EL NATH ( Penyesalan Terindah)

EL NATH ( Penyesalan Terindah)
Bab 90 Aqiqah Baby Prince


__ADS_3

Cloudy bisa melihat dengan jelas sebuah mobil terparkir di seberang jalan di depan gerbang rumahnya.


Ia merasa curiga karena mobil itu tak kunjung pergi sejak setengah jam lalu saat ia tanpa sengaja mengintip suasana luar kamar dari balik tirainya.


Cloudy segera menghubungi satpam komplek untuk mengecek siapa orang yang berada di dalam mobil itu.


Dan panggilan masuk terakhir dari Satpam komplek mengatakan seorang kurir berwajah tampan memberikan selembar brosur bertuliskan DirgaTex.


Cloudy segera mencari tahu, ternyata itu adalah nama toko kain yang lumayan besar yang letakknya tak jauh dari kompleks perumahan ini.


"Apa mungkin Reyfan?" gumamnya pelan karena ia sama sekali tidak pernah membeli kain atau memesan dari siapapun.


"Tapi, nama toko kain ini... Apa mungkin miliknya atau orang tuanya?"


"Huuh!" Cloudy menghela nafas berat. "Aku harus menyelesaikan ini. Reyfan sepertinya bukan orang yang pantang menyerah."


****


Pagi yang indah, sebuah perdebatan kecil mengalahkan suara ayam jantan dan cuitan burung di pepohonan.


"Pakai ini, Bang!" perintah Tiara pada Nath. Ia menyuruh suaminya itu untuk memakai kurta berwarna pink.


Kurta adalah salah satu jenis pakaian tradisional dibeberapa negara seperti India, Nepal dan Pakistan. Pakaian longgar yang panjangnya biasanya sampai ke lutut.


"Pink?" Nath melongo melihat kurta berwarna soft pink yang masih terpasang di hanger yang Tiara pegang.


Tiara tersenyum dan mengangguk. "Biar couple, Bang." Nath melihat Tiara yang terlihat cantik dengan gamis berwarna soft pink dan hijab putihnya.


"Ti... jangan pink lagi dong!" tolak Nath karena warna pink sama sekali tidak pernah ada dalam daftar warna pakaiannya.


"Kemarin udah, masa sekarang pink lagi!" Kalimat yang berhasil membuat senyum Tiara memudar.


"Jadi, Abang gak mau pake?" Matanya menatap tajam pada suami yang masih memakai handuk menutup bagian bawah tubuhnya itu.


Selesai subuh, Nath memutuskan untuk jogging di halaman belakang dan ia harus mandi lagi beberapa menit yang lalu.


"Bu... bukan gitu, Sayang!"


Tiara meletakkan kurta di tangannya ke atas ranjang. "Pake atau jangan bicara sama Tia selama 2 hari! Tidur di luar!" Tiara menunjuk arah pintu. "Dan jangan harap bisa jenguk baby lagi!"


Duaaar! Nath bagai disambar petir.


Nath mau tak mau memakai kurta yang panjangnya mencapai pahanya itu. Di padukan dengan celana hitam yang tidak terlalu longgar.


Tiara duduk di depan cermin hias terus memperhatikan suami yang diam-diam menuruti kemauannya.


"Ganteng banget sih daddy kamu, Nak." Ucap Tiara saat membantu Nath merapihkan kerah dan kancing bajunya.


"Mommy makin lope-lope deh." Tiara mencubit cuping hidung suaminya demi memancing tawa di wajah kesal itu.


Mulai deh, moodnya naik turun. Batin Nath.


"Ayo, Bang!" Ajak Tiara.


Nath mengangguk pelan dan menggandeng tangan Tiara. Mereka akan pergi ke rumah Bintang dan Rion. Siang hari ini mereka akan melaksanakan aqiqahan baby Prince. Dipastikan semua keluarga besar akan hadir disana.


****


"Wuiiiihhh.... Abang Nath! Apa kabar bro!" Rion menjabat tangan Nath dan memberikan pelukan ala kaum pria.

__ADS_1


"Selamat, calon daddy! Benihnya top juga. Semusim langsung tumbuh!" ucapan Rion memancing gelak tawa.


"Ck!" Decak Nath. "Jangan ragu sama benih-benih unggul keluarga Alvarendra, Yon!"


"Wuuhuuu! Pink nih!" Celetukan Langit, si om minim akhlak si sudut dapur. Langit tengah memakan kue sembari duduk di kursi.


"Sssttt!" Nath mendesis dengan telunjuk didepan bibirnya. Ia melirik Tiara sekilas yang sedang sibuk mengobrol dengan keluarga lainnya.


"Gara-gara ini!" Nath menarik ujung bajunya. "Hampir pecah perang dunia ketiga, Om! Jadi, please! Jangan jadi bensin di bara yang masih menyala." bisik Nath pelan takut di dengar istrinya.


Langit mengulum senyum. "Iya... iyaa... yang bucinnya akut!"


Nath mendengus kesal. "Kayak gak pernah aja!"


"Udah, debatnya?" tanya Lintang pada adik dan putranya yang kebetulan melewati keduanya.


"Belum," jawab keduanya kompak.


"Bagus kalau belum! Silahkan lanjut di luar!" usir Lintang tanpa peduli perasaan mereka.


"Sukurin!"


"Rasain!" Nath dan Langit malah saling ejek. Padahal dulu Nath sering dirawat oleh omnya itu. Mereka juga sering menghabiskan waktu bersama untuk bermain.


"Kamu nih! Mirip siapa sih tingkahnya!" keluh Langit.


"Belum sadar juga, Lang! Padahal kayak lagi ngaca loh kamu sama dia!" Akhtar ikut nimbrung dalam perdebatan putra dan adik iparnya.


Saat orang lain sibuk memindahkan hidangan dan bingkisan di tempat dimana acara akan dilaksanakan, Langit dan Nath malah berdebat.


"Tapi itu potocopyan kamu banget, Mas!" balas Langit pada Akhtar.


"Berhenti atau mama benar-benar usir kalian. Kalian buat mama malu sama besan!" tunjuk Lintang pada Ray dan Sania yang mulai sibuk ikut menerima tamu bersama Bi dan Rion.


Nath mengalah. Ia ikut berjalan kearah ruang tamu sambil membawa dua dus air mineral dalam cup yang memang di sediakan untuk tamu.


Di ruang tamu rumah megah ini, sudah terbentang karpet besar untuk para tamu yang datang. Sebuah dekorasi indah dengan nama Prince Altair Danadyaksa akan menjadi spot foto yang paling diburu para tamu.


Hampir semua keluarga sudah datang, padahal acara baru akan di mulai sekitar pukul 10 pagi.


Subuh tadi, Rion ikut kesalah satu rumah pemuka agama untuk menyembelih kambing dan semua prosesnya Rion serahkan pada pengelolah. Ia tinggal menerima daging yang sudah dimasak untuk dibagikan kepada tamu undangan dan para tetangga.


Ibu-ibu pengajian mulai berdatangan. Anak-anak yatim juga terlihat memasuki ruang tamu satu persatu.


Rion dan Bintang hanya mengundang keluarga dekat dan beberapa teman serta tetangga. Rion juga mengundang seorang ustadz untuk memimpin doa.


"Selamat, Yon!" Shaka masuk kedalam bersama keluarganya. "Semoga jadi bapak yang baik, yang bisa dicontoh sama Prince!" Shaka terkekeh karena malah mendoakan Rion, bukannya mendoakan babynya.


"Thanks bro! Doain anakku kek! Malah doain aku!" Rion terkekeh.


"Prince udah banyak yang doain. Jadi aku doain kamu aja!"


Tak lama masuk juga Tante Sora dan keluarganya.


"Selamat, Yon! Semoga Prince jadi putra kebanggaan kita semua!"


"Thanks pak Dokter!" Rion menepuk bahu Caraka pelan. Dokter muda dengan kemeja putih itu tampak gagah dengan otot lengan yang tercetak jelas di kemejanya.


"Silahkan masuk, Ka! Disana ada dokter, arsitek, pebisnis, dan ada juga tukang foto!" Rion tertawa saat menunjuk perkumpulan pria di salah satu sudut. Ada Nair, Nath, Shaka dan Ethan.

__ADS_1


"Lengkap banget, tamu kamu, Yon!"


"Dokter cantik gak ada?" tanya Caraka setengah bercanda.


"Ada dong! Tapi masih calon." Rion menyeringai karena Ia tahu Caraka mencari adiknya. "Masih jauh untuk jadi dokter! Keburu kamu beruban!"


Caraka meninggalkan Rion, karena merasa tersindir. "Aku siap menunggu!" Ia menyeringai menoleh Rion sekilas. "Semir rambut, banyak!" Carakan menyugar rambut rapinya.


"Iya kali, besan papiku kakak beradik!" Rion mendengus. Caraka terkekeh.


***


"Lucu banget sih!" Tiara mengelus pipi Prince saat Bi dan Rion tengah menerima tamu yang berdatangan. Bayi laki-laki itu tengah diletakkan di bouncher dengan para tante cantik yang mengelilinginya.


"Ganteng poll kak." tambah Zura, gadis cantik putri kebanggaan Langit. Gadis yang jarang ikut dalam acara keluarga karena jadwal sekolah dan private lesnya yang padat.


"Rion banget mukanya!" Sahut Syakilla, yang baru saja datang.


"Time to mimik cucu!" Chiara datang dengan sebotol susu yang sudah dihangatkan.


"Itu sufor, Chi?" tanya Lovely. Keduanya memang sangat akrab sejak dulu.


"Enggak dong! Ini ASI kak Bi yang dipompa dan sudah dihangatkan."


Chiara meletakkan kain bedong bersih di badannya dan langsung memangku Prince. Ia dengan telaten mengarahkan put**ing dot pada mulut mungil keponakannya itu.


Prince langsung menyambarnya dan menghisapnya kuat.


"Calon dokter emang beda ya gesturenya." puji Tiara saat melihat Chiara yang tampak lihai melakukan semuanya.


"Heheheh... Kakak juga udah gak kaku kok, nanti kalau udah punya baby pasti makin terbiasa."


"Iya, tapi kan belum seluwes kamu, Chi."


"Ikut kelas deh kak, aku saranin." Chiara tetap memperhatikan Prince meski ia tengah berbicara dengan Tiara.


"Rencananya sih, Chi. Nanti deh kalo udah agak gedean perutnya dan mood gak acak-acakan begini."


Mereka semua fokus pada bayi pintar yang sama sekali tidak rewel itu.


"Alhamdulillah, udah selesai mimik cucunya, sayang!" Chiara tertawa sambil berbicara dengan Prince yang sudah kenyang.


Chiara membersihkan sisa susu dibibir keponakannya dengan kain bersih.


"Kita sendawa dulu, yaaa..."


Chiara menegakkan tubuh Prince agar ia bisa bersendawa.


"Telaten banget sih calon istriku!" Caraka bergabung dan duduk disebelah Syakilla yang menatapnya jengah.


"Keponakan aja dirawat penuh kasih sayang! Apalagi anak sendiri!" Chiara tersenyum kecil. Entah sejak kapan pria yang 9 tahun lebih tua darinya itu mulai mendekatinya dan memberi perhatian-perhatian kecil meski lewat pesan chat.


"Huuuuuuu!" Para gadis menyoraki Caraka yang ngaku-ngaku menjadi calon suami Chiara.


***


Jangan tagih kisah Caraka sama Chiara, please 😫😫


Masih jauuuh! 😂

__ADS_1


__ADS_2