sama seperti Tiara dulu karena Reyfan terus memaksa untuk bertemu El dan juga terus berusaha mendesaknya agar mengatakan bahwa El adalah putranya.


****


Rumah El Nath.


Tiara menuruni anak tangga saat asisten rumah tangga yang bekerja di rumahnya mengatakan ada tamu yang datang.


Kebetulan hari libur, Nath juga ada di rumah dan mereka sebenarnya sedang bersantai di kamar.


Tiara melihat tiga orang yang ia kenal datang ke rumahnya. Ketiganya duduk di sofa ruang tamu karena ia sudah memberi izin asisten rumah tangga untuk mempersilahkan tamunya masuk.


"Apa kabar, Bunda, Ayah?" Tiara mencium punggung tangan orang tua Reyfan. Tiara tentu masih mengingat keduanya adalah orang yang pernah berjasa dalam hidupnya.


"Bunda sama ayah baik, Ti," jawab Reni.


"Alhamdulillah, Bun. Tiara sehat, kok." Tiara duduk di sofa agak jauh dari Reyfan. Semenjak Reyfan di penjara karena laporan mereka pada pihak kepolisian, Tiara jarang bertemu lagi dengan keluarga Reyga itu.


Kondisi Reni dan Rendi yang juga sedang berusaha bangkit dari keterpurukan membuatnya tidak punya banyak waktu untuk sering-sering bertemu Tiara. Dan rasa bersalah juga menjadi alasan mereka malu untuk bertemu dengan wanita yang pernah mereka inginkan untuk dijadikan sebagai menantu itu.


"Siapa yang datang, Sayang?" perhatian mereka tertuju pada arah tangga dimana suara bariton itu berasal.


Nath menuruni anak tangga sambil menggulung lengan kemejanya. Ia baru saja selesai mandi karena siang ini mereka berencana akan pergi ke mall, sekaligus mengajak Tiara sekedar jalan-jalan demi mengurangi rasa bosan.


Nath tidak bertanya lagi saat melihat sendiri siapa tamu yang datang ke rumahnya.


"Selamat siang, om, tante." Nath menjabat tangan keduanya. Sementara ia hanya menatap datar tanpa ekspresi pada Reyfan.


Nath duduk di sebelah Tiara, merangkul bahunya dan diam menunggu ketiganya bicara.


"Sebenarnya tujuanku kesini untuk minta maaf pada kalian berdua."


"Aku sungguh-sungguh minta maaf, Ti, Nath." Ucap Reyfan pelan tapi ia benar-benar mengatakannya dari hati.

__ADS_1


"Aku sangat menyesal, Ti. Aku minta maaf, sekali lagi."


Nath menghela nafas. "Sudah kami maafkan, tapi tolong jangan mendekat lagi, Rey."


"Aku masih membencimu, hingga menghajar wajahmu selalu ingin ku lakukan." Nath membuat ketiga tamunya terkesiap. Tiara mengelus punggung tangan suaminya, berusaha menengkan pria yang siap menghajar tamunya itu.


"Dan istriku pasti merasa tidak nyaman saat melihatmu."


"Jadi tolong, jangan muncul lagi dalam kehidupan kami."


"Maaf, om, tante. Bukan bermaksud tidak sopan, tapi kesalahan Reyfan sangat membekas di hati Tiara dan kami semua."


"Pertama janin kembar kami yang tiada karena ulahnya dan kedua penculikan itu."


"Dan saat ini, Tiara tengah mengandung anak kami, dan aku takut datangnya Reyfan kehadapan Tiara akan berpengaruh pada kondisinya. Baik fisik maupun psikis."


Reni dan Rendi tidak dapat mengatakan apapun lagi karena memang perbuatan Reyfan sudah sangat kelewatan. Sebenaranya mereka datang kesini hanya untuk memastikan Reyfan benar-benar datang dan meminta maaf pada Tiara dan suaminya.


"Aku janji, Nath. Ini yang terakhir."


"Tapi ku mohon, jawab pertanyaanku, Ti, Nath."


Tiara dan Nath saling pandang, keduanya bertanya-tanya, apa yang ingin Reyfan ketahui dari mereka berdua. Jawaban apa yang Reyfan cari.


"Apakah kalian mengenal Cloudy?" pertanyaan yag keluar dari bibir Reyfan membuat Tiara dan Nath kembali saling tatap.


"Aku mohon, jawab jujur Ti. Karena sekecil apapun informasi yang ku dapat dari kalian sangat berarti bagiku."


"Kemarin aku mendengarmu memanggilnya kakak."


"Dan dari sana aku yakin kalian saling mengenal."


Tiara menatap orang tua Reyfan sekilas. Ayah dan bunda, apakah mereka sudah tahu tentang Cloudy dan El kecil? Ehm... pasti mereka sudah tahu. Jika tidak, Kak Reyfan tidak mungkin menanyakan hal ini langsung pada kami di depan orang tuanya.


"Aku rasa yang berhak jawab itu suamiku." Tiara menatap Nath dan mengangguk lemah. Mengisyaratkan pada suaminya untuk memberi tahu hubungan mereka dengan Cloudy.


***


Kita selesaikan dulu masalah Cloudy sama Reyfan ya. 😊

__ADS_1


Beberapa bab ini akan kita bahas mereka. Masih ada titi sama Nath kok di tiap babnya 😊


__ADS_2