EL NATH ( Penyesalan Terindah)

EL NATH ( Penyesalan Terindah)
BonChap- Nair (2)


__ADS_3

Pagi ini Nair datang lebih cepat dari biasanya. Ia menunggu di gerbang kampus, berharap bisa kembali bertemu dengan gadis bernama Naira itu.


Nair terus menunggu hingga kurang dari sepuluh menit lagi kelasnya dimulai tapi tidak melihat gadis itu. Nair menghembuskan nafas berat.


"Huuh! Belum saatnya Nair," gumamnya sambil berjalan menuju kelas.


Nair mengambil jurusan kedokteran. Ia memang bercita-cita menjadi dokter dan akan mengambil pendidikan spesialis setelahnya.


Sangat berbeda dengan Nath, Nair memang sedikit pendiam dan tertutup. Dia bahkan hanya berteman dekat dengan Rion, Ethan dan saudara dekat lainnya. Untuk teman kampus, hanya sekedar teman belajar dan mengerjakan tugas.


Tiap ada kesempatan, Nair selalu keliling kampus. Ia benar-benar mencari sosok Naira yang menjadi sahabatnya saat kecil dulu.


Seandainya Nair tahu gadis itu belajar di fakultas apa, mungkin semua tidak akan sesulit ini.


Nair juga tetap terus ke masjid untuk sekedar kembali mendengar wanita yang belum ia tahu siapa nama dan bagaimana wujudnya tengah membaca Al Qur'an. Namun sayang, wanita itu tidak lagi pernah terdengar suaranya.


Apa wanita itu orang asing yang kebetulan mampir untuk sholat? pikir Nair saat ia tidak lagi pernah mendengar suara yang sama.


Waktu terus berlalu, hampir dua bulan Nair tidak menemukan titik terang tentang Naira dan suara merdu si pembaca Al-Qur'an.


Ia sebenarnya ingin bertanya pada beberapa anak-anak kampus. Tapi bingung bagaimana akan bertanya karena ia tidak tahu gadis itu mengambil jurusan apa dan fotonya pun Nair tidak punya.


Siang ini, Nair sengaja duduk di parkiran sambil menunggu Nath keluar kelas. Tidak ada acara kumpul-kumpul seperti dulu. Ethan sibuk kuliah dan cinta-cintaan dengan Marisa. Delvin sedang di asrama. Dan Rion sedang di luar negeri demi kesembuhannya. Kakinya mengalami kendala untuk bisa membali berjalan pasca kecelakaan.


"Lama banget, Nath!" gerutunya sebal karena Nath tak kunjung muncul.


Keduanya harus pulang bersama karena pagi tadi hujan turun deras hingga mereka harus membawa mobil.


"Alhamdulillah. Boleh, datang aja ke masjid kalau mau gabung."


"Tadarus biasanya di mulai setelah sholat Isya."


"Terima kasih, kak. InsyaAllah malam nanti aku datang."


"Duluan ya kak. Assalamualaikum."


"Waalaikum salam."


Nair menoleh kearah dua orang mahasiswi yang tengah berjalan dibelakangnya. Ia seperti mengenal suara itu.


Matanya membulat sempurna saat seorang gadis dengan hijab segi empat yang menutup dadanya berjalan sendiri karena temannya baru saja pergi.


Nair mengejar gadis itu. "Hai... tunggu!"


Gadis itu terus berjalan dan Nair langsung melebarkan langkah hingga kini ia berdiri di depan gadis yang berjalan sambil menunduk itu.


"Astagfirullahal 'adzim," gumam gadis itu saat hampir saja menabrak dada Nair.


"Sorry, sorry..." Nair mundur selangkah.


Gadis itu menatap wajah Nair sebentar. Tatapan mereka bertemu dan gadis itu langsung kembali menunduk.


Cantik. Batin Nair.


"Maaf, saya harus pergi," ucap gadis itu pelan.


"Tunggu sebentar." Nair menghalangi jalan gadis itu.


Nair mengulurkan tangannya. "Kamu Naira kan?"


"Aku Nair. Masih ingat?" tanya Nair ramah. "Al Nair Alvarendra," lanjutnya.

__ADS_1


Gadis itu mengangkat wajahnya demi melihat wajah Nair. Ia mengerutkan keningnya sebentar mencoba mengingat siapakah Nair ini.


"Ya Allah, yang kembar itu kan," ucapnya sedikit kaget saat mengingat nama Nair dan Nath.


Nair mengangguk senang karena Naira mengingatnya. "Kita satu sekolah saat TK dan SD. Sayangnya pas SD kita gak sekelas, ya."


Naira mengangguk.


Nair menatap tanganya yang mengambang di udara karena tidak kunjung disambut oleh Naira.


Naira terkesiap saat melihat Nair menatap tangannya sendiri. Ia menyatukan telapak tangangnnya di dada. "Maaf."


"Senang bertemu kembali, Nair," suara lembut itu membuat Nath seketika terlena.


Nair yang tersadar, menjadi salah tingkah. Ia menarik tangannya dan mengusap tengkuknya. Suasana jadi semakin canggung saat Nair tidak menemukan kalimat yang pas untuk ia ucapkan.


Dia sangat berbeda. Dulu ia sangat ceria dan kini ia terlihat kalem. Apa waktu bisa mengubah sifat seseorang?


Ingat Nair! Waktu berlalu sudah lebih dari 6 tahun. Siapapun bisa berubah dalam rentang waktu selama itu*.


"Apa kabarmu, Naira!"


Pertanyaan basi, Nair.


"Alhamdulilah, seperti yang terlihat. Aku baik."


Gak ditanya lagi, uh?


"Ah, ya... apa kamu kehilangan sesuatu beberapa bulan ini?"


Naira mengerutkan kening menatap Nair. Ia mencoba mengingat apa yang hilang darinya.


Naira tampak bernafas lega. Ia mengangguk. "Bagaimana kamu tahu?"


"Aku tanpa sengaja menemukannya. Saat itu tidak sengaja seseorang menabrakmu."


"Aku mengejarmu, tapi kamu sudah terlanjur pergi."


Naira mencoba mengingat. Oh, jadi terjatuh disana.


"Boleh ku minta kembali?" tanya Naira.


Nair tersenyum lebar hingga menunjukkan gigi rapinya. "Tentu."


"Tapi sayang, aku gak bawa sekarang," ucap Nair penuh sesal.


"Ah..." Dia punya ide. "Boleh minta nomor ponselmu?"


Naira tampak ragu. Ia diam sesaat.


"Ma... maksudku, supaya lebih mudah untuk bertemu."


Modusmu Nair!


"Aku tidak tahu harus mengembalikannya kemana."


Akhirnya Naira menyebutkan nomor ponsel sekaligus nomor WA nya. Nair dengan senang hati mencatat dan memberi nama Naira pada kontak barunya.


Kasih emoticon love boleh kayaknya. Tapi belum untuk sekarang, Nair! Ah, one day! Harus ada lovenya!


Nair senyum-senyum sendiri. Ia tak menyangka dirinya seperti abege yang baru saja menemuka gebetannya.

__ADS_1


Naira bisa pergi setelah Nair melakukan panggilan ke nomornya agar nomor Nair bisa disimpan oleh gadis itu.


"Lusa ku kabari, Nai," ucap Nair saat Naira sudah berjalan beberapa langkah ke depan.


Naira berbalik. Ia mengangguk sambil tersenyum.


Nair memegangi dadanya. Ya Allah, jantungku! Ah... senyummu mangalihkan duniaku.


"Kamu kenapa, Nair?" tanya Nath yang tiba-tiba datang menepuk bahunya.


"Ck!" Decak Nair tak suka karena ia terkejut saat Nath menepuk bahunya. "Ganggu aja." Nair berjalan menuju mobil dengan wajah datarnya.


"Sorry kalau lama. Tau sendiri, aku harus ngumpet dari Cloudy Nair."


Kamu terlambat, aku bisa metik hikmahnya. Hahahah...


"Makanya jangan sok kecakepan. Giliran dikejar malah kabur."


Nair dan Nath sudah masuk ke dalam mobil. Nair yang mengemudikan mobil Lintang yang sengaja mereka bawa itu.


"Lihat yang ngejar juga kali Nair. Bentukannya begitu."


Nair mengerutkan alisnya. "Cloudy cantik."


Nath tertawa sinis. "Dia cantik, tapi gayanya berlebihan Nair."


"Iya kali keluar kelas menuju parkiran pake topi pantai," ucap Nath sebal.


Nair tertawa. "Dia takut kulitnya terbakar, Nath. Perawatan mahalnya bisa sia-sia."


Nath bergidik ngeri. "Amit-amit, Nair. Ada cewek begitu, heran deh."


"Aku yang awalnya ke kampus mau belajar, jadi punya kerjaan sampingan."


"Apa?" tanya Nair tanpa menoleh karena ia terfokus pada jalan raya.


"Main kucing-kucingan sama Cloudy lah!"


"Hahahahah." Nair tertawa. "Untung beda jurusan. Kalau satu jurusan, satu ke..."


"Ah, jangan dilanjutkan! Bisa kaku berdiri aku Nair." Nath menyandarkan kepalanya di sandaran tempat duduk mobil.


****


Hai semua yang masih setia membaca novel ini 😊😊😊


Aku mau sekalian promo nih..


Mampir ke novelku yuk kak. udah di lanjut dan sekarang sudah bab 6.


Yang suka cerita anak SMA,


Yang suka cerita cinta pertama,


Yang suka konflik Ringan,


silahkan mampir kesini 😁


Kutunggu loh 😚


__ADS_1


__ADS_2