
"Jangan dengarkan mereka, ya Nai..." Nair menarik lengan Naira untuk duduk disampingnya. Kini mereka sudah berganti pakaian. Dan bersiap untuk istirahat.
"Mereka memang seperti itu. Sedikit g*la dan aneh." Nair terkekeh kecil. "Di depan suami dan istri mereka, pun tidak malu mengatakan itu."
Naira mengangguk faham. Bukan hanya sekali ini ia melihat kekompakan saudara-saudar iparnya. Ia sudah sangat mengerti bagaimana mereka terkait begitu erat. Dalam hal apapun mereka sangat kompak. Dan kekompakan itu Naira lihat dengan jelas saat pernikahan dadakan mereka beberapa bulan lalu.
Semua keluarga suaminya itu bisa hadir meski persiapan dilakukan dengan waktu yang sangat terbatas.
Kak Zoya bahkan sempat menghubungi karyawannya untuk mengantar makanan yang jumlahnya tidak sedikit.
Om Langit, Tante Sora dan Kakek -nenek, Uti dan kakung bahkan bisa hadir. Sunggu keluarga kompak yang pernah ia temui.
"Berkali-kali ku bilang, cuma Bang Ezra yang sedikit lebih anteng. Cuma dia yang terlihat seperti manusia normal. Rion dan Tiara..." Nair terkekeh. "Sebelas dua belas sama pasangan mereka."
Naira ikut tertawa. "Tapi papa marah, Mas..." Wajahnya berubah sendu. Ini pertama kalinya ia melihat papa mertuanya itu marah.
Saat di Bali kemarin, Akhtar yang terlihat marah karena mereka tidak memberi kabar, masih bisa tertawa dan tersenyum kecil bahkan sesekali memberi candaan pada Nair. Tapi kali ini, entahlah. Naira sampai berdebar hebat melihat bagaimana Akhtar berkata sedingin itu pada anak-anaknya.
"Biarkan saja. Papa gak akan betah lama-lama marah ke mereka."
"Papa hanya marah karena pertanyaan itu tidak pantas ditanyakan disaat kita masih dalam keadaan lelah akibat perjalanan panjang."
"Terlebih lagi keadaanku juga bukan seperti orang pulang liburan, Nai. Lebih kayak korban tabrak lari. Jadi papa marah karena itu."
"Setelah istirahat, percayalah! Papa akan kembali seperti biasa."
"Kamu tahu sendiri kan? Papa gimana orangnya..."
Naira mengangguk.
"Sekarang, temani aku istirahat."
Naira duduk di samping suaminya dengan bersandar pada headboard ranjang.
"Besok kita ke rumah sakit, ya Mas..."
Nair mengangguk. Ia meletakkan telapak tangannya di perut Naira. "Kamu jangan capek-capek sayang."
"Aku ingin dia tumbuh disini, segera." Nair mengusap perut rata itu.
"Sembuh dulu, Mas... Kita program lagi lain waktu kalau seandainya bulan ini Allah belum titipkan malaikat kecil di dalam rahimku." Naira mengusap rambut suaminya.
"Jangan minta terlalu banyak sama Allah. Selamatnya kita dari musibah kemarin saja sudah merupakan nikmat luar biasa, Mas."
"Aku masih bisa lihat kamu seperti ini saja rasanya sudah Alhamdulillah." Naira mengusap pipi yang tidak terlihat tirus sedikitpun meski pemiliknya tengah dalam keadaan sakit.
"Aku cuma berharap sayang. Tapi kalau kondisi tubuh kamu belum siap, aku juga gak apa-apa kalau Allah masih menunda memberi kita malaikat kecil."
"Allah tau yang terbaik untuk kita, Sayang."
Nair memejamkan matanya kala tangan lembut itu mengusap rambutnya. Nair hampir terbuai kedalam mimpi, namun suara Naira membuatnya kembali terjaga.
"Mas, Abi sama Umi akan datang sore ini."
Nair mengangguk. "Langsung datang ke rumah ini aja, Nai. Abi dan Umi bisa menginap disini."
__ADS_1
Ting!
Ting!
Ting!
Pemberitahuan di ponsel Nair dan Naira masuk silih berganti.
"Rame banget, Mas?" Naira meraih ponsel mereka di atas nakas. Lalu ia memeriksa ponselnya dan ponsel Nair.
"Siapa Nai?" tanya Nair.
Naira menunjukkan aplikasi hijau di ponsel suaminya yang berisi banyak pesan dari saudara-saudara Nair.
Kak Bi
Sorry 😢 Get well soon, om Nair.
Nair tertawa pelan, "Kak Bi... Our Star..." gumamnya.
Ia beralih ke pesan lain.
Kak Zoy
Cepat sembuh, omnya Zidane 😍 I'am so sorry.
Rion
Sorry, Bro 😐. Cepat sehat....
Ezra
"Bang Zra, manusia paling normal." Naira ikut tertawa mendengar gumam Nair.
Nath
Jangan marah! Aku benci didiamkan... 😣
Tiara
Nath akan segera ku hukum, Bang Nair. Sampaikan salam maaf ke kakak ipar.
"Hajar aja, Ti..." Naira mencubit lengan suaminya saat Nair mulai mengetikkan kata itu sebagai balasan.
"Mas, jangan!" Naira melarangnya.
Ting!
"Pesan papa..." Nair mengerutkan kening. "Pada kompak banget mereka, Nai."
Papa
Jangan balas apapun pesan mereka! Jangan maafkan dulu!
Papa mau kasih hukuman ke mereka!
__ADS_1
Nair mengetikkan kata Ok sebagai balasan.
***
Sore hari, perlahan Nair latihan berjalan tanpa bantuan siapapun. Naira hanya berjalan di belakang tanpa memegang tangannya. Masih terasa sakit tapi tidak terlalu. Nair menuruni anak tangga dan dia berhenti ditengah jalan.
Nath yang sedang ada di meja makan bersama Rion berusaha membantu.
"Nath, Rion! Jangan mendekat!" Ucap Akhtar dingin saat tubuh mereka melintas di depannya. Ia dan Lintang tengah duduk di ruang keluarga sambil menonton televisi.
"Nair bisa sendiri!" lanjutnya. "Kalian kembali kerjakan apa yang papa diperintahkan."
Nair mengangguk pelan. Ia kembali melangkahkan kaki menuruni anak tangga. Nair hampir jatuh, tapi tidak ada yang berani membantu.
Rion dan Nath kembali ke meja makan. Mereka kembali melanjutkan pekerjaan yaitu mengupas dan memotong buah untuk disimpan di dalam kulkas sebagai stok cemilan untuk Nair dan Naira.
Ezra, ia tak luput dari tugas. Menantunya itu mendapat tugas untuk membuat bara api di belakang rumah karena Akhtar ingin makan bebek panggang.
Zoya dan Bintang sedang berada di dapur. Memasak lebih dari 5 menu makanan sesuai permintaan Akhtar sebagai hukuman untuk mereka. Tiara absen sebentar karena ia harus menyusui baby Nara.
"Kak, Nai bantu..." Naira masuk ke dapur dan melihat dua orang wanita cantik berhijab tengah memasak. Berbagai sayuran yang sudah di potong dan di cuci berjejer diatas pantry siap untuk dieksekusi di dalam kuali.
"Aduuuh!" Keduanya terkejut dengan kedatangan Naira. "Balik-balik..." usir Zoya.
Naira mengerutkan keningnya karena ia diusir dari daput. "Kamu balik, yaaa..." Bintang perlahan mendorong tubuhnya keluar dari dapur.
"Duduk di gazebo sama Nair aja..." Bintang menunjuk Nair yang duduk di pinggir kolam renang. Karena ada Zidane dan Queen yang tengah berenang disana.
"Atau gabung sama mama-papa." Bintang menunjuk orang tua mereka.
"Atau kamu sama Tiara aja. Ada baby Nara sama Prince di sana." Tunjuk Bintang di salah satu kamar yang memeng lebih mirip tempat bermain dan kamar anak. Dulu, Queen dan Zidane juga selalu bermain di ruangan itu saat keduanya ada disini.
"Kak... Nai cuma mau bantu loh." Naira masih memohon.
"Menurut, Nai! Atau papa akan menghukum kami lagi."
Naira mengerutkan keningnya. Jadi, ini hukuman yang papa maksud. Batinnya.
Naira mengalah, ia memilih berjalan ke ruangan dimana ada baby Prince bersama Tiara dan baby sitternya.
Namun, langkahnya terhenti saat suara ramai dari arah depan begitu menyita perhatiannya.
"Mana nih yang pulang honeymoon?" Suara seorang pria yang Naira kenal terdengar begitu nyaring.
"Pakai style apa Nair? Kok sampe cidera kaki! Hahahah..." Terdengar suara lainnya mengimbangi ucapan pria pertama. Dan keduanya terdengar terbahak-bahak.
***
Siapa tamu lakn*at itu guys? 😅
Kisah ini udah diujung yaaa...
Othor mau lanjut Selena's First Love dulu.
Dan akan rilis novel baru dalam bulan ini... insyaallah.
__ADS_1
Tetap setia baca karya emak ya guys 😍😍😍