
Pagi ini, setelah sholat subuh, Nath melihat istrinya itu sudah berada di dapur bersama asisten rumah tangga.
Mama Lintang juga baru saja keluar dari mushollah kecil di rumah mereka. "Kamu paksa dia pakai hijab, Nath?" tanya Lintang mengganggu konsentrasi Nath yang tengah menatap istrinya.
"Eh, enggak, Ma. Itu dia yang mau sendiri."
Lintang tertawa pelan. "Pagi-pagi udah ngelamun," ucapnya karena Nath kaget mendengar suaranya.
"Menang banyak ya, tadi malam," sambung Akhtar ikutan nimbrung.
"Enggak." Nath berjalan meninggalkan orang tuanya. Ia mengambil sepatu olahraga dan hendak jogging bersama Nair keliling halaman belakang.
Sementara itu, Tiara tengah menggoreng ayam dan Bik Imah tengah meracik bumbu nasi goreng.
"Bu, itu." Bik Imah berbisik pada Lintang. "Maksa mau bantu, Bu. Saya jadi gak enak."
"Gak apa - apa, Bik. Biarin aja. Dari pada dia bingung mau ngapain." Lintang berjalan mendekati Tiara.
"Goreng ayam, Ra?" tanyanya pada menantunya yang memakai hijab instan.
"Iya, ma." Tiara baru saja mengangkat beberapa potong ayam yang sudah matang dari penggorengan dan mulai memasukkan potongan ayam yang tersisa.
"Kata Bibik mau masak nasi goreng seafood tapi mau pakai ayam goreng buat pelengkap, Ma," lanjutnya.
"Iya. Satu keluarga ini suka nasi goreng seafood."
Lintang meniriskan minyak dari ayam yang telah digoreng ke tissu yang sudah diletakkan diatas piring. "Biar minyaknya gak terlalu banyak, Ra. Maklum papa udah tua, harus kurangi makanan berminyak," ucapnya sambil tertawa pelan.
Lintang mengatakan ini bukan tanpa alasan. Ia hanya tak ingin Tiara salah faham atau berkecil hati karena mengira caranya meniriskan ayam goreng, salah. Padahal cara yang Tiara lakukan sudah benar.
"Dulu, papa ngidam nasi goreng seafood pas hamil Nath sama Nair loh. Sekarang malah mereka berdua juga suka."
Tiara menatap mertuanya takjub. "Papa yang ngidam, Ma?"
Lintang mengangguk. "Iya. Kadang papa yang mual juga."
Tiara dan Lintang tertawa. "Beruntung banget mama sama papa bisa berbagi rasa begitu."
****
Selesai sarapan, Nath dan Nair tak langsung ke kampus karena kelas mereka di mulai tak terlalu pagi.
"Nath bilang kamu mau kuliah, Ra." To the point. Akhtar langsung bertanya pada menantunya.
Tiara menatap mertuanya dan mengangguk pelan. "Iya, Pa. Sebelum menikah Tiara udah izin bang Nath."
"Nath kasih kamu izin?"
Tiara mengangguk. "Tetap dengan syarat, Pa." Tiara tak menjelaskan syarat yang Nath ucapkan tapi ia tahu mertuanya itu pasti mengerti. Nath juga pasti sudah cerita.
"Kamu pilih kampus mana, Ra?" tanya Lintang.
"Belum tahu, Ma. Mungkin cari yang swasta dan jadwalnya gak yang terlalu padat," sahut Tiara.
"Mama boleh kasih masukan?" Tiara mengangguk setuju.
"Sebenarnya mama mau kamu kuliah satu Universitas sama Nath."
"Tapi sepertinya sulit dan belum tentu lulus karena harus melewati seleksi."
"Mama bukan meremehkan kamu, tapi jadwal disana juga sangat padat dan peraturannya ketat."
"Mama kasih kamu 2 pilihan. Satu kampus sama Rion atau sama Ethan."
"Kampus mereka dekat dengan kampus Nath."
"Kalian bisa berangkat bersama."
"Kalau pulang gak bisa bersama, mama bisa suruh supir untuk jemput kamu."
"Intinya disana ada orang yang mama percaya buat jaga kamu. Ya, walaupun gak setiap hari karena masalah jadwal dan lain-lain."
Tiara menatap Nath meminta persetujuan. "Terserah kamu, Ti. Aku gak larang."
Lintang dan Akhtar saling pandang, melihat takjub pada anak dan mantunya. Karena hanya dengan menatapnya, Nath langsung bisa menebak kira-kira apa yang akan Tiara katakan.
__ADS_1
"Tia mau bicarakan ini sama ayah, sama bang Nath dulu, Ma."
Lintang tersenyum. "Mama mengerti, Ra."
***
Sore hari, Nath pulang dari kampus dan langsung masuk ke dalam kamar. Ia tak mendapati Tiara di dalam sini.
Nath mendorong pintu kamar mandi dan "Aaaa... mmmpp." Tiara berteriak. Namun, Nath langsung menutup mulutnya.
Tiara baru selesai mandi. Ia tak mengunci pintu karena memang tak ada siapa pun di dalam kamar. Tangannya masih memegang kedua ujung handuk yang belum terlilit sempurna.
"Udah tenang?" tanya Nath dan Tiara mengangguk.
Perlahan Nath melepaskan tangannya di mulut Tiara. "Kenapa matanya? Mau marah, uh?" tanya Nath lembut.
Tapi Tiara sadar, ia yang salah. Ia menunduk dan membenahi handuknya. Sama sekali tak berani menatap Nath karena memang salahnya tak mengunci pintu.
"Lain kali kunci pintunya." Tiara mengangguk.
Nath semakin mendekati Tiara. Aroma sabun yang ia pakai seperti merayunya untuk mendekat. Sebenarnya bukan salah aroma sabun, salahkan otaknya yang berisi hal mes*m.
Nath menghadapkan tubuh Tiara ke wastafel dan ia berada tepat dibelakang istrinya. Keduanya sama sama menatap bayangan mereka di cermin.
Nath tersenyum kecil saat melihat wajah Tiara menunjukkan ekspresi siaga satu.
"Bang! Aku mau keluar."
"Sebentar." Nath menunduk dan menempelkan bibirnya di bahu Tiara. "Wangi."
Tiara tersenyum kecil. Ia membiarkan Nath melakukan apa yang ia mau. Toh hanya mencium bahunya.
"Ceritakan tentang kejadian saat Reyfan hampir memperk*samu!" Nath terus menghirup aroma sabun yang sangat terasa di kulit Tiara.
Tiara terkesiap. "Bang, aku pakai baju dulu."
"Sebentar aja."
"Kalau aku masuk angin gimana?" tanyanya.
"Aku yang kerokin. Aku siaga 24 jam."
Kalau aku katakan, aku belum pakai pembalut, dia akan melepaskan aku atau tidak ya? Ck! Lebih baik jangan. Bagaimana jika ia memeriksanya dan mengetahui kalau aku bohong. Dia kan sulit di tebak.
"Mukanya biasa aja, Tiaaaa!" Ucap Nath saat Tiara terlihat seperti orang melamun.
"Mau denger gak?"
"Iya. Oke. Mulai."
"Setahun lalu, Kak Reyfan pulang dari Luar negeri karena liburan."
"Aku ke rumahnya karena diminta datang oleh bundanya Reyga. Dan pas aku kesana, bunda belum pulang."
"Mau apa nyuruh kamu kesana?" sela Nath.
"Ih, denger dulu!" Tiara mencubit lengan Nath yang entah sejak kapan melingkar di perutnya. "Eh, tangan bisa dikondisikan gak?" tanyanya.
"Gak bisa! Lanjut!"
"Bunda Reni mau kasih hadiah kelulusan buatku."
"Kenapa gak dianter aja, atau jumpa diluar? Malah nyuruh kamu kesana." Nath kesal sendiri.
"Astaga! Batal nih ceritanya!" Ancam Tiara karena Nath terus menyela ucapannya.
"Iya... iya... gak lagi."
"Nah, terus di rumah itu cuma ada kak Reyfan
sama beberapa asisten rumah tangga. Aku di suruh menunggu di lantai dua. Di ruang keluarga tempat mereka biasanya berkumpul."
"Di atas kan gak ada asisten rumah tangga tuh, Reyfan manggil aku ke kamarnya untuk minta tolong."
"Aku gak curiga sama sekali karena selama ini dia baik."
__ADS_1
"Dia menutup kamarnya dan terus menggiringku ke sudut ruangan. Memintaku menyerahkan semuanya karena dengan alasan setahun lagi kami akan menikah."
"Dih, enak banget minta Dp."
"Aduh!" Keluh Nath karena Tiara mencubit lengannya. Nath langsung diam sadar ia salah menyela cerita Tiara.
"Dia semakin mendekat dan terus membujukku."
"Aku tetap pada pendirianku."
Bagus! Batin Nath.
"Dia membuatku terduduk di ranjang dan ia mengukungku dengan kedua tangannya yang bertumpu di pinggir ranjang."
Sialan! Batin Nath.
"Wajahnya semakin mendekat dan ku tendang daerah itunya."
Rasain! Belum tau dia, kalau si Lampir ini gadis bar-bar. Batin Nath.
Ia merespon dalam hatinya. Karena jika diucapkan, Tiara pasti sudah mencubitnya berulang-ulang.
"Terus aku lari dan keluar dari kamar." Tiara selesai dengan ceritanya sementara Nath terus menatap bayangannya di cermin.
"Udah nih, aku mau keluar." Bukan mengizinkan, Nath malah memeluk pinggangnya.
"Ti ..."
"Apa?"
"Kamu pendek banget!"
"Body Shaming tuh, dilarang Bang!" Tiara cemberut dikatai pendek. Entah dia yang terlalu pendek, atau pria di belakangnya yang terlalu tinggi. Yang pasti, Tingginya cuma sampai batas ketiak Nath.
Nath terkekeh. Tiara menatap wajah Nath dengan mendongakkan kepala. "Girang banget ya!"
Cup! Nath mencuri kecupan di bibir Tiara dan berhasil membuat wanita itu terbelalak.
"Mau marah? Halal, ini."
Tiara mencebikkan bibir. "Kenapa? Kurang, Ti?" tanya Nath mengulum senyum.
"Enggak."
Nath melepaskan pelukan di perut Tiara. "Udah, ganti baju sana!"
Tiara melenggang keluar kamar mandi. Tiba-tiba rasa ingin menjahili Nath muncul.
Dia bilang halal? Akan ku tunjukkan yang halal itu seperti apa!
Tiara menutup pintu kamar mandi, lalu membukanya sedikit dengan tangan standbye di handlenya. "Bang!"
Nath yang sudah mendekat ke shower menatap Tiara yang memanggilnya.
"Udah lihat yang halal belum?"
Matanya terbelalak sempurna saat melihat dada istrinya sudah lolos dari handuk. Handuk itu bahkan sudah tergeletak di lantai.
"Tiara!" geram Nath karena wanita itu terus menguji imannya.
"Brak!" Tiara segera menutup pintu kamar mandi dan menguncinya dari luar.
"Tiara! Buka!"
"Brak! Brak! Brak!"
Tiara terbahak di luar kamar mandi. "Hahahah... mandi dulu sana!"
"Jangan lama-lama! Nanti masuk angin!"
"Hahahaah."
***
Manis terus nih yak 😆
__ADS_1
Othor lagi baik. 😄
Entar lagi masuk konflik ringan, kak 😂