
Acara aqiqah berjalan lancar. Saat tamu sudah pulang seluruhnya, dan hanya menyisakan anggota keluarga, sebuah mobil putih memasuki halaman rumah Nath yang hampir tidak lagi bisa menampung kendaraan itu.
Dua orang dewasa dan satu balita yang entah sejak kapan menjadi akrab dengannya dan Tiara turun dari mobil.
Nath menyambut mereka dengan senyum mengembang. Balita itu langsung berlari dan menubruk kaki Nath.
Nath berjongkok di hadapannya dan menatap mata jernih itu. Mata yang sejak beberapa minggu terakhir selalu memancarakan kilatan kebahagiaan.
"Halo kembaran, om! Apa kabar?" Sapa Nath pada El. Bocah yang memiliki nama yang sama dengannya.
"Baik om! Om tau gak?"
"Apa?"
"El main saljuu loh!" El tertawa menutup mulutnya. "Saljunya banyaaaaaak banget."
"Oh, ya? Sebanyak apa?" Nath menggoda bocah laki-laki yang tampak ceria itu.
El berfikir sejenak. Lalu ia menjawab, "Banyaaaak banget! Sampai menutupi badan ayah sama bubun." El menunjuk dua orang dewasa di belakangnya.
Nath menggendong El dengan satu tangannya. "Ceritanya di dalam aja, ya. Tante Titi pasti mau dengar juga!"
"Apa kabar, Rey? Gila! Bersinar banget tuh muka!" Sapanya pada Reyfan yang sebulan lalu baru saja menikah dengan Cloudy.
"Sehat Clou?" tanya Nath basa-basi.
"Sehatlah. Happy gini." Cloudy memang tampak lebih bahagia. Senyuman selalu muncul di wajah cantiknya.
"Siapa tahu capek begadang terus. Siang ngurus anak, eh malamnya ngurus bapak." Nath tertawa sambil berjalan masuk.
"Jangan meracuni fikiran El Nathku! Aku gak mau dia kayak kamu, Nath!" Ucap Cloudy sedikit berteriak. Ia tak ingin putranya meniru tingkah Nath yang dianggap kembaran oleh El.
"Jangan marah-marah, Clou. Dia cuma becanda."
"Iya Rey. Tapi kelewatan." Cloudy kesal karena Reyfan seperti lebih membela Nath.
Reyfan dan Cloudy, sebuah kisah cinta yang juga diawali dari sebuah kesalahan. Dari malam tanpa cinta hingga kini mereka dipersatukan oleh cinta dan juga El kecil.
Setelah hasil tes DNA keluar beberapa bulan lalu, Cloudy tidak lagi bisa mengelak dari Reyfan. El memang terbukti darah daging Reyfan.
Cloudy merasakan perasaan aneh mengisi seluruh sudut hatinya saat El begitu nyaman dalam pelukan Reyfan. Mungkin itu yang disebut ikatan batin antara ayah dan anak.
Dan hati bekunya perlahan luluh karena pelukan hangat bundanya Reyfan. Wanita yang juga memeluk hangat El kecil sambil menangis senggugukan.
"Bunda dan ayah tidak pernah tahu ada bayi tidak berdosa diantara Reyfan dan kamu." Reni kembali menyeka air matanya sementara Rendi terus mengelus bahu istrinya. Saat itu mereka tengah berbicara berempat.
Reni memang hanya ibu sambung bagi Reyfan, tapi ia menyayangi Reyfan seperti putranya sendiri.
Entah terbuat dari apa hatinya, hingga dengan mudah ia memaafkan Reyfan. Mungkin karena kata maaf yang begitu tulus dan perubahan menjadi lebih baik yang selalu Reyfan tunjukkan.
"Kenapa kamu tidak datang, Nak?" Tanya Reni pada Cloudy.
Cloudy terdiam sejenak, ia juga turut menghapus air matanya. "Saya hampir datang, tante. Hampir saja."
Reyfan menatap Cloudy dalam. Kamu hampir datang Clou?
"Tapi sebuah kabar bahwa Reyfan di penjara karena kasus penculikan, membuat semuanya hancur, tante."
"Saya bertekat tidak akan menyerahkan dan memberi tahu Rey tentang anak kami. Saya rela membesarkannya sendiri. Demi melindunginya."
"Bagaimana bisa saya percaya pada orang jahat sepertinya, tante?" Cloudy melirik Reyfan sekilas.
"Belum lagi Nath dan Tiara. Saya takut mereka membalas Rey melalui putra kami."
Dan semuanya berakhir dengan baik, saat El semakin menemukan kebahagiaanya. Bocah itu bahkan lebih memilih ditinggal di rumah orang tua Reyfan dibanding ikut Cloudy ke restoran.
Dunia Cloudy berubah dalam sekejap, saat Reyfan benar-benar berubah dan terus menunjukkan niat seriusnya.
Reyfan mulai menjalankan usaha orang tuanya, tanpa ambisi tanpa rasa ingin menguasai.
Ia benar-benar banyak belajar dalam hidupnya. Kesalahannya dulu bukan hanya mengorbankan Tiara tapi juga dirinya, keluarganya bahkan Cloudy dan El.
Kasih sayang Rendi dan Reni membuat Cloudy seperti menemukan rumahnya. Menemukan sosok ayah dan bunda yang tulus menyayanginya. Dua hal yang tidak ia miliki lagi.
Sekarang, Cloudy tidak hanya berjalan berdua sambil menggandeng tangan El. Tapi kini ia dirangkul oleh banyak orang.
Siapapun pernah salah, dan siapapun bisa berubah. Bukankan Tuhan maha membolak-balikkan hati manusia. Seperti Reyfan yang bisa berubah, begitu juga kerasnya hati Cloudy.
***
Cloudy langsung menemui Tiara dan bayinya. "Loh, kok udah nampak berisi banget sih, Ti."
"Perasaan pas dirumah sakit belum segembul ini pipinya."
Tiara tertawa melihat reaksi Cloudy yang terkejut. "Kuat banget minum ASInya kak."
"Oh ya... bagus dong! ASI kan memang lebih bagus dari pada sufor."
"El, sini sayang. Lihat adeknya nih, cantik banget loh." El berjalan mendekat dan ia langsung terkekeh geli.
"Bubun, dedenya kayak boneka."
Reyfan ikut tertawa. "Kita bawa pulang yuk El." Kalimat Reyfan langsung membuat mata El berbinar.
"Mau... mau... mau..." El kecil bersorak kegirangan. "Horeeee kita bawa pulang dedenya."
__ADS_1
Nath mengusak rambut El. "Bubun sama ayah lagi buatin kamu yang kayak gini sayang. Sabar yaaa."
"Naaath!" Geram Cloudy karena ia terus mengatakan hal yang memancing pertanyaan El.
"Kapan buatnya bun? El kok gak tau!"
Skak mat! Nath menutup mulutnya menahan tawa saat Cloudy tampak bingung menjawab.
"Kalau malam, El, makanya El jangan sering bangun kalau tengah malam, biar ayah.... Aduh!" ucapan Nath langsung terpotong saat Cloudy dengan keras menginjak kakinya.
"Abang! Kebiasaan banget!" Tiara ikut marah. "Mulutnya minta dijahit emang!"
"Rey, istri kamu brutal banget!" adunya pada Reyfan yang menahan tawa. "Dibilangin dong!"
"Kamu yang kelewatan Nath."
Begitulah mereka sekarang, saling memaafkan dan melupakan masa lalu. Menjalin hubungan baik demi kebahagiaan bersama.
Memendam rasa benci hanya membuat hidup Tiara terbebani terlebih saat Reyfan berkali-kali telah memohon maaf. Nath juga akhirnya melepaskan semua beban kebencian itu
***
Cloudy sudah pulang sejak sebelum magrib tiba. Dan semua keluarga benar-benar sudah pulang. Tapi bel rumah Nath masih berbunyi pada malam hari.
Nath membuka pintu dan menemukan Shaka ada di depannya. "Selamat atas aqiqahan baby Nara." ucapnya ceria.
Nath memasang muka masam. "Acara udah selesai sejak sore tadi, Ka. Makanan udah habis, bungkusan juga udah habis dibagikan."
"Astaga! Gak ada menghargai-menghargainya nih orang!" keluh Shaka karena Nath seperti tidak menerima dengan kedatangannya. "Aku cuma mau bilang selamat, bukan minta bungkusan, Nath."
"Aku dari bandara langsung kemari loh!" Shaka langsung masuk tanpa permisi. Ia memang baru saja pulang dari kalimantan untuk melihat pertambangan milik orang tuanya.
Saat ini Shaka mulai serius meneruskan kerajaan bisnis ayahnya karena kelak memang dia yang harus menjalankan semua usaha itu.
"Kenapa gak pulang kerumah?" tanya Nath.
"Pengen mampir aja." Shaka menyandarkan kepalanya di sofa.
Nath terkekeh mendengar jawaban Shaka yang dengan cepat ia ucapkan.
"Ingin mampir atau takut menghadapi kenyataan bahwa kenangan di rumah begitu indah dan menyiksa."
Drama banget kalimat kamu, Nath. Batin Shaka sambil menatapnya jengah.
Nath tertawa melihat ekspresi Shaka. "Benar kan tebakanku."
Shaka tertawa miris.
"Kalau jodoh gak kemana, Ka!" Nath menepuk bahu Shaka.
"Tapi saingan dimana-mana, Nath!" Shaka seperti berkecil hati.
"Tapi namanya Syafa, bukan cinta." gumam Shaka pelan.
Nath tertawa puas. "Gegana banget sih, abaaaaang!" goda Nath.
"Cari yang lain aja deh, saranku."
Shaka menatap Nath tajam. Ia langsung bangkit dari sofa.
"Mau kemana?"
"Pulang!"
"Eh, dia marah."
"Susah ngomong sama kamu, banyak becandanya."
"Ngomong sama Niar juga banyak ceramahnya."
Shaka berjalan keluar, Nath mengikutinya dari belakang. "Datang gak bawa apa-apa buat keponakan, Ka?"
Shaka berbalik. "Ku transfer aja entar." jawabnya singkat.
"Aseekkk. Aku suka cara main kamu, Ka. Langsung SMS Banking yang masuk."
"Matree!" cibir Shaka.
"Sekarang mau kemana?"
"Hang out aja deh, sama bang Caraka."
"Dia lebih terbuka buat dijadiin temen curhat."
Shaka langsung masuk ke dalam mobilnya. Mobil yang diantar supir ke bandara dan langsung ia bawa ke rumah Nath.
Nath tertawa. "Bagus deh. Ngumpul sana para jones!"
"Cih! Sombong!" Cibir Shaka yang bersiap pulang. "Pikirin puasa 2 bulannya, Nath."
Nath langsung diam tak berkutik. Dia salah langkah sepertinya.
"Hahahah... Ikut aku sama Caraka yuk, kita ke club. Cari yang bisa di ahhh! " Ajaknya bercanda.
"Ogah! Gak ada lebel halalnya, Nath!"
__ADS_1
Shaka kembali tertawa. "Emang pake sabun halal, Nath?"
Nath kesal. "Pulang sana!" usirnya dengan menggerakkan kedua tangannya.
"Ini juga mau pulang!"
"Entar transferan ku tambahin goban (50 ribu), buat sumbangan beli sabun!" Mobil Shaka melesat keluar gerbang rumah Nath.
"Shaka Kampr****t!"
****
Nath menekuk wajahnya masuk ke kamar. "Siapa yang datang, Bang?" tanya Tiara yang tengah duduk di sofa sambil menyusui Nara.
"Shaka."
"Sebentar banget."
"Biasalah. Dia mah mau curhat doang kesini."
Nath duduk disamping Tiara. Ia mengintip putrinya yang tengah menyusu dan menutup wajahnya dengan tangan mungil itu.
"Syafa beneran gak balik lagi, Bang?"
Nath mengangkat bahu.
Tiara tertawa pelan. Ia melepaskan diri dari putrinya yang mulai terlelap. Tiara menyandarkan kepanya di bahu Nath.
"Kadang kita gak tau hidup bakalan bawa kita kemana ya, Bang?" tanya Tiara dengan pandangan kosong menatap tiap foto yang terpajang di dinding.
"Kamu bener, Ti."
"Dulu kita orang asing, dan sekarang bersama."
"Dulu sulit jatuh cinta tapi sekarang malah takut kehilangan." Nath mengecup pucuk kepala Tiara.
"Ada di titik ini, itu sangat jauh dari mimpiku, Bang!"
"Punya kamu, Nara, mama, papa, keluarga, dan sahabat seperti mereka semua sama sekali gak pernah ku bayangkan."
"Semua itu terjadi karena..."
"Karena kesalahan?" potong Nath.
"Bukan...!" tegas Tiara.
"Tapi karena kamu pria baik yang mau bertanggung jawab."
"Bagaiamana jadinya kalau kamu gak tanggung jawab, Bang!"
"Kupastikan keluargaku seperti lahan bekas peperangan, Ti."
Tiara menatap Nath, "Kok gitu, Bang?"
"Iya dong! Keluargaku akan kocar kacir. Bang Ezra akan membenciku, dan bagaimana dengan kak Zoya. Dia pasti bingung memilih antara keluarganya atau suaminya."
"Rion, kak Bi, papa, mama. Huuh! Bisa mat*i aku ditangan mereka kalau dulu aku kabur, Ti." Tiara terkekeh.
"Pilihan ada tiga. Di penjara, mat*i, atau dibuang."
"Jadi, karena gak kuat menanggung ketiganya, aku milih nikahin kamu."
"Kurang asem. Jadi terpaksa ini?" tanya Tiara menjauhkan wajahnya dari Nath.
Nath merengkuh leher Tiara dan mendekatkan wajah mereka.
"Dulu bukan terpaksa, Ti. Tapi lebih sebagai bentuk tanggung jawab seorang pria gentleman."
Nath menyatukan bibir keduanya. Menyesap rasa manis nan lembut. Menyelami seberapa dalam rasa cintanya. Mencari seribu alasan untuk terus bersama.
Nath berhenti, ia melepaskan Tiara. Ia tidak bisa mengukur sedalam apa rasa cinta itu. Ia terlalu tenggelam dalam rasa.
"Terima kasih!" Hanya kata itu yang mampu terucap.
Tiara kembali menyatukan mereka, ia melakukan hal yang sama, mencoba menyelami perasaan yang menghanyutkan keduanya.
"Terima kasih juga penyesalan terindahku," bisik Tiara pelan.
****
Semoga kisah ini bisa memberikan banyak pelajaran pada kita semua. Tentang betapa pentingnya mengambil sebuah keputusan. Keputusan yang kita ambil saat ini jelas akan membawa pengaruh besar di masa depan.
Tentang bagaimana peran keluarga sebagai support system yang paling dibutuhkan setiap anak meski sudah sedewasa apapun mereka.
Tentang menerima kata maaf dari orang lain. Karena saat kita memaafkan kesalahan orang lain, maka saat itu kita tengah menolong diri kita untuk melepaskan diri dari rasa marah, kecewa, benci dan dendam.
Tentang menjadi manusia yang jauh lebih baik. Menjadikan kesalahan demi kesalahan sebagai pelajaran berharga agar tidak kembali masuk ke lubang yang sama.
Akhir kata, emak mengucapkan banyak terima kasih untuk dukungan kalian yang luar biasa.
Tanpa kalian, El Nath dan Tiara bukan apa-apa. Terima kasih yang mau coret kolom komentar meski hanya dengan kata Lanjuuuut. 😗😗 Lope kalian. 😍
Hadiah, vote, like, favorit semuanya. Thank you 😘😘
Semoga kita semua selalu diberi kesehatan dan kebahagiaan. Amin ya rabbal 'alamin.
__ADS_1
Terima kasih banyak semuanya 🤗🤗🤗
NB : mulai besok kita akan masuk dalam kisah Nair 😄 mohon jangan di unfavorit yaaa.