EL NATH ( Penyesalan Terindah)

EL NATH ( Penyesalan Terindah)
Bab 8 Tespack


__ADS_3

Tiara bingung harus bagaimana karena ketiga Tespack itu jelas menunjukkan garis dua.


"Hiks... hiks... hiks..." Tiara terus menangis meskipun kini tubuhnya sudah lemas tak berdaya.


Tiara duduk di lantai kamar mandi dengan memeluk lututnya. Dia harus menikah dengan Nath?


Kehidupan seperti apa yang akan kami jalani nanti, Ya Allah. Kami tidak saling mencintai. Dan anak ini... Tiara menyentuh perutnya yang masih rata itu.


Bagaimana anak ini bisa tumbuh diantara kedua orang tua yang tidak saling mencintai. Apa aku harus menggugurkannya?


Tidak! Perbuatan kami adalah dosa besar. Dan aku tidak ingin menambah dosa dengan melenyapkan janin yang tidak bersalah ini.


Tiara berdiri dan segera mandi. Dia butuh menenangkan pikirannya. Pergolakan batin yang luar biasa ini tak mungkin ia hadapi sendiri dan dalam kesunyian yang dikhawatirkan akan memicu dirinya berbuat nekat.


Tiara segera berpakaian rapi. Ia ingin pulang ke rumah orang tuanya. Meski belum siap untk memberi tahu ayah dan ibunya, Tiara tetap akan kesana. Dia butuh sosok ibu yang selalu memberikan pelukan hangat padanya.


Sekitar jam 11 siang, Tiara keluar dari rumah. Ia meminta dijemput ayahnya yang kebetulan baru saja mengantar penumpang ke daerah sekitar perumahan tempatnya tinggal.


"Mbak Tiara, ya." Ucap seorang bapak-bapak saat berhenti di depan Tiara yang menunggu diluar gerbang rumah.


"Ayaaah!" Ucapnya manja dan berhasil membuat ayahnya tertawa.


Tiara naik keatas motor dan memakai helm yang ayahnya berikan. "Tumben minta jemput ayah."


"Hehehe... Kangen aja naik motor keliling kota diboncengin ayah," sahutnya sambil terkekeh.


Kendaraan roda dua jenis matic itu melaju membelah jalan yang lumayan ramai karena kebetulan hari ini hari minggu.


"Katanya bos kamu ada acara tujuh bulanan, Ti."


"Iya yah. Tapi Tia malas kesana yah. Gak enak badan."


"Tia gak mungkin juga kesana bawa virus yah. Ada dua ibu hamil, dan disana isinya orang kaya semua. Tia minder yah," lanjutnya.


Ayahnya tersenyum menanggapi. "Kamu udah pilih kampus yang kamu suka, Ti?"


Deg!


Tiara tertegun. Kuliah, kampus, gelar sarjana, pekerjaan layak. Apa masih bisa ku raih setelah aku begini?


Tiara memandang kosong kearah bahu sang ayah. Bahu ini, tubuh ini sudah berjuang keras untukku. Dan aku membuatnya kecewa.


Perlahan, bulir bening menetes di pipi Tiara. Sedih, takut, merasa bersalah dan yang pasti, ia merasa sangat kecewa pada dirinya sendiri.


"Tia..." Suara ayah membuat Tiara terkesiap.

__ADS_1


"Eh... Iya yah." Tiara menghapus air matanya.


"Hahaha.. Malah ngelamun. Kamu mau kuliah dimana Ti? Insyaallah uang tabungan ayah sama ibu sudah cukup untuk pendaftaran dan biaya 2 semesta."


Tiara menunduk dan melingkarkan tangannya di perut sang ayah. Jika seribu pelukan bisa menghilangkan rasa kecewa kedua orang tuanya, Tiara pasti akan melakukannya. Tapi nasi sudah menjadi bubur.


"Tiara masih cari yang pas yah. Yang bagus dan murah." Satunya ia tumpukan di bahu ayahnya.


"Tia... Tia... Harga itu berbanding lurus sama kualitas, Nak."


Tiara tak menanggapi ayahnya lagi sampai keduanya tiba di rumah. Ibu dan adiknya, Naura sudah menunggu di rumah. Mereka makan siang bersama.


Setelahnya semua kembali istirahat. Tiara hanya tiduran memeluk guling. Tapi ia tak bisa terlelap.


Berulang kali mengubah posisi namun matanya yang terpejam tak bisa membawanya ke alam mimpi.


Tiara menatap langit-langit kamarnya yang terlihat noda melingkar di banyak titik akibat rembesan air hujan karena atap rumahnya sudah banyak yang bocor.


Pikirannya mencoba mencerna setiap kejadian sejak sebulan lalu. Semua terjadi tanpa ia duga. Sangat jauh dari angan dan impiannya selama ini.


Bulir bening kembali menetes. Bagaimana dia mengatakan hal sefatal ini pada orang tuanya?


Lalu Nath, apakah pria itu akan menerima anak ini? Atau Nath akan menyuruhnya untuk menggugurkan janinnya.


Tiara memejamkan matanya. Dan perlahan ia terhanyut ke alam mimpi.


Jam 4 sore.


Sore ini Tiara membantu ibunya di dapur. Sulung dari dua bersaudara itu senang sekali membantu ibunya di dapur.


"Tia..." panggil ibunya yang sedang menggoreng ayam sementara dirinya tengah membuat sambal.


"Ehm..." dehemnya karena ia tengah fokus pada sambal yang berhasil membuat perutnya kroncongan di tambah aroma ayam goreng yang membuatnya semakin malas untuk menjawab.


"Kemarin, tante Reni datang."


Tiara terkejut saat mendengar nama Reni. Dia adalah ibundanya almarhum Reyga dan Reyfan. "Ngapain, Bu?" sahutnya cepat.


Ibu Tiara mematikan kompor dan duduk di sebuah bangku kecil di depan Tiara. "Katanya Reyfan mau pulang, bulan depan."


Tiara menghembuskan nafas kasar. "Tia udah tau, Bu." Tiara memasukkan sambal buatannya di dalam mangkuk. Lalu ia berdiri dan meletakkannya diatas meja.


"Bulan depan mereka akan datang untuk lamar kamu."


Deg!

__ADS_1


Jantung Tiara rasanya nyaris melompat keluar.


"La... lamar?" tanyanya tergagap menatap ibunya. Menurutnya ini terlalu mendadak, diluar perkiraannya.


Ibunya mengangguk. "Ibu sama ayah sudah berusaha menolak tapi Bu Reni memberikan seribu alasan, Ti."


"Kamu boleh kuliah setelah menikah dan Reyfan akan melanjutkan S2nya disini sambil bekerja di perusahaan orang tuanya."


"Ibu setuju?" tanya Tiara ragu.


Wajah wanita 40 tahun itu menunjukkan senyum lembutnya. "Ibu tau kamu tidak bahagia, Nak."


Tiara memeluk ibunya. Dia mulai terisak. "Ibu pasti tau apa yang kamu rasakan, Ti. Reyfan bukan Reyga meski mereka lahir dari rahim yang sama."


"Ibu dan ayah akan berusaha menolak lamaran itu meski sulit, Nak." Wanita yang masih terlihat muda itu mengelus punggung putrinya berusaha menenangkan gadis yang ia lahirkan 19 tahun lalu itu.


"Bu Reni terlalu baik pada kamu, pada keluarga kita." Ya, Bu Reni memang sangat baik pada mereka, terlebih sejak Reyga begitu bahagia berteman dan berhubungan dengan Tiara.


Reyga dulu adalah anak yang menutup diri karena dia merasa dirinya berbeda dengan temannya yang lain. Dia tidak sehat, dan aktifitasnya pun tak boleh terlalu berat.


Rutin tiap bulan ia ke rumah sakit dan beberapa bulan sekali ia keluar negeri demi pengobatannya, demi membuat jantungnya berdetak normal.


Tiara dan Reyga berteman sejak kelas X. Dan hubungan mereka semakin akrab. Hingga akhirnya Reyga meminta izin bundanya untuk melamar Tiara saat lulus sekolah dengan catatan keduanya akan tetap melanjutkan pendidikan.


Tujuan Reyga sangat mulia. Ia ingin mengangkat derajat keluarga Tiara yang notabenenya adalah kalangan menengah-bawah. Ia ingin Tiara bisa meraih cita-citanya dan punya masa depan yang jauh lebih baik.


Sekitar jam 5 Tiara selesai mandi dan mencari pakaiannya di dalam lemari. Jika ayah tidak di rumah, ia terbiasa hanya memakai handuk yang menutup dada hingga lututnya saat selesai mandi.


Tiara memakai baju tidur lengan panjang dan matanya tertuju ke sebuah plastik transparan dengan kebaya berwarna hijau pupus.


Tiara mengambilnya dan memanggilnya sambil duduk di tepi ranjang.


Sebuah kebaya bridesmaid dan sebuah undangan dengan desain mewah.


"Ajeng Larasati dan Syambayu Dwipraga." Tiara membaca nama pasangan calon pengantin yang tertera di undangan.


Ajeng adalah sahabat baiknya. Mereka berempat, yaitu Tiara, Reyga, Ajeng, dan Evelyn.


"Ball room hotel Xx, Jogjakarta." Tiara membaca tempat diadakannya resepsi pernikahan.


Tiara sebenarnya sudah minta maaf pada Ajeng karena dia sudah mengatakan tidak bisa hadir seminggu lalu. Padahal Ajeng sudah menyediakan sebuah kamar hotel untuknya dan Evelyn.


Tiara beralasan bahwa acara itu bertepatan dengan acara tujuh bulan kedua orang penting dalam hidupnya, yaitu Zoya dan Bintang. Lagi pula ia belum pernah keluar kota sendiri. Evelyn sudah berada di Jogja karena ia kuliah disana.


Selepas magrib, Tiara menemui orang tuanya. "Tiara mau ke Jogja, Bu. Malam ini."

__ADS_1


__ADS_2