EL NATH ( Penyesalan Terindah)

EL NATH ( Penyesalan Terindah)
Bab 11 Hotel


__ADS_3

Nath dan Tiara tiba di salah satu stasiun di Kota Yogyakarta sebelum waktu subuh tiba.


"Ra..." Nath membangunkan Tiara dengan penuh kelembutan tapi tidak ada respon sama sekali.


"Tiara..." Nath berusaha menepuk pipinya pelan. "Kita sudah sampai, Ra."


"Eegghh." Tiara menggeliat, mengerakkan kedua tangannya ke udara.


"Kita udah sampai? Hoaam..." Tiara menjauhkan kepalanya dari bahu Nath. Menguap dan menutup mulutnya. Matanya menerjap beberapa kali.


"Udah. Ayo turun."


Mereka turun paling akhir. Nath membawakan ransel Tiara yang berjalan di depannya. Mereka masih memilih duduk di stasiun.


Jujur saja, setelah ini Nath belum tahu akan kemana. Ini pertama kalinya ia ke kota ini. Dan diperparah dengan tanpa adanya persiapan.


"Kamu mau ke mana setelah ini, Bang?" tanya Tiara yang sedari tadi duduk diam membisu.


Nath mengangkat bahu. "Kamu mau ke kemana, Ra?"


"Aku ke hotel Xx. Temanku sudah ada di sana, Bang."


Nath mengerutkan keningnya. "Cewek atau cowok."


"Ck!" Cewek lah." Tiara bersungut.


Nath berdiri dan mengulurkan tangannya pada Tiara. Tiara menatap tangan kokoh yang berbalut sweater itu. Telapak tangan besar yang sudah pasti menghangatkan.


"Ayo! Ku antar ke hotel."


Tiara bangun dan berjalan mendahuluinya. Dia belum terbiasa untuk bersikap manis di depan Nath. Dia masih ingat Reyga dan dia belum siap melabuhkan hatinya pada Nath.


Keduanya naik taxi menuju hotel. Nath memilih check-in disini. Lebih dekat dengan Tiara lebih baik bagi Nath. Ia bisa mengawasi pergerakan Tiara yang masih mencurigakan. Nath masih belum yakin Tiara tidak akan menggugurkan janin dalam rahimnya.


Kamar mereka berbeda 1 lantai. Nath mengantar Tiara sampai ke depan pintu kamarnya.


"Kamu masuk ke kamar sana!" Usir Tiara saat Nath sudah mengantarkannya kedepan kamar yang di dalamnya sudah ada Evelyn.


"Tunggu teman kamu keluar." Ucap Nath dingin. Ia tak terima diusir begitu.


Pintu terbuka. "Titi ku tersayang..." Seorang gadis memeluk Tiara dengan sangat erat. "Miss you sayang..."


"Ev... miss you too." Tiara membalas pelukan itu dengan sangat erat. Dan mata Nath tertuju pada perut Tiara. Ia takut tindakan Tiara ini justru membahayakan janin dalam perutnya.


"Ehm...!" Nath berdehem sangat kuat membuat kedua gadis itu melepaskan pelukan mereka.


"Siapa, Ti?"


"Te..."


"Calon suami," potong Nath cepat membuat Tiara terbelalak kaget.

__ADS_1


"Ohhh! Selamat sayang..." Gadis itu mengelus bahunya. "Memang sudah saatnya melupakan Reyga. Dia sudah bahagia disana."


Tiara mengangguk lemah.


Sehebat apa sih pria bernama Reyga itu. Kenapa gadis ini juga seperti sangat menyayanginya? Batin Nath.


"Eh, ayo masuk. Ada sepupuku, Andreas dan Jeslyn di dalam. Aku gak tau kalau kamu jadi datang. Dan keduanya merengek ingin liburan ke sini."


Tiara masuk kedalam dan Nath ikut masuk. "Kenapa masuk?" bisik Tiara kesal.


"Ada laki-laki di kamar ini."


"Aku kenal."


"Dan aku enggak." Mereka saling balas dengan suara pelan. Kilatan amarah jelas terpancar dari mata keduanya.


Nath tak mungkin membiarkan Tiara sekamar dengan pria lain. Sedangkan Tiara justru tak ingin Nath ada disini dan terus mengawasinya.


"Duduk dulu atau mau tidur?" Tawar Evelyn. "Sorry ya, Ti." Ucapnya penuh sesal saat melihat ranjang hotel yang luas itu sudah ada Jeslyn dan Andreas memilih meringkuk di sofa.


Tiara tahu, ketiganya memang kuliah di Jogja sebagai anak rantau. Mereka juga menyewa satu rumah untuk bertiga. Jadi mereka sudah terbiasa bersama dalam satu ruangan seperti ini. Walaupun menurut Tiara dan Nath, hal ini sama sekali tak membuat mereka nyaman.


"Ehm... sayang. Ayo kita ke kamar." Nath pura-pura mengantuk dan kelelahan.


"Mbak... eh... maksudku Ev. Maaf ya, sepertinya akan lebih baik jika Tiara ikut denganku atau check in di kamar lain."


"Jujur aku kurang nyaman membiarkannya sekamar dengan pria lain."


"It's okey."


Tiara dan Nath berjalan keluar. "Ti, akadnya pagi jam 9. Dan langsung lanjut ke acara resepsinya. Sekitar jam 3 an selesai."


"Jangan terlambat!"


"Siip." Tiara mengacungkan satu jempolnya.


Tiara dan Nath berjalan menuju lift dimana kamar mereka satu lantai di atas tempat mereka berdiri saat ini.


"A... aku pesan kamar satu lagi aja bang," ucap Tiara agak ragu.


"Gak usah. Ikut aku aja."


Tiara pasrah mengekori Nath yang berjalan di depannya dengan memakai tas ransel miliknya.


Keduanya tiba di kamar yang lumayan luas. "Kamu istirahat di sana." Tunjuk Nath pada ranjang besar itu. Nath langsung masuk ke kamar mandi dan membasuh wajahnya.


Nath keluar hanya dengan kaos putih, ia meninggalkan sweaternya di dalam kamar mandi. Nath bisa melihat Tiara yang sudah membuka jaketnya dan masuk ke dalam selimut.


Nath berjalan menuju sofa dan tidur di sana. Hampir sepanjang malam ia terjaga. Penyebabnya hanya satu, yaitu gadis yang tengah mengandung anaknya itu.


Bagaimana ia bisa tidur jika Tiara tidur dengan bersandar di bahunya. Nafas gadis itu juga beberapa kali menyapu lehernya. Membuat Nath kembali mengingat malam panas itu.

__ADS_1


Dan saat itu, iman, imin dan imunnya benar-benar diuji. Nath tidak ingin mengulang kesalahan yang sama.


Jam 8 pagi.


Tiara sudah bersiap. Ia menata rambutnya sedemikian rupa. Tiara menyanggul rambutnya sedikit ke bawah dan menyisakan layer di sisi kanan dan kiri wajahnya.


Tiara terlihat anggun dengan kebaya berwana hijau dan kain batik yang ia pakai saat ini.


"Bang..." Tiara mengguncang tubuh Nath.


"Bang...," panggilnya dengan suara sedikit lebih keras. "Iss... kebo banget."


"Ehm, " sahutnya tanpa membuka mata.


"Aku pergi dulu," ucap Tiara yang masih berdiri di tempatnya.


Nath yang sayup-sayup mendengar Tiara mengucapkan kata pergi langsung membuka matanya. Ia bahkan langsung duduk.


"Mau kema..." Nath tak lagi melanjutkan pertanyaannya karena ia melihat Tiara sudah berpakaian rapi. Sudah bisa ditebak, gadis itu akan menghadiri pernikahan temannya.


"Aku selesai jam 3an. Kamu pindah ke tempat tidur, sana. Sarapan ada di meja." Tiara keluar dari kamar.


Nath memperhatikan Tiara yang berjalan dengan sangat anggun. "Si bar-bar bisa anggun juga rupanya."


Nath berjalan kearah ranjang. "Lagi pula, ada ada aja resepsi di hari Senin begini. Memangnya week end gak bisa apa?" Keluh Nath saat menyadari resepsi pernikahan teman Tiara dilakukan pada hari senin.


Nath menikmati sarapan paginya setelah mencuci muka. Setelah ini ia akan keluar untuk membeli beberapa pakaian ganti untuknya mengingat ia tak membawa pakaian ganti.


Nath sudah mandi tanpa berganti pakaian. Ia meraih ponselnya yang tergeletak di sofa tempatnya tidur tadi.


"Gawat!" teriaknya saat melihat ada puluhan panggilan tak terjawab serta pesan dari orang-orang di Jakarta.


Nath membuat ponselnya dalam mode silent bahkan tanpa getar. Nath langsung menghubungi mamanya.


"Assalamualaikum, ma."


"Waalaikumsalam, Nath. Kamu dimana, Nak?"


Nath bingung harus jawab apa. "Nath di Jogja, ma."


Dan Nath bisa mendengar mamanya menghembuskan nafas lega. "Kamu ngapain disana, Nath? Kamu baik-baik aja kan?"


"Hehehe... maaf ya ma. Nath cuma mau jalan-jalan ala backpacker." Nath mengusap tengkuknya berulang kali tanda ia gugup meski berbicara melalui ponsel.


"Berapa lama disana?"


"Tiga hari, Ma." Bohong Nath. Jujur ia tak tahu sampai kapan ada disini.


"Ya sudah, hati-hati. Jaga diri baik-baik Nath."


"Iya ma."

__ADS_1


Panggilan terputus. "Maafkan Nath yang membuat mama kecewa."


__ADS_2