
Malam minggu.
"MashaAllah, yang mau ngapel, wanginya kayak kembang 7 rupa," seru Nair saat membuka pintu kamar. Ia baru pulang dari masjid.
Selepas sholat magrib di masjid, Nair selalu rutin ikut belajar mengaji dan terkadang ikut mendengarkan ceramah. Tergatung jadwal yang sudah diatur oleh pengelolah masjid.
Nath tidak menanggapinya. Ia fokus mematut dirinya di depan cermin. Merapikan pakaian dan rambut lalu menyambar sweater yang sudah ia siapkan di atas ranjang.
"Pergi dulu, pak Ustadz. Assalamualaikum," pamit Nath pada kembarannya.
"Waalaikumsallam. Ingat, Nath. Jauhi zina." Nair menatap Nath dengan telunjuk mengacung di depan wajahnya.
"InsyaAllah Tadz." Nath mengedipkan sebelah matanya.
Nath keluar kamar dan mendapati orang tuanya di ruang keluarga tengah menonton tv.
"Nath? Mau kemana?" tanya Lintang heran. Setelah sebulan lebih, ini kali pertama Nath akan pergi dengan wajah segar dan ceria.
"Ke rumah Tiara, Ma, Pa."
"Haah!" Akhtar dan Lintang terkejut.
"Pergi dulu, Ma, Pa?" Nath menyalami kedua orang tuanya yang masih bingung dengan sikapnya.
"Mas ...." Lintang menatap suaminya.
Akhtar mengangkat bahu. Dia juga tidak tahu apa yang terjadi pada putra mereka.
Suara motor sport Nath meninggalkan pekarangan rumah tepat saat Nair turun dari atas.
"Kenapa, Ma, Pa?" tanya Nair saat melihat orang tuanya saling tatap.
"Itu. Nath kenapa, Nair?"
Nair mengangkat bahu. "Udah sadar lagi jatuh cinta kali, Ma."
"Maksud kamu?"
Nair ikut bergabung dengan kedua orang tuanya. "Kemarin Tiara dilamar orang."
"Apa!" Lintang dan Akhtar kembali terkejut. "Siapa?"
"Itu, si Reyfan abangnya mantan Tiara, Ma."
Lintang dan Akhtar mengangguk. "Tapi di tolak sama orang tua Tiara," lanjut Nair.
Huuhh!
"Alhamdulilah," ucap keduanya kompak.
"Kamu tau dari mana?"
"kita tadi siang ngumpul di R cafe, Ma."
...Flashback On....
Siang tadi...
"Kenapa kucel banget tuh muka, Nath?" tanya Ethan yang duduk menyandarkan kepalanya di sofa.
Nair yang sedang menyantap sepiring mie goreng sampai menoleh. Ia melihat Nath yang tengah duduk di sofa sambil menekuk wajahnya
"Tiara dilamar orang."
"What!" Ethan sampai menaikan kedua kakinya di sofa hingga posisinya berjongkok diatas sofa. Rion dan Nair sampai ternganga.
"Gimana bisa? Selama ini dia punya pacar?"
Nath menggeleng. "Enggak. Dia abang mantannya."
Nath akhirnya menceritakan tentang janji Tiara pada Reyga. Mencoba membagi dengan sahabatnya, dengan harapan mendapatkan jalan keluarnya.
"Itu sih gak adil buat Tiara, Nath." Ethan yang pertama kali menanggapi. "Iya kalau dia cinta. Kalau enggak, iya kali mereka maksa?"
"Itu dia masalahnya, Than. Tapi udah ditolak sih sama keluarganya, karena aku mau tanggung jawab."
"Harusnya sih, udah clear dong masalahnya." Rion akhirnya ikut bicara.
__ADS_1
"Harusnya sih iya. Tapi kalian gak lihat Reyfan gimana, sih."
"Dia kenapa Nath?" tanya Nair.
"Dia ..." Nath berfikir sebentar mencari kata-kata yang pas. "Dia seperti terlalu berambisi untuk menikah sama Tiara."
Ketiganya masih menyimak. "Sampai dia menantangku dan bilang, siapa yang akan menang."
"Jelas-jelas dia tau, Tiara pernah mengandung anakku dan dia masih datang."
"Harusnya dia tau dong aku mau tanggung jawab."
Seketika semua terdiam dan hanyut dalam pikiran masing-masing.
"Aku setuju sama kamu, Nath. Dia punya maksud," ucap Ethan.
"Nah, kan? Kamu juga mikir gitu."
"Jangan su'udzon sama orang lain," ucap Nair.
Ketiganya saling tatap dan kompak berkata, "Baik Pak Ustadz."
"Jadi, ini gimana?"
"Jalan satu-satunya, percepat pernikahan." Usul Rion yang berhasil membuat mata Nath membulat.
"Masalahnya-"
"Belum kerja? Belum siap? Atau belum punya modal?" potong Rion.
"Tabunganku belum cukup."
"Kita patungan," usul Ethan.
"Terus Tiara jadi milik bersama, gitu?" sungut Nath kesal.
"Nah, kan. Mulai bucin," ejek Ethan sambil tertawa dan berhasil membuat Nath kesal.
"Bisa serius gak?" tanya Nath.
"Buat apa? Toh bulan depan juga udah nikah," sambar Nair.
Nath menggaruk kepalanya. "Ngobrol sama kalian malah makin pusing, tau gak!"
Nath memejamkan mata. "Dari pada pusing gak jelas, mikirin cara buat Reyfan mundur. Mending kamu berusaha dekat dan membiasakan diri dengan Tiara." Perkataan Rion membuat Nath kembali membuka matanya.
"Aku setuju kali ini," ucap Nair.
"Caranya?"
"Nih akibat kelamaan jomblo dan gak ahli dalam dunia pergadisan." Kata-kata Ethan membuat semua irang berdecak.
"Pergadisan! Bahasa apa itu?" cibir Rion.
"Buat moment sama Tiara, Nath."
"Ajak dia beli cincin."
"Libatkan dia dalam persiapan pernikahan."
"Tanya dia mau mahar apa?"
"Ajak photo box, free di studio papaku."
"Ck! Promo terus!" Sindir Rion dan berhasil memancing tawa Ethan.
"Penebus dosa, Yon. Minuman dariku kan punya andil besar." Nath menatap tajam pada Ethan.
"Harusnya sih sekalian free W.O tante Nathali sama fotografer handal om Josep pas akad nanti, Nath," Rion mengompori Nath.
"Harus!" Sambar Nath semangat. Gelak tawa pecah saat melihat wajah Ethan yang sudah pasrah. Jelas, tugasnya adalah merayu papa dan mamanya untuk menangani akad nikah Nath nanti.
"Jadi, intinya aku harus mengakrabkan diri dengan Tiara?"
...Flashback off...
Lintang dan Akhtar tersenyum mendengar cerita Nair. "Dia berusaha berusaha serius dalam hubungan ini, Ma."
__ADS_1
"Kelihatan banget kan?" tanya Nair.
Lintang dan Akhtar kompak mengangguk. "Kita harus dukung dia, Mas."
"Pasti sayang. Nath harus bisa menjadi orang yang bertanggung jawab. Mungkin sudah saatnya dia mandiri mengurus salah satu bisnis kita."
"Dia kuliah, Mas. Kamu mau serahkan minimarket papa ke dia?"
Akhtar menatap istrinya. "Enggaklah. Minimarket itu ada hak Nair, Caraka sama Shakilla."
"Kita kasih dia kostan aja untuk dia kelolah. Untuk dia membiayai istrinya. Lagi pula, dia bisa pantau sambil kuliah, Sayang."
"Alhamdulilah ..." Nair bersyukur karena kedepannya Nath tak perlu terlalu memusingkan masalah ekonomi.
"Kamu gak cemburu, kan Nair karena Nath papa kasih kepercayaan?"
Nair menggeleng. "Justru Nair senang, Pa. Nath gak akan pusing memikirkan masalah ekonomi. Karena beberapa kali dia bilang akan bekerja paruh waktu setelah menikah nanti."
Lintang dan Akhtar saling tatap. "Dia gak cerita sama mama, Nair."
"Mungkin belum, Ma. Itu masih rencana."
Sementara itu, Nath baru saja tiba di rumah Tiara masuk ke teras dengan membawa bungkusan berisi martabak yang sempat ia beli saat di jalan tadi.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," sahut gadis kecil yang membukakan pintu.
Nath beberapa kali sudah bertemu Naura-adiknya Tiara. Saat pernikahan Bi dan Zoya serta saat di rumah sakit.
"Masuk, Bang."
"Siapa, Ra?" teriak sebuah suara yang Nath kenal.
"Bang, Nath kak."
Nath masuk ke dalam dan melihat Tiara tengah tiduran di atas karpet sambil menonton tv. Serta ada buku gambar dan crayon diatas meja belajar kecil di dekatnya.
Nath ikut duduk di atas karpet bersama Naura dan Tiara. "Tidur aja, Ra. Gak apa-apa," perintahnya pada Tiara.
Naura menatap Nath. Tiara tertawa. " Jangan panggil Ra, Bang. Di rumah ini, kalau ada yang panggilan Ra itu untuk Naura dan ibu sama ayah manggil aku Tia atau Ti."
Ah, iya. Nath mulai paham. Orang tuanya memang lebih sering memanggil, Tia atau Ti.
"Oh, maaf ya, Naura."
Gadis kecil itu tersenyum. "Tugas sekolah?Gambar apa?" tanya Nath.
"Dia gak ada tugas, emang menggambar terus kerjanya, Bang."
Tiara berdiri. "Mau minum apa?" tanya Tiara.
"Apa aja."
"Ini sekalian." Nath memberikan bungkusan plastik berisi martabak kepada Tiara. Tiara menerimanya dan berjalan ke dapur.
"Ayah sama Ibu kemana, Ra?" tanya Nath.
Naura menatap Nath. "Pergi ke pernikahan anak teman ayah."
"Kamu gak ikut?"
Naura menggeleng. "Kasian kakak di rumah sendirian."
"Bagus kamu gambarnya."
"Terima kasih." Naura tersenyum lebar.
"Nanti kapan-kapan abang beliin crayon lagi, ya."
Mata gadis berusia 10 tahun itu berbinar. "Beneran, Bang?"
Nath mengangguk. Melihat senyum Naura, membuatnya senang.
"Dia jangan dijanjiin apa-apa, Bang. Dia suka nagih, soalnya." Suara Tiara terdengar dari arah dapur. Ia membawa dua cangkir teh dan sepiring martabak diatas nampan.
Nath tertawa. "Gak masalah, Ti."
__ADS_1