EL NATH ( Penyesalan Terindah)

EL NATH ( Penyesalan Terindah)
Bab 42 Masih belum?


__ADS_3

Rumah keluarga Alvarendra.


Akhtar menyambut keluarga besannya yang mengantar anak dan menantunya untuk tinggal di rumah ini. Lintang dengan senyum mengembang memeluk Tiara.


"Apa kabar, Sayang."


"Baik ma."


"Cantik." Lintang mengelus pipi Tiara dengan ibu jarinya. Wanita 48 tahun itu menatap haru menantunya yang kini tampil dengan gamis dan hijab yang ia hadiahkan di kotak hantaran.


"Terima kasih, Ma. Mama juga cantik." Tiara turut memuji mama mertuanya.


"Hai wanita tercantik, ibu negaranya Alvarendara." Nath tak mau kalah. Ia menyapa mamanya dan langsung di hadiahi cubitan dipipi.


"Kamu gemukan, Nath. Cuma tiga hari loh disana? Tiara pinter nih ngurus kamu." Lintang membuat Nath mencebikkan bibir.


"Tia mama peluk, giliran anak sendiri dicubit." Meski bibirnya berkata demikian, ia tetap mendaratkan kecupan singkat di pipi mamanya.


"Cium istri kamu, Nath! Jangan mama terus."


Nath tersenyum menatap mamanya. "Gak disini, Ma."


Nath meninggalkan mamanya lalu menatap Tiara sekilas. Kenapa dia menunduk dan wajahnya bersemu merah?


Nath, tiga hari ini ia selalu berhasil mendaratkan ciuman di bibir istrinya setiap pagi sebelum Tiara bangun. Nath melakukannya karena dia lelaki normal dan tak mampu menahan diri untuk menyia-nyiakan sesuatu yang halal di depannya.


Namun, untuk melakukan hal lebih sepertinya belum saatnya. Nath harus bersabar dan terus bersabar.


Tiara menatap Nath yang berjalan mendahuluinya. Orang tuanya juga sudah berjalan ke ruang tamu bahkan asisten rumah tangga sudah menyuguhi mereka teh dan cemilan.


Tiara menatap punggung pria yang ia tahu dua hari ini mencuri ciuman di bibirnya. Ia sudah terbangun lebih dulu kemarin pagi dan pagi ini tapi kembali memejamkan mata saat Nath bangun.


Ia bisa merasan hembusan nafas Nath yang hangat menyapu wajahnya. Dan benda kenyal dan basah itu menyapa lembut bibirnya di setiap pagi.


Tiara tidak mungkin marah karena itu hak suaminya. Tiara sudah pasrah jika suatu saat nanti Nath menuntut haknya.


Tiara menyusul pria yang sejak tiga hari ini menjadi kepala keluarga baginya. Keduanya bahkan tampil kompak dengan pakaian berwarna senada.


Tiara duduk di sebelah Nath. Keduanya tampak serasi. Bintang dan Rion bahkan saling berbisik dan menertawakan keduanya.


"Tebak Bi, mereka uda gowes 10 km apa belum?" bisik Rion pada istrinya tanpa bisa di dengar orang lain.


Bintang menutup mulutnya, entah mengapa kali ini dia ingin ikut-ikutan jahil seperti suaminya. "Feeling ku sih belum, Yang."


"Sama. Aku cuma takut cakaran di punggung Nath bukan karena itu. Tapi karena mereka benar-benar berkelahi." Keduanya kompak menutup mulut menahan tawa.


"Kenapa ketawa terus?" tanya Nath dingin.


Kedua pasang orang tua mereka langsung menatap Nath dan sepasang calon ayah dan bunda yang tampak menahan tawa.


"Enggak. Gak kenapa-kenapa," jawab Rion tanpa dosa.


"Ada apa, Bi?" tanya Akhtar pada putri tersayangnya.


"Gak ada, Pa," jawab Bintang.


****

__ADS_1


Malam hari di kamar baru Nath dan Tiara.


Tiara keluar dari kamar mandi dan membuka lemari pakaian berulang kali. Mencoba mencari sesuatu yang ia harap bisa segera ditemukan.


Nath yang tiduran di ranjang bingung melihat Tiara yang seperti ayam yang mau bertelur. "Kenapa Ti?"


Tiara tak menjawab, ia mencari di lemari paling bawah, dan tak juga menemukan sesuatu yang ia cari.


Nath bangun dan menahan tangan Tiara. "Kamu cari apa?"


Tiara tampak gugup. "Ehm itu."


"Iya, itu apa?"


"Cari pembalut." Tiara menunduk malu.


Nath tersenyum. "Ada gak?"


Tiara menggeleng. "Kayaknya ketinggalan di rumah."


"Baru aja? Kayaknya magrib tadi kamu masih sholat." Tiara mengangguk.


"Kita ke minimarket depan komplek?" tawar Nath dan Tiara langsung menatapnya lalu mengangguk.


Keduanya bersiap. Tiara yang hanya memakai setelan baju tidur celana dan baju lengan panjang itu melengkapi penampilannya dengan cardigan panjang dan hijab instan.


Keduanya keluar dari kamar yang terletak di lantai satu. "Mau kemana Nath?" tanya Akhtar yang masih menonton tv.


"Ke minimarket depan, Pa."


Keduanya menaiki motor matic milik Bintang. "Gak apa-apa kan, naik ini?" Tiara mengangguk. "Gak masalah, Bang."


Tiara menggeleng. "Biasa cuma 5-7 kok. Buat stok aja. Biar gak ribet kalau tiba-tiba datang lagi."


"Beli snack?" tawar Nath.


Tiara menggeleng. "Beli buah aja, Bang. Kata dokter harus makan makanan yang bergizi."


Keduanya keluar dari minimarket setelah membayar belanjaan. Nath melajukan sepeda motornya dengan kecepatan rendah saat masuk ke gerbang komplek.


Keduanya masuk ke kamar dan Tiara langsung masuk ke kamar mandi.


"Ini yang pertama setelah keguguran?" tanya Nath saat Tiara keluar dari kamar mandi. Ia mencari tahu banyak hal mengenai seputar masalah keguguran.


"Iya."


"Kapan check ke dokter lagi?"


"Udah bagus semua kok, Bang. Gak perlu lagi ke dokter."


Nath mengangguk lalu ia menepuk ranjang meminta Tiara duduk di sebelahnya. Dengan sedikit ragu Tiara menurut.


Keduanya saling tatap cukup lama. Nath merasa harus menyampaikan ini, karena sepertinya Tiara juga belum tahu bagaimana harus menempatkan dirinya.


"Ti, status kita sekarang adalah suami istri. Sesuatu yang haram yang dulu pernah kita lakukan, saat ini telah halal jika kita lakukan lagi." Nath berusaha bicara dengan hati-hati supaya tidak terjadi kesalah fahaman.


Tiara faham arah bicara Nath. Ia tahu posisi dan statusnya saat ini. Ia tidak mungkin terus menghindar, karena pernikahan ini ia terima dan jalani tanpa paksaan.

__ADS_1


"Kamu tau, aku punya hak untuk menyentuhmu dan kewajibanku untuk memberimu nafkah batin."


"Dan aku lelaki normal yang punya kebutuhan akan hal itu."


Tiara mengangguk faham.


"Aku tidak memintanya sekarang." Tiara tampak lega. "Aku tau kondisi fisikmu masih baru saja sembuh, Ti."


"Kamu juga belum boleh kembali mengandung."


Tiara menatap Nath. "Tapi... kata dokter ...." Tiara bingung harus mengatakan apa. Karena saat kontrol terakhir ke dokter Nath tidak ikut menemaninya. Ia pergi bersama Ibu dan mama Lintang.


Nath menunggu Tiara berbicara. "Kata dokter boleh untuk melakukan ... setelah 2-6 minggu atau setelah haid perta ... ma," ucap Tiara ragu.


"Kalau hamil, minimal setelah 3 kali siklus ... haid."


Nath memberanikan diri menepuk pucuk kepala Tiara. "Aku sudah tau."


Seketika Tiara mengangkat wajahnya menatap Nath yang tersenyum lebar. "Aku sudah tanya banyak hal pada tante Sania. Jangan khawatir."


Tiara mengangguk lemah dan tersenyum canggung.


"Terima kasih, mau mengerti posisiku." Tiara memeluk Nath. Tangan kokoh Nath langsung mendekapnya erat tak menyianyiakan kesempatan ini tak luput dari perhatian Tiara. Dia tidak menyia-nyiakan kesempatan, rupanya.


"Bang!" bisik Tiara pelan tepat di telinga Nath. Membuat Nath terkesiap.


"Ya..." jawabnya tanpa mereka melepaskan pelukan.


"Kalau mau cium jangan pas orangnya lagi tidur. Udah terbiasa memanfaatkan orang yang gak sadar rupanya, ya?" Tiara membisikkan kalimat yang lebih terdengar seperti tuduhan di telinga Nath.


Tiara tertawa saat melepaskan pelukannya. Ia berusaha lepas dari Nath dan melenggang menjauh untuk pindah ke sisi lain ranjang besar ini.


Dan otak cerdas Nath terlalu cepat untuk memproses setiap kalimat istrinya. Nath kini mengerti, selama dua hari ini, Tiara tau dia telah mencuri ciuman dibibir mungil itu.


Nath meraih pinggang Tiara dan mendaratkan tubuh mungil itu tepat di pangkuannya. Tiara berusaha melepaskan diri tapi pelukan Nath terlalu erat. "Nantangin, uh?" bisik Nath di telinganya.


Tiara perlahan menatap wajah tampan suaminya. Nath menyeringai berusaha membalas Tiara. Nath memejamkan mata. "Kalau begini gak terlihat ngeselin, kan? Lumayan tampan kan suami gak jelasnya kamu ini?"


Tiara ingat ucapannya saat itu. Ia menunduk malu karena juga telah ketahuan mengagumi suaminya sendiri.


Nath menaikkan dagu Tiara dengan jemarinya. "Pagi itu kamu membangunkan sesuatu di bawah sana, Ti. Menempelkan ini," Nath menunjuk dada Tiara dengan dagunya. Dada yang dengan jelas saat ini bisa ia lihat belahannya. "tepat di lenganku."


"Aku bisa saja memaksamu lagi pagi itu. Tapi tidak ku lakukan, Ti."


"Ku katakan sekali lagi, aku pria normal." Tiara tak bergerak sedikitpun. Ia bisa merasakan sesuatu dibawahnya sudah siap tempur.


"Melihatmu seint*m ini dan halal untuk ku ...."


Kata - kata Nath terhenti saat ia sudah menyatukan bibir keduanya. Tiara sudah pasrah dan tak menolak perlakuan Nath.


Sent*han lembut yang ia rasakan untuk pertama kali. Dadanya bergemuruh hebat, nafasnya naik turun.


Nath melepaskan diri. "Kenapa gak balas, Ti?" bisik Nath di depan wajahnya.


"Almarhum gak pernah mengajarimu?" Maksud Nath adalah almarhum Reyga.


Tiara masih mengatur nafasnya. Entahlah, sesuatu dalam dirinya terasa terbakar. Tubuhnya seperti meminta lebih. Tiara memeluk leher Nath erat. "You're the first," bisik Tiara di telinga Nath.

__ADS_1


***


__ADS_2