
Nath terus melajukan kuda besinya membelah, menyalip dan mengejar kendaraan di depannya. Bukan siapa-siapa yang ia kejar, hanya saja ia ingin meluapkan rasa aneh yang belakangan ini mendominasi hatinya.
Nath bingung, takut, merasa bersalah dan rasanya ia ingin sekali membenturkan kendaraannya di pembatas jalan lalu ia akan menghembuskan nafas terakhirnya. Dan setelah itu ia akan kembali ke Sang Pencipta. Syukur-syukur masuk surga.
Iya kalau masuk surga! Mana ada pintu surga yang terbuka untuk seorang baj*ngan sepertiku. Batin Nath.
Nath menggeleng pelan dan mencoba kembali berkonsentrasi pada jalan raya. Nath melihat sekeliling. "Astagfirullah!" Ucap Nath panik.
Tujuannya adalah R Cafe, dan R Cafe sudah terlewat 200 meter di belakang.
Nath merutuki kebodohannya. Ia berputar arah untuk sampai di cafe milik Rion.
"Baru sampe Nath!" Ethan menepuk bahunya. Mereka berjalan beriringan menuju ruang kerja Rion.
Keduanya masuk dan mendapati Nair sudah duduk di sofa dengan jus alpukat di atas meja.
"Wiiih! Calon ustadz, udah nangkring aja di sini? Gak ada ceramah Tadz?" Canda Ethan pada Nair saat masuk dalam ruangan Rion.
Nair adalah si bucin berlebel halal. Hahahah... Halal yang di maksud disini adalah caranya. Caranya menjadi budak cinta adalah dengan memperbaiki diri, memperdalam ilmu agama karena Nair jatuh hati pada gadis bernama Naira yang berasal dari keluarga yang taat beribadah.
Ethan dan Nath ikut bergabung dengan Nair. Sementara Rion memang sedang berada di meja kerjanya.
Mereka saling berbincang seperti biasa. Nair dan Ethan kadang lebih fokus pada layar tv 32 inci yang menempel di dinding ruangan ini.
Sementara Nath tampak melamun. Nath bersandar di sofa dan matanya menatap langit-langit ruangan ini.
"Dia kenapa?" Ethan menunjuk Nath dengan dagunya sambil menyenggol lengan Nair dengan sikutnya.
Nair mengangkat bahunya. "Beberapa hari ini memang suka ngelamun dianya."
Nair sebenarnya merasakan sesuatu yang aneh dengan kembarannya. Bagaimana pun keduanya punya ikatan batin yang kuat. Tapi Nair selalu berusaha menepis fikiran buruk yang sering kali melintas di otaknya.
Dia lebih senang beribadah untuk menenangkan hati yang belakangan ini sering resah tanpa sebab.
Ethan pindah tempat duduk. Mendaratkan tubuhnya disebelah Nath. "Nath!" Ia menyenggol bahu Nath. "Kenapa?"
Nath menatap Ethan sebentar. Menggeleng pelan dan kembali menatap langit-langit.
Ethan mundur sedikit, menggeser tubuhnya. Lalu menatap Nair, "Kesambet!" Bisiknya pelan.
Nair menyeringai. Kalau beneran kesambet, dia gak bakalan anteng mendengarkanku mengaji. Batin Nair.
Beberapa hari ini Nath memang sering mendengarkan kembarannya itu mengaji. Ia bahkan duduk di atas ranjang mendengarkan dengan baik. Memang, saat diajak mengaji bersama, Nath menolak. Alasannya sedang datang bulan. Ck! Alasan apaan itu?
"Dia ngelamun, terus senyum-senyum sendiri, gak Nair?" Entah mengapa Ethan sangat penasaran.
Nair berfikir sejenak. "Sesekali sih senyumnya. Lebih banyak ngelamun tanpa ekspresi."
"Fix! Nath jatuh cinta!" Teriak Ethan.
"Akhirnya!! sang pelopor anti bucin sejagat kontrakan om Akhtar ngerasain jatuh cinta juga." Ethan berdiri di sofa dan melompat.
"Ye... ye... ye... ye... Bisa triple date. Ye... ye..." Ethan berjoget, menggerakkan tangannya seperti seekor ayam.
"Ethan! Turun!" Rion menatapnya tajam. "Kalau jebol, habis kamu!"
"Heheheh..." Ethan nyengir. "Maaf bosku." Ethan langsung duduk.
Dia meninju bahu Nath pelan. "Siapa, Nath? Siapa gadis yang berhasil membuat seorang Nath seperti ayam kena penyakit dan tinggal menunggu mat*nya aja?"
Nath menatapnya malas. "Ck! Gak ada, Than!"
"Ayo lah Nath! Kita bikin si Nair panas. Aku, Marisa, Kak Bi, Rion, kamu sama... miss X ngedate bareng, liburan di puncak." Ethan berbisik tapi masih bisa di dengar Nair.
"Isssshh! Gak kebayang serunya!"
__ADS_1
Nair dan Rion tertawa pelan. "Sebentar lagi, dia bakalan ngelamar dong!" Rion membuat Nair, Ethan dan Nath menatap kearahnya.
Kenapa Rion ngomong begitu? Apa dia tau tentang aku dan Tiara? Batin Nath.
"Serius Yon!" Ethan membulatkan matanya tak percaya. "Kamu tau dari mana?"
"Iya serius. Dia sendiri yang bilang." Rion bersandar pada kursi kerjanya.
"Apa? Mana pernah." Sahut Nath cepat.
"Yang di villa beberapa bulan lalu." Rion menyeringai.
Nath mencoba mengingat.
Flashback on
Beberapa bulan lalu, ketika keluarga Akhtar berlibur ke Villa milik Zoya. Nath dan Rion memindahkan perbekalan mereka dari mobil menuju dapur.
"Senyum terus! Awas meleng." Nath membuat Rion terkejut. Rion memang sedang melamun. Memikirkan momen belanja di pasar bersama Bintang.
"Dasar bucin." Ejek Nath pada Rion.
"Gak pernah jatuh cinta sih. Makanya kamu gak tau rasanya?" Jawab Rion asal pada Nath.
"Rasanya repot, Yon!" Ucap Nath yang duduk di pantry. "Udah ketebak. Makanya males jatuh cinta-jatuh cintaan."
"Suka langsung lamar." Nath berucap mantap.
"Awas aja kamu ntar bucin, ya." Rion meletakkan box di dapur.
"Sama siapa?" Tanya Nath.
Rion menatapnya tajam. "Mana aku tahu, Nath!" Ucap Rion. Pria itu duduk meluruskan kaki di lantai dapur.
"Aku sih anti bucin. Seorang Nath yang harusnya dibucinin." Kenarsisan yang menurun dari papa Akhtar.
"Seorang Nair saja bisa berubah drastis. Yang dulunya suka pegang stick PS sekarang lebih suka pegang tasbih." Sambung Shaka yang merupakan sepupu Nath.
Benar juga. Batin Rion.
"Tunggu saja." Ucap Nath.
"Kita lihat, Nath." Sahut Rion tersenyum remeh.
"Loh, Tiara? Kamu ikut Ethan ke sini?" Suara Ezra membuat Nath berlari keluar dari area dapur. Rion dan Shaka juga mengikutinya. Padahal tidak ada siapapun. Ethan bahkan tidak ikut dalam liburan kali ini.
"Dia ikut Bang?" Nath langsung menodong Ezra dengan pertanyaan.
"Buahahahahah... hahah..." Ezra tertawa lepas.
"Belum satu menit ngomong gak bakal bucin. Nah ini udah ada bibit bucinnya." Ejek Ezra diikuti tawa Bi dan Zoy.
"Suka banget ngerjain." Gerutu Nath meninggalkan mereka semua yang masih terbahak menertawakannya.
Flashback off
"Buahaahahah..." Ethan tak sanggup menahan tawanya lagi. "Dia bilang begitu?" Ucapnya berusaha menghentikan tawa.
Rion dan Nair mengangguk.
"Jangan-jangan miss X itu Tiara?" Ethan menerka-nerka.
Duaaarr!
Hati Nath bak disambar petir.
__ADS_1
Kenapa serba kebetulan begini? Dan kenapa semudah itu Ethan menebak? Parahnya lagi tebakannya tepat.
Ya, walaupun bukan karena cinta dan rasa suka yang membuatku harus menikahinya suatu saat nanti. Batin Nath.
"Eh, ngomong-ngomong soal Tiara. Dia apa kabar, Yon?" Ethan ingat sesuatu.
"Dia baik."
"Setiap hari kerja kan?" tanyanya lagi.
Nath mengerutkan kening, menatap Ethan penasaran. Mengapa sahabatnya itu menanyakan kabar Tiara? Tumben-tumbenan.
"Kerja." Rion mengangguk.
"Huuh! Syukurlah."
"Kenapa Than?" Tanya Nair.
"Tiga hari lalu, aku mengantar dia pulang."
"Dari rumah baca?" tanya Rion penasaran.
"Iya. Terus aku kan mau kasih dia minuman kaleng nih, kebetulan aku mampir sebentar ke tokonya temen."
"Eh... aku salah kasih kantong plastiknya." Ethan menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Aku malah kasih bir kaleng yang ada alkoholnya ke dia."
Duuaar!!
Hati Nath dua kali tersambar petir.
Ternyata semua ini gara-gara SeThaaan!
"Haaa! Gila" Rion terkejut.
"Ceroboh, Than!" Nair sedikit marah karena Ethan terlalu ceroboh memberikan minuman yang bisa membuat mabuk pada seorang gadis.
"Heheheh... sorry... Aku udah kabarin dia kok pas malamnya. Tapi gak dia balas. Aku mau ambil, tapi aku udah di Bandung nyusulin Marisa."
"Aku yakin dia gak minum sih. Soalnya dia masuk terus kok. Ya, walaupun aku belum ke sana tiga hari ini." Ucap Rion yakin karena ia selalu melihat cctv rumah baca dan Tiara selalu hadir.
Nath berjalan ke arah pintu. Dengan bergabung bersama sahabatnya, Nath berharap bisa melupakan masalahnya. Tapi nyatanya dia malam menemukan fakta baru bahwa Ethan ikut andil dalam hal ini.
Dan itu berarti Tiara sama sekali tidak menyadari bahwa minuman itu mengandung alkohol. Rasa bersalah semakin menumpuk dalam hatinya.
"Mau kemana Nath?" Tanya Nair.
"Balik." Sahutnya tanpa menoleh.
"Aneh!" Ucap Ethan setelah Nath keluar.
"Aku melihatnya begitu setiap hari, Than!" Sahut Nair.
"Dia lagi puyeng kali. Kan lagi ujian."
"Kita juga ujian kali, Yon! Tapi gak ada yang sekacau dia." sahut Nair.
"Cinta tak terbalas sih kayaknya." Ethan kembali menebak-nebak.
"Huuh! Nih anak cinta mulu yang ada di otaknya!" Rion bangkit dari kursi kerjanya dan langsung menyabar tas ranselnya.
"Kemana, Yon?"
"Balik."
"Lah.... kita ditinggalin?" Ethan langsung bergerak cepat menyusul Rion yang sudah sampai di pintu.
__ADS_1
Nair ikut berdiri dan menyusul keduanya.
Apa yang kamu sembunyikan Nath? Batin Nair.