EL NATH ( Penyesalan Terindah)

EL NATH ( Penyesalan Terindah)
BonChap-Nair (5)


__ADS_3

Setahun, Nair selalu aktif datang di Masjid tersebut. Setiap ada kesempatan, ia selalu datang. Untuk belajar memperdalam ilmu agama, untuk terus memperbaiki diri menjadi pribadi yang taat dan pastinya lebih baik untuk kedepannya.


Naira benar-benar teguh pada pendiriannya. Naira benar-benar tidak berencana untuk menikah. Terlihat bagaimana Alif mundur teratur dan memilih pergi ke luar kota untuj mengajar di salah satu pesantren milik kerabatnya.


Nair tidak bisa langsung merasa senang. Bisa saja, Alif kembali dan meminang Naira. Lelaki itu pasti akan mendapat nilai jauh lebih besar dimata orang tua Naira. Sebab ia mengajar di pesantren, pasti dari segi pengalaman dan prestasi masih jauh diatas Nair yang hanya seorang mahasiswa semester tiga.


Hari ini, resepsi pernikahan Bintang dan Rion, serta Zoya dan Ezra. Kedua kakak mereka. Bintang yang baru dalam hitungan bulan pulang dari London langsung memutuskan untuk menikah dengan Rion.


Masalah keduanya selesai begitu saja saat rasa cinta mengalahkan semua keegoisan mereka. Saat Bintang bisa melihat bagaimana Rion berusaha keras untuk berubah dan tidak melakukan kesalahan yang sama.


"Ayo Nair. Cepat!" Nath tiba-tiba menarik Nair yang tengah sibuk bercerita dengan Ethan dan Marisa.


Acara belum dimulai, tapi hampir semua tamu undangan sudah datang dan sebagian sudah mengisi meja mereka masing-masing. Sebagian orang juga masih ada yang bercerita dengan teman lama atau rekan bisnis mereka.


"Apa sih Nath?" tanya Nair sebal karena Nath memaksanya untuk ikut.


"Ikut aja. Gak nyesel deh. Ku jamin." Nath membalas seolah mereka akan menjemput jackpot.


Nath menariknya dan saat Nair melihat Naira, ia merubah ekspresi wajahnya menjadi lebih kalem. Nair kini berjalan dengan tenang dan wajahnya menampilkan senyum.


Ia tidak menyangka, gadis itu ada disini. Hadir dalam resepsi pernikahan kakak-kakaknya.


Dunia ini yang sempit atau memang kami yang berjodoh? Batin Nair.


"Naira, ini Nair." Nath menepuk bahu Nair. "Dan aku Nath." Ia menunjuk dirinya sendiri.


Naira membulatkan matanya. Ia tidak menyangka salah menyebut Nair dan Nath. Mereka memang sangat mirip. Hingga sangat sulit membedakannya.


Nair menangkupkan tangan di dada. "Assalamualaikum, Naira."


"Waalaikumsalam, Nair." Jawab gadis itu sembari melakukan hal yang sama.


"Lain kali lebih teliti, Naira. Awas ketukar, tapi cukup kenali kami dengan 1 ciri khas."


Kening Naira berkerut karena tidak mengerti maksud Nath.


Nath menyugar rambutnya. "Aku lebih mempesona." Nath mengerling dan gadis itu langsung menundukkan pandangannya.


Nair memiting leher kembarannya yang bertingkah berlebihan. Membuat Naira sampai menundukkan padangannya. Tapi kemunculan Lintang menyelamatkan Nath.


"Maaa." Nath menjemput mama.


Nair tak menduga Naira ada dihadapannya sekarang. Dengan gamis yang hijabnya menutup hingga ke perut dan bagian belakang menutup hingga ke pinggangnya. Penampilan Naira yang seperti biasanya.


Saat Lintang pergi menemui Anna-sahabatnya dan Nath yang juga meninggalkan mereka berdua. Nair mulai bingung harus mulai dari mana. Terasa canggung sekali karena biasanya mereka bertemu tanpa sengaja di kampus dan di Masjid. Tapi kali ini di pesta pernikahan. Bingung harus membicarakan hal apa.


"Kamu diundang, Ra?" tanya Nair saat mereka saling diam beberapa menit.


"Abi yang di undang, Nair." jawab Naira sesekali melihat wajah Nair dan kembali menunduk.


"Abi kamu? Dimana?" Nair melihat ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan abinya Naira.

__ADS_1


Nair belum pernah bertemu langsung dengan Abinya Naira karena selama ini Abinya tinggal di Jawa dan saat liburan justru Naira yang pulang kesana. Bukan orang tuanya yang datang ke Jakarta.


"Tadi sedang berbincang dengan teman-temannya," jawab Naira yang tidak tahu posisi Abi dan Uminya entah ada dimana sekarang.


"Hubungan kerja dengan om Ray ya, Nai?" tanya Nair menebak-nebak. Karena Keluarganya tidak mengenal orang tua Naira, jadi ini kemungkinan pihak Ezra dan Rion yang mengundang.


"Iya. Abi pemasok kain batik untuk seragam guru di sekolah om Ray."


Oh... Nair faham sekarang. Dia jelas tahu perihal seragam guru, dia kan alumni SMA Cahaya Bangsa.


Karena acara akan di mulai. Nair dan Naira berpisah untuk duduk di meja mereka masing-masing.


Entah memang takdir atau hanya kebetulan, Nair bisa melihat dengan jelas wajah Naira dari tempatnya duduk. Ia hanya perlu memalingkan wajah sedikit ke kanan maka gadis itu akan terlihat di matanya.


Naira duduk dengan beberapa orang pria dewasa berpakaian batik dan beberapa orang ibu-ibu bergamis syar'i seperti Lintang.


Dari segi penampilan, sudah bisa terlihat jelas bahwa Naira memang di kelilingi oleh orang-orang dengan ilmu agama yang tinggi.


Acara hampir selesai dan semua tamu dipersilahkan untuk menikmati hidangan yang disediakan.


Nair melihat Naira berada di antrian orang-orang yang ingin memakan cup cake. Nair langsung membawa cup cake yang ada di mejanya kearah gadis itu.


Naira yang ada di urutan paling belakang membuat Nair lebih mudah untuk berbicara padanya tanpa mengganggu antrian.


"Mau ini?" ucap Nair tiba-tiba pada Naira yang sedang menatap ke depan mencoba menghitung jumlah antrian yang mengular.


Naira terkejut dengan suara Nair yang berasal dari arah sampingnya. Naira menatap Nair dan mengangguk.


Naira mengekor dibelakangnya. "Mau makan dimana?"


"Di meja, sama Umi." Nair mengikuti arah telunjuk Naira. Nair menuju meja itu dan meletakkan sepiring cup cake di atas meja.


"Ada lagi, Nai? Biar ku ambilkan."


Naira duduk di bangku tepat di samping Nair berdiri sekarang. "Ini aja, Nair. Sudah cukup. Terima kasih."


"Siapa Nai?" tanya wanita paruh baya berwajah mirip dengan Naira.


"Teman Nai, Mi," jawab Naira lembut.


"Nair, kenalkan ini Umi. Umi, ini Nair." Wanita yang Naira panggil Umi itu mengerutkan kening, karena mendengar nama pria muda yang ada di samping putrinya memiliki nama yang hampir sama dengan Naira.


"Saya Al Nair, tante." Nair menangkupkan tangannya di dada. Ia mulai terbiasa melakukannya. Jika dengan Naira dia melakukan itu, maka dengan Uminya, ia juga harus seperti itu.


"Al Nair?" Umi mengulang nama Nair. "Kenapa gak asing ya Nai?"


Naira tertawa pelan dan berhasil membuat Nair terpaku. Ini pertama kalinya ia melihat Naira tertawa. Karena biasanya gadis itu hanya megulum senyum dan tertawa sambil menutup mulutnya.


"Nair ini teman Nai waktu TK, Umi. Yang kembar itu, Umi ingat?" tanya Naira.


Wanita itu mencoba mengingat dan tanpa sengaja ia melihat sosok Nath agak jauh darinya. Wanita itu menajamkan pandangannya.

__ADS_1


"Umi ingat."


"Itu bukan, kembaran kamu?" Nair mengikiti arah telunjuk Uminya Naira yang menunjuk Nath.


Nair mengangguk. "Benar tante."


Wanita itu tertawa pelan. "Masyaallah, pada ganteng-ganteng banget, ya..."


Nair tersipu. Calon mertua udah bilang ganteng. Kalau menurut kamu gimana Nai?


"Dulu siapa yang suka berantem sama Naira, yang suka ganggu Naira pas sekolah."


"Umi...!" Naira tersipu malu karena ternyata Uminya masih mengingat masalah itu.


"Oh, Na... Nath ya kalau gak salah."


Nair dan Naira kompak mengangguk. "Berarti kamu dulu yang sering membela Naira sampai berantem sama kembaran kamu, ya?"


Nair lagi-lagi mengangguk. "Sekarang masih berantem gak?" tanya Umi Naira.


"Alhamdulillah, masih sering tante," jawab Nair bercanda.


"Masalah gadis lagi?"


"Insyaallah bukan tante. Kita beda selera soalnya," Jawab Nair yakin sambil tertawa.


Uminya Naira juga ikut tertawa sementara Naira menunduk sambil mengulum senyum. Ia merasa aneh saat Nair mengatakan beda selera. Tanpa sengaja Nair seolah menegaskan pada Naira bahwa seleranya adalah dirinya. Karena sejak setahun lalu Nair telah mengatakan keinginannya untuk menikahi gadis itu.


"Nair!" Panggil Ethan padanya. Ia tidak terdengar karena suara band pengiring lebih kuat dari pada suara Ethan.


Namun, Nair yang kebetulan menatap Ethan langsung menjawab tanpa suara. "Apa?"


Ethan memberi kode untuk foto dengan kedua tangannya. Nair langsung faham.


"Saya permisi dulu, tante, Nai."


"Ada panggilan untuk foto."


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." jawab keduanya.


"Oh, ya salam buat Abi kamu, Nai." Nair pergi dari meja itu. Dan disaat yang sama Naira mendapat tatapan penuh tanya dari Uminya.


"Bukan apa-apa, Umi. Nair memang begitu, suka bercanda."


"Sayang, Abi kamu lagi di toilet. Bisa nih Umi masukkan jadi kandidat calon kamu."


"Uhuk... uhuk..." Naira langsung terbatuk.


****

__ADS_1


masih setia nunggu kan?


__ADS_2