EL NATH ( Penyesalan Terindah)

EL NATH ( Penyesalan Terindah)
Bab 14 Malioboro


__ADS_3

Tiara menarik dirinya dari pelukan Nath. "Maaf!" Ia menghapus air matanya dengan telapak tangannya. Matanya melihat ke arah kaos putih Nath yang tampak basah.


"Itu, biar ku bersihkan." Tiara menunjuk baju Nath yang basah dan segera berdiri mencari tissu.


Nath menangkap pergelangan tangannya. "Gak perlu, Ra." Nath menatap jam di ponselnya. "Masih jam 8."


"Mumpung di Jogja, ke Malioboro, yuk?" ajak Nath.


Tiara berfikir sejenak lalu mengangguk. "Ganti baju dulu." Nath balas dengan senyum.


Tiara mengambil celana jeans dan kaos putih lalu masuk ke kamar mandi. Tak lupa ia menyambar denim jaket miliknya yang tergeletak di ranjang.


Nath mengganti kaosnya. Tetap warna putih, karena Nath suka warna putih. Ia juga sempat membeli demin jaket, tadi. Dan ia segera memakainya. Lumayan, meskipun barang murah tapi tetap tampak berkelas di tubuhnya.


Tiara keluar dari kamar mandi dengan denim jaket yang masih ia lipat di lengannya. Keduanya saling tatap dan tertawa bersama saat melihat diri mereka yang tampil kompak.


"Ayo!" Nath mengulurkan tangannya. Tiara menggandeng tangan itu dan keluar dari kamar hotel.


"Pertama kali ke Jogja kan?" tanya Nath saat keduanya sampai di lift.


"Iya."


"Punya daftar tempat yang mau dikunjungi gak?"


"Gak ada."


"Kita muter-muter aja nih?" tanya Nath dan di balas anggukan oleh Tiara.


"Amankan buat dia." Nath menunjuk perut Tiara. "Gak bahaya jalan terus?"


Tiara mengangkat bahu. "Gak ada keluhan sih."


"Bagus lah. Dia harus strong kayak papanya," gumam Nath dan Tiara memutar bola matanya, jengah. Mengapa ia ditakdirkan dengan manusia narsis seperti ini?


Mereka tiba di jalan Malioboro. Sepanjang jalan yang memanjakan mata. Cahaya lampu beratapkan langit membuat suasana kian hangat.


Tempat ini cukup ramai. Di sepanjang jalan terdapat banyak kursi. Nath dan Tiara memilih menepi duduk di kursi terbuat dari besi ini. Tempat yang agak jauh dari kerumunan orang


Silih berganti orang berlalu lalang. Keduanya terasa seperti orang asing. "Segini banyak orang, gak ada yang kenal ya, Bang."


"He'em. Aku sih gak berharap ketemu orang yang ku kenal."


Tiara menatap ke samping, melihat Nath yang berkata seenteng itu. "Kenapa?"


"Ya, kalau ada yang kenal, terus kita ketahuan. Huuuh! Panggilan masuk langsung datang dan kalimat yang pertama ku dengar adalah Nath, pulang! Atau papa coret dari KK." Nath menempelkan tangannya di telinga seolah sedang menerima panggilan.


"Hahaha... Kejam banget om Akhtar." Tiara tertawa lepas. Dan entah mengapa ia terlihat cantik di mata Nath.


"Ra..."


"Ya..." Tiara kembali menatap Nath.


"Ceritakan tentang, Reyga," pinta Nath.


Tiara langsung kehilangan senyumnya. Tiara menatap lurus ke depan. Keheningan terjadi beberapa saat.


"Reyga, dia teman sekelasku. Dia menutup diri dari kami semua saat awal masuk sekolah. Tidak ada yang tahu dia kenapa, hanya saja guru-guru memperlakukannya istimewa." Tiara tersenyum mengingat sosok Reyga.


"Dia boleh keluar kelas saat kami sangat berisik di jam kosong."


"Dia boleh absen dari pelajaran olah raga."


"Dia boleh absen dari senam dan upacara."


"Dia bebas libur tiap beberapa bulan untuk keluar negeri."

__ADS_1


Seistimewa itu? Batin Nath.


"Ternyata alasannya hanya satu. Dia sakit. Jantungnya tidak sehat."


Nath tertegun. Ia terus menatap Tiara yang bercerita.


"Seiring waktu berjalan, aku, Evelyn, Ajeng dan Reyga berteman. Kami perlahan mengerti kondisinya. Kami mengenal orang tuanya."


"Entah kenapa, aku menyayanginya. Sampai akhirnya ia juga mengatakan menyayangiku. Reyga bahkan sudah meminta bundanya melamarku saat kami lulus nanti."


Nath membelalakan mata, tak percaya.


"Kenapa aku? Mungkin karena aku gadis yang paling dekat dam memungkinkan jadi istrinya. Evelyn, keyakinan kami berbeda dengannya. Hanya dia yang non muslim diantara kami."


"Ajeng, dia sudah dijodohkan."


"Suatu saat, persiapan olimpiade Matematika mulai dilaksanakan. Aku, Reyga dan beberapa siswa lain ikut seleksi di sekolah dan pemenangnya akan mewakili sekolah kami."


"Tapi, Reyga tiba-tiba drop dan dia hanya dua jam bertahan dalam sakit itu." Air mata Tiara sudah menetes sedari tadi.


"Dia pergi dengan membawa harapanku, lukaku, dan cinta kami."


"Dia meninggalkan aku yang terlanjur terbiasa bersama dirinya."


"Dia meninggalkanku dengan janji yang membuatku sesak setiap kali mengingatnya."


"Ada satu hal yang ingin aku tanyakan, Bang?" Tiara menatap Nath setelah menyeka air matanya.


"Tanyakan, Ra?"


"Benar kita akan menikah?"


Nath mengangguk. "Iya, Ra. Kita akan menikah."


Tiara tersenyum. "Kamu tau? Aku gak pernah menyangka akan ada di situasi yang sesulit ini." Tiara kembali menatap ke depan.


"Sebelum meninggal, Reyga membuatku berjanji untuk menikah dengan kakak laki-lakinya, Reyfan."


Nath menatap Tiara yang senyum terpaksa.


"Reyfan pernah hampir memperk*saku, setahun lalu."


Nath kembali tertegun. Sesulit apa hidupmu, Ra?


"Dan kamu berhasil memperk*saku, di hari yang sama saat dia memberi kabar akan pulang dua bulan lagi."


"Saat aku tau, bahwa aku hamil, ibu malah memberi tahuku, bahwa bundanya Reyfan pernah datang dan akan melamarku bulan depan."


"Kadang aku berfikir, kenapa takdir selalu mempermainkanku."


"Reyfan akan pulang dalam waktu kurang dari sebulan. Dia tak tertebak, dan bisa muncul kapan pun dia mau."


"Bisa hari ini, atau mungkin besok."


"Sebenarnya tidak masalah, dia pulang sebelum kita menikah karena aku gak yakin dia tetap mengejarku setelah tau aku hamil."


"Aku tidak ingin menikah dengannya. Aku meminta Reyga membebaskanku dengan janji itu."


"Aku berdoa tiap malam meminta Tuhan menyelamatkanku dari Reyfan."


"Dan parfum kamu, membuatku terus mengingat Reyga. Mengingat Reyga berarti mengingat Reyfan. Bom waktu yang siap meledakanku."


Sekarang Nath faham, kenapa emosi Tiara naik turun karena aroma parfumnya. Tidak masuk akal, tapi itu yang ia lihat.


"Tuhan seolah mengabulkan doaku, kan Bang?" tanyanya pada Nath sambil tertawa pedih.

__ADS_1


"Menghadapkanku pada situasi yang bisa membuatku lari dari janji itu. Aku mengandung anakmu tanpa ku sengaja."


Dia benar. Kebetulan yang aneh. Batin Nath.


"Aku seolah menukar janji itu dengan janin ini." Tiara meletakkan telapak tangannya di perutnya.


Tiara tersenyum dan kembali menatap, Nath. "Aku sekarang, tidak lagi menyesali malam itu."


"Aku hanya menyesali, orang itu adalah kamu."


"Kenapa?" balas Nath cepat. Apa aku bukan pria baik menurutmu, Ra?


"Karena kamu adik kak Zoya, kak Bintang, dan orang terdekat bang Ezra dan bang Rion. Orang-orang paling berjasa dalam hidupku."


"Aku takut tuduhan memanfaatkan, dan menjebak kamu melayang padaku."


"Gak akan terjadi, Ra. Kan aku yang..." Nath tidak melanjutkan kalimatnya.


Tiara tertawa. "Kalau aja aku gak mabuk."


"Bukan salahmu," potong Nath cepat. "Yang salah adalah Sethan."


Tiara mengerutkan keningnya. "Setan?"


"Alias Ethan. Kalau bukan karena dia, minuman itu gak akan ada ditanganmu."


"Kamu tau, bang?"


"Iya, dia pernah cerita."


"Kamu marah sama dia?"


"Kalau aku marah, terus mereka tau yang ku lakukan malam itu, kita gak akan disini, Ra. Kita udah di rumah papa dengan status menikah."


"Kamu takut?" tanya Tiara pelan karena Nath sepertinya tidak ingin temanya tau.


Nath menggeleng. "Bukan takut, seperti yang kamu pikirkan. Bukan takut untuk tanggung jawab."


"Aku takut kamu belum siap. Untuk membahas itu aja kamu belum mau. Bagaimana jika kamu tiba-tiba dipaksa menikah denganku."


"Aku juga takut kamu masih trauma melihatku. Dan bayangkan kita menikah dan kamu takut padaku."


"Kamu pusing banget, ya Bang."


"Hemm."


"Kamu kurusan."


Aku sulit tidur, Ra.


"Masa?"


"Iya."


"Tapi kamu gendutan," balas Nath.


Tiara tertawa. "Iya, makan terus sih!"


Nath berdiri, "Ayo! Capek curhat kan?"


"Kita cari makan," ajak Nath.


Tiara langsung berdiri. "Asiiik, gratis kan?"


Nath tersenyum mengangguk. "Sampai puas." Keduanya langsung berjalan mencari tempat makan yang Tiara ingin.

__ADS_1


__ADS_2