EL NATH ( Penyesalan Terindah)

EL NATH ( Penyesalan Terindah)
Bab 26 Melamar


__ADS_3

Malam hari, jam 19.30 di kediaman Zainal Ibrahim- ayah Tiara.


"Maksud kedatangan kami adalah untuk melamar Tiara untuk Reyfan jadikan istri." Rendi mengatakan maksud dan tujuannya datang ke rumah ini.


Ayah dan ibu Tiara saling tatap sementara Tiara yang juga ada dalam pembicaraan itu terus menunduk dengan meremas jemarinya. Ia harus bagaimana? Mengapa Reyfan tetap maju meski sudah ada Nath di sampingnya?


"Jadi, bagaimana Pak, Bu?" tanya Rendi.


Zainal menatap putri tercintanya yang tengah diselimuti rasa takut dan bimbang. Zainal juga sesekali melirik wajah Reyfan yang terus mengumbar senyum, membuatnya merasa semakin tidak menyukai pria itu. Bagaimana bisa dia tersenyum dan memasang wajah santai sementara Tiara tengah sakit dan kebingungan.


"Maaf Pak Rendi, Nath akan tetap bertanggung jawab dan menikahi Tiara."


Tiara seketika menatap wajah ayahnya yang terlihat yakin. Entah mengapa ada kelegaan di hatinya saat ayahnya seolah lebih merestuinya bersama Nath dibanding dengan Reyfan.


"Tapi pak, bukankah ... maaf, janin dalam kandungan Tiara sudah tiada?" tanya Reni.


Zainal dan Nurul serta Tiara saling pandang. Merasa keheranan sebab keluarga ini tahu soal Tiara yang keguguran.


Zainal tersenyum dan mengangguk. "Memang benar, tapi Nath dan keluarga sudah mengatakan akan tanggung jawab."


"Tapi belum kan, Om," sambar Reyfan. Semua orang menatapnya yang seolah ingin bersaing dengan Nath untuk melamar Tiara.


Tiara menatapnya tak suka. Ia jengah melihat Reyfan. Jika bukan karena nasehat Nath dan keluarga, dia akan menuntun Reyfan atas semua perlakuannya pada Tiara.


"Reyfan, tahan dirimu," tegur Rendi pada putranya.


"Tiara, kamu bagaimana, Nak? Apa kamu siap menjadi menantu di rumah keluarga yang belum tentu menerimamu?"


"Bunda dan ayah sudah menganggapmu sebagai putri kami. Dan Reyfan juga bersedia menerima kamu," kata Reni membuat Tiara seketika menatap Reyfan.


Dia mau menerimaku setelah semua yang terjadi padaku? Mustahil sekali? Sebenarnya apa tujuannya? Jika hanya karena permintaan Reyga, dia tidak mungkin sampai ingin memperkos*ku, kan? Kenapa dia terlalu ambisius untuk menikah denganku?


"Bagaimana Tiara? Semua keputusan ada di kamu."


Tiara menatap kedua orang tuanya. Ia sudah bertekat tidak ingin menikah dengan Reyfan meskipun Nath tidak menikahinya.


"Begini, ayah, bunda." Tiara menghela nafas.


"Melupakan Reyga itu sulit, kehilangan dia itu rasanya sakit." Mata Tiara mulai berkaca-kaca.


"Sakitnya bahkan belum sembuh sampai sekarang. Dan menikah dengan kak Reyfan hanya akan membuatku semakin terpuruk karena terus mengingat almarhum."


"Lagi pula, bagaimana aku bisa hidup dengan pria yang sudah membunuh calon anakku?" Tiara menatap Reyfan dengan amarah yang ia tahan.


"Pria yang memupus harapanku dan Nath."


"Pria yang membuatku kehilangan secerca kebahagian. Kalian tahu? Meski tanpa pengakuan Nath, aku punya harapan besar pada janin itu. Sejenak aku melupakan rasa sakitku kehilangan Reyga. Sejenak aku punya harapan baru, aku punya arah untuk menjalani kehidupanku kedepannya."


Tiara menyeka air matanya. "Maaf ayah, bunda. Reyga memang menginginkan kebahagiaanku. Dan kurasa itu bukan bersama kak Reyfan."


Tiara bangun dari duduknya. "Maaf, Tiara masuk dulu, Tiara mau istirahat. Permisi." Tiara berjalan masuk ke kamar.


"Pak Rendi, Tiara sudah membuat keputusan. Terima kasih atas kebaikan kalian selama ini. Maaf tidak bisa membalas kebaikan kalian dengan menjadikannya menantu di keluarga kalian."


"Biar bagaimana pun Tia berhak menentukan pilihan. Dia putri sulung kami, beban yang ia pikul sudah sangat berat sejak kecil. Jadi, sekarang kami akan menuruti keinginannya dan mengutamakan kebahagiaanya."

__ADS_1


"Baiklah Pak Zainal, kami permisi dulu. Kami juga bersyukur jika pria itu masih mau bertanggung jawab."


"Saya atas nama Reyfan memohon maaf untuk semua kejadian yang Reyfan sebabkan."


"Sampaikan juga maaf kami pada Tiara."


Keluarga Rendi akhirnya pulang, setelah penolakan yang dengan tegas Tiara katakan.


"Kenapa mereka tidak mengerti kondisi Tia, Mas?" tanya Nurul pada suaminya saat tamu mereka sudah pulang.


"Keluarga pak Akhtar saja bisa menunggu sampai kondisi Tiara membaik. Dan mereka malah datang saat Tia baru pulang dari rumah sakit."


"Entahlah, aku juga tidak tahu. Tapi yang pasti rasanya lega saat dengan berani Tiara menolak Reyfan. Dia pasti juga melihat bahwa Nath jauh lebih baik dari Reyfan."


"Iya, Mas. Nath memang terlihat jauh lebih baik dari sikap dan sifatnya. Hanya saja mereka pernah melakukan kesalahan yang sampai sekarang tidak bisa ku mengerti."


"Kamu sudah tau ceritanya, kan? Itu murni kesalahan. Anggap saja mereka kalah melawan godaan setan."


"Dan bicara dengan keluarganya sungguh menenangkan, Rul."


"Cara mereka menyikapi dan mendekap Nath sungguh bijaksana. Membuat Nath dan Tiara merasa dirangkul, tidak dijauhi dan tidak dihakimi."


"Iya Mas. Mereka keluarga yang luar biasa."


"Benar. Terlihat bagaimana mereka menerima Ezra dan memperlakukan kita saat pernikahan anak-anak mereka."


"Iya, keluarga yang hangat."


Di dalam kamar, Tiara menumpahkan segala kekesalannya. Tangisnya pecah karena sangat tidak adil jika Reyga yang baik digantikan dengan Reyfan.


📩Bang Nath


Jangan terlambat makan dan minum obat.


GWS Ra.


Tiara tersenyum membaca pesan yang isinya sangat datar dan biasa saja. Tidak ada romantis-romantisnya sedikitpun.


Tiara menyeka air matanya. Ia butuh teman bercerita dan Nath datang disaat yang tepat.


Dia calon suamiku, kan? Mungkin aku harus memulainya dari sekarang. Terbuka dengannya. Supaya kelak kami terbiasa saat sudah bersama.


Tiara membalas pesan Nath.


^^^Sudah semuanya, kok.^^^


^^^Aku mau cerita, baru aja kak Reyfan dan keluarganya datang melamarku.^^^


Pesan terkirim dan langsung di baca. Lalu tak lama layar ponselnya menunjukkan sebuah panggilan masuk.


Bang Nath is calling ...


Tiara langsung menjawab panggilan tersebut.


"Hallo, Ra."

__ADS_1


"Assalamualaikum, bang."


"Eh, iya. Waalaikumsalam." Terdengar Nath tertawa pelan.


"Dia datang, Ra?"


"Iya. Sama keluarganya."


"Gil*. Nekad banget dia. Kamu terima?"


"Loh ... ini gimana sih? Katanya kamu mau nikahin aku?" Tiara pura-pura kaget mendengar pertanyaan Nath.


"Ya iya. Jadi kamu tolak, kan?"


"Ayah juga nolak."


"Alhamdulilah."


Tiara menjauhkan ponselnya dari telinga, karena Nath berteriak lumayan keras.


Dia kenapa kok kayaknya bahagia banget? Batin Tiara.


"Kenapa bahagia banget? Merasa menang dari kak Reyfan, uh?"


"Enggak. Gak menganggap ini persaingan sih. Cuma merasa gak ada lagi penghalang untukku bertanggung jawab dan menepati janjiku."


"Janji?"


"Iya. Janji pada diriku sendiri untuk menebus segalanya."


Hening....


"Bang ...."


"Ehm ...."


"Kamu mau menikahiku cuma karena tanggung jawab, kan? Aku gak yakin kita bisa menjalani kehidupan pernikahan dengan mudah. Karena pernikahan bukan tentang mengubah status, tapi lebih luas dari itu."


"Bagaimana kita membiasakan diri tinggal bersama, tidur bersama, dan bagaimana kita bertanggung jawab sebagai suami dan istri." Tiara meremas selimutnya. Ia gugup saat mengatakan ini, tapi menurutnya sangat penting untuk dibahas.


Tiara bisa mendengar Nath tertawa pelan. "*Kamu mikirnya jauh banget, Ra?"


"Jujur, aku gak membayangkan sampai sejauh itu. Aku hanya menjalani apa yang ada di depanku sekarang. Restu kedua orang tua kita sudah cukup jadi bekal."


"Aku minta maaf kalau nanti apa yang kamu terima dariku tidak sesuai ekspektasimu. Tabunganku tidak cukup banyak untuk memberimu kemewahan."


"Aku akan cari kerja, mungkin."


"Aku akan berusaha semampuku. Semoga kamu sabar hidup denganku yang belum punya apa-apa*."


Tiara diam sejenak. "Kita tunda aja pernikahan ini, Bang. Karena sepertinya semua ini membebani kamu."


"Kita tunda dan aku akan digantung papa di pohon mangga belakang rumah," sambar Nath.


Tiara tertawa mendengar Nath mengatakan sesuatu yang menurutnya lucu karena tidak mungkin om Akhtar akan menggantung Nath di pohon mangga.

__ADS_1


__ADS_2